07 March 2007

Air Terjun Kakekbodo dan Putuktruno


Ahad (2/7/2006), Bupati Pasuruan JUSBAKIR ALDJUFRI meluncurkan slogan wisata baru, PASURUAN CITY OF MOUNTAIN. Pasuruan memang dikaruniai beberapa objek wisata pegunungan yang eksotis. uncurkan slogan wisata baru, PASURUAN CITY OF MOUNTAIN. Pasuruan memang dikaruniai beberapa objek wisata pegunungan yang eksotis.

Oleh Lambertus L. Hurek

OBJEK wisata pegunungan yang diandalkan Pasuruan adalah air terjun. Dari kawasan Candra Wilwatikta, Pandaan, lokasi launching PASURUAN CITY OF MOUNTAIN, kita hanya mendaki beberapa kilometer (kurang dari 10 km) untuk menikmati air terjun alami. Ada dua air terjun di kawasan Prigen, yakni KAKEKBODO dan PUTUKTRUNO.

Pasuruan, dan Jawa Timur umumnya, layaknya bangga dan tak menyia-nyiakan karunia Tuhan yang luar biasa ini. Bagaimana tidak. Di Singapura, misalnya, air terjun alami tidak ada. Karena itu, pemerintahnya harus membuat beberapa air terjun palsu (buatan) sebagai objek wisata. Toh, ribuan orang datang menikmati 'kepalsuan' itu setiap hari di Pulau Sentosa atau kawasan Jurong.

"Di sini dijamin asli. Sejak zaman Belanda, bahkan sebelumnya sudah ada," tutur SURYADI, pemilik warung kecil di depan air terjun Kakekbodo, kepada saya belum lama ini.

Saat berbincang dengan saya, 20-an pengunjung--kebanyakan remaja berpasangan--tengah menikmati gemericik air terjun. Bunyi-bunyian air yang secara kontinu menghantam batu-batuan melahirkan sensasi tersendiri.

Tak jelas sejak kapan objek wisata alam mulai dinikmati orang banyak. Kita hanya bisa meraba-raba dari prasasti di Makam Kakekbodo yang berlokasi sekitar 100 meter dari air terjun. Syahdan, Kakekbodo bekerja sebagai kacung di rumah tangga orang Belanda pada masa penjajahan dulu.

Pria ini saleh, jujur, baik hati. Dia kemudian meninggalkan keluarga Belanda itu untuk menyucikan diri. Bertapa di kawasan hutan lebat yang ada air terjunnya. "Bodoh, sudah enak-enak di rumah kok menyepi ke gunung," begitu kira-kira cibiran si Londo Putih.

Sejak itulah sang kakek, tak jelas nama aslinya, dikenal sebagai Kakekbodo. Sang kakek pun menjadi sakti, sehingga banyak membantu warga di sekitarnya. Dia tutup usia, dan dimakamkan di lokasi pertapaan. Dari kisah ini, Suryadi, yakin air terjun Kakekbodo sudah mulai dikenal pada zaman Belanda, tapi belum menjadi ajang rekreasi seperti sekarang.

"Tahun 1979, waktu saya baru buka warung di sini, hutannya lebat, jalan setapak. Kondisinya masih sangat angker," cerita Suryadi, yang juga dalang wayang kulit jawa timuran.

Karena itu, pengunjung Kakekbodo pun orang-orang khusus. Biasanya, petualang, pencinta alam, pertapa, atau turis asing yang ingin menikmati sensasi alam pegunungan. Bau kemenyam dan dupa sangat terasa.

Pada 1996/1997 kompleks ini dibenahi secara total oleh Perum Perhutani, penguasa kawasan Kakekbodo. Akses jalan diperbaiki. Dibangun arena bermain anak-anak. Toilet. Kolam renang. Tempat pedagang kaki lima. Kemudian bumi perkemahan (camping ground). Akibatnya, kompleks air terjun Kakekbodo pun menjadi tempat rekreasi keluarga yang bisa dinikmati siapa saja.

"Alhamdulillah, selalu ramai, khususnya Sabtu-Minggu dan hari libur. Hari biasa, apalagi Jumat, ya, tidak banyak, tapi selalu ada," tutur Suryadi. Bagi pria kelahiran Prigen 21 September 1957 ini, ramainya pengunjung berarti rezeki yang masuk ke dompetnya pun meningkat.

Apa benar Kakekbodo ini sering dijadikan ajang pacaran? Suryadi mengangguk.

"Anda bisa lihat sendiri. Yang datang Jumat ini kan lebih banyak remaja berpasang-pasangan. Tapi ada juga ayah, ibu, dan anak-anaknya. Saya heran Anda kok nggak bawa cewek," tuturnya lalu tertawa lebar.

Gejolak jiwa remaja yang menggebu-gebu, apalagi dilakukan di hutan sepi, bukan tak mungkin menimbulkan ekses negatif. Pernah terjadi praktik tak senonoh? "Pernah, tapi dulu. Sekarang nggak ada lagi karena pengawasan sangat ketat. Malu kalau sampai berbuat macam-macam di tempat ini," tegas Suryadi.

Di saat pulang, saya berpapasan dengan 50-an pelajar SLTP asal Pasuruan. Mereka berencana menggelar perkemahan di kompleks Kakekbodo.

SULIT BERKEMBANG KARENA CITRA MESUM TRETES

Tak jauh dari kompleks air terjun Kakekbodo, terdapat air terjun PUTUKTRUNO. Beda dengan Kakekbodo yang selalu ramai, Putuktruno tidak pernah ramai kendati akhir pekan atau hari libur. Kendati sama-sama dikelola Perhutani, objek wisata air terjun Putuktruno terkesan lebih 'alami' ketimbang Kakekbodo yang sudah menjadi tempat rekreasi keluarga.

Di Putuktruno tidak ada 'makam keramat', pun tak ada legenda bahwa tempat ini dulunya pernah dipakai sebagai ajang olah spiritual tokoh-tokoh tertentu. Namun, keheningan di Putuktruno membuat suasananya terasa lebih angker ketimbang di Kakekbodo. Apalagi, volume air terjun Putuktruno lebih dahsyat dibandingkan Kakekbodo.

Dari jarak cukup jauh, bunyi air terjun Putuktruno terasa berdebum. Menjangkau lokasi air terjun pun tidak sulit. Selain tidak jauh (sekitar 500 meter), jalan ke sana menurun. Bukan pendakian yang lumayan melelahkan seperti di Kakekbodo. Saat saya melawat ke sana, tampak belasan remaja sedang bersantai. Main-main air.

"Ayo, gaya... satu, dua...," ujar Dewi, gadis Pandaan, saat mengatur dua rekannya foto bersama. Para remaja yang baru lulus SLTP ini sengaja bersantai di kompleks Putuktruno untuk rekreasi selepas mengikuti ujian nasional yang berat.

"Rasanya plong kalau sudah di sini," kata Dewi yang mengaku aktif di organisasi pencinta alam sekolahnya.

Praktis tak ada anak-anak bersama ayah-ibunya datang menikmati keindahan alam siang itu. "Kalau keluarga, biasanya ke Kakekbodo, bukan di Putuktruno. Sebab, kondisi medan di sini agak gawat untuk anak-anak. Terpeleset sedikit bisa bahaya," ujar Choirul, salah satu penjaga objek wisata air terjun Putuktruno, seraya tersenyum.

Menurut Choirul, para remaja dari kawasan Prigen, Pandaan, atau Pasuruan sejak dulu sudah tahu pemali yang harus dijauhi saat berada di kompleks Putuktruno. Boleh saja berpacaran, jalan bersama, diskusi... tapi jangan sekali-kali melakukan hubungan seksual di lokasi ini.

"Kalau sampai melanggar, pelakunya pasti kualat," ujar Choirul, serius.

Beberapa waktu lalu ada remaja yang nekat melakukan hubungan seks dengan sang pacar. Akibatnya, maaf, penis si pria tidak bisa terlepas dari vagina cewek. "Terpaksa dibawa ke puskesmas," tutur Choirul.

Bulan lalu, sebuah hotel bintang lima di dekat kompleks air terjun Putuktruno, Hotel ROYAL SENYIUR, menggelar grand launching. Sewa kamar hotel ini sangat mahal, sehingga hanya bisa dijangkau pengusaha besar atau turis mancanegara. Para penjaga Putuktruno berharap, kehadiran hotel itu bisa menyemarakkan objek wisata Putuktruno yang kalah pamor dari Kakekbodo.

"Terus terang, promosi air terjun di sini sangat kurang. Orang Surabaya dan sekitarnya hanya tahu Kakekbodo. Padahal, di dekat sini ada Putuktruno yang tidak kalah bagus," tambah Choirul.

Choirul dan kawan-kawan berharap, objek wisata air terjun Pasuruan dikemas menjadi paket wisata alam Jawa Timur. Dengan begitu, rombongan wisatawan bisa menikmati beberapa objek wisata sekaligus secara paket. "Kalau hanya mengandalkan pengunjung individu, ya, akan tetap begini-begini saja," tambah Choirul.

Air terjun Putuktruno dan Kakekbodo hanyalah dua dari sekian objek wisata pegunungan Pasuruan, yang menamakan dirinya CITY OF MOUNTAIN. Masih banyak objek wisata alam yang bisa digali oleh pemkab setempat. Celakanya, selama bertahun-tahun Tretes dan sekitarnya dicitrakan sebagai sarang pelacur, penyedia vila-vila murah untuk selingkuh. Ini membuat orang enggan menikmati wisata alam di kawasan Tretes (Prigen) yang sebetulnya sangat indah.

"Sudah sering ada unjuk rasa, razia, tapi hasilnya nggak ada. Sampai sekarang kawasan Tretes masih seperti ini," ujar Bambang, warga Pecalukan, sedih. Ada baiknya Pemkab Pasuruan memberantas pelacuran dan perdagangan perempuan di kawasan Tretes ketimbang menghabiskan banyak uang untuk promosi wisata.

Bagaimana, Pak Bupati?

4 comments:

  1. kalau boleh letak air terjun di beri dena minimal cara menuju ke sana and alat transportasi apa yang tepat untuk di gunakan ke sana.biar kalau ada orang mau ke sana biasa tau tempatnya....

    ReplyDelete
  2. Oke. Lokasinya tidak jauh dari Surabaya dan Malang. Dari Surabaya terus ke selatan: Bundaran Waru - Sidoarjo - Porong [lumpur lapindo] - Pandaan. Stop!

    Ada papan petunjuk di Pandaan: ikut ke arah Tretes/Trawas, sedikit menanjak kira-kira 8 km. Total jenderal 25-30 km.

    Dari Malang: Arjosari [terminal] - Lawang - Purwosari - Pandaan, selanjutnya sama saja.

    Banyak angkutan umum, bisa nyewa taksi, sepeda motor juga bisa. Yang jelas, ini tempat favorit orang Surabaya, khususnya Tionghoa, menghabiskan akhir pekan. Banyak vila dan hotel kelas melati hingga bintang empat.

    Salam!

    ReplyDelete
  3. Namun, keheningan di Putuktruno membuat suasana di Putuktruno terasa lebih angker ketimbang di Putuktruno. Apalagi, volume air terjun Putuktruno lebih dahsyat dibandingkan Putuktruno.
    Saya rasa paragraf ini agak keliru, ya mas ? Tapi makasih ya mas Hurek atas informasinya. Putuktruno, saya juga baru tahu sekarang. Cuman suasana alam dan lingkungannya serta fasilitas akomodasinya kok nggak diuraikan lebih rinci dan lengkap. Trus, dari Vanda Gadenia jauh nggak ? Sekali lagi makasih ya, kalo ke Trawas lagi akan saya usahakn mampir.

    ReplyDelete
  4. Matur suwun Mas Budi, memang keliru banget karena gak ada pengeditnya. Sudah saya betulkan. Saya suka koreksi kayak begini biar informasi lebih akurat. Salam.

    ReplyDelete