11 March 2007

Selayang Pandang - Said Effendi - Lagu Melayu




Lagu : Lily Suhairy
Lirik : Hamiedhan AC
Vokal : Said Effendi


1. DARI MANA DATANGNYA LINTAH,
DARI SAWAH TURUN KE KALI
DARILAH MANA DATANGNYA CINTA,
DARILAH MATA TURUN KE HATI

LAYANG-LAYANG SELAYANG PANDANG,
HATI DI DALAM RASA BERGONCANG
LAYANG-LAYANG JATUH DI KALI,
SEKALI PANDANG JATUH KE HATI

2. BUAH DUKU BUAH RAMBUTAN,
BELI PETI ISINYA LAKSA
HATIKU RINDU BUKAN BUATAN,
MENGENANG KASIH JAUH DI MATA

LAYANG-LAYANG SELAYANG PANDANG,
HATI DI DALAM RASA BERGONCANG
LAYANG-LAYANG DI POHON DUKUH,
KALAU DIPANDANG MENJADI RINDU

3. PULAU PANDAN JAUH DI TENGAH,
DI BALIK PULAU SI ANGSA DUA
HANCURLAH BADAN DIKANDUNG TANAH,
BUDI YANG BAIK TERKENANG JUA

LAYANG-LAYANG SELAYANG PANDANG,
HATI DI DALAM RASA BERGONCANG
LAYANG-LAYANG DARI CIBINONG,
TERPAUT PANDANG JANGANLAH BINGUNG

4. KALAU ADA SUMUR DI LADANG,
BOLEH KITA MENUMPANG MANDI
KALAULAH ADA UMURKU PANJANG,
BOLEHLAH KITA BERTEMU LAGI

LAYANG-LAYANG SELAYANG PANDANG,
HATI DI DALAM RASA BERGONCANG
LAYANG-LAYANG TANGKAINYA LIDI,
SELAYANG PANDANG SAMPAI DI SINI

[Sumber: Seleksi Album Emas Said Effendi, Gema Nada Pertiwi Records, Jakarta.]


Saya suka betul lagu SELAYANG PANDANG ini. Melodinya, kata orang Tionghoa di Surabaya, ciamik soro. Sangat enak. Karena itu, setiap kali main harmonika, seruling, atau alat musik lain, saya selalu memainkan melodi itu: SELAYANG PANDANG. Saya rasa, orang Indonesia tak asing lagi dengan lagu ciptaan LILY SUHAIRY dan HAMIEDHAN AC tersebut.

Seingat saya, pada 1990-an selalu diperdengarkan di TVRI dalam program TITIAN MUHIBAH SENADA SEIRAMA KERJA sama TVRI dan RTM. Di awal dan akhir acara, para pengisi acara selalu nyanyi ramai-ramai: SELAYANG PANDANG. Saat saya jalan-jalan di Singapura, tepatnya di Pulau Sentosa, melodi lagu ini terus-menerus diperdengarkan. Ia sebagai simbol kehadiran orang-orang Melayu di negara kota itu. Di Kuala Lumpur, boleh dikata, MELODI SELAYANG pandang menjadi menu sehari-hari di sana.

Bertahun-tahun saya mencari kaset atau CD lagu itu di Surabaya. Eh, tidak ketemu. “Wah, itu lagu zaman dulu. Mana ada?” kata pelayan toko kaset terbesar di Kota Surabaya.

Teman-teman penyiar radio pun tak bisa bantu. “Rekaman lawas itu Cak. Gak ada lah,” kata seorang teman di radio spesialis tembang kenangan.

Sabtu, 10 Maret 2007, saya jalan-jalan ke Pandaan, Jawa Timur.

Saya lihat ada orang menjual kaset-kaset lama. Sebagai kolektor amatiran (hehehe...), saya bolak-balik tumpukan kaset bekas. Eureka! Saya menemukan kaset SELEKSI ALBUM EMAS SAID EFFENDI. Saya cermati baik-baik. Hmmm... isinya 24 lagu, semua berirama melayu klasik. Di sisi A, urutan kedua, tertera lagu SELAYANG PANDANG.

Puji Tuhan! Tanpa banyak menawar, saya membeli kaset langka itu. Lalu, saya putar via walkman kecil yang selalu saya bawa ke mana-mana. Sepanjang hari itu saya manfaatkan untuk mempelajari lagu-lagu melayu yang dibawakan sang maestro, Said Effendi.

Suara Said Effendi sangat laki-laki, kebapaan, pakai cengkok melayu (Malaysia), diiringi orkes melayu bercita rasa 1960-an hingga 1970-an awal. Tentu proses rekaman sudah lama sekali, 1970-an, bahkan 1960-an. Musiknya sederhana, namun justru di situlah kelebihan lagu-lagu lama. Syairnya pakai pola pantun. Ada sampiran, kemudian isi, ada nasihat, petuah-petuah bijak. Pantas saja orang-orang tua senang dengan lagu-lagu melayu ala Said Effendi.

Oh ya, selain SELAYANG PANDANG, di album seleksi Said Effendi ini ada lagu:

SEMALAM DI MALAYSIA (Syaiful Bachri),
LAMBAIAN BUNGA (Ismail Marzuki),
PAK KETIPUNG (NN),
HALIMUN MALAM (A Chalik),
CINTA HAMPA (Ali Sabeni),
MUSAFIR KELANA (Husein Bawafie),
RAYUAN MAUT (Said Effendi),
LIRIKAN MATA (NN),
MAINANG PULAU KAMPAI (NN),
SENANDUNG ANAK DARA (Ismail Marzuki),
KAPARINYO (NN).

Sisi B:

YALE-YALE,
BIMBANG DAN RAGU (Said Effendi),
ANTARA KASIH DAN SAYANG (Chilung),
Angin Menderu (NN),
PURA-PURA (Husein Bawafie),
CERMIN BUDI (Husein Bawafie),
HANYA NYANYIAN (Said Effendi),
TAWAF (Said Effendi),
BALASAN KASIH (M Mashabi),
MUTIARA DARI PULAU PINANG (Zainal Arifin),
RIWAYATKU (M Ishak),
ANAK KALA (NN).

Mendengar rekaman ini ibarat meniti sejarah dangdut, musik paling populer di Indonesia sampai hari ini. Ada kemiripan dengan dangdut, tapi berbeda. Dangdut yang ada sekarang, menurut saya, sudah berkembang menjadi sangat liar. Penampilan penyanyi-penyanyi dangdut (wanita) sangat tidak sopan. Jogetnya liar dan sensual.

Lain sekali dengan lagu-lagu melayu: anggun, sopan, religius, indah bahasa, adiluhung. Boleh jadi, dangdut yang awalnya menggunakan ‘bahan dasar’ melayu kemudian bercampur India, Arab, etnik... sehingga hasilnya seperti sekarang.

“Dengar lagu-lagu dangdut, lihat penyanyi-penyanyinya di atas panggung... kita jadi malu. Jauh dari keanggunan budaya timur,” kata Abdul Malik Buzaid alias A Malik Bz, salah satu pelopor musik melayu di Indonesia.

Malik bergabung dengan Orkes Melayu SINAR KEMALA pada 1960-a. Orkes pimpinan Abdul Kadir ini merilis puluhan album. Salah satunya Keagungan Tuhan, ciptaan A Malik Bz, yang dipopulerkan oleh Ida Laila.

“Okelah, musik itu berkembang, tapi jangan sampai kebablasan. Kita punya budaya sopan santun, tata krama, ada seni sastra dalam nyanyian. Nggak urakan seperti lagu-lagu dangdut sekarang,” ujar Malik Bz saat saya jumpai di rumahnya, Desa Kureksari, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

“Omong-omong Pak Malik kenal Said Effendi?” tanya saya.

“Oh, kenal sekali. Dia pernah nyanyi di OM Sinar Kemala. Saya ikut mengiringi Said Effendi,” ujar Malik.

Komposer senior ini kemudian mengambil foto kenangan OM Sinar Kemala saat konser di Surabaya pada 1970-an. Said Effendi ada di gambar itu. “Dia itu asli Situbondo,” papar Malik.

Saya terkejut. Selama ini saya mengira Said Effendi asli Malaysia atau setidaknya Sumatera. Gaya menyanyinya ‘melayu banget’, sementara orang Situbondo itu berhasa Madura. Rasanya kok jauh sekali. “Memang banyak orang mengira Said Effendi orang Malaysia. Tapi dia memang orang Situbondo.”

Menurut Malik Bz, sejak 1960-an Said Effendi sudah memperlihatkan bakat sebagai seniman musik jempolan. Tak hanya membawakan lagu-lagu orang lain, Said pun banyak bikin lagu. Ya, lagu-lagu melayu sesuai dengan tren musik waktu itu. Said banyak dipakai orkes-orkes melayu di Jakarta dan Surabaya. Dulu, kata Malik, setiap orkes selain punya pemusik-pemusik tetap juga beberapa penyanyi tetap.

Nah, Said Effendi ini, karena kehebatannya, kerap diundang sebagai bintang tamu di sejumlah orkes melayu. Lepas dari Jawa Timur, khususnya Surabaya, Said Effendi mengembangkan karier musik di Jakarta. Di ibukota ia bertemu dengan pemusik-pemusik top macam Syaiful Bachri, Muchtar Embut, Zainal Arifin, Husein Bawafie, dan nama-nama besar lain.

Maka, nama Said Effendi pun populer hingga ke negara-negara tetangga macam Malaysia, Singapura, Brunei. Apalagi, waktu itu negara-negara serumpun ini punya selera musik yang hampir sama. Yakni, lagu-lagu berpantun ala melayu. Melanglang buana ke negara jiran pun menjadi makanan sehari-hari Said Effendi.

“Jadi, Said Effendi memang sangat dikenal di Malaysia. Sama dengan lagu-lagu OM Sinar Kemala, termasuk Keagungan Tuhan, sangat dikenal di Malaysia, Brunei, Singapura,” jelas Malik Bz, komposer yang memberikan banyak informasi seputar musik melayu kepada saya sejak 2003.

Sayang sekali, jasa besar Said Effendi dalam mengembangkan musik di Tanah Air kurang diperhatikan oleh pemerintah Indonesia. Tak ada penghargaan apa pun yang diterima almarhum Said Effendi. Padahal, jasanya di bidang musik tak kalah dengan P RAMLEE, seniman musik melayu di Malaysia.

SELAYANG PANDANG
Versi Eddy Silitonga

Lama sudah tidak ke ladang
Tinggi rumput darilah lalang
Lama tak kupandang hati tak senang
Lama tak kupandang hati tak senang

REFREIN
Layang-layang selayang pandang
Hati di dalam rasa bergoncang
Jangan ragu dan jangan bimbang
Ini lagu selayang pandang

Kalau tidak kelapa puan
Tidak puan kelapa bali
Kalau tak puan siapa lagi
Kalau tak puan siapa lagi
Layang-layang.......

Wahai selasih janganlah tinggi
Kalaupun tinggi berdaun jangan
Wahai kekasih janganlah pergi
Kalaupun pergi bertahun jangan
Layang-layang........

29 comments:

  1. tambahan:
    almarhum said effendi sempat dapat penghargaan dari pemerintah indonesia melalui PAPPRI saat hari musik. kalo gak salah organisasinya dharma oratmangun. tapi secara umum, penghargaan untuk beliau belum setimpal dengan jasa-jasanya.

    ReplyDelete
  2. bung, aku punya kaset eddy silitonga nyanyi 'selayang pandang'. kok liriknya beda ya?
    refreinnya begini:

    'layang-layang selayang pandang
    hati di dalam rasa bergoncang
    jangan ragu dan jangan bimbang
    ini lagu selayang pandang'.

    ReplyDelete
  3. Iya iya...
    Selayang Pandang memang banyak sekali versinya. Di Indonesia banyak, di Malaysia pun banyak. Ini karena lagu itu sangat cocok buat berbalas pantun. Benar, versi yang dibawakan Eddy Silitonga lebih banyak dibawakan di Indonesia. Termasuk saat Kontes Dangdut TPI alias KDI.
    Terima kasih atas perhatian anda.

    ReplyDelete
  4. salam kenal dari saya,

    ReplyDelete
  5. ada lagunya ga ?
    pengen download ney buat koleksi

    ReplyDelete
  6. catatan yg bagus. aku cari2 referensi selayang pandang akhirnya ketemu. terima kasih byk atas ketelitian anda menulis artikel ini. fred

    ReplyDelete
  7. Hehehe... memang elok nian pantun ini. Khas pantun Melayu tempo dulu. Terima kasih teman-teman dari Malaysia yang sudah melawat ke blog saya. Salam.

    ReplyDelete
  8. klo mau download lagunya dimana? Saya nyari ga dapet2, klo ada yang tau kasih tau saya di phithea@gmail.com

    terima kasih.

    ReplyDelete
  9. klo mau download dimana? coz aq da tugas cari2 ga dap!!!

    ReplyDelete
  10. Hi Pencinta Lagu Melayu - Mr. Lambertus,

    Saya sangat menyukai lagu2 melayu yg diciptakan & Dinyanyikan Said Effendi.Saya mulai mendengar lagu2 Said Effendy sejak Balita, karena Ayah saya salahsatu pengagum lagu2 beliau.
    Tidak terasa sewaktu menginjak remaja lagu2 tsb sering saya dengar dengan memutar kaset2 ayah saya.Namun sekitar 13 tahun yg lalu kaset2 tsb berpindah-pindah tangan, sehingga saat ini tidak tahu dimana rimbanya.
    Mohon kiranya kalau dapat diinformasikan apakah dapat didownload lagu2 Said Effendi tsb?bila iya disitus apakah saya dapat mengunduhnya?bila tidak dimana saya dpt mencari kaset atau CD nya?

    Terima Kasih atas perhatiannya
    Regards,

    Syaifullah Abrar

    ReplyDelete
  11. saya pakai catatan lirik lagu ini untuk social study bahasa indonesia di sekolah saya mengajar. kami baru saja selesai menonton Naga Bonar dan lagu ini punya unsur-unsur pantun dan kebudayaan melayu. jadi lebih mudah dipahami.

    thanks!

    ReplyDelete
  12. Halo mas lambertus, sesama alumni SMA tugu nih, cuman beda nya saya Bhawikarsu hehehe..
    Pertanyaan saya sama kayak org2 di atas, di mana saya bisa download lagu2nya Said Effendi. Saya sudah hunting di internet tapi cuman dpt bbrp lagu saja :(

    Ato kalo gak mohon sudilah kira nya meng-konvert dari format kaset ke MP3. Untuk cara nya anda bisa bertanya ke rekan2 di radio. Pasti mereka tau soal nya koleksi kaset mereka di convert ke MP3 semua (hari gini gituhh).

    Thanks yahh, maaf kalo request saya merepotkan, tapi liat sisi baik nya semakin banyak orang yg nanti nya bisa menikmati alunan suara Said Effendi org Madura yg sering di sangka org Melayu hihihi.

    Suwun.

    ReplyDelete
  13. Hai Mas Lambertus. Saya juga alumni SMA Tugu juga, tapi Stetsa. Tetangga persis.
    Nice articles mas
    Mendengar lagu melayu, serasa balik ke Riau. Radio, tv, di kantor - kantor pemerintah, sekolah bahkan senam pagi pun pakai lagu melayu.
    Di Pelabuhan Batam atau Dumai pun, saat diperdengarkan lagu melayu, menyeberang ke Malaysia atau Singapura serasa jadi cuma pindah antar pulau saja, bukan pindah antar negara. Semua serasa bersaudara, satu rumpun.

    Salam

    ReplyDelete
  14. lagu selayang pandang ini sudah jd lagu abadi. iramanya rancak, khas melayu banget...

    ReplyDelete
  15. mau berbagi mp3 lagu melayu
    sejarah-labuhanbatu.blogspot.com

    ReplyDelete
  16. Salam siang sdr Lambertus,
    Terima kasih atas nukilan ini.
    Sementelah saya juga mencari maklumat tentang seniman Said Affendi.
    Apakah sdr tahu tentang kisah surat rahsia daripada wanita bernama Chairani?
    TK sekali lagi.

    ReplyDelete
  17. Maaf pak badrudin, saya tak tahu tentang surat itu. Lagi pula sumber utama saya pak malik buzaid, seniman musik dari orkes melayu sinar kelama yang berjaya tahun 1960an hingga 1970an sudah meninggal tahun lalu.

    Terimakasih banyak sudah membaca dan kasih komen di blog saya. Salam muzik untuk tuan dan puan di negara jiran.

    ReplyDelete
  18. alm said effendi ini seorang seniman musik besar yg lagu2nya tetap lestari dari masa ke masa.

    tommy di palembang

    ReplyDelete
  19. Sаved as a fаѵoritе, I like your web
    site!
    Here is my homepage - malaysiawebdevelopment.my

    ReplyDelete
  20. salam hormat...smmgnya arwah S Effendi seniman besar melayu...gaya nyanyian yg sgt berkesan

    ReplyDelete
  21. ingin sangat kalau ada page d FB "Penggemar S EFFENDY...yg kita bisa tau list lagu2nya...beggitu juga kalau ada page "Penggemar/Fans Eddy Silitonga"/"Tiar Ramon"..atau apa2 nama yg sesuai

    ReplyDelete
  22. jadi ingat2 dulu waktu kecil, heheheheheh

    www.axzid.com

    ReplyDelete
  23. Sodara Lambert, Musik irama "dolo-dolo" sendiri sangat dipengaruhi langgam melayu kalau dilihat dari iramanya. menurut saya heee salam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali. ada kemiripan melodi, irama, dan khususnya pantun. Lagu dolo2 di Flores Timur selalu menggunakan pantun dengan refren yg sama seperti di musik melayu. Mungkin ada kaitan dengan letak Flores Timur yang di pinggir laut sehingga sejak dulu punya interaksi dengan orang luar. Dan jangan lupa bahasa Nagi di Larantuka itu sebetulnya salah satu ragam bahasa Melayu di nusantara.

      Terima kasih Tobby sudah kasih masukan. Salam damai.

      Delete
  24. semalam saya dapat CD (maksudnya compact disc) : seleksi album mas SAID EFFENDI, di toko CD yang gandeng ama toko buku deket alun-alun malang; isinya 14 lagu, lumayan . . .

    btw, saya juga baru tahu kalo Said Effendi itu orang jawa timur; selama ini kukira orang minang ;-)

    ReplyDelete