17 March 2007

Bung Karno Bina Teater di Flores


Ir SOEKARNO, yang lebih akrab disapa BUNG KARNO, pernah dibuang oleh pemerintah Hindia Belanda selama empat tahun di Ende, Flores. Tepatnya dari 14 Januari 1934 hingga 18 Oktober 1938. Di Flores, Bung Karno yang kemudian menjadi presiden pertama Republik Indonesia, membina grup tonil alias teater alias sandiwara. Namanya TONEEL KLUB KELIMUTU.

Bung Karno bercerita tentang grup sandiwara alias teater yang didirikannya pada 1934 ini:

"Kami hanya mempunyai satu naskah. Karena itu, aku membacakan setiap peran dan para pemainku yang bermain secara sukarela mengingatnya dengan mengulang-ulang. Kalau orang dalam keadaan kecewa, betapapun besarnya rintangan akan dapat disingkirkannya. Inilah salah satu napas kehidupanku. Aku harus menjaganya supaya ia hidup terus.

“Kalau salah seorang tidak dapat memainkan perananya dengan baik, aku melatihnya sampai jauh malam. Aku malahan berbaring berkali-kali di lantai untuk memberi contoh kepada ALI PAMBE, seorang montir mobil, bagaimana memerankan dengan baik seorang yang mati.”


Setiap naskah butuh 40 hari latihan. Teater binaan Bung Karno ini biasa menggelar pertunjukan di Gedung Imakulata milik Paroki Katedral Ende. Adalah Pastor HUIJTINK SVD, misionaris serta teman diskusi Bung Karno, yang memberi izin penggunaan fasilitas milik Gereja Katolik itu. Juga kusi, bangku, hingga listrik.

Uskup Ende menyumbang cat. Karcis dicetak oleh PERCETAKAN ARNOLDUS milik para pastor dan bruder SOCIETAS VERBI DIVINI atau SVD.

Riwu Ga alias Riwu Sabu salah satu anggota Toneel Klub Kelimutu serta pelayan setia Bung Karno semasa pembuangan di Flores. Kepada PETER A. ROHI, wartawan senior asal Pulau Sabu, Nusatenggara Timur, Riwu Ga bercerita sedikit tentang teater pimpinan Bung Karno ini. Berikut paparan RIWU GA (almarhum) dalam gaya orang pertama:

"Bung Karno sebagai direktur Toneel Klub Kelimutu. Pendampingnya IBRAHIM H OEMAR SYAH dan DARHAM OTTAH. Di samping orang-orang dari berbagai suku di Nusatenggara Timur, ada orang Jawa seperti Atmosudirdjo dan Suminem, istrinya, school opziner Aburtidjo dan seorang guru schakel school bernama Wasirin. Bung Karno juga berhasil menggodok orang-orang Tionghoa menjadi muridnya, antara lain Go Djun Pio, Jo Ho Siu, dan Liek Sin Tek.

Pak Atmosudirdjo dan istrinya sangat dekat dengan Bung Karno dan Ibu Inggit Garnasi (istrinya). Dengan demikian, ia juga menjadi adik angkat Ratna Djuami (Omi). Pak Atmo bekerja sebagai mantri ukur di Flores. Jalan di sini belum diaspal. Mobil sedikit, di antaranya beberapa buah milik Silalahi.

Para pemain tonil terdiri atas bebagai profesi. Ada sopir macam Ali Pambe. Pembantu rumah tangga. Anak sekolah. Bung Karno terpaksa mengajari kami macam-macam untuk bisa menghafal peran masing-masing. Mulai cara mengeja bahasa sampai akting. Perempuan yang ada di klub tidak ikut main. Mereka cuma menyediakan perlengkapan atau tampil di bagian selingan sebagai penyanyi dan penari.
Drama-drama ciptaan Bung Karno semuanya 12 judul:

1. KUTKUTBI
2. RAHASIA KELIMUTU
3. AERO DINAMIT
4. DOKTER SYAITAN
5. ANAK HARAM JADAH
6. MAHA IBLIS
7. AMUK
8. SANGHAI RUMBA
9. GERA ENDE
10. INDONESIA 1945
11. RENDO
12. JULA GUBI

Drama INDONESIA 1945 ditulis Bung Karno atas pesanan Tuan NATHAN, orang Filipina yang memimpin sandiwara keliling. Drama DOKTER SYAITAN yang terkenal itu diciptakan Bung Karno pada 1936. Drama ini berisi ramalan akan tiba saatnya bangsa Asia bangkit dan memberontak terhadap penjajah kulit putih.

Peran utamanya dr Marzuki yang mampu menghidupkan orang mati. Pesan moralnya: bahwa bangsa Indonesia akan bangkit dari tidur panjang pada masa penjajahan.”

Biasanya, setiap Ahad, terutama usai latihan atau pementasan, Bung Karno bersama rombongan Teater Kelimutu piknik di luar kota. Wolowona, sekitar lima kilometer dari Ende, adalah tempat favorit mereka. Di sepanjang jalan Bung Karno mengajak mereka menyanyi gembira. Lagunya antara lain NONA MANIS serta lagu-lagu keroncong diiringi ukulele dan cuk.

TONEEL KLUB KELIMUTU DI FLORES

Pendiri : Ir Soekarno
Sutradara: Ir Soekarno
Penulis naskah : Ir Soekarno
Pementasan : 1934-1938

PEMAIN/ANGGOTA
1. Ibrahim H Umar Sjah
2. Darham Ottah
3. Ruslan Ottah
4. Djae H Mochtar
5. Abdul H Adjhar
6. Ahmad Polindih
7. Madu Rodja
8. Pranoto
9. Atmosudirdjo
10. Umar Gani
11. Djae Bara
12. Nganda Gande
13. Djae Gande
14. Ali Pambe
15. Wahab Tandjo
16. Siku Wasim
17. Wahit Djari
18. Weru Karara
19. Mansor Saripin
20. Musa H Umar Sjah
21. Prangga Kora
22. Ja Ali Ibrahim
23. Go Djun Pio
24. Awu Rodja
25. Jo Ho Siu
26. Alias Batawi
27. Molo Take
28. Wasim Palembang
29. Djafar Penatu
30. Riwu Sabu alias Riwu Ga
31. Lodo Nigi
32. Ndoa Wandu
33. Djamaludin
34. Baa Bahron
35. Da’man
36. Ibu Atmo
37. Ibu Pranoto
38. Suminem
39. Tin Mugda
40. Anang
41. Hamid Anang
42. Abdurrahman Anang
43. Abdurrahman Wani
44. Abdurrahman Palembang
45. Imam

SUMBER:
1. Di Bawah Bendera Revolusi (Ir Soekarno)
2. Kako Lami Angalai (Peter A Rohi)
3. Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (Cindy Adams)
4. Bung Karno dan Pancasila – Ilham dari Flores untuk Nusantara (Tim Nusa Indah)

2 comments:

  1. bisa kirim bukunya buat saya. Email saya tutacua@yahoo.com

    ReplyDelete
  2. heheh,,,iya pengen baca..

    boleh juga tuh bukunya....

    ReplyDelete