22 March 2007

Romo Paskalis Hurek



Di daerah saya, Flores Timur, yang 95 persen warganya beragama Katolik, pastor menjadi figur sentral. Pastor jauh lebih dihormati, didengarkan suaranya, ketimbang bupati atau gubernur. Tak heran, warga menyebut pastor dengan TUAN.

Kalau di Jawa, pastor disapa ROMO (artinya bapak, father), di Flores Timur umat lebih akrab dengan sebutan hormat PATER. Artinya, ya, sama saja dengan ROMO. Tapi orang Flores umumnya membedakan PATER dengan ROMO, yang nota bene sama-sama pastor (tuan) dan artinya pun sama. Bingung? Tak usahlah.

Sebutan PATER berlaku untuk imam-imam kongregasi alias tarekat. Adapun ROMO hanya untuk imam-imam praja, biasa disingkat Pr. Di Jawa, status imamat sama sekali tidak dibedakan. Umat Katolik di Jawa main pukul rata: semua pastor dipanggil Romo. Di Jakarta lain lagi: ROMO tidak dikenal, tapi langsung ke sapaan PASTOR.

Contoh: Pastor Mardi, Pastor Mudji, Pastor Sandyawan.

Karena Flores itu basisnya Societas Verbi Divini (SVD), maka semua pastor SVD pasti dipanggil dengan kata sandang PATER. Contoh: Pater Paulus, Pater Geurtz, Pater Lambert, Pater Niko, Pater Sonny, Pater Herry.

Menjadi pastor itu sulit. Sekolahnya makan waktu, makan umur, tapi tidak makan biaya. [Pendidikan di seminari gratis, cukup modal otak encer.] Lulus seminari menengah di Flores Timur, namanya Seminari Hokeng, tidak gampang. Saringannya berlapis-lapis. Nakal sedikit, curi buah-buahan, malas, langsung dicoret. Tidak sopan coret! Nilai merah habislah kau!

Maka, lulusan Hokeng dijamin hebat-hebat meskipun nanti tidak sampai jadi pater atau romo. [Saya tidak pernah sekolah di seminari karena memang tidak hebat.]

Lepas dari seminari menengah alias seminari rendah lanjut ke seminari tinggi. Pilihannya, di Flores, dua: Seminari Tinggi Santo Paulus, Ledalero, atau Seminari Tinggi Santo Petrus, Ritapiret. Lokasinya berdekatan di Kabupaten Sikka. Ledalero untuk calon pastor SVD (pater), Ritapiret calon pastor praja (romo).

Sekolahnya juga lama. Selain menyelesaikan pendidikan sarjana reguler versi pemerintah, juga pendidikan khusus filsafat, teologi, kerohanian. Lalu, praktik, orientasi pastoral. Makan waktu enam tujuh tahun, bahkan lebih.

Lalu, kesiapan mental. Ini penting karena pastor Katolik terikat tiga kaul [kesucian, ketaatan, kemiskinan] seumur hidup. Gampangnya, tidak boleh menikah dengan alasan apa pun. Kalau nikah, ya, harus lepas jubah. Karena itu, rata-rata pastor bari ditahbiskan setelah berusia 30 tahun. Ada memang yang lebih muda, 24-25 tahun, tapi sedikit.

Pastor itu, di kampung saya, makhluk langka dan luar biasa. Sekolahnya sulit dan, umat percaya, bahwa ini hanya bisa terjadi karena panggilan khusus. Orang boleh ngotot menyekolahkan anaknya ke seminari, tapi kalau Tuhan tidak panggil, ya lewat. Buktinya, sudah puluhan, bahkan ratusan anak muda, di kecamatan saya, Ile Ape, coba-coba masuk seminari, tapi gagal. Sekarang mereka menikah dan punya banyak anak.

Yang jadi pastor, asal Ile Ape [Lembata], hanya sedikit. Bisa dihitung dengan jari. Pater Gabriel Goran SVD merupakan pastor pertama dari kecamatan saya. Kemudian Pater Yulius Luli Hada CSSR. Kemudian Romo Zakarias Benny Nihamaking Pr. Kemudian Romo Paskalis Gilo Hurek Pr. Saya belum dapat data nama-nama imam baru asal Ile Ape, tapi mungkin ada beberapa lagi.

Dibandingkan kecamatan-kecamatan lain, Ile Ape memang gersang, termasuk gersang panggilan. "Mari kita berdoa semoga Allah Bapa memberikan tanah yang subur untuk panggilan," ujar Pater Maria Geurtz SVD [almarhum], pastor paroki di kampung saya.

Saya percaya, berkat doa-doa umat dan panggilan Tuhan, akhirnya beberapa orang dari kampung saya masuk seminari dan akhirnya jadi pater dan romo. Secara pribadi, saya ikut bangga karena dua pastor di antara pastor itu keluarga kandung saya: Romo Zakarias Benny Nihamaking dan Romo Paskalis Hurek.

Sekarang Romo Zakarias bertugas di Adonara, Romo Paskalis Hurek di Solor, masih di wilayah Flores Timur.

Oh, ya, karena pastor itu sangat langka, belum tentu muncul di daerah saya dalam tempo 50 tahun, maka upacara tahbisan sangat meriah. Pesta besar-besaran melibatkan puluhan ribu orang dari seluruh kecamatan. Maklum, satu kecamatan satu paroki, sekaligus satu unit adat. Semua merasa memiliki pastor baru.

Liturgi digelar di lapangan terbuka, diikuti puluhan pastor, dan tentu dipimpin langsung oleh Bapa Uskup Larantuka. Misa inkulturasi dengan nuansa adat Lamaholot. Saat tahbisan semua orang Ile Ape tidak bekerja, tapi ikut misa pontifikal di kampung tempat lahir si pastor baru. Saat si diakon usai merebahkan diri di tanah, ditumpangi tangan oleh Bapa Uskup, dan resmi menjadi pastor... tepuk tangan membahana.

Tari-tarian adat menyambut lahirnya seorang pastor baru di tengah-tengah kita. Warga bangga luar biasa karena boleh menggantikan misionaris Barat. "Ternyata, anak kita pun bisa jadi pastor. Bukan hanya orang Belanda yang bisa," kata tua-tua adat dan tokoh gereja di kampung.

Selesai misa yang makan waktu empat jam lebih [tahbisan di Jawa paling lama dua jam], pesta masih berlanjut. Seluruh umat, termasuk warga non-Katolik, yang ikut bergembira, menikmati pesta besar. Panitia sudah menyiapkan makanan spesial untuk ribuan orang. Semua orang dapat makan. Pesta dilanjut dengan tari-tarian adat pada malam harinya. Singkatnya, semua bergembira ria dan bersyukur. Lantas, pulang ke kampung masing-masing.

Nah, usai tahbisan dan perayaan syukur besar-besaran, si pastor atau imam baru memperkenalkan diri ke semua stasi [desa] di kecamatan. Ada 15 desa. Satu hari satu desa. Tiap kali masuk desa, ia dijemput layaknya raja yang baru naik takhta. Lalu, tari-tarian dan prosesi menuju gereja stasi. Lalu, si pater/romo menggelar pesta khusus untuk seluruh warga di desa itu. Lalu, pindah lagi ke desa lain sampai tuntas 15 desa.

"Sulit saya ungkapkan dengan kata-kata perasaan saya saat disambut ribuan umat dengan luar biasa. Saya hanya bersyukur kepada Tuhan karena telah memilih saya menjadi hamba-Nya. Saya bisa jadi romo karena panggilan Tuhan, berkat doa-doa seluruh umat dan orang tua," ujar Romo Paskalis Hurek.

Suasana ini kontras sekali dengan pelantikan camat, bupati, bahkan gubernur. Pesta rakyat tidak ada. Rakyat tidak akan rela berlibur barang sehari untuk mensyukuri pelantikan pejabat tinggi. Kalaupun ada, pesta itu sangat birokratis dan kering.

Terus terang, di Flores, posisi pastor jauh lebih 'mulia' ketimbang jabatan birokrasi setinggi apa pun.

Saya sering mengikuti misa tahbisan pastor-pastor baru di Surabaya, Malang, dan Jember (satu kali). Liturginya juga meriah, berkesan, tapi tidak sepanjang di kampung saya, Flores Timur. Tidak ada kegembiraan dan pesta syukur luar biasa. Bahkan, sebagian besar umat langsung pulang, tidak sempat bersalaman atau sekadar memberi ucapan selamat. Acara makan-makan hanya diikuti undangan yang jumlahnya terbatas.

Celakanya, tahbisan pastor di Pulau Jawa belum menjadi milik masyarakat di luar komunitas Katolik. Redaksi media massa tidak melihat tahbisan sebagai momen luar biasa untuk jemaat Katolik. Makanya, sehari setelah tahbisan tidak ada berita/foto di koran-koran. Sementara pernyataan pejabat, politikus, demonstran, penjahat... suka dikutip koran-koran.

Coba kalau di Flores? Surat kabar lokal memuat berita tahbisan di halaman satu, ditambah liputan panjang, yang menghabiskan 60 persen halaman koran.

Ah, Flores memang lain!

5 comments:

  1. cerita bagus, ditulis oleh orang yang tahu masalah.

    Frans,
    Jakarta

    ReplyDelete
  2. Cerita lama namun menarik untuk dibaca. Saya kagum akan kemampuan Bapak Lambertus Hurek untuk menulis banyak topik.

    Efendi

    Tasikmalaya

    ReplyDelete
  3. Wah, keren...seneng bisa baca cerita kayak gini..

    ReplyDelete
  4. Ini Edi Silferius. Mudah-mudahan Romo paskalis masih ingat. kapanpun membaca komen ini, mohon Romo mengirim kontak teleponx. ini nomor saya: 081355 385038. Saya kehilangan HP sejak januari lalu dan kehilangan nomor kontak Romo paskalis. Nomor saya tetap. Salam dari Kendari, Sulawesi Tenggara.

    ReplyDelete
  5. Sampeyan bisa masuk via fb di https://m.facebook.com/paskalis.hurekmaking?ref=content_filter

    ReplyDelete