04 March 2007

Candi Jawi di Pasuruan




Sekitar 20 mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melakukan tur studi di kompleks Candi Jawi, Desa Candiwates, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. Para mahasiswa dibimbing langsung oleh dua dosen senior mereka. Berkeliling sepanjang pelataran candi, naik tangga, melihat yoni (lingga-nya hilang), diskusi kecil, foto bersama, lalu pulang.

“Mereka kan sudah punya dosen, jadi saya diam saja. Lain kalau pengunjung datang sendiri, saya yang selalu ditanya-tanya,” ujar Solikin (42 tahun), juru kunci Candi Jawi, kepada saya, belum lama ini.

Sekitar satu jam rombongan Unesa berada di kompleks candi peninggalan Kertanegara, raja terakhir Singosari, pada tahun 1300 itu. Saat hendak pulang, Solikin tak dipamiti. Hanya seorang mahasiswi berjilbab datang menjabat tangan Solikin, salam tempel.

“Buat beli rokok, Pak!” kata sang mahasiswi. Tidak jelas berapa rupiah untuk Solikin, yang juga bekerja membersihkan rumput, merawat taman, serta membersihkan Candi Jawi itu. Toh, ia tersenyum ramah. Rezeki jangan ditolak, begitu ungkapan warga Dusun Candijawi, Dusun Wates, Prigen.

Dibandingkan candi-candi lain di Jawa Timur, kondisi Candi Jawi jauh lebih terawat. Ini karena pemerintah pusat pada 1 Desember 1975 hingga 30 Juni 1980 melakukan renovasi total. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (waktu itu) Dr Daoed Joesoef kemudian meresmikan pada 17 Februari 1982. Karena itu, candi yang terletak di pinggir jalan, tak jauh dari Kota Pandaan, ini masih bisa dinikmati sebagai objek wisata.

Namun, menurut Solikin, sebetulnya candi berdimensi (panjang, leba, tinggi) 14,2 x 9,5 x 24,5 meter ini sebetulnya tidak sepenuhnya utuh. “Pemugaran itu hanya bisa menyelamatkan 80 persen dari kondisi asal,” tutur Solikin yang bekerja di Candi Jawi sejak 1985.

Sebelum dipugar, 1975, kondisi Candi Jawi sangat berantakan. Batu-batu tersebar ke mana-mana, umumnya dikoleksi penduduk serta penggemar bebatuan antik. Nah, saat hendak dipugar, warga diperintahkan untuk mengembalikan batu-batuan itu. Ternyata, tidak semua terkumpul, sehingga panitia terpaksa membuat beberapa replika (batuan palsu) untuk mendukung restorasi Candi Jawi.

“Lingga dan yoni sebagai bagian paling penting tidak utuh lagi. Lingganya sampai sekarang hilang,” tutur Solikin, yang bersama Sujino, bekerja 24 jam menjaga Candi Jawi.

Secara fisik Candi Jawi ini terlihat utuh, sedap dipandang. Namun, kalau diamati secara saksama tampak beberapa bagian yang masih berantakan. Misalnya, gapura yang kini tak lebih dari tumpukan batu bata tua. Menurut Solikin, pada masa Kerajaan Singosari dulu kompleks Candi Jawi ini sangat luas, meliputi juga kawasan permukiman penduduk. Biaya renovasi, ditambah biaya pembebasan lahan, terlalu mahal untuk ditangung pemerintah kita.

“Kalau dipugar secara total baru kelihatan bagus,” kata Solikin.

Celakanya lagi, Pemkab Pasuruan sebagai tuan rumah Candi Jawi kurang melihat potensi Candi Jawi sebagai salah satu aset pariwisata. Seperti beberapa pemkab di Jawa Timur, dana APBD Pasuruan lebih banyak digelontor untuk tim Persekabpas. Jangan heran, Candi Jawi yang lokasinya sangat strategis itu tak lebih dari sebuah bangunan masa lalu semakin kehilangan pesona.

“Pengunjungnya, ya, pelajar dan mahasiswa yang kebetulan dapat tugas dari sekolahnya. Atau, orang-orang tertentu yang memang tertarik dengan bangunan-bangunan bersejarah seperti ini,” ujar Solikin.

Toh, Solikin mengaku sangat menikmati pekerjaan merawat bangunan cagar budaya yang sarat sejarah itu. Sebab, di kompleks inilah Solikin kerap mendapat rezeki dari pengunjung seperti ‘salam tempel’ dari gadis Unesa.

2 comments:

  1. Usnisha Cakravarti1:37 AM, December 21, 2008

    Seharusnya pemerintah lebi memperhatikan keadaan kompleks Candi Jawi. Bisa saja jika dilakukan penelitian lebih lanjut maka akan ditemukan kompleks percandian seperti di Trowulan.

    ReplyDelete
  2. Sebetulx udh diperhatikan koq, lw gak diperhatikan itu berarti gak di urus, gak dipugar dll,...
    Mungkin karena namanya gak seheboh Mahakarya Candi Borobudur kali yg bikin candi ini sepi bangetz

    ReplyDelete