12 March 2007

Teater Lekture Sidoarjo


Oleh Lambertus L. Hurek

Di Pendopo Dinas Pariwisata Sidoarjo beberapa dedengkot Teater Lekture tengah giat berlatih. Naskahnya ELA-ELO, garapan mereka sendiri. Sementara di sekeliling para aktor itu tampak ibu-ibu dan anak-anak sekolah dasar hingga balita memperhatikan dengan saksama.

Penonton setia itu terlibat dengan celetukan segar atau membuat bunyi-bunyian, musik mulut. Yah, penonton dan anak-anak itu tak lain istri atau anak-anak pemain. Setiap kali berlatih atau sekadar jalan-jalan, semua anggota keluarga dilibatkan. "Ideologinya Lekture memang kekeluargaan," kata AGUS KHOIRIANTO, pemain yang juga mantan ketua Teater Lekture, kepada saya.

Para istri atau anak-anak yang duduk manis sebagai penonton bisa saja berganti posisi sebagai pemain kalau memang skenario membutuhkan. Singkatnya, Lekture ini ibarat total football. Semua anggota komunitas bisa berganti posisi kapan saja. Hari ini aktor, bisa jadi di waktu mendatang jadi penulis naskah, pendukung di belakang panggung, mengurus properti, konsumsi, logistik, dan seterusnya.

Teater Lekture ini dibentuk oleh ACHMAD DJAKFAR, seniman sekaligus mantan pejuang angkatan 1945. Kecintaan dan komitmen yan luar biasa pada kesenian, khususnya teater, membuat Djakfar menggagas sekaligus merealisasian komunitas ini.

Almarhum Djakfar tak ingin main teater hanya sambil lalu, tampil di satu acara kemudian bubar. Lekture diarahkan sebagai sebuah keluarga besar, komunitas, dengan ikatan batin yang kuat. Komunitas itu, dalam visi Djakfar, harus diteruskan dari generasi ke generasi.

"Jadi, sekarang ini Teater Lekture sudah masuk generasi ketiga. Saya dan teman-teman ini generasi kedualah," kata Mulyono Muksin, pemain Lekture, yang lebih dikenal sebagai pembina beberapa teater remaja di Sidoarjo. (Hampir semua anggota Lekture, selain aktif di komunitas Lekture, memang membina teater anak muda.)

Menurut Agus, ketua Lekture 1987-2004, mula-mula ACHMAD DJAKFAR menggerakkan komunitas Lekture di Surabaya. Baru pada 1978, ketika HMS Hariono, pindah ke Sidoarjo, dikembangkanlah komunitas Lekture Sidoarjo. Sampai sekarang komunitas ini eksis serta membangun jaringan dengan teater-teater lain di beberapa kota besar di Indonesia.

Karena itu, ada Lekture di Surabaya, Sidoarjo, Malang, Jember, bahkan Kalimantan. "Yang menembangkan Lekture di daerah-daerah itu, mulainya ya dari sini. Setelah bekerja di tempat lain mereka secara spontan membentuk komunitas Lekture di sana," kata Cak Mul, yang memenangi festival upacara adat Jawa Timur 2005 itu.

Bagi orang Sidoarjo 'asli' (artinya, yang sudah tingal di Sidoarjo sebelum tahun 1980), nama Lekture tentu tidak asing lagi. Waktu itu televisi hanya satu, TVRI, dengan jam siaran sangat terbatas. Hiburan belum banyak, sehingga teater (sandiwara) punya daya tarik luar biasa. Nah, Teater Lekture selalu ditunggu-tunggu warga Sidoarjo.

"Kami selalu pentas keliling, ke mana-mana," kata Martono, ketua Teater Lekture sekarang.

Hingga 1980-an akhir, Sidoarjo masih punya beberapa gedung pertunjukan seperti Wisma Delta (utara kantor Golkar) atau Gedung Wanita. Teater Lekture selalu menggunakan Wisma Delta yang bersejarah itu.

"Kalau pentas di Wisma Delta minimal tiga hari. Sebab, penontonnya sangat banyak, gedung nggak muat," kenang Cak Mul.

Tak hanya di Sidoarjo, komunitas Lekture pun 'ditanggap' ke daerah-daerah lain di Jawa Timur, bahkan luar Jawa. Teater benar-benar hidup, dan para pemain beserta keluarganya semakin lama semakin sulit dilepaskan dari Lekture.

Di masa Orde Baru, ketika warga sulit mengkritik pemerintah, teater ibarat katarsis bagi masyarakat untuk mengeluarkan unek-uneknya. Pemain-pemain Teater Lekture pun memanfaatkan kondisi ini untuk menyerang kebobrokan rezim Orde Baru lewat sindiran, celetukan, hingga materi cerita. Penonton ger-geran, merasa unek-uneknya terwakili.

Setelah reformasi, dan rezim otoriter itu tumbang, rakyat Indonesia bebas bicara apa saja. Media massa bebas menulis atau memberitakan apa saja. Pemerintah yang dulu 'haram' dikritik, kini setiap saat bisa disikat oleh rakyatnya sendiri. Orang bebas bicara tanpa takut ditangkap oleh intel atau aparat keamanan.

"Jadi, mengkritik pemerintah lewat teater itu nggak seenak dulu. Zaman Orde Baru yang ditunggu-tunggu warga itu, ya, sindirikan kita ke penguasa," ujar Mulyono Muksin, anggota komunitas Lekture, yang juga dedengkot teater di Sidoarjo.

Menurut Cak Mul, sapaan akrabnya, di seluruh dunia yang namanya teater, apalagi realis, memang seperti itu. Teater menjadi media pelepas kesumpekan warga yang terus ditekan oleh rezim otoriter. Ketika rezim otoriter-diktator ini tumbang, otomatis terjadi perubahan yang drastis di masyarakat.

Tapi bukankah si dalang itu tak akan kehabisan lakon? "Memang, lakon atau cerita tidak akan akan pernah habis. Sebab, teater itu ya ibarat kehidupan kita sendiri. Selama kita masih hidup, teater pun tetap hidup," tambah Cak Mul.

Karena itu, pengurus teater yang berdiri pada 5 Oktober 1955 (bersamaan dengan Hari TNI) ini terus melakukan berbagai penyesuaian. Cerita-cerita realis, mudah ditangkap warga biasa, belakangan diubah menjadi abstrak. Misalnya, naskah ELA-ELO yang sekarang tengah dilatih dua kali sepekan di Dinas Pariwisata. Begitu juga diskusi intensif bersama komunitas teater lain di kota-kota besar untuk mencari format teater yang pas di era reformasi.

Sayangnya, di tengah kerja keras itu--sambil melahirkan generasi baru teaterwan--gedung-gedung pertunjukan di Sidoarjo hilang. Hingga 1980-an, kata Mulyono, ada sedikitnya lima gedung yang bisa dipakai untuk teater atau sandiwara.

Misalnya, di belakang kantor Golkar, eks bioskop di traffic light alun-alun, gedung di Ramayana sekarang, eks gedung wanita. Semua sudah 'eks' karena gedung-gedung kesenian itu telah menjadi pusat bisnis baru. Eks gedung serba guna di traffic light (timur alun-alun) malah mangkrak sampai sekarang.

"Kalau nggak ada gedung, lantas main di mana? Terus terang saja, pembangunan Sidoarjo yang pesat itu ternyata melupakan gedung pertunjukan. Gedung-gedung yang sudah ada dirusak, tapi tidak diganti dengan gedung baru," keluh Cak Mul dan beberapa anggota Teater Lekture.

Teater yang baik, kata Cak Mul, memerlukan gedung yang representatif. Ada tata lampu (lighting), akustik, panggung, tempat duduk penonton yang berbeda dengan ruang resepsi, dan seterusnya. Ini yang hilang menjelang reformasi untuk melengserkan rezim Soeharto.

Saat ini Cak Mul menilai masyarakat terlalu banyak disuguhi hiburan-hiburan instan di televisi, entah sinetron, reality show, lawakan ala AFI, KDI, Indonesian Idol, Empat Mata, dan sebagainya. Kesenian serius macam teater praktis tersisih.
Yang menarik, komunitas Teater Lekture ini sejak 1978 membudayakan arisan keluarga. Tujuannya, kata Agus, mantan ketua Lekture, sederhana saja.

"Kita mau mempertahankan eksistensi komunitas ini. Jadi, ada atau tidak ada pementasan, arisan jalan terus," kata Agus.

Selain arisan, setiap tahun keluarga besar Lekture (istri, anak, cucu) melakukan camping bersama di luar kota. "Hukumnya wajib," kata Cak Mul. Jangan heran, Lekture punya alat-alat camping seperti tenda, kasur lipat, sleeping bag, dan sebagainya.

5 comments:

  1. aku kangen ma bang hurek lama kita ndak jumpa terakhir kali aku jumpa ma bang hurek di dinas pariwisata sidoarjo, itupun kita sempat diskusi bareng tentang seni teater sama ipung, sama pak haryono dan aku, oya aku da ngeluncurin buku puisi yang pertama judulnya kosmo kecilku, oya bang ni alamat emailku Juli_art59@yahoo.com tahnks juli teater

    ReplyDelete
  2. kag,,
    buat uts,,
    siska ,,
    oksy ,,
    rani ,,
    nila ,,
    ella ,,
    dewi ,,
    kls 8G

    mkch.mkch

    ReplyDelete
  3. Juli dan teman2, suwun banget sudah mampir di sini. Selamat berkesenian.

    hurek

    ReplyDelete
  4. Halo cak Hurek,
    pye kabare? liputan ne Nyadran wingi yok opo?
    sampeyan lak melok praon nang Ketingan tah..
    Kapan2 mbokyo dulin maneh nang Akar rumput..
    Eman tgl. 12 wingi kan ultah'e sanggar Akarrumput tapi gak onok sing nggawe acara...

    salam budaya cak Hurek!

    Pakde Yoes
    sketser Akar rumput

    ReplyDelete
  5. assalamulaikum saya evi dri gisik kidul sedati sidoarjo saya ingin belajar teather. gmn ya carax bisa gabung

    ReplyDelete