13 March 2007

Kekerasan dalam Pacaran

Pacaran itu ternyata tak selalu manis. Ada juga banyak sisi gelapnya. Dan perempuan lagi-lagi harus menjadi korban.

Lina Simatupang, pengurus Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak di Sidoarjo, sempat cerita kepada saya soal kekerasan dalam pacaran. Apa saja itu?

"Banyak. Kekerasan tak harus dalam bentuk fisik, tapi bisa juga penipuan, penggelapan harta benda, hingga ingkar janji."

Lina Simatupang menyebutkan, di Sidoarjo banyak kasus pria sudah beristri mengaku bujangan. Dengan kata-kata manis, jurus-jurus maut untuk mengambil hati, si gadis dibuat tidak berkutik. Mereka lalu berpacaran sebagaimana layaknya muda-mudi. "Hubungan mereka bahkan berlanjut layaknya suami-istri saja," tutur Lina.

Contohnya Melati, wanita 24 tahun. Begitu sayangnya sama sang pacar, Melati mau menyerahkan segalanya. Dia akhirnya punya anak meskipun belum menikah sah. Orang tua Melati malu dengan tetangga, tapi bisa menerima kenyataan ini.

"Toh, yang menghamili pacar sendiri. Tinggal menikah secara resmi, habis perkara," pikir kerabat Melati.

Eh, ketika didesak untuk menikahi Melati, si laki-laki terus saja mencari-cari alasan untuk menghindar. Ujung-ujungnya dia menolak sama sekali. Setelah diteliti ternyata si pria sudah punya istri dan anak. Mirip dengan syair lagu Anggun C Sasmi:

"... Mengaku bujangan kepada setiap wanita, ternyata cucunya segudang!"

Gara-gara kasus ini, Melati dikeluarkan dari tempat kerjanya di kawasan Taman. Menurut Lina, kasus dihamili pacar, kemudian si pacar melarikan diri banyak terjadi di berbagai daerah di Sidoarjo. Posisi perempuan sangat lemah, rentan, karena si pacar ternyata sudah punya istri-anak. Jadi istri kedua atau ketiga? Jelas bukan pilihan yang mudah.

"Sebetulnya perempuan itu bukan lemah. Tapi bagi wanita yang pendidikannya terbatas, dari kelas menengah ke bawah, gampang sekali jadi korban 'bujangan' seperti itu," papar Lina Simatupang.

Di kawasan Gedangan, seorang gadis sebut saja Intan, yang sangat cantik, berpacaran secara intensif dan akhirnya hamil. Saking ayunya, pacar Intan ternyata tidak hanya satu orang. Ketika perutnya sudah buncit, pihak keluarga meminta agar Intan segera dinikahi.

Persoalannya, siapa yang harus menikahi Intan? Tak ada satu pun yang mau. Mereka hanya mau menikmati manisnya madu si nona.

Akhirnya, ditempuh cara yang cukup aneh.

"Seorang laki-laki yang bukan pacarnya, dari luar kota, dipasang untuk akad nikah. Yah, untuk formalitas saja biar kelihatan dia punya suami," cerita Narti, asal Gedangan.

Setelah upacara, ya, selesai tugas sang pria tadi. Intan menjadi janda dan harus melahirkan anak tanpa didampingi sang suami.

Masih banyak lagi kasus-kasus kekerasan dalam pacaran di Sidoarjo. Sudah berhubungan suami-istri, tidak sedikit 'pacar' yang menguras tabungan dan harta benda milik sang pacar dan keluarganya.

Celakanya, kata Lina Simatupang, kasus kekerasan dalam pacaran sulit diproses hukum. Sebab, aktivitas seksual kedua insan tersebut dilakukan atas dasar suka sama suka. Tak ada paksaan dalam bersenggama.

Dus, tidak bisa dijerat dengan pasal pidana.
Kalaupun menggunakan pasal perzinahan, kata Lina, perempuan jualah yang menderita beban ganda. Kenapa?

Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, baik perempuan maupun laki-laki sama-sama terkena hukuman. "Jadi, posisi perempuan itu lemah," katanya.

No comments:

Post a Comment