31 March 2007

Wiwik Tsubasa di Jepang


Saya baru saja diundang Wiwik Setyorini, pemilik Tsubasa, lembaga kursus bahasa Jepang di Jalan Trunojoyo 5 Sidoarjo. Kebetulan selama enam bulan Wiwik dan Amri, dosen Universitas Negeri Surabaya, ikut pelatihan guru-guru bahasa Jepang di Urawa, Provinsi Saitama, Jepang.

“Ini ada sedikit oleh-oleh," kata Wiwik sambil memperlihatkan suvenir kecil khas Nipon. Ada juga pembatas buku. "Wartawan kan suka baca buku," ujar Wiwik, lalu tertawa kecil. Aha, belum tentu!

Menurut Wiwik, pengalaman selama enam bulan di Jepang sungguh luar biasa. Selain belajar di asrama, mendalami bahasa dan budaya Jepang, mereka juga jalan-jalan ke beberapa objek wisata utama di negara sakura itu.

"Puji Tuhan, saya sangat bersyukur karena terpilih mengikuti program ini,” ujar Wiwik Setyorini.

Program yang diadakan Japan Foundation ini diikuti 63 guru bahasa Jepang dari berbagai negara. Indonesia mengirim paling banyak peserta, diikuti Vietnam. Japan Foundation, kata Wiwik, memang memberikan perhatian khusus kepada Indonesia mengingat bahasa Jepang sangat diminati anak-anak muda kita.

Di tengah-tengah cuaca dingin, sekitar enam derajat Celcius, Wiwik dan kawan-kawan wajib mengikuti proses belajar-mengajar. Semua peserta tinggal di asrama. Kuliah mulai pukul 09.30 hingga 15.30, diselingi makan siang dan istirahat 75 menit. Selama enam bulan, para guru bahasa Jepang itu digembleng habis-habisan oleh dosen-dosen asli Jepang.

"Saya akui, program ini sangat berat. Malam kami harus belajar, mengerjakan pekerjaan rumah, bikin laporan, mempersiapkan ujian. Tapi asyik sekali karena semua biaya ditanggung Japan Foundation,” papar Wiwik yang tengah mengerjakan tesisnya di Universitas Negeri Surabaya itu. “Syukurlah, saya lulus dengan nilai A.”

Selain belajar intensif, peserta diajak menjajaki arung jeram, berkunjung ke kuil-kuil tua, menonton atraksi sumo dan ninja, hingga jalan-jalan ke kota Tokyo dan Nikko. Meski sebagian guru pernah melawat ke Jepang, study tour kali ini jauh lebih mendalam, katanya. Beda dengan berwisata biasa.

“Sebab, kami kan tinggal cukup lama di Jepang. Jadi, bisa mengalami sendiri bagaimana hidup bersama penduduk setempat. Saya punya bapak asuh, namanya Tsumekawa,” tutur Wiwik.

Yang bikin kaget Wiwik Setyorini serta peserta Indonesia, ternyata televisi Jepang seperti NHK sangat getol mewartakan berbagai bencana di Indonesia. Lumpur panas di Porong mendapat porsi besar.

Tahu kalau rumah Wiwik dekat kawasan lumpur panas, para dosen Jepang pun prihatin. Mereka menanyakan nasib warga, pengungsi, serta dampak ekologis lumpur panas yang menyembur sejak 29 Mei 2006 itu.

“Yah, saya bilang lumpur masih jauh dari rumah saya,” cerita Wiwik.

Ironisnya, kabar tentang Indonesia di NHK semuanya jelek-jelek. Rentetan bencana tak henti-hentinya dibahas. Yang paling menonjol, kata Wiwik, tenggelamnya KM Senopati Nusantara (30 Desember 2006), kemudian Adam Air KI 574 hilang pada 1 Januari 2007 dan menewaskan 102 penumpang dan awaknya.

Warga Jepang pun tertawa kecut ketika mendengar kabar bahwa ‘penemuan’ pesawat Adam Air di Sulawesi Barat pada 5 Januari ternyata bohong.

“Kok bisa-bisanya pemerintah Anda tertipu?” ujar Wiwik menirukan ucapan orang-orang Jepang.

"Kami mau bilang apa? Sebagai orang Indonesia, saya dan teman-teman malu banget deh," kenang Wiwik Setyorini.

Belum tuntas kasus Adam Air, muncul lagi banjir dahsyat di Jakarta (awal Februari), longsor di Flores, gempa bumi di Sumatera Barat, dan terakhir pesawat Garuda terbakar di Jogja pada 7 Maret 2007. Semua malapetaka ini mendapat tempat di televisi Jepang. Jadi, boleh dikata, citra Indonesia di mata orang Jepang adalah sebuah negara yang tak putus dirundung malang.

“Makanya, tanggal 9 Maret, waktu kami akan pulang ke Indonesia, teman-teman di Jepang berpesan supaya kami hati-hati di dalam pesawat,” tutur Wiwik Setyorini.

Alhamdulillah, Wiwik dan kawan-kawan tiba di tanah air dengan selamat.
Sayonara! Haiiik!

4 comments:

  1. Wah... Ternyata ada saudara setanah air di blogosphere.
    Salam kenal Opu..........

    ReplyDelete
  2. Mas, sorry ini bukan comment tapi malah mo tanya, itu Bu Wiwik ada alamat emailnya gk ya ? kalo boleh tanya di surabaya ada sekolah atau kursus bahasa jepang yang lumayan bagus mutunya gk ya ?

    Kalo tau informasinya mau dunk !(~_~)!

    thx a lots...
    ( emailku lilindos@yahoo.com)

    ReplyDelete
  3. Oya sekalian updating informasi. Tsubasa milik Mbak Wiwik pindah ke Jalan Dr Cipto 18 Malang, Jawa Timur. Emailnya tidak tahu, tapi nomor HP ada di saya. Boleh tahu sampeyan ini siapakah? Soalnya, informasimu terlalu sumir. Salam.

    ReplyDelete
  4. wah,

    udah pindah k malang y TsubasaY?
    yg di sidoarjo udah ga ada lagi?
    pdhl pgn kursus bahasa jepang.

    ReplyDelete