17 March 2007

Harvey Malaihollo - Album Refleksi


SEANDAINYA SELALU SATU
Musik : Elfa Secioria
Lirik : Wieke Gur Salameh
Vocal : Harvey Malaihollo


Sesayu tatapanmu,
Di alam yang bisu
Dan bayang-bayangmu kekasih
Menyaputkan cahaya

Jalan hidup kita berbeda
Walau ada hasrat bersama
Damai yang ku cari
Di ayunan angin lalu
Ternyata hanya harap semu

Kisah kita ini bukan kehendakku
Juga bukan kehendakmu
Tapi kehendak-Nya

Ku tahu tak mungkin terjadi
Bagai asa yang tak bertepi
Harus kuakhiri harus kuhadapi
Sepi hidup ini.

REFREIN:

Seandainya selalu satu dalam cita-cita
Juga dalam cinta
Seandainya kita selalu satu berpadu
Dalam angan dan harapan
Dalam suka atau nestapa
Dalam langkah menuju hidup bahagia



[Lagu terbaik Festival Lagu Pop Indonesia 1986]


[Koleksi Harvey saya tinggal empat ini. Yang lama-lama sudah hilang.]

Oleh Lambertus L. Hurek

Saya baru saja menerima e-mail dari HARVEY MALAIHOLLO. Penyanyi hebat ini berterima kasih atas catatan saya tentang dirinya di blog. Dia minta saya terus mendukung musik Indonesia.

Wow, senang nian hati ini. Siapa tak girang hati mendapat surat khusus dari Harvey Malaihollo, sang idola?

Suami dari LOLITA, dan ayah dari JOSHUA dan BENJAMIN ini baru saja merilis album bertajuk REFLECTIONS OF HARVEY MALAIHOLLO. Saya tentu saja langsung menikmatinya. Lalu, bikin catatan kecil macam ini.

Adapun lagu-lagunya: MERINDUKANMU (Ika Ratih Poespa), AKU SADARI (Dian Pramana Poetra/Deddy Dhukun), KATAKAN SAJA (Yovie Widianto), PENGERTIAN (Alex Kembar), BEGITULAH CINTA (Oddie Agam), SEANDAINYA SELALU SATU (Elfa Secioria/Wieke Gur Salameh).

Kemudian: DARA (Cecep AS), KUSADARI-MASIH ADA (Elfa Secioria/Wieke Gur Salameh), PUTRI (Siti Hardiyanti Rukmana), WANITA (Ismail Marzuki), MENITI PELANGI (Elfa Secioria/Wieke Gur Salameh), JERA (Elfa Secioria/Ferina). Total 12 lagu dikemas apik di cakram padat.

Namanya juga refleksi, lagu-lagu di album ini mencerminkan perjalanan karier Bung Harvey di belantika musik Indonesia yang sudah melampaui tiga dekade. Kepada saya, Harvey pernah mengatakan mulai berkarier musik sejak 1976.

Lagu-lagunya berlimpah, dengan macam-macam gaya. Pop manis, jazz, bosas, festival, seriosa... hampir semua ‘disikat’ habis oleh Harvey. Dengan kualitas vokal luar biasa, Harvey beroleh begitu banyak penghargaan di dalam dan luar negeri.

Di era festival lagu pop masih ada (bukan festival akal-akalan macam Indonesia Idol, KDI, atau AFI), beberapa juri bahkan mengimbau aga Harvey tak perlu ikut festival. Kenapa? “Kalau dia ikut, ya, dia yang menang lagi. Sulit menandingi kualitas Harvey Malaihollo,” begitu ucapan yang pernah saya baca di koran era 1980-an. Maaf, saya lupa nama sumbernya.

Beberapa catatan prestasi Harvey Malaihollo: Juara I Bintang Radio dan Televisi Nasional, 1976. The best performer pada Golden Kite Festival di Kuala Lumpur, 1982. Penyanyi terbaik di World Pop Song Festival, Tokyo, 1986. Penyanyi terbaik Festival Lagu Pop Indonesia selama empat kali--1986, 1987, 1988, 1990.

Nah, album refleksi ini hanya memuat lagu-lagu era 1987 hingga 2007. Memang ada satu lagu baru di sini: Merindukanmu. Tata musiknya bervariasi. Harvey tidak hanya dihadirkan sebagai biduan festival, tapi penyanyi rekaman. Kita bisa menikmati ruang jelajah Harvey yang sangat luas. Mau suara santai, lambat, pelan.. oke. Mau meniti nada-nada tinggi, rumit, sulit... Harvey hadapi dengan nyaman.

Penikmati musik tentu macam saya hanya bisa geleng-geleng kepala dengan anugerah Tuhan yang luar biasa lewat suara Harvey Malaihollo. Kok bisa ya, Harvey bisa nyanyi sebagus itu?

Saya penikmat lagu-lagu festival yang pernah dimenangi Harvey Malaihollo. Karena itu, saya tentu paling suka SEANDAINYA SELALU SATU. Tataan musik Elfa Secioria membuat lagu ini dahsyat. Sangat bertenaga. Maka, saya merasa kehilangan ‘orientasi’ ketika mendengar lagu KUSADARI yang dirombak aransemennya oleh Tohpati. Tataan baru ini santai nian. Sama sekali tak menguras energi vokal seorang Harvey.

Jangan lupa, kemenangan Harvey di pentas festival tak pernah lepas dari sosok ELFA SECIORIA. Dia yang bikin lagu, aransemen, hingga memimpin para pemusik. Maka, ketika Harvey tidak ‘dipegang’ Kang Elfa, saya merasa ada sesuatu yang hilang. “Elfa itu sahabat dan mentor saya,” ujar Harvey.

“KAYAKNYA ANDA LEBIH COCOK DITEMANI ELFA SECIORIA?” tanya saya.

Harvey tersenyum. “Bisa jadi begitu. Tapi, pada dasarnya, saya bisa bekerja sama dengan arranger mana pun,” kata cucu BRAM ‘ACEH’ TITALEY ini. Harvey benar. Selama kariernya, dia sudah menghasilkan sedikitnya 25 album dengan cita rasa yang bervariasi. Penata musiknya pun macam-macam.

Akhirnya, saya perlu mengutip catatan AKMAL NASERY BASRAL, redaktur majalah TEMPO, di buklet album refleksi Harvey Malaihollo:

“... pesan moral kepada pendengar baru: bahwa bukan hanya bakat yang menyebabkan seorang penyanyi akan melegenda. Melainkan kerja keras, disiplin, ketekunan, dan komitmen tinggi pada profesi. Tak bisa lain.”

Sukses terus, Bung Harvey!

1 comment:

  1. Mas bernie, album itu memang bagus. persoalannya, zamannya harvey lain dengan era musik sekarang.

    ReplyDelete