28 March 2007

Aku Dilantik Jadi Pembina Bahasa


Makin lama gaya berbahasa orang Indonesia makin kacau. Bahasa Amerika [American English] merasuk ke alam bawah sadar kita. Saya sering coba-coba masuk ke ruang cakap, chat room, untuk berbincang dan diskusi ringan. Amboi, bahasa anak-anak muda sekarang bercampur-campur dengan bahasa Amerika, Melayu Betawi, dan sedikit bahasa Jawa.

Saya secara halus minta teman cakap untuk berbahasa Indonesia saja, atau sekalian berbahasa Inggris. Ternyata, teman baru itu tidak mau melayani. Yah, umumnya orang kita berbahasa gado-gado demi gaya hidup. Status sosial. Agar tidak dibilang wong ndeso, orang kampung.

Jadi, sama sekali bukan karena kemampuan berbahasa Amerika kita sangat bagus. Biasanya, poliglot [orang yang fasih banyak bahasa] justru paling cermat dalam berbahasa. Sebagai orang kampung yang lahir di Flores Timur, sejak kecil saya mengenal banyak pastor asing. Mereka umumnya berasal dari Belanda [paling banyak], Jerman, dan sedikit dari negra-negara Eropa lain. Saya bisa sebut Pater Geurtz, Pater van de Leur, Pater Schejneider, Pater Schmidtz, Pater Lorentz, Pater Trumer. Semuanya sudah meninggal dunia.

Mereka rata-rata menguasai lebih dari empat bahasa asing secara aktif: Latin [wajib], Inggris, Belanda, Jerman, Indonesia [Melayu]. Belum lagi bahasa-bahasa daerah yang cukup banyak di Nusatenggara Timur. Belum bahasa Melayu dialek Larantuka, dialek Kupang, dialek Lewoleba, dialek Maumere, Ende, dan berbagai kota di Nusatenggara Timur.

Saya menilai para pastor Barat ini luar biasa. Kenapa? Saat harus berbahasa Indonesia, ya, dia pakai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Berbahasa Inggris juga begitu. Lucu kalau berbahasa Inggris dicampur kata-kata Melayu atau Belanda. Cara berpikir mereka, kebetulan semuanya bule, sangat sistematis, tertib, sarat logika. Jadi, mereka sama sekali tidak sok 'hebat' meskipun para pater ini benar-benar orang hebat, menurut saya.

Bagaimana dengan orang kita sekarang? Simaklah televisi, internet, media cetak, bahkan surat kabar yang seharusnya mengutamakan ragam bahasa resmi. Bahasa Indonesia sekarang kacau bukan kepalang. Nama acara di Metro TV, misalnya, pakai bahasa Inggris. Tapi isinya, ya, penyiar dan tamunya bicara bahasa Indonesia.

Bahasa di MTV lebih gila lagi. Ada kesan sok, pamer ungkapan bahasa Inggris, agar dibilang anak nongkrong, keren, gaul. Pokoknya, jangan ada kesan orang kampung macam saya. Hehehe...

Padahal, kalau mau jujur, kemampuan bahasa Amerika orang kita, termasuk penyiar dan pembawa acara di televisi Indonesia, ya, belum masuk kategori hebat. Sekali lagi, orang hebat lazimnya tidak suka pamer. Mana ada pendekar silat yang mengumbar jurus-jurus mautnya?

Orang Malaysia menyebut gaya bahasa [sebagian besar] anak muda Indonesia sebagai BAHASA ROJAK, maksudnya bahasa rujak. Bahasa dicampur-campur tak karuan mengikuti gaya Amerika. Inilah potret bangsa kita, Indonesia. Bangsa bekas jajahan yang belum hilang penyakit rendah diri. Minderwaardigheids complex!

Kompleks ini juga dialami oleh orang-orang kampung di Flores. Kalau sudah menetap lama di kota, meski kota-kota di Indonesia, ya, sejatinya kampung biasa yang padat penduduk, dia pura-pura lupa bahasa ibunya. Sebab, berbahasa ibu [daerah] identik dengan orang kampung. Saya malas menghadapi manusia-manusia sok macam ini.

Kenapa saya perlu membuat catatan seputar bahasa? Aha, asal tahu saja, saya masih tercatat sebagai pengurus Himpunan Pembina Bahasa Indonesia (HPBI) Cabang Sidoarjo periode 2005-2008. Saya dan 41 pengurus lain dilantik oleh Dr Sugiyono, ketua HPBI pusat, berdasar Surat Keputusan Nomor 02/IA/ HPBI/2005.

Namanya juga pengurus, ya, saya punya kewajiban 'membina bahasa Indonesia' melalui tulisan-tulisan di koran atau internet. "Kita tidak melarang orang untuk berbahasa Inggris atau bahasa asing apa pun. Silakan! Hanya saja, penggunaan bahasa itu harus melihat situasi dan kondisi," begitu pesan Djoko Supriadi, ketua HPBI Sidoarjo, kepada saya.

HPBI merupakan organisasi masyarakat yang berperan dalam pembinaan bahasa Indonesia di masyarakat. Pada 20 Mei 1995 lalu Presiden Soeharto mencanangkan penggunaan bahasa Indonesia yang BAIK dan BENAR di masyarakat. Kemudian ada lagi instruksi Menteri Dalam Negeri dan Menteri Pendidikan Nasional tentang pemasyarakatan bahasa Indonesia.

Karena itu, "HPBI ini dimaksudkan untuk mengajak semua komponen masyarakat Indonesia untuk menghargai bahasa Indonesia sebagai sarana persatuan dan kesatuan bangsa," papar Djoko Supriyadi.

Saya paham betul bahwa tugas saya sebagai pembina Bahasa Indonesia di Kabupaten Sidoarjo tidak ringan. Ini globalisasi, Bung! Banjir informasi, Bung! Pola pikir Amerika, bahasa yang ke-Amerika-Amerika-an sudah menjadi gaya hidup.

Bahasa Indonesia, apalagi bahasa ibu, katakanlah Bahasa Jawa, apalagi krama madya, krama inggil... makin tidak dikuasai oleh anak-anak muda, bahkan yang sudah berusia di atas 40 tahun.

Tiap kali ke luar kota, saya selalu menyimak cara berbahasa anak-anak muda setempat. Juga mendengarkan radio lokal, baca koran setempat, lihat televisi. Amboi! Anak-anak muda Surabaya, Sidoarjo, Malang, Jember, Gresik, Lamongan, Mojokerto, Pasuruan, Trawas, Tretes, Kediri, Tulungagung... kini berbahasa Indonesia gaya Jakarta [Melayu Betawi] dibumbui Bahasa Amerika. Bumbu-bumbunya kadang terlalu banyak sehingga perut saya mual.

"Nggilani," kata orang Surabaya.

Acara Empat Mata, yang diasuh Tukul Arwana di Trans7, secara tidak langsung mencerminkan wajah sebagian [besar] orang Indonesia kita. Aslinya orang kampung, wong ndeso, buruk rupa, sedikit-sedikit Bahasa Amerika, tapi gaya bahasanya, masya Allah!!!

Sok hebat, pamer cas-cis-cus, tapi kalau diajak berbahasa Amerika beneran, orang kita hanya bisa tergagap-gagap.

Huah..huaaah...huaaaahhh!

2 comments:

  1. Waduh, sebagai alumnus Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia aku jadi malu sama bang Hurek.
    Aku juga jadi ingat Pak Gatot, dosen Sintaksis, di IKIP Surabaya, (saat ini Unesa) yang semenjak saya jadi mahasiswa hingga bekerja di media, beliau ternyata masih mempropagandakan penggunaan Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar. Dua buah buku karya Pak Gatot yang masih saya simpan adalah Pos Jaga Bahasa Indonesia, dan Kumpulan Cerpen Berbahasa Indonesia Baku.

    ReplyDelete
  2. Tulisan yang benar-benar bernas dan mencerahkan.
    Senang sekali bisa membaca artikel-artikel di blog Anda :)

    ReplyDelete