02 March 2007

Candi Medalem di Sidoarjo


Oleh Lambertus L. Hurek

DIBANDINGKAN Candi Pari dan Candi Sumur di Porong, kondisi Candi Medalem ini lebih memprihatinkan. Bangunan candi berupa tumpukan batu bata merah ini sudah tak lagi berbentuk candi. Hanya sisa-sisa bata merah yang diyakini sebagai fondasi atau alas candi.

Meski begitu, jejak-jejak sejarah sebagai situs penting pada masa Majapahit (1293-1475) masih terlihat. Ada sumur tua di dekat kompleks Candi Medalem, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari situs sejarah tersebut. Andai saja pemerintah (Dinas Purbakala) mau melakukan penggalian, niscaya banyak warisan sejarah berharga masih bisa ditemukan.

Kita, generasi sekarang, bisa merekam jejak aristektur candi dan kehidupan masyarakat pada zaman Majapahit. Tapi, dari mana duit?

“Wong biaya perawatan saja nggak ada. Dulu ada bantuan sedikit untuk buat batu bata tambahan di sini,” jelas Tamaji Glendangan, penjaga alias juru kunci Candi Medalem, kepada saya.

Tamaji, lelaki asli Medalem yang berusia 44 tahun ini, bukan saja juru kunci, tapi juga orang pertama yang berhasil menemukan jejak Candi Medalem. Hasil riset atau studi pustaka kuno? Oh, sama sekali tidak. Percaya atau tidak, Tamaji mengaku mendapat petunjuk keberadaan Candi Medalem lewat mimpi. Pada 1991 lalu, malam saat tidur pulas, tiba-tiba datang seorang wanita sepuh menghampiri Tamaji.

“Nak, kamu rawat baik-baik apa yang ada di bawah pohon-pohon besar itu. Dirawat dengan baik, jangan dirusak,” ujar Tamaji menirukan pesan nenek tua dalam mimpi itu.

Asal tahu saja, lokasi Candi Medalem sekarang pada 1991 itu penuh dengan pohon-pohon besar: beringin, asam, dan kucacil. Tak pernah ada warga atau ahli sejarah yang ‘curiga’ bahwa di bawah pohon itu ada candi peninggalan Majapahit. Mereka hanya tahu ada sebuah sumur tua di bawah pepohonan rindang. Sumur itu tak pernah digunakan warga.

Tamaji kemudian menyampaikan pesan gaib itu kepada beberapa tokoh masyarakat. Ia meminta izin untuk menemukan harta karun di bawah pohon itu. “Namanya juga pesan, ya, harus saya laksanakan. Wong pesannya itu sangat jelas,” cerita Tamaji di kompleks Candi Medalem. Singkat cerita, beberapa pohon besar pun ditebang dan dicabut akar-akarnya.

Benar saja. Setelah pohon yang diduga berusia ratusan tahun itu terbantun, Tamaji dan beberapa warga menemukan sisa-sisa candi. Fondasi candi masih utuh, begitu pula batu bata yang dipakai untuk menyusun Candi Medalem. Berbeda dengan Candi Pari, yang mirip lumbung padi atau rumah-rumahan, Candi Medalem hanyalah tumpukan batu bata. Kemungkinan besar candi ini dipakai untuk pemujaan kepada Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Kuasa, atas hidup dan rezeki yang diterima warga.

Menurut dugaan Tamaji, dan warga sekitar Candi Medalem, masyarakat tempo doeloe yang menganggap candi sebagai situs keramat sengaja membiarkan pohon-pohon tumbuh bebas di atas candi. Makin lama akar dan batang pohon menggerus bangunan candi dari batu bata (baca: tanah liat) itu. Hujan, panas, selama ratusan tahun membuat Candi Medalem dilindas habis oleh pepohonan.

Sampai suatu ketika orang tidak tahu lagi bahwa di situ ada candi bersejarah. Apalagi, harus diingat bahwa pada awal abad ke-16 Kerajaan Majapahit tenggelam dalam sejarah karena serangan bertubi-tubi Kerajaan Demak yang beragama Islam. “Saya kurang tahu sejarah. Yang penting, saya bisa menemukan dan sekarang menjaga candi,” kata Tamaji.

Kini Pak Glendang, sapaan akrab Tamaji, memperlakukan Candi Medalem bagaikan anak kandungnya sendiri. Setiap hari ia merawat, membersihkan rumput liar, sambil sekali-sekali menjawab pertanyaan tamu yang penasaran dengan Candi Medalem.

Banyak hal unik dan ‘aneh-aneh’ terjadi di kompleks Candi Medalem, Kecamatan Tulangan. Ini secara tak langsung menghambat pengembangan candi sebagai objek wisata sejarah dan budaya di Kabupaten Sidoarjo.

Seperti diceritakan, kemarin, proses penemuan kembali Candi Medalem melalui mimpi Tamaji Glendangan. Pria asli Medalem, yang menjadi juru kunci Candi Medalem sejak 1991 itu, juga mengaku menemukan beberapa hal aneh di kompleks candi. Ada-ada saja kejadiannya.

Setelah berhasil ditemukan, Tamaji Glendangan sempat membuat paseban atau tempat berteduh persis di depan candi. Bangunan permanen sudah berdiri cukup megah. Tapi apa yang terjadi? Tak lama kemudian pendopo kecil itu ambruk.

"Dua kali terjadi kasus yang sama. Bangunan sudah jadi tiba-tiba ambruk," cerita Tamaji, serius.

Melihat kejadian ini, Tamaji dan warga Desa Medalem akhirnya sepakat bahwa ada peristiwa luar biasa yang sudah terjadi di kompleks candi. Mereka tidak lagi berpikir untuk membuat bangunan di atas Candi Medalem. Tidak mencoba untuk kali ketiga? “Yah, cukup dua kalilah. Kalau nekat juga, ya, nggak akan baik,” tukas Tamaji seraya tersenyum.

Sumur tua di belakang Candi Medalem pun tak kalah unik. Dibangun dengan bahan batu bata--mirip Candi Medalem--sumur tua ini berbeda dengan sumur lain di kampung Medalem. Tak sampai satu meter airnya sudah tampak. Saking besarnya sumber air, sumur Medalem ini praktis tidak pernah kering.

Beberapa waktu lalu, cerita Tamaji, sumur itu pernah dikuras dengan pompa mesin milik Dinas Purbakala. Ternyata, air sumur Candi Medalem ini tidak pernah kering. Kenyataan ini, selain membuat warga kampung Medalem heran, juga membuat warga takut menggunakan air itu. Mereka menilai air di situ pasti mengandung kekuatan supranatural alias alam gaib. “Kalau sumur biasa pasti airnya sudah kering kalau disedot dengan mesin,” kata beberapa warga kepada saya.

Sayang sekali, lokasi sumur yang hanya berjarak 20-an meter dari Candi Medalem itu terkesan kumuh, tidak terurus. Ketika saya datang ke sana, sumur berusia ratusan tahun ini masih tertutup rapat oleh daun-daun kering. Tamaji kemudian membersihkan sumur itu agar bisa saya potret. Menurut dia, sumur itu terpaksa ditutup karena sang tuan tanah tidak ingin lahannya didatangi warga yang ingin melihat kondisi sumur pada era Kerajaan Majapahit tersebut.

Agar sumur itu bisa dinikmati, Tamaji mengusulkan agar pemerintah (Kementrian Wisata dan Kebudayaan) melakukan renovasi besar-besaran. Kompleks Candi Medalem dan sekitarnya harus diteliti kembali oleh sebuah tim ahli untuk memetakan situs warisan Majapahit itu. Setelah diteliti secara ilmiah--ditambah ritual tradisional--barulah kompleks Candi Medalem direnovasi secara total. Konsekuensinya, lahan dan rumah penduduk di sekitar candi harus dibebaskan.

“Pasti perlu dana banyak. Apa bisa? Wong untuk biaya perawatan sehari-hari saja nggak ada uangnya,” tukas Tamaji seraya tersenyum.

Seperti candi dan situs tua yang lain, Candi Medalem secara formal dikelola oleh Dinas Purbakala, bukan Pemkab Sidoarjo. Selama ini pemkab tak ingin mengeluarkan dana untuk membenahi objek wisata dan ‘ziarah’ yang masih perawan itu. Padahal, jika dikelola dengan baik, dilengkapi dengan berbagai fasilitas wisata dan budaya, Candi Medalem berpotensi menggerakkan ekonomi rakyat di kampung terpencil kawasan Tulangan itu. Multiplier effect di bidang ekonomi pasti dirasakan warga sekitar.

Untung saja, warga kampung Medalem selama ini cukup antusias menjaga warisan sejarah itu. Menurut Tamaji, ketika ia memerlukan dana untuk pembuatan pagar dan perawatan kompleks Candi Medalem, warga dengan sukarela memberikan sumbangan. Pagar yang cukup bagus di pelataran candi, misalnya, merupakan sumbangan riil warga kampung Medalem. “Kalau nggak ada bantuan warga, kompleksnya nggak kayak begini.”

Harapan Tamaji alias Pak Glendang sederhana saja. Candi yang ditemukannya pada 1991 itu harus dipelihara, dijaga, sebagai aset budaya dan sejarah bangsa. Begitu kira-kira pesan sang nenek sepuh yang datang kepadanya lewat mimpinya. “Diramut sing apik,” ujar Tamaji mengutip pesan sang nenek.

[NB: Terima kasih kepada Mas Amak Junaedi yang telah mengantar saya ke lokasi Candi Medalem, pulangnya makan sate kambing.]

4 comments:

  1. waaah... Saya sangat kagum dengan usaha Bapak. Saya tidak tahu kalau ternyata si Sidoarjo ada situs peninggalan bersejarah yang mistik seperti Candi Medalem ini padahal saya juga orang Sidoarjo. Sidoarjo Kota. Saya doakan supaya Bapak berhasil mendapat bantuan dari pemerintah dan dapat membangun Candi Medalem seperti sediakala agar menjadi obyek pariwisata yang menarik untuk dikunjungi. Was Salam

    ReplyDelete
  2. saya mau tanya tentang sejarahnya dewi sekardadu wong desa nyadran sidoarjonya knp sejerahnya cuma sedikit????????????????????????????????????????????????

    ReplyDelete
  3. deewi sekardadu adalah istri dari syeikh maulana ishaq atau ibu dari sunan giri. al kisah, dewi sekardadu yang gelisah mencari dan memikirkan nasib putranya (sunan giri) yang pada waktu itu di buang kelaut oleh prabu menak sembuyu. dewi sekardadu yang terus mencari dan tanpa terasa beliau telah menyusuri hamparan tepian pantai hingga suatu saat sampailah beliau dipesisir sidoarjo. diawali dari semakin banyaknya pengawal yang sakit, meninggal dll yang menyebabkan jumlah pengawal semakin habis dan tak ada lagi yang bisa mengurusi dewi sekardadu. pada akhirnya, dipesisir sidoarjo itulah dewi sekardadu sakit dan kemudian meninggal. jasad beliau yang masuk ke muara sungai itu hanyut. akan tetapi dengan izin dari sang maha pencipta, Allah SWT, jasad beliau masih utuh dan di pinggirkan oleh sekawanan "ikan keting" sampai di pinggir daratan sungai di perkampungan asing di pesisir sidoarjo. singkat cerita, kemudian dewi sekardadu di makamkan disana oleh warga sekitar dan kemudian warga menamakan desa mereka dengan nama "desa ketingan". setelah beberapa tahun, ada seorang ulama dan peneliti yang memberikan keterangan bahwa jasad yang dimakamkan itu adalah dewi sekardadu (ibu sunan giri) dan baru saat itulah warga mengetahui bahwa dahulu kala nenek moyangnya yang menemukan jasad wanita itu ternyata jasad dewi sekardadu putri prabu menak sembuyu dari blambangan. keterangan lain menyebutkan bahwa makam di ketingan itu hanya sebuah petilasan, mengapa demikian, karena disana (pesisir sidoarjo) adalah batas wilayah kekuasaan blambangan dan kahuripan ( sidaorjo ) oleh karena itu dewi sekardadu dimakamkan disana. dan menurut keterangan lainnya, setelah mengetahui bahwa ibunya meninggal, sunan giri, sebagai seorang yang memiliki karomah suatu ketika beliau mengambil jasad ibundanya yang dimakamkan di ketingan itu dan pada saat sampai di dekat giri kedathon perbuatan sunan giri ini diketahui oleh orang dan jatuhlah jasad ibundanya itu di dekat giri kedhaton (kebomas). kalau kita berziarah di makam sunan giri dan bertanya di mana arah makam dewi sekardadu pasti akan ditunjukkan tempatnya..... wallahu a'lam/

    ReplyDelete