12 March 2007

Cikal Bakal Musik Rock di Surabaya

Ucok AKA diterima anggota DPRD Jawa Timur.

KETIKA salah satu serial film JAMES BOND FROM RUSSIA, WITH LOVE yang soundtrack-nya berjudul sama dibawakan penyanyi bersuara lembut Matt Monro digemari di Indonesia pada tahun 1964, irama musik rock mulai menggeliat di kota Surabaya.

Akan tetapi, yang menggemari musik itu saat itu masih terselubung karena ada ancaman dari pemerintah bahwa siapa saja yang berani mendengar apalagi memainkan musik ngak-ngik-ngok bisa distempel subversif dan dijebloskan ke dalam bui, sebagaimana dialami KOES BERSAUDARA di penjara Glodok.

Musik rock yang waktu itu sedang berkembang dan menjadi tren di Eropa dan Amerika tentu menggoda masyarakat dan pemusik di Indonesia. Diam-diam mereka memasang telinga di depan radio pada pukul 05.00, memonitor siaran radio Australia atau BBC, mendengar lagu-lagu The Beatles dengan volume untuk didengar sendiri. Bagi yang beruntung memperoleh piringan hitam John Lennon dan kawan- kawan, juga melakukan hal yang sama.

Alat rekam (tape recorder) yang waktu masih termasuk langka menyebabkan melodi lagu harus dihafal di luar kepala dan lirik dicatat sebisanya ketika mendengar lewat siaran radio. Bagi yang memiliki piringan hitam dan alat putarnya tentu lebih beruntung. Mereka dapat mendengar berkali-kali sehingga sebuah lagu bisa dibawakan persis aslinya di atas panggung. Waktu itu sebuah grup musik dielu-elukan luar biasa jika bisa mengopi seratus persen lagu grup atau penyanyi mancanegara.

Sebagai kota pelabuhan yang pernah menjadi markas Angkatan Laut Belanda, Inggris, dan Indonesia, hiburan bertebaran di Surabaya, termasuk kehidupan musik yang merata di bar dan diskotek, seperti Seaside, Poras, Tegalsari, dan Mirasa. Di sinilah irama musik rock mulai terdengar di antara lagu-lagu berirama chacha atau tango yang dibawakan berbagai grup musik. Antara takut dan berani, mereka sekali-kali berjingkrak dengan rock’n roll-nya Elvis Presley atau The Beatles.

Di tempat lain, misalnya di hotel-hotel, para pemusik jazz seperti Jun Sen (grup Varia Nada), Jerry Souisa (Irama Jangger), atau Lody Item, Awat Suweileh serta Didi Pattirani yang tergabung dalam Bhineka Ria, juga gatal memainkan musik rock. Caranya, mereka menambah beat irama swing yang mereka bawakan, seperti lagu-lagu Geoge Sharing. Mereka mengiring dansa twist dan jive.

Bisa dikatakan, Didi Pattirani adalah pengusung rock’n roll yang sukses pada pertengahan tahun 60-an, ketika pementasannya di Surabaya, Semarang, Yogyakarta, dan Solo memperoleh sambutan luar biasa dari kalangan remaja. Padahal, rock’n roll sudah diproklamirkan 10 tahun sebelumnya di Amerika, melalui Good Rockin’ To Night (Roy Brown), Rock All Night Long (The Rives), serta Rock Around The Clock (Bill Haley & His Comet)

HAMPIR semua pemusik asal Surabaya pernah memainkan musik rock. Penabuh drum ABDUL KARIM SUWEILEH, yang sekarang menjadi direktur sebuah music-agency dan sering tampil bersama IRENG MAULANA, KIBOUT MAULANA, DULLAH, serta PERRY PATTISELANO, membawakan musik jazz di berbagai tempat, seperti di Jamz atau Hotel Borobudur-pada akhir tahun 1960-an dan awal tahun 1970- an bergabung dengan HARRY DHARSONO dalam grup BATARA.
Mereka membawakan lagu-lagu GRAND FUNK RAILROAD, ROLLING STONES, LED ZEPELIN, URIAH HEEP, dan tentu tidak ketinggalan THE BEATLES.

Sementara almarhum UDIN ZACH, yang dikenal sebagai peniup saksofon dan memimpin grup jazz BHASKARA beberapa kali ke North Sea Jazz Festival di Den Haag, Belanda, antara tahun 1985 dan 1990 pernah menjadi gitaris yang memainkan musik rock bersama grup ARISTA BIRAWA. Penyanyi grup ini, MUS MULYADI, sering menyelingi irama keroncong di antara lagu-lagu rock yang dibawakannya. Penyanyi keroncong menjadi trademark-nya sampai sekarang.

Sementara itu, ARTHUR VICTOR GEORGE JEAN ANESZ KAUNANG yang waktu itu masih duduk di bangku SMP sedang belajar piano klasik. Sebelum bergabung dengan SYECH ABIDIN JEFFRIE, SUNATHA TANJUNG, dan UCOK ANDALAS DATUK OLOAN HARAHAP dalam AKA pada tahun 1969, Arthur pernah bermain di beberapa grup musik, antara lain MUANA bersama LEO KRISTI.

Setelah pemetik gitar bas pertama PETER WASS dan penggantinya, LEKSI RUMAGIT, keluar dari AKA, ARTHUR datang sebagai pemetik gitar bas ketiga. Uniknya, ketiga pemetik bas AKA ini kidal. AKA adalah singkatan dari Apotik Kali Asin.

Kalau latihan, AKA melakukannya di belakang apotek milik orangtua Ucok Harahap. Mereka membawakan lagu-lagu Eric Clapton, Rolling Stones, dan Jimi Hendrix (Purple Haze, Hey Joe). Tidak heran jika grup ini dinobatkan sebagai grup underground, membawakan musik yang dianggap revolusi, baik dalam musik maupun lirik. Bukan hanya itu, AKA juga mengusung unsur nonmusik dalam pergelaran mereka. Melengkapi pertunjukan dengan tiang gantungan dan peti mati ke atas panggung. Hingga tahun 1975, di samping puluhan pertunjukan di berbagai kota besar di Tanah Air, AKA menghasilkan enam album rekaman.

Ke-underground-an AKA ternyata tidak terlihat dalam rekaman, misalnya dalam lagu paling populer mereka, Badai Bulan Desember. Demikian juga lagu berbahasa Inggris ciptaan Utjok Reflection, Grazy Joe atau Sky Ryder, memang menghadirkan musik yang ingar-bingar, tetapi liriknya menurut kritikus Remy Sylado menggunakan grammar SMP.

Komentar juga datang dari pemusik Mus Mualim yang menyebutkan underground-nya AKA hanya terbatas kulit karena diambil begitu saja dari piringan hitam tanpa menyelami makna perjuangan yang dilakukan pemusik underground Amerika.

Padahal, menurut ARTHUR KAUNANG, istilah underground mulanya bukan datang dari AKA. Ketika grup ini tampil pertama kali di Bandung dan membawakan lagu-lagu Jimi Hendrix, masyarakatlah yang menempelkan label underground pada mereka. Istilah itu bertambah melekat kepada AKA karena keeksentrikan Ucok di atas panggung maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Di atas panggung ulah Ucok Harahap menjadi tontonan tersendiri, di samping musik yang dimainkan Arthur, Syech, dan Sunatha. Berbagai tanggapan miring masyarakat, terutama orang tua, seakan berlalu begitu saja. Dia meneruskan aksinya menyanyi dengan kepala di bawah, terlentang di panggung, atau menari-nari. Bisa juga terjun ke dalam kolam dan bergelantungan di talang air sebuah bangunan, kemudian loncat dari ketinggian lebih dari tiga meter tanpa cedera.

Keeksentrikannya yang lain diperlihatkan ketika AKA bertemu Rollies di panggung Stadion Gelora 10 Nopember, 8 Juli 1972. Ketika Rollies membawakan lagu-lagu Gone Are The Song of Yesterday, I Had To Leave You, dan sebuah lagu dari Iron Butterfly berjudul A Gadda Da Vida, tiba-tiba seorang muncul dari kerumunan penonton menuju ke depan panggung sambil memegang tongkat. Penonton gemuruh dan bersorak karena orang itu bukan lain adalah Ucok Harahap yang sengaja berada di antara penonton menyaksikan Rollies.

Di Jakarta AKA pernah tampil di Taman Ismail Marzuki, dua malam berturut-turut, 10 dan 11 November 1973. Aksi Ucok lain lagi. Sambil membawa lagu Sex Machine, Ucok seakan-akan kesurupan dan memeragakan adegan bersenggama dengan salah satu alat musiknya. Kemudian dia keluar dari panggung, memanjat tembok dan ke atas genteng.
Ketika muncul lagi di pentas, ia langsung buka baju. Membiarkan dirinya "dihajar" dua algojo, kakinya diikat dan digantung. Setelah "ditusuk" dengan pedang, ia dimasukkan ke dalam peti mati.

Kehebohan Ucok berlanjut meski pertunjukan sudah selesai. Di belakang panggung dia masih dikerumuni orang, termasuk segelintir penonton, panitia, dan wartawan, karena kelihatannya dia masih kesurupan dan kejang-kejang sebelum akhirnya menggelapar dan terkapar di lantai tidak sadarkan diri.

Namun, keeksentrikannya ini ternyata tak mampu mempertahankan AKA sebagai sebuah grup yang solid. Pada akhirnya SUNATHA, ARTHUR, dan SYECH meninggalkan Ucok dan mendirikan trio SAS - singkatan nama ketiganya. Walaupun ditinggal sendirian, Ucok tetap malang-melintang dalam dunia musik. Di samping menyewakan alat musik, dia masih naik ke atas panggung. Bahkan, pada tahun 2003 ia berduet dengan seorang penyanyi anak-anak, yang pantas menjadi cucunya.

Kiprah SAS tidak kalah dibandingkan dengan AKA, bahkan lebih mengesankan dan disegani grup musik lainnya di luar Surabaya. Arthur dan kedua rekannya sangat sukses di panggung-panggung musik Jakarta, Bandung, Medan dan kota-kota lainnya. Mereka menghasilkan 14 album rekaman sebelum bubar tahun 1992, meninggalkan lagu-lagu yang populer, seperti BABY ROCK, RUDAL, METAL BAJA, dan sebuah lagu tentang bencana alam LARANTUKA. Lagu Baby Rock pernah masuk anak tangga radio Australia dan dibahas di BBC.

Larantuka diubah judulnya menjadi Nanggroe Aceh dan dibawakan Arthur bersama grup Bomerang di Surabaya tanggal 15 Januari 2005 dalam konser Peduli Aceh di Tugu Pahlawan yang diikuti para pemusik Surabaya lainnya. Arthur yang sekarang berusia 54 tahun bersama istrinya, Julie Astuty, dianugerahi tiga anak, yaitu Thessalonica, Genesy Rocky, dan Mecko Raga.

Pemetik gitar bas yang juga piawai di peralatan keyboard ini sekarang lebih sering membawakan lagu-lagu rocknya dalam lirik rohani untuk Tuhan, mengikuti jejak Sunatha Tanjung yang sudah menjadi pendeta. Sedangkan Syech tidak berkecimpung dalam dunia musik.

TENTU saja tak bisa dilupakan grup dan pemusik lainnya, seperti OORZAAK, YEAH YEAH BOYS, LEMON TREE’S, D’HAND, GEMBELS, GOMBLOH, ROCK TRIKEL, PRETTY SISTERS, atau ITA PURNAMASARI. Catatan khusus harus diberikan kepada mereka.

YEAH YEAH BOY lahir hampir berbarengan dengan AKA, tahun 1969. Grup yang beranggota Yanto (gitar), Bukheri (bas, vokal), Ukky (gitar, vokal), Haryanto (organ), Arfan (lead vokal), dan Eddy Rajab (drum dan vokal) disponsori Bank Bumi Daya. Mereka tampil di bar dan kelab malam Singapura selama hampir tiga tahun. Barangkali itu salah sebab kurang berkiprahnya grup ini di Tanah Air.

Grup PRETTY SISTERS menjuarai Festival Band Wanita se-Indonesia tahun 1975, sementara Gembels termasuk grup yang banyak penggemarnya hingga di luar Jawa Timur.
GOMBLOH yang tutup usia dalam usia 37 tahun, 9 Januari 1988, meninggalkan sejumlah lagu yang banyak dikenang.

Kaset lagu-lagunya, HONG WILAHENG, BERITA CUACA, KEBYAR KEBYAR, SETENGAH GILA, dan KUGADAIKAN CINTAKU, terjual lebih dari satu juta buah. Gombloh tampil dalam film Catatan Si Boy membawakan lagunya itu.

Pemusik dan penyanyi bertubuh kerempeng dengan rambut panjangnya hingga bahu ini dinilai memiliki keistimewaan dalam lirik. Album rekamannya, BERITA CUACA, menarik perhatian seorang musikolog dari Cornell University, Amerika Serikat. Karena liriknya pula, KEBYAR KEBYAR pernah menjadi lagu "kebangsaan" dan dinyanyikan bersama-sama sebagai penutup berbagai pertunjukan musik setelah Gombloh meninggal.

LEO KRISTI yang pernah bergabung dengan Arthur dalam Muana juga membentuk grup LEMON TREE’S bersama Gombloh sebelum berjalan sendiri dengan musik rakyatnya.

Namun, dari sejumlah grup dari kota buaya itu, tidak dapat disangkal bahwa AKA memberi pengaruh yang paling besar. Beberapa grup mengikuti jejak dan keeksentrikan Ucok, seperti MICKY MAKELBACH dari grup BENTOEL, Malang, yang angotanya selain Micky antara lain adalah TEDDY SUNJAYA (drum) dan IAN ANTONO (gitar) yang kemudian dikenal sebagai personel GOD BLESS.

Micky bahkan lebih berani dari Ucok. Seperti yang diperlihatkannya ketika tampil bersama Arista Birawa, ZB 101, dan penyanyi Filipina Victor Wood di Gelora Pancasila, Surabaya, 18 Februari 1973. Tanpa diketahui panitia, Micky mengeluarkan seekor kelinci dari sebuah tas di sudut panggung. Setelah mulutnya komat-komit membaca mantra, Micky mengelus-elus kelinci itu, kemudian secara tiba-tiba menghujamkan pisau belati yang sudah dipersiapkan ke tubuh binatang malang itu.

Darah kelinci pun muncrat dan Micky menghirupnya. Penonton terpekik. Berharap mendapat sambutan, Micky malah menerima teriak turun…. turun! Seketika itu juga aliran listrik ke peralatan musik di panggung dihentikan panitia dan Micky serta grup Bentoel diminta menghentikan penampilannya.

Namun, media massa waktu itu justru mengorbitkan Micky sebagai calon superstar baru dan menjulukinya sebagai Alice Cooper Indonesia. Sedemikian cintanya Micky kepada musik rock, hingga dia rela ditinggalkan Sita, istrinya. Namun, perjalanan hidup dan kariernya tidak terlalu panjang. Dia meninggal tanggal 9 Mei 1987 dalam usia 38 tahun karena serangan jantung di kediamannya di Sukabumi.

Referensi Micky tentang Alice Cooper yang suka mencoret muka dan berpakaian aneh-aneh ketika menyanyi di panggung adalah melalui berbagai majalah musik terbitan Amerika atau Eropa, seperti Music Express, Circus, Melody Maker, atau majalah musik terbitan Bandung, Aktuil. Sedangkan lagu-lagu terbaru diperolehnya dari kaset-kaset yang waktu itu sudah banyak beredar. Jadi, tidak perlu mengikuti pemusik pendahulunya yang memonitor radio Australia atau BBC di kala subuh.

Tidak ada lagi intimidasi dari pemerintah. Bahkan, ketika kampanye pemilihan presiden tahun 2004, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membawakan lagu Pelangi di Matamu dari grup Jamrud.

Naskah: THEODORE KS
Sumber : KOMPAS, 28 Januari 2005


2 comments:

  1. hasil kreativitas setiap manusia perlu dihargai dan dijadikan suatu kebangaan bahwa Indonesia memiliki orang orang yang berbakat

    ReplyDelete