26 March 2007

Cak Sidik Empu Ludruk Surabaya

Oleh KARDONO SETYORAKHMADI
Sumber: www.jawapos.co.id [25 Maret 2007]

APA ARTI LUDRUK BAGI ANDA?
Ohh, ludruk merupakan segala-galanya bagi saya. Ludruk membuat saya tetap merasa hidup. Bagi saya, ludruk tidak tergantikan oleh apa pun.

APA YANG MEMBUAT LUDRUK BEGITU BERMAKNA MENDALAM BAGI ANDA?

Yang pertama, ludruk yang memberi makan saya selama ini. (Sidik lantas tertawa terbahak) Ha.. ha.. ha... Singkatnya seperti ini, ada dua jenis orang yang bekerja. Yang pertama adalah dia bekerja, namun tidak enjoy dengan pekerjaannya. Yang kedua adalah orang yang bekerja dan enjoy dengan pekerjaannya.

Saya termasuk golongan terakhir karena ludruk bagi saya sangat asyik. Hal ini tidak bisa dijelaskan dengan gamblang lewat kata-kata. Selain itu, saya bisa punya istri dari ludruk, ha ha ha... (almarhumah Ning Surya Dewi adalah istri sekaligus kawan main ludruk bagi Sidik).

BAGIAN LUDRUK APA YANG PALING ANDA NIKMATI?

Bagian kidungan atau parikan. Di ludruk, ada tiga jenis parikan saat bedayan (bagian awal permainan ludruk). Yaitu, lamba (parikan panjang yang berisi pesan), kecrehan (parikan pendek yang kadang-kadang berfungsi menggojlok orang) dan dangdutan (pantun yang bisa berisi kisah-kisah kocak). Dalam ludruk yang benar-benar murni, seorang seniman ludruk paling tidak harus bisa parikan selama dua jam tanpa putus. Selain itu, parikan tersebut harus dituntut kontemporer.

APA YANG DIMAKSUD PARIKAN KONTEMPORER?

Artinya, parikan tersebut harus sesuai kondisi-situasi sosial yang ada. Jadi, parikan tidak boleh yang itu-itu saja. Bagi saya, di situlah asyiknya parikan. Saat melantunkan parikan, saya seperti trance. Saya merasa seperti di awang-awang dan tiba-tiba saya tidak peduli lagi dengan apa-apa. Apalagi ketika para penonton terpesona dan bertepuk tangan meriah atas parikan saya. Saat itu, saya benar-benar merasakan eksistensi saya. Saya benar-benar merasa hidup saat itu.

APAKAH ANDA LEBIH MENGUTAMAKAN SPONTANITAS ATAU MENGHAFALKAN KIDUNGAN DULU?

Kedua-duanya. Tapi, spontanitas tetap menempati porsi terbesar. Prosesnya selalu dimulai dengan parikan yang sudah dihafalkan. Baru setelah tiga hingga empat parikan, spontanitas muncul.

APA RESEP PARIKAN ATAU KIDUNGAN SPONTAN TANPA BERHENTI SELAMA SATU JAM?

Ya, itulah seninya. Seorang pemain ludruk yang mau parikan harus mengamati kondisi masyarakat sekitar tempat manggung. Sebelum manggung, saya biasanya duduk dan berjalan berkeliling ke penonton. Kepada panitianya, saya minta ditunjukkan siapa saja tokoh masyarakat yang hadir.

Kemudian, saya amati satu per satu, mulai cara dia bicara, cara dia duduk, dan ciri-ciri khusus lainnya. Selanjutnya, saya akan melakukan parikan dengan menyebut tokoh tersebut. Trik ini biasanya berhasil menggaet hati para penonton karena biasanya yang hadir rata-rata mengenali tokoh masyarakat tersebut. Kalau tawa penonton sudah terdengar dan tepuk tangan membahana,

Wah rasanya saya benar-benar menikmati dan mensyukuri hidup ini.
“Saya bahkan tidak punya pekerjaan sampingan, atau bisnis sampingan. Pendapatan utama saya ya dari ludruk," ungkap kakek 11 cucu tersebut.

DALAM BANYAK KESEMPATAN, ANDA SERING MENGATAKAN BAHWA YANG MENJADI INSPIRATOR UTAMA KARYA ANDA ADALAH ALMARHUMAH SURYA DEWI. NAH, SEPENINGGAL BELIAU (Surya Dewi meninggal akibat tumor kandungan awal 2006), APA YANG MENJADI INSPIRATOR ANDA?

Saat istri saya meninggal, itu benar-benar sebuah kehilangan besar bagi saya. Beberapa hari sesudah kematian istri saya merupakan hari-hari yang paling berat bagi saya karena dia telah menemani saya hampir 40 tahun. Apalagi dia memang merupakan sumber inspirasi bagi saya.

BAGAIMANA NING SURYA DEWI MENGINSPIRASI ANDA?

Setiap bahan perbincangan kami, cerita-cerita dia mengenai teman-temannya merupakan bahan utama ludrukan saya. Misalnya, dia pernah bercerita mengenai masalah rumah tangga yang dialami temannya. Bagaimana proses si pria kecantol wanita lain, riak-riak tersebut berawal, itulah yang menjadi sumber cerita. Namun, biasanya ada modifikasi sedikit.

Bila di dunia nyata, pasangan tersebut berpisah, namun dalam lakon yang saya buat selalu happy ending. Maklum saja, sebagai sebuah tontonan, ludruk yang saya mainkan juga harus menjadi tuntunan. Ini merupakan tanggung jawab sosial selaku seniman.

APAKAH KEHILANGAN ITU MEMENGARUHI KEMAMPUAN MELUDRUK ANDA?

Jelas sangat berpengaruh. Selama sebulan lebih, saya malas bermain ludruk. Namun, karena hidup terus berjalan, saya bisa mencari inspirasi dari hal-hal lain. Selain itu, seniman tidak seharusnya terpancang pada satu sumber inspirasi. Banyak fenomena sosial yang bisa menjadi sumber inspirasi.

Saat ini, kepergian istri saya tetap merupakan satu kehilangan, namun kini tidak memengaruhi pencarian inspirasi lagi. Hidup terus berjalan dan saya juga harus melanjutkan hidup.

(Hingga kini, Cak Sidik masih aktif dalam dunia ludruk. Saat ini, dia menjadi pembina Paguyuban Pencinta Kidungan Rek (PPKR), sebuah organisasi yang berisi penggemar Kidungan Rek, acara milik JTV. Namun, dia juga mengeluhkan animo masyarakat yang sangat kurang dibandingkan zamannya dulu).

"Sekarang sangat sedikit masyarakat yang benar-benar berniat menonton ludruk sejak dari rumah. Paling saat lewat, orang berhenti karena tertarik ada keramaian, ’Oh ada ludruk’, kemudian mampir sebentar untuk nonton," ujar Sidik.

BAGAIMANA PERASAAN ANDA MELIHAT EKSISTENSI LUDRUK SAAT INI?

Sedih juga, ya, apalagi dunia inilah yang membesarkan saya. Tapi, ini memang merupakan tuntutan perkembangan zaman. Yang paling bisa dilakukan adalah tetap berusaha mempertahankan eksistensi ludruk pada umumnya dan parikan pada khususnya.

CARANYA?

Terus terang, media massa memegang peran sangat penting dalam hal ini. Misalnya, kalau tidak ada acara Kidungan Rek yang ditayangkan JTV, saya yakin bahwa tak lama lagi kidungan bakal menjadi sekadar kenangan alias punah.

APA SAJA HAMBATAN PELESTARIAN ITU, TERUTAMA DARI FAKTOR INTERNAL SENIMAN?

Paling utama adalah regenerasi yang kurang berjalan maksimal. Setelah Kartolo, hampir belum ada bibit yang sangat menonjol dan begitu terkenal. Saya menilai bahwa generasi muda seniman ludruk kadang sudah merasa "wah" terlebih dulu, padahal belum menghasilkan karya fenomenal. Selain itu, banyak yang terlihat kurang total dalam berkesenian ludruk.

BUKANKAH ITU TAK BISA DISALAHKAN MENGINGAT LUDRUK KINI TIDAK BISA MENJANJIKAN MASA DEPAN "CERAH"?

Memang kurang prospektif, namun saya yakin kalau betul-betul ditekuni, pasti juga akan ada jalan. Buktinya saya. Dulu ketika awal-awal aktif di ludruk, saya merupakan seorang pegawai percetakan dengan gaji lumayan. Namun, karena saya ingin total, pekerjaan di percetakan itu saya lepas dan terjun total di dunia ludruk. Buktinya, saya punya rumah cukup nyaman dan tidak kekurangan satu hal apa pun.

APA OBSESI ANDA YANG BELUM TERCAPAI?

Saya rasa semuanya sudah tercapai. Apa sih yang dicari dalam hidup? Saya punya rumah, punya anak, dan istri. Anak-anak saya sudah jadi semua. Saya juga tidak kekurangan makanan dan terus menggeluti dunia yang saya cintai. Apalagi yang kurang?



SIDIK, ANAK BAND YANG TERSESAT KE LUDRUK

TAK ada yang pernah menyangka bahwa seorang Sidik Wibisono akhirnya kondang sebagai seniman ludruk yang cukup punya nama. Dulu sama sekali tak tebersit dalam cita-cita Cak Sidik untuk menjadi tukang ngeludruk. Menurut pengakuannya, dia sebenarnya orang yang tersesat dalam dunia ludruk.

Titik balik karir Sidik terjadi pada 1969. Ketika itu, kakek 11 cucu tersebut masih berprofesi sebagai pemusik. Dia adalah personel Band DAMRI dan BAT. Posisinya adalah vokalis merangkap rhythm guitar.

"Saya cukup dikenal saat itu. Biasane sing nanggap yo instansi-instansi," kenang pria 63 tahun itu. Lagu-lagu yang biasa dia bawakan adalah milik Koes Plus dan oldies pop semacam Oh Carol. Setelah dua tahun tidak ada perkembangan berarti di bandnya, Sidik muda ingin mengembangkan karir.

Namun tetap, menjadi seniman ludruk tidak ada dalam pikirannya saat itu. "Awalnya saya justru melamar sebagai penyanyi di Srimulat," ucapnya. Saat itu, Srimulat sedang jaya. Namun, nasib berkata lain. "Lamaranku ditolak. Alasane, wis kakehan penyanyi (lamaran saya ditolak. Katanya, sudah terlalu banyak penyanyinya, Red)," urai ayah lima anak itu.

Sempat putus asa, Sidik muda kemudian disarankan ayahnya untuk melamar di Ludruk Tri Sakti di THR. Ludruk itu termasuk grup papan atas. Personelnya adalah pentolan-pentolan ludruk. Misalnya, Cak Meler, Cak Rukun, dan Cak Parmo. Sidik kemudian menuruti saran ayahnya.

Tesnya sungguh di luar dugaan Sidik. Dia langsung disuruh mengisi bedayan (sesi awal ludruk yang berisi kidung-kidungan selama satu jam). Penuh percaya diri, Sidik menerima tantangan itu. Hasilnya luar biasa, Sidik berhasil melantunkan kidungan-kidungan milik Cak Meler dan memukau penonton selama hampir satu jam.

Rupanya, Sidik muda ternyata juga sering melihat ludruk. Cak Meler adalah salah satu favoritnya. "Tiap lihat parikan Cak Meler, saya menghafalnya," kata penghobi bulu tangkis itu.

Ada cerita unik mengenai hal tersebut. Saat Sidik ngidung, Cak Meler dan Cak Rukun sedang nongkrong di warung sebelah. Tiba-tiba Cak Rukun bertanya ke Cak Meler, "Ler, sopo sing ngidung iku (siapa yang bernyanyi itu)?"

Cak Meler menjawab penuh percaya diri, "Alah, iku paling kasetku sing disetel (paling itu kaset saya yang disetel)."

Dua seniman kawakan itu lantas taruhan. Jika ternyata suara kidungan merdu itu dari kaset, Cak Meler menang. Jika ternyata bukan kaset, Cak Rukun menang. Yang kalah harus mentraktir makan.

Dan, ternyata yang tampil adalah Sidik. Rupanya, saking mirip dengan kidungan Cak Meler, si pemilik asli sampai pangling. "Karena saya belum punya parikan sendiri, saya membawakan semua parikan Cak Meler yang saya hafal. Mulai cengkok, syair, hingga intonasinya, semua saya tiru persis," urainya, kemudian tersenyum mengingat peristiwa tersebut.

Yang tak kalah girang adalah para pentolan ludruk tersebut. Setelah pentas, Sidik langsung disalami para dedengkot ludruk tersebut.

"Saya kemudian diajari langsung oleh Cak Rukun dan Cak Meler. Merekalah yang meletakkan dasar-dasar ludruk ke saya," tuturnya. Ketika itu, Cak Meler dan Cak Rukun mengarahkan Sidik ke kidungan dan lawakan.

Itulah titik balik Sidik dalam dunia ludruk. Setelah setengah tahun bersama di Ludruk Tri Sakti, Sidik bergabung dengan Ludruk RRI. Di tempat itulah, Sidik mendapatkan masa keemasan.

"Dulu, kalau sampai pentas di daerah, misalnya jarak 10 km sebelum masuk kota saja, sudah dielu-elukan. Para senimannya bahkan sampai perlu diarak dengan jip terbuka supaya semua masyarakat tahu. Jan koyok Agnes Monica lek arep pentas (Seperti Agnes Monica kalau akan pentas)," kelakarnya.

Selain itu, dunia ludruk pula yang mempertemukan Sidik dengan jodohnya. Surya Dewi yang kelak menemani Sidik hampir 40 tahun tak lain adalah salah seorang anggota Ludruk RRI. "Aku kenek cinlok (cinta lokasi, Red)," kenangnya, sedikit bergurau. Sejak itu, nama Sidik tak bisa dilepaskan dari dunia ludruk Surabaya. Bahkan, hingga kini.

TENTANG H.M. SIDIK WIBISONO

Nama Tenar: Cak Sidik
Tempat/Tgl Lahir : 6 November 1944
Istri : (Alm) Hj Surya Dewi
Anak :
1. Eka Suryanto Wibisono
2. Dwi Agus Sugiono
3. Mery Triana Dewi
4. Fifi Rosiana Dewi
5. Yeni Erawati Dewi

1 comment:

  1. minta tolong klo bisa posk kan biografi H. M SIDIK WIBISONO seberta silsilaha.ny

    ReplyDelete