08 March 2007

Garuda Terbakar.. Jangan Syukuri Musibah


[Bangkai pesawat Garuda GA-200 selepas terbakar di Jogja, 7 Maret 2007. Foto: AFP.]

Garuda.... oh.... Garuda!

Maskapai penerbangan utama (flag carrier) Indonesia ternyata tak sehebat bayangan orang. Rabu, 7 Maret 2007, Boeing 737-400 milik Garuda Indonesia (GA-200, PK-GZC) terbakar di Bandara Adisucipto, Jogja. Asap hitam membubung. Mengerikan!

Sedikitnya 21 penumpang, dari 133 penumpang (plus 7 awak) meninggal dunia. RESQUESCAT IN PACE! Moga-moga arwah korban yang wafat diterima di sisi Tuhan.

Saya termenung saat mendengar kabar dahsyat itu. Saya pernah menjadi wartawan khusus bisnis penerbangan (airline) di harian SUARA INDONESIA (sekarang ganti nama menjadi RADAR SURABAYA). Karena itu, saya cukup tahu seluk-beluk maskapai nasional, strategi bisnis, marketing, kiat promosi, load factor, hingga jaringan kartel lama berbaju INACA. Bagi wartawan bisnis, Garuda Indonesia memang luar biasa... untuk ukuran Indonesia. [Dengan Singapore Airlines, ya, nggak ada apa-apanya!]

Jarang sekali ada pesawat Garuda yang celaka. Garuda itu berbeda dengan low cost carrier atawa LCC yang 'tega' menekan sekian banyak ongkos demi tarif murah. Sejak dulu Garuda kukuh sebagai maskapai premium, elite, dengan standar layanan tinggi. Teman saya bilang Garuda itu high cost carrier.

"Kami tidak akan pernah ikut perang tarif. Keselamatan penumpang di atas segalanya," kata IMAN SUTORO, bekas manajer distrik Garuda di Surabaya, kepada saya.

Dulu, Iman selalu menyediakan kopi panas khas Garuda setiap kali saya wawancara atau sekadar bincang-bincang di kantor cabang Garuda, kompleks Hotel Hyatt Surabaya.

Selama beberapa tahun klaim bahwa Garuda sebagai maskapai paling aman, paling elite... paling segalanya memang betul. Sebab, kecelakaan udara di Tanah Air hampir semuanya menimpa maskapai LCC macam Adam Air, Lion Air, Air Asia, dan sejenisnya.

Maka, begitu pesawat Boeing 737-400 milik Adam Air (KI 574) hilang di perairan Sulawesi Barat, muncul tuduhan bahwa LCC merupakan biang kerok kecelakaan udara. Pesawat tua. Perawatan tidak bagus. Terlalu banyak pemangkasan biaya. Dan seterusnya. Adam Air pun jadi tersangka utama. Pemerintah pun berencana meninjau kembali kebijakan bisnis penerbangan kita.

Tapi, Rabu Pon kemarin (menurut primbon, katanya HARI BAIK) semua teori bahwa LCC rawan celaka akhirnya terpatahkan. Garuda Indonesia yang HIGH COST CARRIER justru terbakar di Jogja. Ada kamerawan profesional yang mengambil gambar sehingga detik-detik hangusnya Garuda Indonesia bisa disaksikan penonton televisi. Sangat gamblang. Lain dengan Adam Air KI 574 yang raib misterius sehingga warga tak sempat 'menikmati' drama kecelakaan.

"Apa saya bilang? Teori bahwa low cost carrier sebagai penyebab kecelakaan pesawat akhirnya terbantahkan dengan peristiwa terbakarnya Garuda Indonesia," ujar AGUNG LAKSONO, ketua Dewan Perwakilan Rakyat, seperti dikutip www.detiknews.com. Agung Laksono bekas komisaris PT Adam Sky Connection Airlines alias Adam Air.

Saya belum sempat bertanya kepada teman-teman pengelola LCC. Tapi, pernyataan Agung Laksono ini setidaknya sudah cukup mewakili suara hati pengelola maskapai bertarif murah. Bahwa kecelakaan pesawat itu tidak pernah disebabkan oleh satu dua faktor, melainkan banyak faktor.

Boleh saja pesawat baru, perawatan bagus, image oke, tapi bagaimana dengan kondisi pilot? Kondisi bandara? Cuaca? Sikap penumpang? Sabotase? Terorisme? Dan seterusnya. Mudah-mudahan Komite Nasional Keselamatan Transportasi segera menemukan penyebab tragedi Garuda di Jogja ini, sekaligus memberikan rekomendasi demi keamanan penumpang trasportasi udara.

Tragedi GA 200 di Jogja sekaligus mengingatkan saya pada pepatah Tiongkok: DI ATAS LANGIT MASIH ADA LANGIT. Insaflah wahai manusia bahwa sehebat dan secerdas apa pun, manusia sangat daif di mata Tuhan. Tidak ada apa-apanya! Jangan pernah 'mensyukuri' kemalangan orang lain!

Mengutip pepatah lama: sepandai-pandainya tupai melompat, sekali waktu gawal juga! Hari ini Adam Air, besok siapa? Hari ini Garuda, besok siapa lagi?

DAFTAR KECELAKAAN PESAWAT 1995-2007

16 Januari 1995
Boeing 737-300 Sempati Air di Bandung, 0 tewas.
26 September 1997
Airbus A300 Garuda di Deliserdang, 234 tewas.
19 Desember 1997
Boeing 737-300 SilkAir, Palembang, 104 tewas.
14 Januari 2002
Boeing 737-300 Lion Air, Pekanbaru, 0 tewas.
16 Januari 2002
Boeing 737-300 Garuda, Jogja, 1 tewas.
30 November 2004
MD-80, Lion Air, Solo, 25 tewas.
5 September 2005
Boeing 737-200, Mandala, Medan, 146.
1 Januari 2007
Boeing 737-400, Adam Air, Polewali, 102
26 Januari 2007
Boeing 737-300, Adam Air, Surabaya, 0 tewas.
7 Maret 2007
Boeing 737-400, Garuda, Jogja, 21 tewas.

No comments:

Post a Comment