26 March 2007

Batutara dan Pulau Komba yang Misterius


Oleh LAMBERTUS L. HUREK
*Gunung 'Hantu' Itu Meletus Lagi setelah 155 Tahun

Pekan lalu, saya menerima kabar buruk. Yus, adik saya di Kupang, kirim pesan pendek bahwa Gunung Betar di depan kampung saya, Desa Mawa, Ile Ape, Lembata, meletus. Adik saya yang lain, Erni, di Lewoleba, pun kasih kabar serupa.

"Ribuan warga terpaksa mengungsi karena khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," begitu bunyi SMS Yus Hurek, kini guru di Kupang. "Sekarang situasinya genting. Semburan dari Betar masih terus keluar."

Saya langsung cek informasi di internet, dan ternyata betul. Kantor berita Antara, AFP, UPI, kantor berita asing lain, juga beberapa media internasional, memberitakan erupsi Batutara. Informasinya pendek saja, tapi jelas. Gunung BATUTARA [orang-orang kampung di Lembata umumnya menyebut BETAR] meletus.

Bupati Lembata, Andreas Duli Manuk, menyebutkan 15.700 orang mengungsi. Umumnya dari Pulau Lembata bagian utara, menghadap Laut Flores, mulai Kecamatan Omesuri, Buyasuri, dan Ile Ape. Puji Tuhan, tidak ada korban jiwa.

Batutara alias Betar. Gunung ini sangat lengket di benak saya. Sebab, waktu kecil saya tinggal di kampung Mawa, persis berhadapan dengan Batutara, yang berada di Pulau Komba. Data resmi menyebutkan, Gunung Batutara tingginya 748 meter dari muka laut. Jaraknya dari Pulau Lembata sekitar 50 kilometer. Ada vegetasi yang menutupi Batutara, namun Pulau Komba tak berpenghuni. Paling-paling hanya dijadikan tempat singgah para nelayan.

Jawatan kegunungapian di Bandung pun mengaku kesulitan menempatkan peralatan di Pulau Komba karena tak ada satu pun manusia di sana. Pemantauan hanya bisa dilakukan di Lewotolok, tak jauh dari tempat lahir saya. Bupati Andreas Duli Manuk meminta jawatan vulkanologi untuk memberi perhatian khusus pada Batutara. "Situasinya sudah membahayakan penduduk di Lembata," ujar Pak Bupati.

[Kebetulan Bupati Andreas Duli Manuk ini masih kerabat dekat kami. Istri Pak Ande, Ibu Margaretha Hurek, jelas keturunan langsung fam Hurek. Satu garis dengan fam saya, HUREK. Lagi pula, almarhumah ibu saya, Maria Yuliana Manuk, satu fam dengan Pak Bupati Lembata: sama-sama MANUK.]

Nah, saya terus mencari data tentang Gunung Batutara. Dalam sebuah situs berbahasa Inggris disebutkan, Batutara terakhir meletus pada tahun 1852. Kalau letusan terkini, mulai 19 Maret 2007, berarti rentang waktunya 155 tahun. Satu setengah abad lebih. Kurun waktu yang jelas tidak pendek.

Saya sendiri, yang waktu sekolah dasar hampir tiap petang menyaksikan matahari tenggelam di samping Gunung Batutara, bersama teman-teman sekampung, awalnya tak percaya dengan berita Batutara meletus. "Kok bisa Betar [Batutara] meletus? Batutara kan nggak pernah terlihat aktif?" batin saya.

Kalau Ile Ape [Gunung Api] atau Ile Boleng atau Lebatukan atau Ile Mandiri--semuanya di Flores Timur--meletus wajar lah. Sebab, ile-ile itu [ile = gunung] setiap hari memang melepaskan asap, belerang, dan material-material lain. Tapi Batutara? Tak pernah saya bayangkan. Jangankan saya, yang sudah merantau ke Jawa, orang-orang kampung pun tak pernah menduga kalau Batutara itu [bisa] meletus.

Dari namanya saja, BATUTARA alias BETAR, dan bukan ILE, orang-orang di kampung saya, yang berhadapan langsung dengan Batutara, tak pernah menganggapnya sebagai gunung api aktif. Namanya saja BATU.

Maklum, sekali lagi, Batutara meletus terakhir pada 1852. Niscaya tak ada lagi saksi mata hidup yang pernah meriwayatkannya. Alih-alih saksi mata, catatan resmi di Lembata pun, saya kira, tidak ada.

Tapi, mau bilang apa, setelah istirahat panjang selama 1,5 abad lebih, Batutara akhirnya merasa perlu memuntahkan isi perutnya. Siklus yang sangat panjang dibandingkan Gunung Merapi di Jogja yang siklusnya demikian pendek. Bagaimanapun juga ini peristiwa alam. Kekuatan endogen tak bisa dicegah oleh siapa pun. Saya dan warga kampung di Flores Timur dikasih pelajaran untuk berwaspada. Jangan sekali-kali meremehkan gunung kecil di tengah laut yang selama ini hanya dianggap BATU.

Boleh jadi, Batutara hendak menarik perhatian penduduk melalui erupsinya yang kabarnya mencapai ketinggian 1.500 meter. Luar biasa!

Gunung Batutara alias Betar berada di Pulau Komba. Saya yang di masa kecil menatap Gunung Batutara setiap hari, karena rumah saya berada di tepi pantai, pesisir Laut Flores, jarang menyebut nama Pulau Komba. Warga Lembata pun asing dengan pulau ini. Tahunya, ya, Batutara atau Betar.

Kenapa begitu? Pulau yang berjarak 30-50 kilometer dari tempat kelahiran saya, Kampung Mawa, Ile Ape, itu tidak punya penghuni. Tak ada seorang pun manusia yang berani tinggal di Komba. Ia lebih mirip pulau gunung. Topografinya, dari laut langsung miring, menanjak, membentuk gunung setinggi 748 meter.

Karena yang diindra warga hanya gunungnya saja, maka kami di kampung hanya tahu Batutara alias Betar. Pulau Komba itu sekadar 'nama resmi' untuk catatan ilmiah. Anak-anak sekolah pun tidak pernah mendapat pelajaran soal Pulau Komba. Warga yang iseng sering menyebut Pulau Komba dengan julukan 'pulau hantu', 'pulau suanggi', 'pulau setan', dan sejenisnya. Menyeramkan, memang!

Citra Pulau Komba, dengan Gunung Batutara-nya, memang sangat menyeramkan. Waktu masih di kampung, bulu kuduk saya berdiri saat mendengar cerita-cerita seram dari Pulau Komba. Begitu banyak kejadian misterius dan sulit dipahami. Paling banyak, orang kampung yang mencari ikan atau kerang dengan perahu bercadik hilang di kawasan Batutara. Kalau sudah hilang di sana, hampir pasti tim search and rescue (SAR) paling hebat atau TNI Angkatan Laut sekalipun sulit menemukannya. Hilang tanpa bekas apa pun.

Kasus hilangnya warga secara misterius di kawasan Pulau Komba [Batutara] rupanya sudah terjadi sejak beratusan tahun sehingga kemudian muncul 'kepercayaan' bahwa Pulau Komba itu sangat angker. Maklum, kata warga, begitu banyak orang yang meninggal secara tidak wajar di Batutara. "Matay beloloken," begitu istilah dalam bahasa daerah. Karena mati tidak wajar, warga percaya bahwa arwah orang-orang itu gentayangan tak karuan di Pulau Komba.

Sebagai informasi, di daerah Flores Timur, khususnya Lembata, makam orang-orang yang mati tidak wajar [bunuh diri, jatuh dari pohon, disambar petir...] terpisah dari makam biasa.

"Jangan coba-coba ke sana. Kasus orang hilang sudah sering terjadi," begitu pesan yang saya dengar dari orang tua-tua di Kampung Mawa.

Saat saya kecil tuturan orang tua-tua ini beroleh bukti. Celakanya, kasus ini menimpa Demong Ire Hurek [almarhum], masih tergolong kakek saya. Kakek Demong yang punya perahu dan senang melaut, suatu ketika, berlayar mencari ikan. Karena suka tantangan, dan ingin hasil banyak, Kakek Demong berlayar jauh ke tengah laut, mendekati Komba [Batutara].

Tunggu punya tunggu, hingga beberapa bulan kemudian, Kakek Demong Ire tidak kembali. Tidak ada berita apa pun. Perangkat desa, pemuka adat, ya, kami semua di kampung akhirnya sadar bahwa Kakek Demong Ire Hurek telah 'diambil' di Batutara. Bagaimana caranya hilang--dibawa arus, perahu tenggelam, hilang di daratan Pulau Komba, nyasar...--tidak ada yang bisa menjawab. Hilang tanpa bekas. Misterius!

Kejadian-kejadian macam ini senantiasa berulang dan sulit ditebak. Orang tahu kalau Pulau Komba itu misterius, punya potensi bahaya, sudah ada banyak orang hilang di sana, tapi biasanya satu ketika ada saja warga kami yang melaut, dan entah kenapa, nyasar ke sana. Beberapa waktu kemudian muncul kabar: si Fulan hilang di kawasan Batutara. Apa boleh buat, warga hanya bisa berdoa, mengurus upacara adat semacam 'tolak bala' di masyarakat tradisional Jawa.

Namun, di lain waktu, saya mendengar cerita dari sejumlah nelayan yang mengaku pernah mendarat di Pulau Komba. Disebutkan, daratan di sana pun ditumbuhi tetanaman seperti di Lembata, Solor, Adonara, Flores. Ubi-ubian pun tumbuh liar. Hanya saja, kondisinya serba liar karena memang tak ada satu pun penduduk di sana.

"Kalau begitu, kenapa kok tidak ada satu pun manusia yang berani tinggal di Betar?" tanya saya waktu masih duduk di Sekolah Dasar Mawa kepada Paulus Lopi Blawa [kini almarhum].

Guru yang suka melaut ini tak bisa menjawab. Guru-guru lain pun, ketika saya ajukan pertanyaan ini, tak bisa apa-apa, karena memang belum ada literatur ilmiahnya.
Maka, kalau jawatan vulkanologi mengatakan tidak bisa memasang alat deteksi di kawasan Gunung Batutara, ya, jelas sangat masuk akal. Saya pastikan, petugas pemantau gunung api di Lewotolok tidak akan berani ke Pulau Komba. Sebab, misteri Gunung Batutara ini sudah berlangsung dari generasi ke generasi.

"Iiiih, siapa yang mau mati di sana? Kalau kamu orang berani ke Betar, silakan, tapi jangan saya," begitu kata-kata khas orang Ile Ape, kecamatan di pantau utara Kabupaten Lembata.

SAYA pernah menulis kasus Pulau Bidadari di harian Radar Surabaya ketika isu penjualan pulau di kawasan Flores Barat ini mengemuka awal 2006 silam. Kasusnya mirip Pulau Komba, hanya Bidadari tak punya gunung. Warga setempat membiarkan pulau itu kosong, tanpa penghuni, dan akhirnya dikelola Ernest Lewandowsky, investor asal Inggris.

Setelah Ernest masuk, dapat izin dari Badan Koordinasi Penanaman Modal Nusatenggara Timur, baru orang ribut-ribut di media massa. Seakan-akan si bule itu hendak mendirikan 'negara di dalam negara'. Pasukan TNI AL pun sempat dikerahkan ke sana untuk 'mengamankan' Pulau Bidadari dan memasang bendera merah-putih.

Saya berharap, Pemerintah Kabupaten Lembata setelah erupsi Gunung Batutara perlahan-lahan memperhatikan pulau-pulau kecil tak berpenghuni [setahu saya cukup banyak] di wilayahnya. Saya yakin, pulau-pulau itu punya potensi untuk dikembangkan bagi kemakmuran rakyat.

Membuka isolasi pulau-pulau kosong itu secara tidak langsung membuka selubung 'misteri' yang selama beratus tahun diyakini orang-orang kampung. Jangan sampai kita baru terperanjat setelah investor dan petualang asing sejenis Ernest Lewandowsky datang menggarap pulau-pulau itu.

Sumber foto: National Library of Australia

2 comments:

  1. Kayaknya orang yg hilang terseret arus yg kuat deh di sekitar pulau itu.

    bisa aja ada gas yang muncul dari gunung tersebut.Gas tersebut bisa aja muncul dari rekahan tanah di bawah laut atu daratan di sekitar pulau tersebut dan nelayan2 yg secara kebetulan melintas di dekat sana tanpa sengaja menghirupnya dan tewas.

    lalu perahunya digulung ombak dan karam di dasar laut.makanya ga ada orang yg pernah menemukan jasadnya ( bisa aja udah termakan hewan laut kayak hiu atau paus ).ingat gunungnya masih aktif lo...

    Ini hanya perkiraan ku aja...jangan diambil ati ya...
    he...he..he....

    tapi ceritanya juga lumayan nyeremin. kasihan kan orang yg tiba2 ngilang kayak gitu. Apa jangan2 ini adalah kawasan segitiga bermuda versi Indonesia ( boong ah, bagian mana yang segitiga...?)

    Sekian dulu deh koment2 dari saya...

    Sukses selalu ya....

    ReplyDelete
  2. Kayaknya orang yg hilang terseret arus yg kuat deh di sekitar pulau itu.

    bisa aja ada gas yang muncul dari gunung tersebut.Gas tersebut bisa aja muncul dari rekahan tanah di bawah laut atu daratan di sekitar pulau tersebut dan nelayan2 yg secara kebetulan melintas di dekat sana tanpa sengaja menghirupnya dan tewas.

    lalu perahunya digulung ombak dan karam di dasar laut.makanya ga ada orang yg pernah menemukan jasadnya ( bisa aja udah termakan hewan laut kayak hiu atau paus ).ingat gunungnya masih aktif lo...

    Ini hanya perkiraan ku aja...jangan diambil ati ya...
    he...he..he....

    tapi ceritanya juga lumayan nyeremin. kasihan kan orang yg tiba2 ngilang kayak gitu. Apa jangan2 ini adalah kawasan segitiga bermuda versi Indonesia ( boong ah, bagian mana yang segitiga...?)

    Sekian dulu deh koment2 dari saya...

    Sukses selalu ya....

    ReplyDelete