08 March 2007

Sarjana NTT Enggan Pulang Kampung



Nusa Tenggara Timur (NTT) dikenal sebagai salah satu provinsi paling miskin di Indonesia. Saking tertinggalnya, NTT kerap dipelesetkan sebagai NUSA TETAP TERTINGGAL. Teman-teman saya di Kupang bikin pelesetan lain: NASIB TIDAK TENTU. Lalu, bagaimana NTT bisa keluar dari lingkaran kemiskinan?

TINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN. Itulah benang merah sebuah seminar yang digelar di kampus Universitas Dr Soetomo Surabaya, belum lama ini. seminar diikuti sekitar 500 mahasiswa Flobamora (Flores, Sumba, Timor, Alor) di Jawa Timur.

“Jumlah buta aksara di NTT masih 14 persen. Angka ini jelas tidak kecil,” kata HERMAN UMBU, pejabat Dinas Pendidikan NTT. Celakanya, angka buta aksara tertinggi justru di Sumba Timur yang dikenal sebagai kabupaten ‘kaya’. Asal tahu saja, Sumba Timur memiliki petenakan sapi dan kuda terbaik di Indonesia.

ANITA LIE PhD, pakar pendidikan lulusan Amerika Serikat, yang juga anggota Dewan Pendidikan Jawa Timur, secara halus mengkritik pola pendidikan di Bumi Flobamora. Kurang aplikatif, katanya. Anak-anak sekolah atau mahasiswa kurang dibekali pendidikan ketrampilan untuk berwirausaha.

“Kalau semua jadi pegawai negeri sipil, berapa sih formasi yang tersedia?” ujar dosen Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya ini.

Menurut Anita, menjadi wirausaha di NTT (atau di mana saja) butuh skill, kemampuan membaca peluang, serta keberanian mengambil risiko. Namun, jika ditekuni sungguh-sungguh, sektor swasta alias usaha kecil dan menengah memiliki prospek paling cerah.

“Saya harap kalian, mahasiswa asal NTT yang kuliah di Jawa Timur, berani pulang, memulai membuka usaha di kampung halaman. Pasti ada peluang,” pesan Anita. Teman-teman mahasiswa bertepuk tangan dan tertawa ramai.

Baik Anita Lie maupun pembicara lain sepakat bahwa orang Nusa Tenggara Timur itu tidak bodoh. Banyak yang berotak cemerlang, IQ-nya tidak kalah dengan orang-orang Jawa. Namun, ironisnya, setelah kuliah lama di Jawa, sebagian besar enggan pulang kampung. Mereka memilih bekerja di kota-kota besar Pulau Jawa.

Banyak yang telanjur kecantol gadis Jawa, kemudian menikah, karena prosedur penikahan di Jawa memang sangat sederhana. Bandingkan dengan tata pernikahan di NTT yang rumit, belis mahal, berbelit-belit. Banyak pula sarjana asal NTT yang enggan pulang karena sulit melihat peluang usaha di kampung.

“Tapi itu bukan hanya orang NTT. Anak-anak muda Tiongkok atau India yang dikuliahkan di Amerika Serikat pun lebih banyak yang tidak pulang,” kata Anita Lie lalu tersenyum.

Yang menarik, seminar pendidikan NTT juga dihadiri para mahasiswa asli Jawa, khususnya gadis-gadis manis. Fitri, asal Malang, sangat tekun mengikuti diskusi tentang persoalan di NTT.

“Kamu punya minat sama NTT atau barangkali punya pacar orang Flores?” pancing saya. Fitri tertawa lebar.

“Saya memang ingin lebih mengenal orang NTT. Aku lagi jalan ama cowok Flores. Ceritain dong orang Flores tuh kayak apa sih? Suka mukul gak? Hehehe...,” kata Fitri.

Saya pun tertawa sekaligus geleng-geleng kepala. Memang, di Jawa ini ada image seakan-akan laki-laki Flores (NTT) itu kasar, suka memukul pasangannya, kurang sopan, dan sebagainya.

“Tapi pacarku baik kok. Gak tau kalo dah nikah nanti,” tambah Wiwin, asli Blitar yang pacaran sama mahasiswa asal Flores Timur. Dia juga minta saya cerita sekilas tentang watak orang Flores.

“Hmm.. kamu baca aja blog saya,” ujar saya sembari menulis alamat blog ini (www.hurek.blogspot.com) di buku catatannya. Ternyata, ada enaknya juga punya blog macam ini. Hehehehe....

No comments:

Post a Comment