29 March 2007

Kita Diperbudak Televisi




Saya lahir di pelosok Flores Timur. Televisi tidak ada, listrik belum masuk. Suasana alam benar-benar asli. Suara jangkrik menjadi selalu terdengar. Malam tiba, gelap gulita. Lampu minyak dinyalakan. Hmmm... magis nian suasana malam.

Di kala bulan purnama, anak-anak bermain petak umpet, bernyanyi. Juga ada latihan paduan suara. Belajar bersama berkelompok.

Pengaruh televisi nol koma nol. Asal tahu saja, waktu itu, menjelang 1980-an,
televisi hanya satu, TVRI, jangkauannya hanya sampai di Larantuka, ibukota kabupaten Flores Timur. Kampung-kampung di pelosok, ya, tidak bisa menangkap siaran televisi.

Kini, 2007, saya tinggal di Jawa Timur. Televisi sangat banyak, mulai televisi nasional hingga lokal. Siaran 24 jam. Acaranya bervariasi, dikemas dengan konsep bisnis hiburan internasional. Manusia Indonesia didesain sedemikian rupa agar menjadi konsumen televisi. Bila perlu, sepanjang hari kau duduk di muka televisi, pegang remote control, memilih acara mana saja yang menarik.

Gosip artis, sepak bola, KDI, Indonesia Idol, AFI, berita (berbagai versi), diskusi, sinetron, film lama, masak-memasak, ceramah agama, kuis, meramal nasib, balapan, ludruk, wayang, ketoprak. Ratusan acara benar-benar menggoda kita.

Terus terang saja, waktu untuk membaca buku turun drastis. Ironis, bangsa yang belum punya budaya baca langsung dijejali dengan budaya baru: budaya televisi. Budaya mencerna wacana, refleksi, hening, meditasi... hilang. Kita menjadi budak-budak televisi yang semakin mendikte agenda hidup kita sehari-hari.

"Ayo, Tukul, Tukul... sudah mulai nih Empat Mata," teriak teman-teman saya pada pukul 21.30 WIB. Apa boleh buat, sebagian besar teman terpaku di depan televisi untuk menyaksikan bincang-bincang jenaka ala Tukul Arwana di Trans7. Hehehehe....

"Jangan lupa lihat KDI. Malam ini Widhi tampil. Mudah-mudahan menang," kata Ipunk Permana yang menelepon saya dari Jakarta. Ipunk tim sukses Widhi, peserta Kontes Dangdut TPI yang tinggal besama tantenya di Perumahan Tanggulangin Sejahtera I, Sidoarjo. Perum TAS I menjadi korban lumpur panas Lapindo.

"Nanti dinihari Barcelona main lho. Aku pegang Barca, sampeyan pegang apa?" kata Bambang, teman saya asal Sidoarjo.

"Chelsea makin bagus lho. Michael Ballack dan Drogba makin maut di depan gawang. Jangan lupa nonton bareng di Sidoarjo," ajak Gatot, teman yang tinggal di Pondok Mutiara Sidoarjo. "Tapi tetap saja MU tidak bisa dilawan. Juara kali ini MU," tambah Rahman, wartawan olahraga.

"American Idol bagus banget. Jurinya hebat, penyanyinya bagus-bagus. Sekarang lagi seru-serunya lho," kata Sugeng. Secara tersirat, dia meminta saya menyaksikan American Idol yang disiarkan di RCTI setiap Ahad dini hari.

"Eh, lihat Liputan Enam, ada kejadian bagus. Tolong wartawan Anda meliput," bunyi SMS teman saya, wartawan situs berita.

"Aku ntar lagi keluar di Trans TV lho. Jangan lewatkan kesempatan ini," SMS dari Yulius, pembuat gitar asal Porong. Dialah yang bikin gitar unik untuk Balawan, Dewa Bujana, Tohpati, serta pemusik jazz papan atas di negara ini.

Begitulah. Televisi setiap hari menyerang saya dan kita semua lah. Agenda hidup kita, katakanlah sebagian besar masyarakat Indonesia, sudah dikendalikan oleh televisi.

Saya pernah mengajak teman untuk jalan-jalan ke Madura, malam Minggu. "Jangan, Bang, acara TV bagus-bagus. Lain kali aja lah. Rugi kalau nggak lihat," ujar sang teman. "Jangan, sebentar lagi Ronaldo (Manchester United) main. Saya lihat TV dulu," kata teman lain.

Televisi membuat pergaulan kita dengan tetangga menjadi hambar. Orang tak merasa perlu bergaul, toh sudah ada teman di kamar: televisi. Kalau dulu di kampung, setelah dapat bantuan dari Menteri Harmoko, semua warga nonton bareng sebuah televisi hitam-putih, kini di satu rumah ada 5,6,7... 10 televisi. Dulu, kami di kos-kosan mahasiswa di Jember menonton bersama satu televisi di aula. Ramai, banyak komentar, saling berbagi, diskusi.

Sekarang? Tiap kamar punya televisi. Anak punya TV sendiri, papa punya sendiri, mama punya sendiri. Sebab, selera masing-masing berbeda. Anak remaja suka MTV, mama suka acara dangdut, papa mungkin lihat diskusi politik di Metro TV. Di kantor saya ada lima televisi. Itu pun ada yang bilang belum cukup. Di kantor redaksi Jawa Pos tersedia puluhan channel televisi.

Kalau dulu, saya dan orang-orang kampung pusing mencari televisi agar bisa nonton Elyas Pical atau Mike Tyson, sekarang saya sakit kepala karena televisi terlalu banyak. Televisi mengatur hidup saya, sampai-sampai saya sulit menyusun agenda sendiri. Bahkan, acara ibadah pun harus mengalah, menyesuaikan diri dengan program televisi. Pilih liturgi atau lihat siaran langsung tinju? Kadang-kadang saya memilih yang kedua.

Saat berdiskusi dengan Slamet Abdul Sjukur, komponis dan pianis terkenal asal Surabaya, saya mengajukan kasus televisi ini. Saya lihat di rumah Pak Slamet tidak ada televisi atau perangkat multimedia. Rasanya tenang, damai, ala rumah orang-orang kampung tempo dulu.

"Pak Slamet masih sempat melihat televisi?" pancing saya.

"Tidak pernah. Jangankan televisi, surat kabar saja saya tidak baca. Sudah 13 tahun ini saya tidak baca koran. Baca koran, lihat televisi, hanya bikin pusing. Hehehe," jawab Slamet dengan enteng.

Pria yang pernah tinggal di Prancis selama 14 tahun ini menambahkan:
"Saya memang ada televisi warisan dari orang tua. Tapi saya simpan saja di gudang. Mau dijual kok nggak enak."

Saya pernah mencoba membebaskan diri dari belitan televisi. Dua televisi saya di kamar, 14 dan 21 inci, saya kirim ke kampung halaman di Lembata, Flores Timur. Selama dua tahun saya tidak punya televisi di kamar. Karena itu, saya hanya baca buku, baca majalah, koran, mengurus kembang, main musik, menyanyi sendiri. Tapi lama-lama saya tidak kuat.

Kenapa? Demam Piala Dunia. Di mana-mana orang Surabaya dan Sidoarjo membahas hebatnya pemain-pemain bola dunia. Koran-koran menghabiskan sebagian besar halaman untuk berita Piala Dunia. Maka, tiap malam saya 'menumpang' nonton televisi di pinggir jalan, kafe, hotel, kantor, atau di rumah teman.

Lama-lama virus Piala Dunia merasuk ke tubuh saya. Lalu, pertahanan saya jebol. Saya ke kawasan Pasar Kembang, Surabaya, membeli televisi baru. Saya bermimpi, suatu saat saya bisa terbebas dari jeratan virus televisi. Saya tidak mau dikendalikan oleh Tukul Arwana serta program-program televisi yang kian heboh meskipun tidak mencerdaskan.

3 comments:

  1. Saya sering prihatin melihat keponakan2 di indonesia. Bangun tidur, nonton televisi dulu sebelum mandi pagi. Pulang sekolah juga demikian. Langsung setia di depan TV.

    Saya termasuk komunitas yang jarang nonton televisi. Karena tidak terlalu suka. Bukannya anti sama sekali.

    Waktu masih SMA, televisi hanya mati jika semua penghuni rumah tidur. Saat kuliah, jauh dari ortu. Tak ada fasilitas TV. Lama-lama terbiasa hidup tanpa dia.

    Anak saya, lima tahun, hanya boleh menonton setengah hingga sejam sehari. Itupun program-program acara aman. Menurut kami. Sebagai gantinya, kami lakukan kegiatan alternatif.

    ReplyDelete
  2. yg penting selektif lah. ortu perlu mendampingi anak2.

    ReplyDelete
  3. Ira dan anonim, terima kasih atas respons Anda. Salam

    ReplyDelete