19 March 2007

Nyepi - Bali yang Kian Perkasa



Sonny Tumbelaka, fotografer Agence France-Presse, bikin foto bagus pada 16 Maret 2007. Orang-orang Bali melakukan ritual melasti, dalam rangka Hari Nyepi, di Pantai Kuta. Berpakaian adat Bali, saudara-saudara beragama Hindu itu larut dalam ritual khas mereka.

Tak jauh dari prosesi itu tampak beberapa turis bule, perempuan, menjemur tubuhnya. Berpakaian pantai.

Sebuah pemandangan yang kontras. Toh, kedua pihak sama sekali tidak terganggu. Upacara melasti berlangsung lancar, perasaan keagamaan orang-orang Bali tidak terganggu. Para turis pun menikmati pantai wisata itu seperti biasa. Seolah tak ada apa-apa di antara mereka.

"Turisnya telanjang hehehe," ujar Supriyono, teman saya di Surabaya, lalu tertawa lebar. Ia baru melihat foto milik kantor berita Prancis itu.

Terus terang, sejak dulu saya kagum, sekaligus iri, dengan orang-orang Bali. Sudah beratus tahun pulau mereka didatangi turis asing, dari hampir semua negara di dunia. Turis relatif longgar merayakan kebebasan di pantai wisata itu. Tak ada larangan berbusana minim di pantai, kecuali mungkin telanjang bulat. Kemerdekaan individu dijunjung tinggi-tinggi di Bali.

Hebatnya, ketahanan budaya (dan agama) orang Bali luar biasa. Mereka tetap kukuh dalam tatanan adatnya secara turun-temurun. Saya beberapa kali melintas di kawasan Kuta, Legian, Sanur. Saya melihat sendiri anak-anak muda, anak-anak, laki-perempuan, menggelar ritual rutin setiap hari. Sementara di sebelahnya puluhan turis sibuk dengan urusannya.

Wah, dunia terasa benar-benar indah di Pulau Bali. Semua berjalan alamiah, tanpa himbauan macam-macam, pidato-pidato pejabat yang tawar rasanya.

Saya kira, bangsa Indonesia, ya kita semua, perlu belajar dari kearifan orang-orang Bali. Sejak ratusan tahun lalu mereka sudah mengalami 'globalisasi' tanpa kehilangan roh, tradisi, nilai-nilai adat dan agamanya. Justru keunikan Bali itulah yang memberi nilai tambah Bali di era globalisasi.

Warga di luar Bali perlu belajar sungguh-sungguh menghargai perbedaan. Sudah menjadi rahasia umum, di Pulau Jawa masih banyak orang yang terusik hanya gara-gara tetangga atau orang lain berbeda keyakinan atau paham keagamaan. Ada pula aktivis organisasi massa yang senang melakukan razia dan tak segan-segan melakukan aksi anarkistis.
Amboi, Bali yang luar biasa!

Selamat Hari Raya Nyepi!

6 comments:

  1. Ya, memang adat istiadat dan agama dijunjung tinggi di pulau kami ini. Saya kadang heran dengan berita-berita di TV, di Jawa ada peristiwa temen sendiri disembelih gara-gara rokok atau uang seribu... Semoga hal-hal sepeti ini tidak terjadi di Pulau ini. Dimana semakin banyak orang berjilbab dan Islam Protestan (suka protas-protes tapi kawin terus, maksiat terus sambil berdakwah sok suci dengan jenggot kambing dan mulut berminyak-minyak ileran, sok Arab, muka iblis hati setan) berkeliaran mencari makan di Bali sambil merusak dari dalam... Semoga Bali tetap aman, jauh dari teror agama yang baru mayoritas maunya menang sendiri. Berdo'a lah semoga Bali tetap di Bali dan Jawa tetap diasalnya.

    ReplyDelete
  2. emang bali luar biasa. krn itu bali jadi tempat wisata paling top di dunia.

    freddy, malang

    ReplyDelete
  3. hmm.. mari kita saling hormat, toleransi. pancasila lah.

    ReplyDelete
  4. Terima kasih komentar teman2. Mudah2an kita saling memahami, toleransi, kerja sama, tidak saling curiga. Bersatu kita teguh, kata pepatah.

    ReplyDelete
  5. Zulfiki Bin Taha11:20 PM, April 08, 2008

    Memang satu-satunya agama yang dibela oleh pemerintah adalah agama Islam.

    Sikap pemerintah seperti ini sangat berbahaya.

    Resikonya adalah:
    Bagi umat Islam yang anti pemerintah, hal ini adalah peluang yang sangat bagus untuk menentang pemerintah. Umat muslim tidak usah menunggu pemilihan umum untuk menentang pemerintah yang sekarang.

    Kalau umat muslim mau menentang pemerintah yang sekarang, cukup dengan meinggalkan agama Islam untuk memeluk agama lain selain Islam. Meninggalkan agama Islam berarti anti pemerintah yang sekarang. Reaksi ini lebih ampuh dari pada menyoblos di pemilu. Hasil penghitungan suara di pemilihan umum bisa direkayasa dan dicurangi. Tetapi meninggalkan agama Islam ke agama lain adalah reaksi yang tidak bisa dikontrol oleh pemerintah. Dan pemerintah nanti hanya bisa gigit jari.

    Inilah resiko yang dihadapi oleh pemerintah yang kerjanya hanya membela agama Islam.

    ReplyDelete