04 March 2007

Penulis Lan Fang Jaga Toko Buku




Oleh Heti Palestina Yunani,
Wartawan Radar Surabaya

MENULIS ITU MENYENANGKAN, BEGITU KATA LAN FANG. MESKI BEGITU, WANITA INI CUKUP LAMA UNTUK MERASA BAHWA MENULIS ITU BENAR-BENAR DUNIANYA. SETELAH HANYA MENJADI PENULIS, LAN FANG KINI DIPERCAYA SEBAGAI KEPALA TOKO BUKU. BUKUNYA JUGA BAKAL DIFILMKAN.

Tidak sulit mencari LAN FANG sekarang. Satu tempat jujugan yang pasti, ya Toko Buku Diskon Toga Mas di Jalan Diponegoro. Sejak toko buku itu dibuka pada 22 Februari 2007, sudah pasti Lan Fang berada di sana. Bukan untuk menandatangani buku-bukunya yang dibeli oleh para penggemar, Lan Fang yang bertanggung jawab terhadap operasional toko buku keempat di Kota Surabaya ini.

“Kebetulan aku sekarang jadi kepala tokonya,” kata penulis yang telah menghasilkan enam buku itu.

Sebenarnya kesibukan wanita kelahiran 5 Maret 1970 ini tak nyeleneh juga. Sebab, bisnis yang digelutinya juga masih seputar dunia buku. Tapi, kesibukan penulis yang tak terikat jam kerja, namun kini berbalik, tentu sedikit mempertanyakan hari-hari Lan Fang yang mirip karyawan.

Jelas, Lan Fang harus ngantor sesuai jam kerja, meski ia terlihat fleksibel mengatur jam kerja, termasuk tak harus pakai seragam. Sebagai karyawan, ia juga punya tanggung jawab pada JOHAN BUDHIE SAVA, direktur Toga Mas. Apa tak menyita waktu untuk menulis?

Lan Fang yang masih berkaus oblong dan celana selutut saat kerja itu punya alasan mengapa dia mau menjaga toko buku. “Aku ini ibaratnya ikan. Nah, sekarang aku seperti dicemplungin ke kolam. Wuih, tambah menari-nari lah aku dalam kolam,” kata Lan Fang.

Dia yakin akan lebih aktif dan produktif menulis. Selain mengetahui perkembangan dunia buku, Lan Fang bisa mendekati pembaca buku lebih dekat. “Mengamati banyak orang yang datang, termasuk kecenderungan mereka terhadap buku-buku, tentu masukan yang besar untuk bahan menulis,” kata ibu tiga anak kembar ini.

Setahun terakhir ini, Lan Fang sedang produktif-produktifnya. Pada 2006, ada tiga buku yang ia tulis, LAKI-LAKI YANG SALAH, PEREMPUAN KEMBANG JEPUN dan YANG LIU. Sebenarnya ada satu buku yang keluar pada 2006 juga, tapi ditahannya agar tak terlalu banyak bukunya keluar dalam satu tahun. Tiga bukunya yang lain adalah REINKARNASI (2003), PAI YIN (2004) dan KEMBANG GUNUNG PUREI (2005).

Melihat idenya yang deras mengalir dalam tiga tahun terakhir, Lan Fang ingat betapa ia mulanya tak yakin memilih profesi penulis, meski ia menyenanginya sejak sekolah menengah atas.

“Menulis itu kan hanya sebagai penyaluran hobi. Tapi dua tahun terakhir ini, aku berpikir menulis juga bisa dijadikan sebagai sumber pendapatan, meskipun saya belum bisa kaya dari menulis,” kata lulusan Fakultas Hukum Universitas Surabaya ini.

Dari sekadar menerima honor Rp 150 ribu saat cerpennya termuat di ANITA CEMERLANG, enam bukunya yang sama-sama laris itu, menjadi keuntungan lain yang dirasakan Lan Fang berkat hobinya itu. Yang menggembirakan, novel PEREMPUAN KEMBANG JEPUN akan segera difilmkan oleh PT Elang Perkasa Film. Itu terjadi tak lama sebelum ia ditawari Johan untuk menjadi kepala toko.

“Aku sudah teken kontraknya. Rasanya hal ini membuat aku kian percaya dengan profesiku dan ingin berbagi pada banyak penulis pemula untuk lebih serius,” kata pemenang berbagai lomba menulis di majalah nasional itu.

Bagi Lan Fang, kemantapannya menjadi penulis sangat terlambat. Itu dirasakannya karena ia sendiri kurang fokus pada hobinya itu. Waktunya menulis sering kalah oleh kesibukannya kuliah, mengurus anak, atau bekerja di asuransi.

“Jadinya buku-bukuku banyak aku tulis bertahun-tahun, seperti PEREMPUAN KEMBANG JEPUN yang makan waktu empat tahun, Yang Liu sampai tiga tahun. Coba aku lebih fokus dan serius, pasti hasilnya akan lebih baik,” katanya seolah meresepkan tips menjadi penulis yang sukses.

3 comments:

  1. Saya dulu pernah satu kelas dan pernah duduk bersebelahan sama Lan Fang sewaktu kelas 1E di SMAK banjarmasin. Orangnya memang penuh bakat menulis (waktu itu di anita cemerlang). Saya senang akhirnya Lan Fang jadi penulis. Sukses selalu ya, kapan reuni nya?

    ReplyDelete
  2. wah seperti apa y klo' bbukunya lan fang di filmkan, serunya g' kebayang

    ReplyDelete