07 March 2007

A Rafiq Reuni OM Sinar Kemala



Oleh Lambertus L. Hurek

A RAFIQ, siapa tak kenal? Dia bukan sekadar penyanyi dangdut, tapi juga pencipta tren. Gaya celana, cara joget, cara nyanyinya... ditiru banyak penyanyi muda.

“Kamu tahu nggak celana A Rafiq? Hehehe,” ujar A Rafiq kepada saya di Sidoarjo, belum lama ini.

“Tahu nggak karakter suara saya?” tanya A Rafiq kepada saya. “Nggak ada yang bisa lawan. Penyanyi lain kalau duet dengan saya pasti kewalahan karena tone saya tinggi. Makanya, kalau ada yang duet sama saya biasanya nada dasar dia diturunkan biar bisa ngangkat,” kata A Rafiq panjang lebar.

Gaya bicara penyanyi senior ini memang khas: blak-blakan, agak ‘sombong’, tak segan-segan mengkritik penyanyi lain yang dinilai kurang paham musik. “Di Indonesia ini banyak penyanyi mau meniru gaya saya tapi nggak sanggup. Yang namanya A rafiq itu, ya, hanya satu. Hehehehe....”

Suasana di rumah A Malik Bz, dedengkot musik melayu, pencipta lagu Keagungan Tuhan, di kawasan Kureksari, Waru, Sidoarjo, ini pun riuh. A Rafiq suka bicara, kelakar, menambah sedap pembicaraan. Saya pun menyeruput kopi panas yang telah disiapkan Ny Malik Bz sejak 30 menit lalu.

“Minum dulu, jangan wawancara terus. A Rafiq itu kalau sudah bicara sulit berhenti,” tukas Malik Bz. A Rafiq dan istri pun tertawa lebar mendengar komentar sahabat lamanya itu.

Begitulah. Hari itu Malik Bz dan A Rafiq mengenang kejayaan Orkes Melayu (OM) Sinar Kemala yang legendaris itu. Kebetulan A Rafiq (muda) tercatat sebagai salah satu vokalis OM Sinar Kemala. Malik Bz pemain akordeon dan beberapa instrumen lain.

Usai mengenang masa-masa jaya OM Sinar Kumala, A Rafiq bersenandung membawakan lagu-lagu mereka yang pernah hits. Tak mau kalah dengan A Rafiq, Malik Bz dengan vokalnya yang ngebas mengingatkan beberapa lagu ciptaannya yang pernah ngetop pada tahun 1970-an.

“Kalau begini terus, lama-lama saya nggak bisa pulang ke Jakarta. Padahal, siang ini saya harus ke Jakarta karena banyak acara,” ujar A Rafiq dengan tawa khasnya. “Beginilah kalau bertahun-tahun nggak pernah ketemu,” ujar A Rafiq kepada saya.

Setelah itu, obrolan ringan dan nostalgia beralih ke diskusi serius. A Rafiq meyakinkan Malik Bz bahwa OM Sinar Kumala perlu dihidupkan lagi. Bukan sekadar bernostalgia, tapi untuk menunjukkan ‘ruh’ musik Melayu yang sebenarnya kepada masyarakat. Paling tidak, generasi baru musik Melayu, seperti vokalis-vokalis KDI, punya referensi tentang keindahan musik Melayu.

“Ana serius nih. Jangan khawatir, ana siap jadi penyanyi. Ana tidak pusing dengan bayaran, mau kecil atai besar, sama saja. Kalau sama OM Sinar Kumala, ana siap kapan saja,” kata A Rafiq.

“Persoalannya tidak sederhana,” potong Malik Bz. Selain sudah banyak personel OM Sinar Kumala yang wafat, masalah hak cipta, ahli waris, dan aspek-aspek hukum perlu dipikirkan. Sebab, setelah OM Sinar Kemala (pimpinan A Kadir) bubar, komunikasi di antara personel, termasuk ahli warisnya, tidak mulus. Malik Bz sendiri mengaku pernah punya pikiran seperti A Rafiq.

“Tapi ketika mau melangkah ada saja masalah. Daripada kita rekaman terus muncul gugatan-gugatan, ya, buat apa?” tandas Malik Bz.

“Okelah, kita bisa cari jalan keluar. Yang penting, ruh Sinar Kemala muncul lagi ke permukaan. Ana yang nyanyi meskipun kita tidak pakai nama Sinar Kemala,” ujar A Rafiq, penuh semangat.

Yang jelas, Malik Bz tidak seantusias A Rafiq. Sebagai seniman kawakan, Malik lebih senang menciptakan lagu-lagu baru ketimbang hanya sekadar mendaur ulang hits lama. Bukankah konsumen musik sudah berubah? Kenapa harus bernostalgia terus-menerus? Bagi Malik, sebuah karya seni yang dibuat berdasar ilham pasti akan dikenang oleh masyarakat meskipun si pencipta lagu atau grup musiknya sudah tak ada lagi di dunia.

"Kami belum sepakat soal rekaman Sinar Kemala. Masalahnya cukup rumit sehingga perlu dipertimbangkan dulu lebih panjang,” ujar Malik.

Yang jelas, reuni dadakan di Kureksari ini berlangsung hangat, diiringi rekaman terbaru A Rafiq (belum dirilis). Ketika saya memberi tahu bahwa belum lama ini Malik Bz mendapat penghargaan seni dari Gubernur Jawa Timur Imam Utomo, A Rafiq langsung menjabat tangan dan merangkul sahabat karibnya itu.

“Yah, saya dan Bubi Chen yang dapat di Jawa Timur,” ujar Malik.

A Rafiq menimpali, “Alhamdulillah, Pak Malik ini memang sangat pantas mendapatkan penghargaan itu. Beliau itu seniman sejati, guru saya, yang membuat saya bisa seperti sekarang. Saya ikut bahagia karena beliau menerima penghargaan dari pemerintah daerah Jawa Timur. Ini luar biasa.”

Waktu beranjak siang. Khawatir rombongan bonek Persebaya memacetkan lalu lintas, A Rafiq, istri, serta rombongan khusus dari Jakarta pamit menuju Bandara Juanda. Katanya, reuni para pelopor musik Melayu di Indonesia akan berlanjut di masa-masa yang akan datang.

5 comments:

  1. suara khas A. Rafiq legendaris dangdut indonesia,luar biasa

    ReplyDelete
  2. OM lama memang py kekhasan yg tak dimiliki dangdut masa kini. aku suka lagu2 melayu lama yg sederhana tapi tahan jaman.

    ReplyDelete
  3. memang a rafiq mantap

    ReplyDelete
  4. Hallo Mas Rafiq ! saya pengagum anda serta Sinar kemala. saya mengkoleksi sinar kemala dan lagu2 melayu sprt Ellya dll. sejak th 60 an, hampir lengkap dan original.
    Sahabat sekomunitas bisa bergabung. kont. person :
    081 231 077 214 ( mas Nur )

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalao ente punya koleksi lengkap tolong dobagi disini dong. Aku jg kangen suara a rafiq sinar kemala

      Delete