17 March 2007

Harvey Malaihollo


Harvey bersama para fans di Surabaya. Saya potret di Hotel Garden Palace, Surabaya.

Oleh Lambertus L. Hurek

PADA tahun 1980-an HARVEY MALAIHOLLO dikenal sebagai 'macan festival'. Kalau ada festival menyanyi, bisa dipastikan Harvey juaranya. Saking seringnya meraih juara pertama, Harvey Malaihollo kemudian 'dilarang' mengikuti semua festival lagu pop tingkat nasional.

"Sebab, kalau Harvey ikut, pasti dia yang menang lagi," begitu alasan panitia festival lagu pop pada 1980-an hingga 1990-an.

Saya menikmati suara emas Harvey pada 1980-an dari layar TVRI, hitam-putih. Lagu yang paling saya ingat SEANDAINYA SELALU SATU karya Elfa Secioria dan Wieke Gur. Lagunya benar-benar bagus, dan hanya bisa dinyanyikan oleh vokalis dengan ambitus suara luas sekaliber Harvey Malaihollo.

Saya juga menikmati suara Havey, lahir 1963, di kaset. Dia nyanyi lagu-lagu manis ala Aloysius Riyanto dan Rinto Harahap. Kemudian dia kerja sama dengan Ireng Maulana menghasilkan album-album bosas, bernuansa jazz.

"Suara saya itu talenta dari Tuhan. Saya bersyukur karena sampai sekarang saya masih bertahan di tengah persaingan yang makin seru. Saya masih bisa cari makan dari menyanyi," ujar Harvey Malaihollo kepada saya di Hotel Garden Palace Surabaya, beberapa waktu lalu. Bung Harvey kebetulan mengisi acara kebaktian kebangunan rohani yang digelar sebuah gereja mandarin di Surabaya.

SEBAGAI bekas 'macan festival', bagaimana pandangan Harvey Malaihollo terhadap maraknya festival ala AFI, Indonesia Idol, atau KDI? Akankah penyanyi-penyanyi produk festival mutakhir ini bisa langgeng di belantika musik?

Topik ini menjadi bahan diskusi kecil saya dengan Harvey.

"Begini, AFI, Indonesia Idol itu tidak bisa dibilang festival murni. Harus dicatat itu reality show. Pemenangnya pun tidak ditentukan oleh dewan juri, tapi SMS yang masuk. Jadi, tidak bisa dibandingkan dengan festival pada zaman saya dulu," kata Harvey yang mulai berkarier di musik sejak 1976 itu. Hingga 2005 ia menghasilkan 24 album.

Zaman memang berubah. Di masa kejayaan Harvey, Vina Panduwinata, Emilia Contessa... televisi hanya satu, ya, TVRI. Kini, televisi begitu banyak, siaran 24 jam. Kemasan reality show pun jauh lebih atraktif ketimbang festival lagu pop tahun 1980-an.

Anda menyesal tidak mengalami kegemuruhan Indonesia Idol seperti Joy dan Delon, misalnya?

"Kenapa menyesal? Saya di mana-mana ditanya wartawan seperti itu. Dan saya selalu mengatakan bahwa saya justru bangga karena pernah mengalami the real festival. Festival yang benar-benar festival. Jadi, kemenangan saya di berbagai festival bisa dipertanggungjawabkan, setidak-tidaknya oleh dewan juri. Jurinya kan bukan orang sembarangan," tegas pria yang sempat menggelar konser tunggal pada tahun 2000 itu.

Meski begitu, Harvey Malaihollo menghargai penyanyi-penyanyi baru produk reality show macam AFI atau Indonesia Idol. Secara umum, kata dia, kualitas mereka cukup bagus kendati juaranya ditentukan oleh SMS.

"Siapa yang banyak didukung SMS dia yang menang. Siapa yang suaranya bagus, tapi kalah SMS, dia kalah. Inilah hukum reality show," kata cucu Bram Titaley (almarhum), dedengkot musik keroncong di Indonesia
itu.

Di tengah tingkat persaingan yang sangat ketat dewasa ini, Harvey Malaihollo mengingatkan para penyanyi baru untuk bekerja keras. Juara di festival apa pun bukan jaminan untuk sukses di dunia tarik suara dalam waktu panjang. Berapa banyak penyanyi kita yang muncul ke permukaan, merilis satu dua album, setelah itu hilang tanpa bekas.

"Kuncinya, kembali ke adik-adik yang merintis karier sebagai penyanyi seperti saya. Persaingan luar biasa sekarang," ujarnya.

Manajemen artis (artist management), lanjut Harvey, harus digarap secara serius oleh artis-artis baru. Tanpa itu, jangan harap vokalis-vokalis baru ini bisa bertahan lama di musik. Sekarang saja, katanya, beberapa alumnus reality show sudah nyaris tidak terdengar lagi.

"Yang tidak kalah penting, rajin-rajin berdoa karena pada akhirnya Tuhan juga yang menentukan," imbaunya.

Jam terbang yang tinggi di berbagai festival dalam dan luar negeri membuat Harvey Malaihollo mengaku tidak merasa 'terancam' oleh begitu banyak penyanyi baru. Sebab, dia sudah punya audiens khusus yang fanatik. Mereka ini sulit pindah ke penyanyi baru.

"Saya punya audiens sendiri," tegas Harvey.

Okelah! Maju terus, Bung!

1 comment:

  1. thx atas tulisannya bung, banyak seniman negeri kita kurang di hargai di negeri sendiri, yah salah satunya beliau yg anda tulis dan kakeknya ... padahal banyak prestasi di luar negeri yg sudah di raih & pastinya itu membawa nama bangsa ke dunia internasional :)

    ReplyDelete