07 March 2007

Bandara Juanda Diruwat


Orang Jawa diruwat itu biasa. Tapi bandar udara (airport) diruwat? Saya rasa jarang. Saya beruntung karena bisa menyaksikan secara langsung ruwatan BANDARA JUANDA yang berlokasi di Sedati, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, beberapa waktu lalu.

Menurut kepercayaan tradisional Jawa, ruwatan itu penting untuk menyelesaikan beberapa masalah hidup yang berkaitan dengan ‘kejanggalan’ silsilah. Misal, anak laki-laki tunggal. Diapit perempuan. Diapit laki-laki. Nah, kalau bandara?

“Intinya, kita bikin ritual agar Bandara Juanda ini bisa melayani penerbangan dengan aman dan lancar. Sing penting iku lha aman,” kata KI SARWEDI, dalang asal Balongbendo, Kabupaten Sidoarjo. Dia bersama grup wayang dan karawitannya ditanggap PT Angkasa Pura I untuk ruwatan unik ini.

Gelar wayang kulit mutlak dalam acara ruwatan. Lakonnya juga standar, yakni cerita tentang ‘penjinakkan’ Butho Kala, makhluk antagonis. Power negatif atawa kekuatan jahat dari si Butho ini harus dienyahkan.

"Saya lakukan seperti di ruwatan biasa. Seni tradisi Jawa itu kan luwes. Bisa diterapkan di mana saja di berbagai kesempatan,” kata ki Sarwedi seraya tersenyum.

Malam itu cuaca cerah. Saya melihat peminat wayang kulit cum ruwatan di Bandara Juanda sangat sedikit. Selain rombongan Ki Sarwedi dari Balongbendo dan Krian, hadir sejumlah peminat wayang dari beberapa kampung di sekitar bandara. Tapi, karena lokasi bandara terlalu jauh dari kampung (1-2 km), maka yang datang hanya beberapa gelintir manusia.

“Gak opo-opo Mas. Sing penting ritual kita diterima Gusti Allah. Kita tidak mau ada pesawat yang tidak selamat di Bandara Juanda. Kalau aman semua kan enak to,” papar Ki Sarwedi.

Saya mengikuti gelar wayang kulit ini dengan takjub. Pak dalang sangat lincah memainkan wayangnya, berdialog dengan sinden, menghidupkan cerita, bercanda, nyentil sana sini. Penonton tertawa lepas.

Lalu, pelawak Gogon dan Agus Kurpit dari Surabaya diberi kesempatan untuk melawak. Ah, lucu juga. Lebih lucu ketimbang lawakan-lawakan di televisi.

Makin malam penonton makin berkurang... mundur satu per satu. Hal biasa di gelar seni tradisional. Toh, Ki Sarwedi tetap semangat menampilkan cerita-cerita seputar kemenangan ‘si baik’ atas ‘si jahat’.

Moga-moga, seperti harapan ki dalang, Bandara Juanda yang terminal barunya diresmikan pada 15 November 2006 itu dijauhi dari segala malapetaka. Kita sudah terlalu capek, jenuh, dengan musibah kecelakaan transportasi udara, laut, darat yang datang susul-menyusul di Tanah Air.
Tancap kayon!


BANDARA INTERNASIONAL JUANDA

BEROPERASI: 1967, DIRESMIKAN PRESIDEN SOEKARNO
TERMINAL BARU: 15 NOVEMBER 2006 (DIRESMIKAN PRESIDEN SUSILO BAMBANG YUDHOYONO)
LANDASAN PACU: 45 X 3.000 METER
TERMINAL DOMESTIK: 51.500 METER PERSEGI
TERMINAL INTERNASIONAL: 20.000 METER PERSEGI
KAPASITAS APRON: 18 PESAWAT
LUAS APRON: 148.000 METER PERSEGI
RUANG TUNGGU: 11 BUAH (7 DOMESTIK, 4 INTERNASIONAL)
GARBARATA (BELALAI GAJAH): 11 BUAH
LAHAN PARKIR: 53.600 METER PERSEGI, KAPASITAS 2.000 KENDARAAN.
KAPASITAS KARGO: 120.000 PER TAHUN

SUMBER: PT ANGKASA PURA I BANDARA JUANDA SURABAYA

No comments:

Post a Comment