25 March 2007

Kasus Playboy Cermin Hegemoni USA


[Pemimpin Redaksi Playboy yang jadi korban hegemoni budaya Amerika Serikat. FOTO: Reuters.]

Oleh Lambertus L. Hurek

Majalah Playboy Indonesia [selanjutnya Playboy] sulit ditemukan di Surabaya. Bahkan, boleh dikata, sejak edisi perdana majalah ini tidak dijual di pasar. Agen, loper, pengecer takut. “Mending nggak jual ketimbang dirazia, Mas,” ujar Syamsul Hidayat (24 tahun), penjaga kios koran dan majalah di kawasan Aloha, kepada saya.

Karena itu, bisa saya pastikan, sejak terbit pada awal Januari 2006 sangat sedikit warga Jawa Timur yang pernah membaca Playboy. Termasuk wartawan. Banyak teman wartawan, pengamat, akademisi, mahasiswa, yang banyak bicara soal Playboy, kecam sana-sini, tapi belum pernah lihat majalahnya. Sampai sekarang.

Saya sedikit beruntung. Secara tak sengaja saya menemukan Playboy di sebuah kios di Sidoarjo. Edisi Februari 2007, harga Rp 50 ribu. Saya langsung beli untuk mengaji isinya. Apa benar Playboy [Indonesia] majalah porno? Isinya merangsang birahi? Saat libur akhir pekan, saya manfaatkan waktu untuk membaca media waralaba dengan pemimpin redaksi ERWIN ARNADA ini.

Ada foto-foto model DERIELL JAQUELINE bertajuk ‘Sleeping Beauty’. Deriell pakai busana meski minim. Tidak telanjang bulat macam Playboy di Amerika Serikat atau negara-negara Barat. Juga model Lucky Angela berpose di pantai.

Posenya tak jauh berbeda dengan model-model di majalah hiburan lain. Bahkan, masih kalah panas dengan model-model di tabloid syur sejenis media-media di lingkungan Grup Top, pimpinan SINGGIH SUTOYO. Playboy [Indonesia] ini, ya, macam majalah Popular atau Matra yang bukan waralaba.

Dicetak di atas kertas luks, Playboy juga menampilkan wawancara panjang (sembilan halaman) dengan Tukul Arwana, pelawak yang jadi pemandu acara Empat Mata di Trans7. Sangat menarik percakapan antara dua wartawan Playboy [Soleh Solihun dan Alfred Ginting]. Kemudian bahasan tentang ‘Panji 666’ atawa pemujaan setan. Artikel panjang menampilkan beberapa sumber, termasuk Fabie Sebastian Heatubun, pastor serta dosen Universitas Parahyangan Bandung.

Tataan halaman, gambar ilustrasi, bagus sekali. Lalu, liputan panjang Linda Christanty [diperkaya fot-foto Hotli Simanjuntak] berjudul Orang-Orang Ditiro. Ini reportase yang ditulis dengan gaya sastrawi, seperti artikel-aetikel di majalah Pantau [almarhum]. Laporan 10 halaman ini sangat berwarna, manusiawi, menampilkan sisi-sisi menarik yang tidak ditemukan di media lain.

Hanya penulis-penulis sekaliber Linda Christianty yang mampu bikin tulisan bagus macam ini. Terus terang, selama menjadi wartawan di Surabaya, saya belum pernah membaca feature sebagus ini. Playboy beruntung mendapat kontribusi liputan-liputan bernas.

Lha, lalu kenapa Playboy begitu kontroversial? Pemimpin redaksinya, Erwin Arnada, dituntut hukuman dua tahun penjara? Kantornya di Jakarta dirusak? [Sekarang Playboy bermarkas di Jalan Tukad Citarum 999 XL Panjer, Denpasar. Telepon: 0361-758671, 763981.] Kenapa setiap kali sidang, ratusan anggota Front Pembela Islam unjuk rasa besar-besaran?

Saya rasa, persoalannya bukan lagi di isi, melainkan citra.

Playboy sejak dulu identik dengan media porno. Foto-foto telanjang. Model-model berbusana minim. Merayakan hedonisme tubuh. Maka, kalaupun Erwin dan pengelola Playboy [Indonesia] menyesuaikan isi majalah dengan nilai-nilai Indonesia, tidak ada gambar telanjang, ya, tetap saja citra mesum ini tidak hilang. Apa pun penjelasan Erwin dan Ponti, saya yakin, tak akan memuaskan FPI.

Andai saja majalah bulanan itu diganti, tidak pakai nama Playboy, saya yakin Erwin Arnada tidak perlu berlelah-lelah menghadapi proses hukum. Kasus Playboy ini, kalau mau jujur, bukan lagi perkara isi majalah, melainkan semata-mata pengadilan citra majalah yang didirikan oleh Hugh M Hefner ini. Tidak lebih.

Orang Indonesia, kalau mau jujur, sebetulnya sudah lama hancur secara budaya. Penjajahan budaya oleh Amerika sudah berlangsung sejak awal Orde Baru, sistematis, menembus ke bawah sadar orang Indonesia. Mau bukti?

Anak-anak muda kita sangat tergila-gila dengan berhala-berhala pop Amerika. Hiburan ala Amerika. Cara berbahasa pun gado-gado: bahasa Indonesia dicampur melayu betawi, bahasa Inggris-Amerika, secara serampangan. Kacau! Rambut dan matanya disesuaikan dengan bule Amerika. Semua yang berasal dari Amerika, termasuk sampah-sampah budaya, ditelan mentah-mentah.

Nah, Erwin Arnada serta Ponti Corolus sejatinya tak lebih dari korban hegemoni budaya Amerika di tanah air. Daripada capek-capek bikin majalah baru, yang belum tentu laku, kenapa pinjam saja merek Amerika yang sudah mendunia?

Ini murni logika pedagang. Erwin dan Ponti tahu benar selera orang Indonesia, yang suka intip gambar bugil, kemudian menerbitkan Playboy. Para agen kapitalis Amerika niscaya bergeming meski muncul penentangan, unjuk rasa, sehebat apa pun.

Saya melihat orang-orang FPI hanyalah segelintir orang yang berani terang-terangan melawan hegemoni nilai-nilai Amerika [American minded] yang sudah begitu merasuk ke hati bangsa kita sejak 1966. Ketika jutaan remaja kita tergila-gila dengan semua yang berbau Amerika, merayakan hegemoni Amerika di sini, maka protes FPI serta ulama konservatif [meminjam istilah Tukul Arwana]: tidak relevan dan signifikan.

Di sini, Playboy beroleh begitu banyak pendukung meski tidak berani terbuka seperti FPI.

Ah, malang nian bangsaku!

Sepanjang hidupnya Indonesia tak pernah lepas dari belenggu penjajahan. Selepas penjajahan Belanda dan Jepang, kita dijajah secara budaya oleh Amerika dan antek-anteknya. Begitu halusnya hegemoni budaya Amerika, kita sudah tak sadar telah mengadopsi american minded, american language, american style, american culture... dalam kehidupan sehari-hari. Penjajahan budaya jauh lebih parah dampaknya.

Mau bukti? Gampang saja. Berapa banyak anak muda di Pulau Jawa yang senang wayang kulit, ludruk, ketoprak? Berapa banyak grup kesenian tradisional yang bertahan? Bagaimana dengan kemampuan berbahasa daerah anak-anak muda sekarang?

Saya membaca kasus Playboy ini dalam konteks penjajahan budaya Amerika.

3 comments:

  1. Saya setuju dengan pendapat Bapak, yah, walo saya belum pernah melihat isi dari majalah playboy.

    Sebaiknya masyarakat kita lebih jeli dalam membeli produk apapun itu.

    lalu bagaimana saran bapak,, terhadap perkembangan dunia press nasional bangsa ini??

    ReplyDelete
  2. Saya tidak setuju dengan istilah penjajahan budaya. Penjajahan itu bersifat opresif, ada pemaksaan. Seperti rakyat Indonesia dijajah oleh pemerintah Belanda. Tidak boleh begini, harus begitu.

    Sedangkan dalam hal ini, pelaku budaya mempunyai pilihan untuk tidak menggunakan. Yang benar ialah budaya populer ala barat lebih disukai oleh orang Indonesia dibandingkan budaya tradisional. Amerika tidak memaksa. Orang Indonesia tidak ditodong bedil.

    Yang berbau menjajah itu malahan FPI, yang membawa parang, penthung, memaksa orang lain yang tidak sepaham dengan ancaman perusakan untuk mengikuti budaya mereka, budaya Islam konservatif yang sangat dipengaruhi oleh tradisi Arab kolot.

    ReplyDelete
  3. Saya tidak setuju dengan kecaman terhadap budaya amerika. Negara-negara yang anda sebut antek2 dari Amerika itu hanya ingin mencontoh hal-hal positif dari Amerika, karena itu mereka bersahabat. Saya tahu hampir segala hal di dunia ini dipengaruhi oleh Amerika, termasuk budaya(apalagi budaya). Belum tentu mereka suka tuh budaya mereka ditiru2(angklung kita diambil Malaysia saja kita marah, padahal jarang yang suka main angklung).

    Kalau menurut anda moral masyarakat Indo rusak karena budaya Amerika boleh-boleh saja, tapi menurut saya moral kita sudah rusak sejak kita dilahirkan. Sejarah kita(Indonesia) itu masih terlalu muda, masih anak-anak. Kita tidak suka disalahkan, tidak suka menerima kritik. Masyarakat kita inginnya menyalahkan negara lain. Kalau tidak percaya lihat saja mobil dijalanan tidak ada yang mau disalahkan.

    Saya kagum suatu ideologi bernama Pancasila. Saya cinta Indonesia. Kalau negara kita terlalu diatur atau takut sama pentungan-nya FPI, maaf saja. Saya akan sangat menyesal lahir dan menjadi warga negara disini.

    ReplyDelete