31 March 2007

Wiwik Tsubasa di Jepang


Saya baru saja diundang Wiwik Setyorini, pemilik Tsubasa, lembaga kursus bahasa Jepang di Jalan Trunojoyo 5 Sidoarjo. Kebetulan selama enam bulan Wiwik dan Amri, dosen Universitas Negeri Surabaya, ikut pelatihan guru-guru bahasa Jepang di Urawa, Provinsi Saitama, Jepang.

“Ini ada sedikit oleh-oleh," kata Wiwik sambil memperlihatkan suvenir kecil khas Nipon. Ada juga pembatas buku. "Wartawan kan suka baca buku," ujar Wiwik, lalu tertawa kecil. Aha, belum tentu!

Menurut Wiwik, pengalaman selama enam bulan di Jepang sungguh luar biasa. Selain belajar di asrama, mendalami bahasa dan budaya Jepang, mereka juga jalan-jalan ke beberapa objek wisata utama di negara sakura itu.

"Puji Tuhan, saya sangat bersyukur karena terpilih mengikuti program ini,” ujar Wiwik Setyorini.

Program yang diadakan Japan Foundation ini diikuti 63 guru bahasa Jepang dari berbagai negara. Indonesia mengirim paling banyak peserta, diikuti Vietnam. Japan Foundation, kata Wiwik, memang memberikan perhatian khusus kepada Indonesia mengingat bahasa Jepang sangat diminati anak-anak muda kita.

Di tengah-tengah cuaca dingin, sekitar enam derajat Celcius, Wiwik dan kawan-kawan wajib mengikuti proses belajar-mengajar. Semua peserta tinggal di asrama. Kuliah mulai pukul 09.30 hingga 15.30, diselingi makan siang dan istirahat 75 menit. Selama enam bulan, para guru bahasa Jepang itu digembleng habis-habisan oleh dosen-dosen asli Jepang.

"Saya akui, program ini sangat berat. Malam kami harus belajar, mengerjakan pekerjaan rumah, bikin laporan, mempersiapkan ujian. Tapi asyik sekali karena semua biaya ditanggung Japan Foundation,” papar Wiwik yang tengah mengerjakan tesisnya di Universitas Negeri Surabaya itu. “Syukurlah, saya lulus dengan nilai A.”

Selain belajar intensif, peserta diajak menjajaki arung jeram, berkunjung ke kuil-kuil tua, menonton atraksi sumo dan ninja, hingga jalan-jalan ke kota Tokyo dan Nikko. Meski sebagian guru pernah melawat ke Jepang, study tour kali ini jauh lebih mendalam, katanya. Beda dengan berwisata biasa.

“Sebab, kami kan tinggal cukup lama di Jepang. Jadi, bisa mengalami sendiri bagaimana hidup bersama penduduk setempat. Saya punya bapak asuh, namanya Tsumekawa,” tutur Wiwik.

Yang bikin kaget Wiwik Setyorini serta peserta Indonesia, ternyata televisi Jepang seperti NHK sangat getol mewartakan berbagai bencana di Indonesia. Lumpur panas di Porong mendapat porsi besar.

Tahu kalau rumah Wiwik dekat kawasan lumpur panas, para dosen Jepang pun prihatin. Mereka menanyakan nasib warga, pengungsi, serta dampak ekologis lumpur panas yang menyembur sejak 29 Mei 2006 itu.

“Yah, saya bilang lumpur masih jauh dari rumah saya,” cerita Wiwik.

Ironisnya, kabar tentang Indonesia di NHK semuanya jelek-jelek. Rentetan bencana tak henti-hentinya dibahas. Yang paling menonjol, kata Wiwik, tenggelamnya KM Senopati Nusantara (30 Desember 2006), kemudian Adam Air KI 574 hilang pada 1 Januari 2007 dan menewaskan 102 penumpang dan awaknya.

Warga Jepang pun tertawa kecut ketika mendengar kabar bahwa ‘penemuan’ pesawat Adam Air di Sulawesi Barat pada 5 Januari ternyata bohong.

“Kok bisa-bisanya pemerintah Anda tertipu?” ujar Wiwik menirukan ucapan orang-orang Jepang.

"Kami mau bilang apa? Sebagai orang Indonesia, saya dan teman-teman malu banget deh," kenang Wiwik Setyorini.

Belum tuntas kasus Adam Air, muncul lagi banjir dahsyat di Jakarta (awal Februari), longsor di Flores, gempa bumi di Sumatera Barat, dan terakhir pesawat Garuda terbakar di Jogja pada 7 Maret 2007. Semua malapetaka ini mendapat tempat di televisi Jepang. Jadi, boleh dikata, citra Indonesia di mata orang Jepang adalah sebuah negara yang tak putus dirundung malang.

“Makanya, tanggal 9 Maret, waktu kami akan pulang ke Indonesia, teman-teman di Jepang berpesan supaya kami hati-hati di dalam pesawat,” tutur Wiwik Setyorini.

Alhamdulillah, Wiwik dan kawan-kawan tiba di tanah air dengan selamat.
Sayonara! Haiiik!

30 March 2007

Perginya si Lilin-Lilin Kecil



Notasi Lilin-Lilin Kecil ini saya tulis hanya beberapa menit setelah mendengar berita wafatnya Mas Chrisye. Lagu ini cukup sulit, tapi menarik. Maaf bila notasinya kurang pas. Maklum, saya bukan pemusik..

Oleh BUDI SETIAWANTO
Wartawan LKBN Antara

"Walau kini kita berpisah
Suatu hari nanti
kita kan bersama lagi
Bersama lagi
Kita berdua..."


Akhir lirik lagu SELAMAT JALAN KEKASIH itu terasa menggelayut di hati tatkala sang legendaris pop Indonesia, Chrisye (57 tahun), meninggal dunia, menjelang fajar pada Jumat, 30 Maret 2007.

Lagu itu seolah merupakan jawaban dari Chrisye atas kerinduan jutaan penggemar, kerabat, sahabat, dan musisi Tanah Air yang ingin selalu bersama Chrisye, meskipun beberapa waktu terakhir dia didera kanker paru-paru.

Ketika divonis dokter mengidap kanker paru-paru stadium empat dan harus menjalani perawatan dan pengobatan di Singapura selama berbulan-bulan sejak September 2005 (selama berbulan sebelumnya dirawat di rumah sakit di Jakarta), publik mendoakan kesembuhannya, bahkan turut menggalang dana untuk meringankan biaya penyembuhan dan penyakitnya.

Sehari setelah kembali ke Tanah Air, setelah menjalani kemoterapi yang keenam, Chrisye meraih penghargaan "Lifetime Achievement", menjadi sang legenda, pada Penghargaan Anugerah Musik Indonesia (AMI Awards) ke-9, yang digelar pada 18 November 2005.

Publik bersyukur karena kesehatan Chrisye terlihat membaik dan berharap Chrisye kembali meramaikan blantika musik pop, namun Chrisye belum bisa segera memenuhinya.

Barulah pada 25 Januari 2006, Chrisye bersedia menerima wawancara untuk radio. Radio Female, Delta dan Prambors, masing-masing mendapat waktu selama 30 menit untuk mewawancarai Chrisye. Empat bulan kemudian, bertepatan pada 28 Mei 2006, di stasiun TV Indosiar, Chrisye memulai debut menyanyinya kembali di depan umum ketika tampil dalam acara "Satu Jam Bersama UNGU".

Sebelumnya, pada April 2006, Chrisye berada di lokasi syuting album "Senyawa" bersama personel kelompok musik UNGU dan Peterpan. Sejak itu, jadwal Chrisye padat lagi. 24 Juni 2006 Chrisye tampil memeriahkan Pekan Raya Jakarta (Jakarta Fair) 2006, bersama Tohpati dan Tofu. Sedangkan di layar kaca, pada malam yang sama rekaman Chrisye bernyanyi untuk acara Extravaganza di Trans TV, ditayangkan. Publik terhibur kembali.

Penampilannya di Jakarta Fair itu ditayangkan TV 7 (sekarang Trans 7) pada 28 Juni 2006). Pada 3 Juli 2006, Chrisye tampil live bersama band pendatang baru, Nidji, di sebuah stasiun televisi. Pada 23 Juli 2006, di kota Banjarmasin, Chrisye tampil duet dengan UNGU untuk turut memeriahkan acara Soundrenaline 2006.

Pada 30 Juli 2006, Chrisye tampil pada reuni dengan GIPSY, di Bug`s Cafe Pondok Indah. GIPSY merupakan band yang dibentuk Chrisye (bass) bersama Gauri Nasution (gitar), Onan (kibor), Tammy (trumpet/sax), Keenan Nasution (drum), dan Atut Harahap (vokalis) pada 1969 dan merupakan metamorfosis dari band terdahulu, Band Sabda Nada bentukan 1968.

Chrisye, pada 6 Agustus 2006, tampil pada acara Konser Akbar Islami di Senayan, Jakarta. Sehari kemudian tampil di SCTV untuk meluncurkan album DUET BY REQUEST.
Pada 20 Agustus 2006, Chrisye tampil meramaikan pergelaran Rock United 2006 di Jakarta. Pada 29 September 2006, Chrisye tampil di Hotel Kemang, Jakarta.

Pada 11 Oktober 2006, Chrisye melakukan wawancara radio untuk promosi album. Wawancara tersebut akan disiarkan secara langsung di Radio DBS di Banjarmasin, Radio GAJAHMADA di Semarang, Radio PILAR di Cirebon, dan Radio MGT di Bandung.
Tiga hari kemudian, Chrisye memeriahkan acara Gebyar BCA, sebuah acara di Indosiar, pada 14 Oktober 2006.

Begitulah paling tidak catatan kegiatan publik Chrisye yang diolah dari Graha Maya Chrisye.

MEMOAR OF CHRISYE

Publik kembali diliputi tanda tanya ketika Chrisye tidak tampil pada peluncuran buku "Chrisye Sebuah Memoar Musikal" (Memoar of Chrisye) di Dharmawangsa Square, Jakarta, 17 Februari 2007. "Kondisi fisik Chrisye dalam dua minggu terakhir memburuk sehingga tidak bisa hadir dalam peluncuran buku ini," kata Damayanti Noor, istrinya.

Buku yang ditulis oleh Chrisye bersama Alberthiene Endah dan diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama itu, mengulas tentang perjalanan hidup dan karir Chrisye.
Buku itu disusun berdasarkan wawancara Endah dengan Chrisye pada periode Mei - November 2006.

"Buku itu adalah sesuatu yang ajaib, karena Chrisye adalah sosok yang introvert dan "moody" apalagi saat ini ia sedang sakit, tetapi semangatnya yang luar biasa membuat buku ini terwujud," kata Endah dalam peluncuran buku itu.

Endah sebelumnya juga menulis buku biografi Krisdayanti, Raam Punjabi, dan Dwi Ria Latifa. Dalam buku itu disebutkan, Chrisye adalah satu dari sangat sedikit penyanyi yang menguasai berbagai zaman. Kebertahanannya di kancah musik negeri ini karena ia memiliki kelebihan yang sulit ditandingi.

Chrisye adalah penyanyi dengan daya tarik suara yang luarbiasa. Alunan suaranya yang begitu lembut dan empuk menjadi ciri khas Chrisye. Buku itu berisi kisah-kisah inspiratif sejak Chrisye memulai karier menyanyinya sampai sukses menjadi penyanyi yang digemari semua generasi. Ada banyak pengalaman dan tips dari kisah-kisah ini, bukan hanya bagaimana menghadapi dunia musik dan hiburan, namun juga bagaimana menyikapi kehidupan.

Dalam situs Graha Maya Chrisye, banyak pertanyaan yang disampaikan penggemar kepada Chrisye. Antara lain: "Sampai kapan mas Chrisye akan menelurkan album?" Pertanyaan itu dijawab Chrisye, "Selama Allah SWT mengizinkan."

Kini izin dari Sang Pencipta telah dicabut.

Chrisye pun tak mungkin menelurkan album lagi, tetapi setidaknya bagi musisi Erwin Gutawa hal itu menjadi sebuah "penyesalan". Ketika memberikan sambutan pada acara pemakaman jenazah Chrisye di Tempat Pemakaman Umum Jeruk Purut, Cilandak, Jakarta, Jumat siang (30/3), Erwin menceritakan bahwa Chrisye pernah minta dibantu untuk pembuatan album "Salawat Nabi", tetapi Erwin belum sempat memenuhi permintaan itu.
Begitu pula bagi Guruh Sukarnoputra, sahabat lama Chrisye.

"Sekitar satu bulan yang lalu saya kunjungi mas Chrisye, saat itu dia katakan ingin bekerja sama lagi dengan saya, lalu saya bilang kalau saya telah memiliki beberapa lagu untuk dinyanyikannya," kata Guruh saat melayat di rumah duka almarhum Chrisye.

Namun, keinginan dua sahabat karib ini untuk bekerjasama tidak dapat terwujud karena Chrisye telah dipanggil menghadap Sang Pencipta. Semua itu membuktikan bahwa Chrisye pergi ketika masih amat dirindukan.

Lagu LILIN-LILIN KECIL pun teringat kembali:

“Sanggupkah kau mengganti
Sanggupkah kau memberi seberkas cahaya...."


SUMBER:

http://www.antara.co.id/arc/2007/3/30/chrisye-pergi-ketika-masih-dirindukan/

Ambruknya TVRI Surabaya [Jatim]



Oleh Ning HETI

Berikan tanah untuk TVRI
Di mana?
Di sana
Berapa hektar?
Dua atau berapa hektar, jangan diutik-utik. Itu untuk membangun TVRI.
Darimana uangnya?
Saya akan cari.


Kalau saja tak ada dialog itu, TVRI Jatim [sebelumnya TVRI Surabaya] mungkin tak pernah berdiri. Jikapun kemudian berdiri karena dialog itu, mestinya TVRI juga tak perlu tertimpa masalah seperti sekarang.

Iskandar Achmad, Kepala Stasiun TVRI Surabaya, mengungkapkan, dialog bersejarah itu diperkirakan terjadi sekitar 1967 hingga 1968. "Pembicaraan berlangsung antara Pak Muhammad Noer, Gubernur Jatim yang menjadi penggagasnya dengan Pak R Soekotjo, Wali Kota Surabaya kala itu," kata Iskandar saat ditemui usai memimpin rapat di Surabaya, Selasa (27/3/2007).

Dari omong-omong kecil itu, sekitar tiga atau empat tahun kemudian, proses awal pendirian TVRI mulai terwujud. Dipilihlah tanah di daerah Surabaya Selatan seluas 37.127 meter persegi.

"Saat itu, wilayah sekitar Jalan Mayjend Sungkono belum sepadat dan ramai seperti sekarang. Bahkan masih berupa sawah garapan dan rawa-rawa," kata Sumianto, sekretaris kepala stasiun yang menjadi karyawan TVRI sejak 1980.

Dari pengamatannya, pagar untuk mengelilingi seluruh tanah untuk TVRI langsung didirikan. Bahkan, kondisinya tak pernah berubah hingga sekarang. Karena itu, Sumianto heran jika ada tudingan bahwa TVRI menyerobot tanah. "Memindahkan pagar saja tak pernah, pondasinya dari dulu juga seperti itu," akunya.

TVRI memang tak langsung membangun gedung seperti sekarang. Dimulai dari pendirian tower pada 1971. Tower pemancar itu berada di bagian paling timur TVRI. Saat peresmian, kedua tokoh yang terlibat dalam dialog di atas turut menyaksikan.

Meski hanya sebuah pemancar, proses awal itu dianggap Gubernur HM Noer, bisa menjawab keprihatinannya. Sebab sampai 1970-an, Surabaya belum punya stasiun televisi.

"Itu mungkin menjadi alasan Pak Noer untuk bela-belain mendirikan TVRI. Padahal, jika dilihat dari dialog yang kami buat lagi notulensinya dengan menghadap Pak Noer lagi, tanah dan dana saja tak ada untuk mendirikan TVRI," kata Iskandar yang menjadi kepala stasiun sejak 2003.

Sejak pendirian tower, tanah negara yang disediakan untuk TVRI berhak ditempati, dikuasai dan dimanfaatkan terus-menerus tanpa harus membayar sewa. Tekad mendirikan TVRI itu makin kuat. HM Noer membuktikan janji dengan memimpin penggalangan dana dari berbagai pihak. Tujuh tahun kemudian, rencana itu terwujud. Gedung TVRI diresmikan pada 3 Maret 1978.

Selanjutnya, perkembangannya kian pesat. Terbukti, 18 pemancar di seluruh wilayah Jatim berdiri. Namun hak menempati, menguasai, dan memanfaatkan tanah negara tanpa uang sewa itu berubah, setahun setelah berdiri. Pada 1979, keluar surat keputusan Wali Kota Surabaya mewajibkan sewa tanah yang ditempati TVRI karena dianggap sebagai tanah negara yang hak pengelolaannya diserahkan pada Pemkot Surabaya.

"Tapi TVRI setia bayar sewa sampai 2000, dan kemudian soal tanah diungkit lagi pada 2001," terang Iskandar.

Selain soal tanah, status TVRI mengalami empat kali perubahan. Sejak berdiri statusnya adalah unit pelaksana teknis Departemen Penerangan. Saat Departemen Penerbangan dibubarkan di era pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, TVRI menjadi Perusahaan Jawatan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 336 Tahun 2000. Tiga tahun kemudian dikelola di bawah Perseroan.

"Terakhir kali hingga saat ini, dengan PP Nomor 13 tahun 2005 status TVRI di bawah Lembaga Penyiaran Publik," beber Iskandar.

Sejarah TVRI sangat berbeda dengan televisi swasta yang mulai muncul sejak 1989. Karena itu, Iskandar merasa bahwa TVRI punya nilai tersendiri di masyarakat. "Ada benang merah yang tak bisa dilepaskan begitu saja. Jadi, kalau ada persoalan TVRI, sebenarnya juga persoalan semua rakyat Jatim," katanya.

Tahun 2007, beberapa acara favorit pemirsa TVRI Jawa Timur tak bisa menyapa pemirsanya. Sebut saja LINTAS ARENA, LIPUTAN BERITA PEMBANGUNAN JATIM, OTODA, INTERAKTIF, AJANG WADUL, JER BASUKI MAWA BEYA, KABAR DARI DESA. Yah, program itu tak hanya terasa khas TVRI, sangat kental dengan informasi birokrasi.

"Tak salah, karena sebagai televisi pemerintah satu-satunya, TVRI penyebar informasi kebijakan pemerintah. Fungsinya juga sangat jelas, yaitu menyebarkan infomasi pendidikan dan hiburan serta melakukan kontrol dan perekat sosial sekaligus pelestari budaya bangsa," kata Iskandar Achmad, Kepala Stasiun TVRI Jatim.

Soal hilangnya acara-acara itu, Yoyok Setyambodo, kepala seksi current affair dan siaran olah raga mengungkap kendalanya. "Salah satu penyebabnya, acara-acara itu dibiayai oleh Pemprov Jatim. Sedangkan tahun 2007 sudah distop," katanya.

Memang, ada beberapa yang tak sepenuhnya dihilangkan. Agar pemirsa tetap memperoleh informasi, TVRI juga menyiasatinya dengan menayangkan ulang program-program yang kadung disukai masyarakat. Seperti KABAR DARI DESA yang menjadi favorit para pemirsa di pedesaan.

"Kami tayangkan lagi setelah beberapa bagian yang diedit karena informasinya masih relevan," terangnya.

Buat TVRI, menjalin kerja sama dengan penyandang dana untuk membiayai program-program siaran yang diproduksi, memang diandalkan. Seperti Pemprov Jatim, sampai pada 2006 lalu masih mengucurkan dana sebesar Rp 750 juta. Dari anggaran itu, berbagai program dibuat untuk mendukung penyebaran informasi dari pihak penyandang dana.

Tanpa kerja sama itu, TVRI memang tak mungkin memproduksi program dengan hanya mengelola dana dari pemerintah. "Bukan tak mungkin lagi, mustahil jika boleh dibilang," kata Iskandar.

Sebagai gambaran, pria berkacamata itu membeberkan alokasi dana yang didapatkan TVRI. Sebagai perusahaan milik negara, sumber pembiayaan TVRI didapatkan dari pemerintah, salah satunya dari APBN dan APBD dan siaran iklan.

Pada 2006 misalnya, kucuran dana dari pemerintah untuk TVRI secara nasional dianggarkan sebesar Rp 260 miliar. Perinciannya Rp 60 miliar untuk pemindahan pemancar TVRI dari Gunung Tela, Jawa Barat, ke TVRI Senayan Jakarta. Sejumlah Rp 145 miliar untuk gaji karyawan, Rp 55 miliar untuk operasional 23 stasiun TVRI di seluruh Indonesia.

"Yang pasti, TVRI Jatim menerima 13,2 miliar. Dan kita akan tahu berapa biaya untuk setiap program kita setiap jamnya, setelah dikurangi pembiayaan-pembiayaan lain," kata Iskandar yang mengeluarkan kalkulator untuk merinci semua itu.

Dari Rp 13,2 miliar, Rp 10,6 miliar untuk gaji 412 karyawan yang 30 di antaranya honorer. Operasional dianggarkan sebesar Rp 2,6 miliar. Dari Rp 2,6 miliar itu, Rp 1,4 miliarnya habis untuk beli solar, bea makan karyawan Rp 788 juta, sementara program yang merupakan produk utama hanya kebagian sebesar Rp 133 juta.

"Jadi, bayangkan saja berapa biaya program untuk setiap jamnya. Jika dibagi untuk 365 hari dan seharinya sekitar 3-4 jam, kami harus siaran karena selebihnya adalah program relay, maka hanya ketemu Rp 91.095. Jumlah yang sangat kecil untuk menjangkau semua tuntutan masyarakat. Karena itu, mencari sumber pembiayan lain adalah keharusan dengan cara apa pun, agar kami bisa tetap menarik minat pemirsa," kata Iskandar.

Untuk menyiasatinya, TVRI melakukan efisiensi, memproduksi paket murah dan getol mengajak pihak lain kerja sama membuat program. Memang ada pendapatan iklan, namun tak besar. Jika televisi biasa meraup 20 persen, TVRI hanya boleh beriklan 15 persen, itu pun iklan layanan masyarakat.

Soal dana, Iskandar tak menampik jika dana juga lah yang membuat TVRI belum juga bisa meremajakan peralatan tuanya. "Maklum, beberapa alat dibeli saat berdiri pada 1978 dan masih dipakai. Meski program analaog telah kami geser menjadi digital, tapi untuk memenuhi perkembangan teknologi yang makin canggih, kami masih kewalahan," katanya.

Meski terganjal pendanaan, Iskandar menyatakan jika TVRI tak harus menjadi televisi yang mengorbankan kualitas dan selera masyarakat. Saat ini CAMPURSARI, satu dari sekitar 16 program buatan TVRI Jatim, masih tetap setia mengudara. Acara favorit pemirsa yang mengangkat kesenian tradisional itu, adalah salah satu yang paling lama bertahan di TVRI Jatim.

"Meski punya rating tinggi, jangan heran kalau sewaktu-waktu hilang, karena sponsornya tak ada lagi," katanya.

29 March 2007

Kita Diperbudak Televisi




Saya lahir di pelosok Flores Timur. Televisi tidak ada, listrik belum masuk. Suasana alam benar-benar asli. Suara jangkrik menjadi selalu terdengar. Malam tiba, gelap gulita. Lampu minyak dinyalakan. Hmmm... magis nian suasana malam.

Di kala bulan purnama, anak-anak bermain petak umpet, bernyanyi. Juga ada latihan paduan suara. Belajar bersama berkelompok.

Pengaruh televisi nol koma nol. Asal tahu saja, waktu itu, menjelang 1980-an,
televisi hanya satu, TVRI, jangkauannya hanya sampai di Larantuka, ibukota kabupaten Flores Timur. Kampung-kampung di pelosok, ya, tidak bisa menangkap siaran televisi.

Kini, 2007, saya tinggal di Jawa Timur. Televisi sangat banyak, mulai televisi nasional hingga lokal. Siaran 24 jam. Acaranya bervariasi, dikemas dengan konsep bisnis hiburan internasional. Manusia Indonesia didesain sedemikian rupa agar menjadi konsumen televisi. Bila perlu, sepanjang hari kau duduk di muka televisi, pegang remote control, memilih acara mana saja yang menarik.

Gosip artis, sepak bola, KDI, Indonesia Idol, AFI, berita (berbagai versi), diskusi, sinetron, film lama, masak-memasak, ceramah agama, kuis, meramal nasib, balapan, ludruk, wayang, ketoprak. Ratusan acara benar-benar menggoda kita.

Terus terang saja, waktu untuk membaca buku turun drastis. Ironis, bangsa yang belum punya budaya baca langsung dijejali dengan budaya baru: budaya televisi. Budaya mencerna wacana, refleksi, hening, meditasi... hilang. Kita menjadi budak-budak televisi yang semakin mendikte agenda hidup kita sehari-hari.

"Ayo, Tukul, Tukul... sudah mulai nih Empat Mata," teriak teman-teman saya pada pukul 21.30 WIB. Apa boleh buat, sebagian besar teman terpaku di depan televisi untuk menyaksikan bincang-bincang jenaka ala Tukul Arwana di Trans7. Hehehehe....

"Jangan lupa lihat KDI. Malam ini Widhi tampil. Mudah-mudahan menang," kata Ipunk Permana yang menelepon saya dari Jakarta. Ipunk tim sukses Widhi, peserta Kontes Dangdut TPI yang tinggal besama tantenya di Perumahan Tanggulangin Sejahtera I, Sidoarjo. Perum TAS I menjadi korban lumpur panas Lapindo.

"Nanti dinihari Barcelona main lho. Aku pegang Barca, sampeyan pegang apa?" kata Bambang, teman saya asal Sidoarjo.

"Chelsea makin bagus lho. Michael Ballack dan Drogba makin maut di depan gawang. Jangan lupa nonton bareng di Sidoarjo," ajak Gatot, teman yang tinggal di Pondok Mutiara Sidoarjo. "Tapi tetap saja MU tidak bisa dilawan. Juara kali ini MU," tambah Rahman, wartawan olahraga.

"American Idol bagus banget. Jurinya hebat, penyanyinya bagus-bagus. Sekarang lagi seru-serunya lho," kata Sugeng. Secara tersirat, dia meminta saya menyaksikan American Idol yang disiarkan di RCTI setiap Ahad dini hari.

"Eh, lihat Liputan Enam, ada kejadian bagus. Tolong wartawan Anda meliput," bunyi SMS teman saya, wartawan situs berita.

"Aku ntar lagi keluar di Trans TV lho. Jangan lewatkan kesempatan ini," SMS dari Yulius, pembuat gitar asal Porong. Dialah yang bikin gitar unik untuk Balawan, Dewa Bujana, Tohpati, serta pemusik jazz papan atas di negara ini.

Begitulah. Televisi setiap hari menyerang saya dan kita semua lah. Agenda hidup kita, katakanlah sebagian besar masyarakat Indonesia, sudah dikendalikan oleh televisi.

Saya pernah mengajak teman untuk jalan-jalan ke Madura, malam Minggu. "Jangan, Bang, acara TV bagus-bagus. Lain kali aja lah. Rugi kalau nggak lihat," ujar sang teman. "Jangan, sebentar lagi Ronaldo (Manchester United) main. Saya lihat TV dulu," kata teman lain.

Televisi membuat pergaulan kita dengan tetangga menjadi hambar. Orang tak merasa perlu bergaul, toh sudah ada teman di kamar: televisi. Kalau dulu di kampung, setelah dapat bantuan dari Menteri Harmoko, semua warga nonton bareng sebuah televisi hitam-putih, kini di satu rumah ada 5,6,7... 10 televisi. Dulu, kami di kos-kosan mahasiswa di Jember menonton bersama satu televisi di aula. Ramai, banyak komentar, saling berbagi, diskusi.

Sekarang? Tiap kamar punya televisi. Anak punya TV sendiri, papa punya sendiri, mama punya sendiri. Sebab, selera masing-masing berbeda. Anak remaja suka MTV, mama suka acara dangdut, papa mungkin lihat diskusi politik di Metro TV. Di kantor saya ada lima televisi. Itu pun ada yang bilang belum cukup. Di kantor redaksi Jawa Pos tersedia puluhan channel televisi.

Kalau dulu, saya dan orang-orang kampung pusing mencari televisi agar bisa nonton Elyas Pical atau Mike Tyson, sekarang saya sakit kepala karena televisi terlalu banyak. Televisi mengatur hidup saya, sampai-sampai saya sulit menyusun agenda sendiri. Bahkan, acara ibadah pun harus mengalah, menyesuaikan diri dengan program televisi. Pilih liturgi atau lihat siaran langsung tinju? Kadang-kadang saya memilih yang kedua.

Saat berdiskusi dengan Slamet Abdul Sjukur, komponis dan pianis terkenal asal Surabaya, saya mengajukan kasus televisi ini. Saya lihat di rumah Pak Slamet tidak ada televisi atau perangkat multimedia. Rasanya tenang, damai, ala rumah orang-orang kampung tempo dulu.

"Pak Slamet masih sempat melihat televisi?" pancing saya.

"Tidak pernah. Jangankan televisi, surat kabar saja saya tidak baca. Sudah 13 tahun ini saya tidak baca koran. Baca koran, lihat televisi, hanya bikin pusing. Hehehe," jawab Slamet dengan enteng.

Pria yang pernah tinggal di Prancis selama 14 tahun ini menambahkan:
"Saya memang ada televisi warisan dari orang tua. Tapi saya simpan saja di gudang. Mau dijual kok nggak enak."

Saya pernah mencoba membebaskan diri dari belitan televisi. Dua televisi saya di kamar, 14 dan 21 inci, saya kirim ke kampung halaman di Lembata, Flores Timur. Selama dua tahun saya tidak punya televisi di kamar. Karena itu, saya hanya baca buku, baca majalah, koran, mengurus kembang, main musik, menyanyi sendiri. Tapi lama-lama saya tidak kuat.

Kenapa? Demam Piala Dunia. Di mana-mana orang Surabaya dan Sidoarjo membahas hebatnya pemain-pemain bola dunia. Koran-koran menghabiskan sebagian besar halaman untuk berita Piala Dunia. Maka, tiap malam saya 'menumpang' nonton televisi di pinggir jalan, kafe, hotel, kantor, atau di rumah teman.

Lama-lama virus Piala Dunia merasuk ke tubuh saya. Lalu, pertahanan saya jebol. Saya ke kawasan Pasar Kembang, Surabaya, membeli televisi baru. Saya bermimpi, suatu saat saya bisa terbebas dari jeratan virus televisi. Saya tidak mau dikendalikan oleh Tukul Arwana serta program-program televisi yang kian heboh meskipun tidak mencerdaskan.

28 March 2007

Aku Dilantik Jadi Pembina Bahasa


Makin lama gaya berbahasa orang Indonesia makin kacau. Bahasa Amerika [American English] merasuk ke alam bawah sadar kita. Saya sering coba-coba masuk ke ruang cakap, chat room, untuk berbincang dan diskusi ringan. Amboi, bahasa anak-anak muda sekarang bercampur-campur dengan bahasa Amerika, Melayu Betawi, dan sedikit bahasa Jawa.

Saya secara halus minta teman cakap untuk berbahasa Indonesia saja, atau sekalian berbahasa Inggris. Ternyata, teman baru itu tidak mau melayani. Yah, umumnya orang kita berbahasa gado-gado demi gaya hidup. Status sosial. Agar tidak dibilang wong ndeso, orang kampung.

Jadi, sama sekali bukan karena kemampuan berbahasa Amerika kita sangat bagus. Biasanya, poliglot [orang yang fasih banyak bahasa] justru paling cermat dalam berbahasa. Sebagai orang kampung yang lahir di Flores Timur, sejak kecil saya mengenal banyak pastor asing. Mereka umumnya berasal dari Belanda [paling banyak], Jerman, dan sedikit dari negra-negara Eropa lain. Saya bisa sebut Pater Geurtz, Pater van de Leur, Pater Schejneider, Pater Schmidtz, Pater Lorentz, Pater Trumer. Semuanya sudah meninggal dunia.

Mereka rata-rata menguasai lebih dari empat bahasa asing secara aktif: Latin [wajib], Inggris, Belanda, Jerman, Indonesia [Melayu]. Belum lagi bahasa-bahasa daerah yang cukup banyak di Nusatenggara Timur. Belum bahasa Melayu dialek Larantuka, dialek Kupang, dialek Lewoleba, dialek Maumere, Ende, dan berbagai kota di Nusatenggara Timur.

Saya menilai para pastor Barat ini luar biasa. Kenapa? Saat harus berbahasa Indonesia, ya, dia pakai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Berbahasa Inggris juga begitu. Lucu kalau berbahasa Inggris dicampur kata-kata Melayu atau Belanda. Cara berpikir mereka, kebetulan semuanya bule, sangat sistematis, tertib, sarat logika. Jadi, mereka sama sekali tidak sok 'hebat' meskipun para pater ini benar-benar orang hebat, menurut saya.

Bagaimana dengan orang kita sekarang? Simaklah televisi, internet, media cetak, bahkan surat kabar yang seharusnya mengutamakan ragam bahasa resmi. Bahasa Indonesia sekarang kacau bukan kepalang. Nama acara di Metro TV, misalnya, pakai bahasa Inggris. Tapi isinya, ya, penyiar dan tamunya bicara bahasa Indonesia.

Bahasa di MTV lebih gila lagi. Ada kesan sok, pamer ungkapan bahasa Inggris, agar dibilang anak nongkrong, keren, gaul. Pokoknya, jangan ada kesan orang kampung macam saya. Hehehe...

Padahal, kalau mau jujur, kemampuan bahasa Amerika orang kita, termasuk penyiar dan pembawa acara di televisi Indonesia, ya, belum masuk kategori hebat. Sekali lagi, orang hebat lazimnya tidak suka pamer. Mana ada pendekar silat yang mengumbar jurus-jurus mautnya?

Orang Malaysia menyebut gaya bahasa [sebagian besar] anak muda Indonesia sebagai BAHASA ROJAK, maksudnya bahasa rujak. Bahasa dicampur-campur tak karuan mengikuti gaya Amerika. Inilah potret bangsa kita, Indonesia. Bangsa bekas jajahan yang belum hilang penyakit rendah diri. Minderwaardigheids complex!

Kompleks ini juga dialami oleh orang-orang kampung di Flores. Kalau sudah menetap lama di kota, meski kota-kota di Indonesia, ya, sejatinya kampung biasa yang padat penduduk, dia pura-pura lupa bahasa ibunya. Sebab, berbahasa ibu [daerah] identik dengan orang kampung. Saya malas menghadapi manusia-manusia sok macam ini.

Kenapa saya perlu membuat catatan seputar bahasa? Aha, asal tahu saja, saya masih tercatat sebagai pengurus Himpunan Pembina Bahasa Indonesia (HPBI) Cabang Sidoarjo periode 2005-2008. Saya dan 41 pengurus lain dilantik oleh Dr Sugiyono, ketua HPBI pusat, berdasar Surat Keputusan Nomor 02/IA/ HPBI/2005.

Namanya juga pengurus, ya, saya punya kewajiban 'membina bahasa Indonesia' melalui tulisan-tulisan di koran atau internet. "Kita tidak melarang orang untuk berbahasa Inggris atau bahasa asing apa pun. Silakan! Hanya saja, penggunaan bahasa itu harus melihat situasi dan kondisi," begitu pesan Djoko Supriadi, ketua HPBI Sidoarjo, kepada saya.

HPBI merupakan organisasi masyarakat yang berperan dalam pembinaan bahasa Indonesia di masyarakat. Pada 20 Mei 1995 lalu Presiden Soeharto mencanangkan penggunaan bahasa Indonesia yang BAIK dan BENAR di masyarakat. Kemudian ada lagi instruksi Menteri Dalam Negeri dan Menteri Pendidikan Nasional tentang pemasyarakatan bahasa Indonesia.

Karena itu, "HPBI ini dimaksudkan untuk mengajak semua komponen masyarakat Indonesia untuk menghargai bahasa Indonesia sebagai sarana persatuan dan kesatuan bangsa," papar Djoko Supriyadi.

Saya paham betul bahwa tugas saya sebagai pembina Bahasa Indonesia di Kabupaten Sidoarjo tidak ringan. Ini globalisasi, Bung! Banjir informasi, Bung! Pola pikir Amerika, bahasa yang ke-Amerika-Amerika-an sudah menjadi gaya hidup.

Bahasa Indonesia, apalagi bahasa ibu, katakanlah Bahasa Jawa, apalagi krama madya, krama inggil... makin tidak dikuasai oleh anak-anak muda, bahkan yang sudah berusia di atas 40 tahun.

Tiap kali ke luar kota, saya selalu menyimak cara berbahasa anak-anak muda setempat. Juga mendengarkan radio lokal, baca koran setempat, lihat televisi. Amboi! Anak-anak muda Surabaya, Sidoarjo, Malang, Jember, Gresik, Lamongan, Mojokerto, Pasuruan, Trawas, Tretes, Kediri, Tulungagung... kini berbahasa Indonesia gaya Jakarta [Melayu Betawi] dibumbui Bahasa Amerika. Bumbu-bumbunya kadang terlalu banyak sehingga perut saya mual.

"Nggilani," kata orang Surabaya.

Acara Empat Mata, yang diasuh Tukul Arwana di Trans7, secara tidak langsung mencerminkan wajah sebagian [besar] orang Indonesia kita. Aslinya orang kampung, wong ndeso, buruk rupa, sedikit-sedikit Bahasa Amerika, tapi gaya bahasanya, masya Allah!!!

Sok hebat, pamer cas-cis-cus, tapi kalau diajak berbahasa Amerika beneran, orang kita hanya bisa tergagap-gagap.

Huah..huaaah...huaaaahhh!

27 March 2007

Pance Pondaag Hits Maker 1980-an



Pance pada Maret 2008. Stroke membuat kondisi hits maker 1980-an ini sangat memprihatinkan.


Gregorius, 40-an tahun, asal Flores Timur, pelatih kor, ternyata sangat suka lagu-lagu Pance F. Pondaag. Koleksinya banyak. Ada yang dinyanyikan sendiri oleh Pance, banyak lagi yang dibawakan penyanyi-penyanyi era 1980-an.

"Lagu-lagu Pance itu enaknya diputar malam hari. Sambil duduk di teras rumah, lihat halaman, minum kopi, diiringi lagu-lagu Pance. Hmmm.. nikmat sekali," ujar Goris, sapaan akrabnya, kepada saya. Lalu, dengan suara baritonnya, Goris mendendangkan lirik sebuah lagu Pance:

"Sepanjang kita masih terus begini.
Tak kan pernah ada damai bersenandung.
Kemesraan antara kita berdua,
sesungguhnya keterpaksaan saja...."


"Wah, kayaknya liriknya pas dengan pengalaman hidup banyak suami-istri di kota nih," pancing saya.

"Hehehe... begitulah. Makanya, lagu ini paling hit di kafe-kafe. Bapak-bapak, om-om, tante-tante... suka nyanyi ini. Beberapa lagu Pance lain juga bagus," ujar Goris.

Saya lalu pura-pura menggugat. Bukankah Pance itu salah satu raja 'lagu cengeng'? Musiknya kelewat sederhana? Komposisi tiga jurus, istilah Remy Silado? [Sebab, lagu-lagu Pance dan sejenisnya kebanyakan hanya pakai tiga akor. Misal C, F, G atau G, C, D.] Lagu-lagu tidak bermutu?

"Justru karena simpel itulah orang-orang kampung di Flores suka. Di tempat anda kan orang-orang suka Pance juga. Hehehe...."

Begitulah, bincang-bincang kecil dengan Pak Goris di Jember sambil minum kopi, dengar lagu-lagu Pance lewat suara Dian Piesesha. Saya pun teringat kebiasaan orang-orang kampung di Flores [Timur] yang suka main gitar, malam hari, sambil bernyanyi. Lagu-lagunya, ya, kebanyakan Pance Pondaag dan sejenisnya.

"Malam-malam begini, termenung kusendiri.
Menunggu kau di sini kehadiran dirimu...."


Apa pun kritik, kecaman, hinaan orang, harus diakui Pance F Pondaag pernah berkibar di belantika musik tanah air.

Pada awal 1980-an hingga akhir 1990-an lagu-lagu Pance mewarnai Aneka Ria Safari, Selekta Pop, Kamera Ria, Wajah Baru, serta sejumlah acara musik di Televisi Republik Indonesia [TVRI]. Dulu televisi hanya satu, sehingga semua manusia Indonesia mau tak mau nonton TVRI. Suka tak suka, ya, mendengarkan lagu-lagu pop manis khas Pance. Terciptalah memori bersama yang sangat kuat. Lain dengan sekarang, memori bersama sebagai bangsa itu nyaris tidak ada lagi karena beragamnya pilihan dan kemudahan.

Selain Pance, ada dua nama pencipta lagu-lagu pop manis lain [hits maker]: Rinto Harahap dan Obbie Messakh. Penulis lagu lain, A Riyanto [almarhum], gaya musik dan liriknya berbeda dengan trio Pance-Rinto-Obbie. Gaya Pance dan dua kawannya itu jauh lebih sederhana, manis, melankolis, bernada pasrah, bahkan frustrasi.

Mungkin, itulah alasan Menteri Penerangan Harmoko melarang lagu 'Hati yang Luka', karya Obbie Messakh, serta lagu-lagu sejenis di TVRI. Pelarangan ini sekaligus mengakhiri era kejayaan Pance dkk di industri musik pop. Lalu, muncullah antitesis berupa 'pop kreatif' yang akornya lebih kaya dan berbobot.

Pance tak bisa dipisahkan dari JK Records, Jakarta. Saya kutip sedikit catatan dari Pusat Data dan Analisa TEMPO:

"Suatu hari pada 1983, Judhi Kristiantho bertemu dengan Chintami Atmanegara, calon model bagi kalender yang hendak dibuatnya. Tetapi, dalam perkembangan lebih lanjut, keduanya sepakat bekerja sama untuk membikin rekaman kaset lagu-lagu pop. Akhirnya, lahirlah dua pendatang baru: Chintami sebagai penyanyi, dan Judhi Kristiantho selaku produser rekaman.

"Memakai nama JK Record [JK dari Judhi Kristiantho] ia berhasil mengorbitkan sejumlah artis penyanyi laris. Di antaranya Dian Piesesha, Ria Angelina, Obbie Messakh, Meriam Bellina, dan, tentu, Chintami Atmanegara. Pada 1985, aset JK Record mencapai Rp 500 juta, tetapi oleh sebuah sumber diperkirakan sekitar Rp 10 miliar."

Nah, Pance F Pondaag [plus Obbie Messakh] punya kontribusi besar dalam sukses JK Records itu. Sebab, Pance lah yang banyak menulis lagu-lagu manis untuk artis-artis JK. Sekitar 95 persen lagu-lagu Dian Piesesha ditulis Pance. Begitu juga Ria Angelina, Meriam Bellina, Meta Armis dan segepuk penyanyi manis orbitan JK.



Album Pance produksi 1980-an dibuat sebagai "jawaban" atas lagu-lagunya yang sukses. Dulu setiap lagu sukses selalu dibuat "jawaban". Akal-akalan pedagang kaset di Jakarta. Hehehehe....


Karena karya-karyanya sukses, Pance F Pondaag [juga Obbie Messakh] kemudian 'dipaksa' si produsen untuk bikin album juga. Padahal, suara Pance dan Obbie sangat jelek. Pance yang berbadan subur, suaranya melengking tinggi macam orang tercekik. Sementara suara Obbie sengau dan sumbang.

Tapi, asal tahu saja, rekaman musik pop itu bisnis murni yang tak banyak ditentukan oleh bagus tidaknya suara. Kalau memang pasar terima [contohnya Ariel Peterpan menyanyi dengan suara sengau, sangat jelek], kaset/CD pun laris. Maka, di masanya, Pance Pondaag dikenal sebagai penyanyi, selain pencipta lagu atawa hits maker.

Pada 1980-an, di Larantuka, Flores Timur, orang-orang kampung banyak membawakan lagu-lagu Pance seperti [awal liriknya]:

"Simfoni yang kau dengar sendu.
Di antara gerimis malam.
Mengalun pilu senada rinduku.
Begitu sunyi di saat ini...."


Atau jawaban 'Tak Ingin Sendiri', hit Dian Piesesha, karya Pance:

"Di sini aku pun sendiri,
dan masih seperti yang dulu.
Kesetiaan yang kumiliki
hanya untuk dirimu,
sampai akhir hidup ini."


Saya hafal benar karena anak-anak kampung di Flores biasanya belajar akor gitar berdasar lagu-lagu Pance. Cukup hafal tiga akor, kita bisa jreng-jreng-jreng sambil melihat gadis-gadis manis melintas. Kanisius, teman SMP saya di Larantuka, saking mabuknya sama lagu-lagu Pance, hampir sepanjang malam menyanyikan lagu itu. Suaranya bagus:

"Mimpi-mimpi tinggal mimpi,
tak satu pun yang menjadi nyata.
Janji sehidup semati
kini tinggal janji di bibirmu.
Kau pergi tinggalkan diriku,
kau tinggal, tinggal aku sendiri.
Manis madu pahit kurasa,
sepahit-pahit empedu."


Teman-teman di Asrama SMPK San Pankratio, Larantuka, sering bertengkar dengan Kanis karena terus saja menyanyi di saat orang lain tidur. Hehehehe....

Begitulah. Lagu cengeng dibredel Harmoko, era pop manis berlalu. JK Records berikut penulis-penulis lagunya macam Pance, Obbie, Deddy Dores, Wahyu OS... pun surut. Om Pance memang masih sempat bikin lagu, tapi intensitasnya sangat jauh dibandingkan ketika masih berjaya. Dia pun tak lagi fokus di JK Records, tapi 'menyebar' lagu-lagunya di beberapa label rekaman.

Broery Marantika [almarhum] pernah mengangkat kembali nama Pance lewat hitnya: 'Kucari Jalan Terbaik'. Pance juga bikin rekaman lagu-lagu kristiani. Gayanya sama dengan pop biasa, hanya beda syair. Tapi lagu seperti 'Bunda Maria' sangat disukai orang-orang Flores macam Gregorius.

"Sampai sekarang JK Records tetap eksis kok. Siapa bilang tutup," ujar Imelda, staf JK Records, yang saya hubungi via telepon. Dia mengakui kaset-kaset [CD] produksi JK memang turun, tapi tetap ada. "Kalau tutup kan nggak mungkin saya di kantor. Hehehe," ujar Imelda, ramah.

Saya cek di sejumlah toko kaset di Surabaya dan Sidoarjo, lagu-lagu Pance F Pondaag memang tetap dijual, namun dikemas dalam 'the best', 'album seleksi', 'album emas'. Ada yang dinyanyikan sendiri, ada yang dibawakan penyanyi-penyanyi lain.

Omong-omong, bagaimana sebetulnya kabar Pance Pondaag sekarang? Saya tanyakan kepada Bartje van Houten, pemusik grup The Lloyd, usai manggung di Surabaya beberapa waktu lalu.

"Pance sekarang sakit berat. Stroke. Ini tidak lepas dari pembajakan kaset yang gila-gilaan di Indonesia. Karena hak cipta tidak dihargai, pembajakan merajalela, pencipta lagu seperti Pance tidak bisa menikmati hasilnya di saat tidak produktif lagi," ujar Bartje van Houten.

Menurut Bartje, yang terus bertahan di berbagai era musik Indonesia, termasuk bikin karya-karya manis di era Pance dan Obbie Messakh, pembajakan yang gila-gilaan membuat pencipta-pencipta lagu lama stres dan sulit berkarya. Kalau tak tahan, ya, bisa stroke kayak Pance. "Tapi secara umum Pance masih eksis di Jakarta," kata Bartje.

Yah, apa pun kata orang, Pance F Pondaag pernah mewarnai persada musik pop Indonesia. Soal mutu, bagus-jelek, manfaat-mudarat, terserah penilaian masing-masing orang. Yang jelas, di kafe-kafe lagu karya Pance ini masih sering dibawakan orang:


SEPANJANG KITA MASIH TERUS BEGINI
TAK KAN PERNAH ADA DAMAI BERSENANDUNG
KEMESRAAN ANTARA KITA BERDUA
SESUNGGUHNYA KETERPAKSAAN SAJA

SENYUM DAN TAWA HANYA SEKADAR SAJA
S'BAGAI PELENGKAP SEMPURNANYA SANDIWARA
BERAWAL DARI MANISNYA KASIH SAYANG
TELANJUR KITA HANYUT DAN TERBUAI

KUCOBA BERTAHAN MENDAMPINGI DIRIMU
WALAU KADANG KALA TAK SEIRING JALAN
KUCARI DAN SELALU KUCARI JALAN TERBAIK
AGAR TIADA PENYESALAN DAN AIR MATA


=======
Judul : KUCARI JALAN TERBAIK
Melodi : Pance F Pondaag
Lirik : Pance F Pondaag
Vokal : Broery Marantika

Mau dengar lagu Kucari Jalan Terbaik? Klik di sini.

26 March 2007

Batutara dan Pulau Komba yang Misterius


Oleh LAMBERTUS L. HUREK
*Gunung 'Hantu' Itu Meletus Lagi setelah 155 Tahun

Pekan lalu, saya menerima kabar buruk. Yus, adik saya di Kupang, kirim pesan pendek bahwa Gunung Betar di depan kampung saya, Desa Mawa, Ile Ape, Lembata, meletus. Adik saya yang lain, Erni, di Lewoleba, pun kasih kabar serupa.

"Ribuan warga terpaksa mengungsi karena khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," begitu bunyi SMS Yus Hurek, kini guru di Kupang. "Sekarang situasinya genting. Semburan dari Betar masih terus keluar."

Saya langsung cek informasi di internet, dan ternyata betul. Kantor berita Antara, AFP, UPI, kantor berita asing lain, juga beberapa media internasional, memberitakan erupsi Batutara. Informasinya pendek saja, tapi jelas. Gunung BATUTARA [orang-orang kampung di Lembata umumnya menyebut BETAR] meletus.

Bupati Lembata, Andreas Duli Manuk, menyebutkan 15.700 orang mengungsi. Umumnya dari Pulau Lembata bagian utara, menghadap Laut Flores, mulai Kecamatan Omesuri, Buyasuri, dan Ile Ape. Puji Tuhan, tidak ada korban jiwa.

Batutara alias Betar. Gunung ini sangat lengket di benak saya. Sebab, waktu kecil saya tinggal di kampung Mawa, persis berhadapan dengan Batutara, yang berada di Pulau Komba. Data resmi menyebutkan, Gunung Batutara tingginya 748 meter dari muka laut. Jaraknya dari Pulau Lembata sekitar 50 kilometer. Ada vegetasi yang menutupi Batutara, namun Pulau Komba tak berpenghuni. Paling-paling hanya dijadikan tempat singgah para nelayan.

Jawatan kegunungapian di Bandung pun mengaku kesulitan menempatkan peralatan di Pulau Komba karena tak ada satu pun manusia di sana. Pemantauan hanya bisa dilakukan di Lewotolok, tak jauh dari tempat lahir saya. Bupati Andreas Duli Manuk meminta jawatan vulkanologi untuk memberi perhatian khusus pada Batutara. "Situasinya sudah membahayakan penduduk di Lembata," ujar Pak Bupati.

[Kebetulan Bupati Andreas Duli Manuk ini masih kerabat dekat kami. Istri Pak Ande, Ibu Margaretha Hurek, jelas keturunan langsung fam Hurek. Satu garis dengan fam saya, HUREK. Lagi pula, almarhumah ibu saya, Maria Yuliana Manuk, satu fam dengan Pak Bupati Lembata: sama-sama MANUK.]

Nah, saya terus mencari data tentang Gunung Batutara. Dalam sebuah situs berbahasa Inggris disebutkan, Batutara terakhir meletus pada tahun 1852. Kalau letusan terkini, mulai 19 Maret 2007, berarti rentang waktunya 155 tahun. Satu setengah abad lebih. Kurun waktu yang jelas tidak pendek.

Saya sendiri, yang waktu sekolah dasar hampir tiap petang menyaksikan matahari tenggelam di samping Gunung Batutara, bersama teman-teman sekampung, awalnya tak percaya dengan berita Batutara meletus. "Kok bisa Betar [Batutara] meletus? Batutara kan nggak pernah terlihat aktif?" batin saya.

Kalau Ile Ape [Gunung Api] atau Ile Boleng atau Lebatukan atau Ile Mandiri--semuanya di Flores Timur--meletus wajar lah. Sebab, ile-ile itu [ile = gunung] setiap hari memang melepaskan asap, belerang, dan material-material lain. Tapi Batutara? Tak pernah saya bayangkan. Jangankan saya, yang sudah merantau ke Jawa, orang-orang kampung pun tak pernah menduga kalau Batutara itu [bisa] meletus.

Dari namanya saja, BATUTARA alias BETAR, dan bukan ILE, orang-orang di kampung saya, yang berhadapan langsung dengan Batutara, tak pernah menganggapnya sebagai gunung api aktif. Namanya saja BATU.

Maklum, sekali lagi, Batutara meletus terakhir pada 1852. Niscaya tak ada lagi saksi mata hidup yang pernah meriwayatkannya. Alih-alih saksi mata, catatan resmi di Lembata pun, saya kira, tidak ada.

Tapi, mau bilang apa, setelah istirahat panjang selama 1,5 abad lebih, Batutara akhirnya merasa perlu memuntahkan isi perutnya. Siklus yang sangat panjang dibandingkan Gunung Merapi di Jogja yang siklusnya demikian pendek. Bagaimanapun juga ini peristiwa alam. Kekuatan endogen tak bisa dicegah oleh siapa pun. Saya dan warga kampung di Flores Timur dikasih pelajaran untuk berwaspada. Jangan sekali-kali meremehkan gunung kecil di tengah laut yang selama ini hanya dianggap BATU.

Boleh jadi, Batutara hendak menarik perhatian penduduk melalui erupsinya yang kabarnya mencapai ketinggian 1.500 meter. Luar biasa!

Gunung Batutara alias Betar berada di Pulau Komba. Saya yang di masa kecil menatap Gunung Batutara setiap hari, karena rumah saya berada di tepi pantai, pesisir Laut Flores, jarang menyebut nama Pulau Komba. Warga Lembata pun asing dengan pulau ini. Tahunya, ya, Batutara atau Betar.

Kenapa begitu? Pulau yang berjarak 30-50 kilometer dari tempat kelahiran saya, Kampung Mawa, Ile Ape, itu tidak punya penghuni. Tak ada seorang pun manusia yang berani tinggal di Komba. Ia lebih mirip pulau gunung. Topografinya, dari laut langsung miring, menanjak, membentuk gunung setinggi 748 meter.

Karena yang diindra warga hanya gunungnya saja, maka kami di kampung hanya tahu Batutara alias Betar. Pulau Komba itu sekadar 'nama resmi' untuk catatan ilmiah. Anak-anak sekolah pun tidak pernah mendapat pelajaran soal Pulau Komba. Warga yang iseng sering menyebut Pulau Komba dengan julukan 'pulau hantu', 'pulau suanggi', 'pulau setan', dan sejenisnya. Menyeramkan, memang!

Citra Pulau Komba, dengan Gunung Batutara-nya, memang sangat menyeramkan. Waktu masih di kampung, bulu kuduk saya berdiri saat mendengar cerita-cerita seram dari Pulau Komba. Begitu banyak kejadian misterius dan sulit dipahami. Paling banyak, orang kampung yang mencari ikan atau kerang dengan perahu bercadik hilang di kawasan Batutara. Kalau sudah hilang di sana, hampir pasti tim search and rescue (SAR) paling hebat atau TNI Angkatan Laut sekalipun sulit menemukannya. Hilang tanpa bekas apa pun.

Kasus hilangnya warga secara misterius di kawasan Pulau Komba [Batutara] rupanya sudah terjadi sejak beratusan tahun sehingga kemudian muncul 'kepercayaan' bahwa Pulau Komba itu sangat angker. Maklum, kata warga, begitu banyak orang yang meninggal secara tidak wajar di Batutara. "Matay beloloken," begitu istilah dalam bahasa daerah. Karena mati tidak wajar, warga percaya bahwa arwah orang-orang itu gentayangan tak karuan di Pulau Komba.

Sebagai informasi, di daerah Flores Timur, khususnya Lembata, makam orang-orang yang mati tidak wajar [bunuh diri, jatuh dari pohon, disambar petir...] terpisah dari makam biasa.

"Jangan coba-coba ke sana. Kasus orang hilang sudah sering terjadi," begitu pesan yang saya dengar dari orang tua-tua di Kampung Mawa.

Saat saya kecil tuturan orang tua-tua ini beroleh bukti. Celakanya, kasus ini menimpa Demong Ire Hurek [almarhum], masih tergolong kakek saya. Kakek Demong yang punya perahu dan senang melaut, suatu ketika, berlayar mencari ikan. Karena suka tantangan, dan ingin hasil banyak, Kakek Demong berlayar jauh ke tengah laut, mendekati Komba [Batutara].

Tunggu punya tunggu, hingga beberapa bulan kemudian, Kakek Demong Ire tidak kembali. Tidak ada berita apa pun. Perangkat desa, pemuka adat, ya, kami semua di kampung akhirnya sadar bahwa Kakek Demong Ire Hurek telah 'diambil' di Batutara. Bagaimana caranya hilang--dibawa arus, perahu tenggelam, hilang di daratan Pulau Komba, nyasar...--tidak ada yang bisa menjawab. Hilang tanpa bekas. Misterius!

Kejadian-kejadian macam ini senantiasa berulang dan sulit ditebak. Orang tahu kalau Pulau Komba itu misterius, punya potensi bahaya, sudah ada banyak orang hilang di sana, tapi biasanya satu ketika ada saja warga kami yang melaut, dan entah kenapa, nyasar ke sana. Beberapa waktu kemudian muncul kabar: si Fulan hilang di kawasan Batutara. Apa boleh buat, warga hanya bisa berdoa, mengurus upacara adat semacam 'tolak bala' di masyarakat tradisional Jawa.

Namun, di lain waktu, saya mendengar cerita dari sejumlah nelayan yang mengaku pernah mendarat di Pulau Komba. Disebutkan, daratan di sana pun ditumbuhi tetanaman seperti di Lembata, Solor, Adonara, Flores. Ubi-ubian pun tumbuh liar. Hanya saja, kondisinya serba liar karena memang tak ada satu pun penduduk di sana.

"Kalau begitu, kenapa kok tidak ada satu pun manusia yang berani tinggal di Betar?" tanya saya waktu masih duduk di Sekolah Dasar Mawa kepada Paulus Lopi Blawa [kini almarhum].

Guru yang suka melaut ini tak bisa menjawab. Guru-guru lain pun, ketika saya ajukan pertanyaan ini, tak bisa apa-apa, karena memang belum ada literatur ilmiahnya.
Maka, kalau jawatan vulkanologi mengatakan tidak bisa memasang alat deteksi di kawasan Gunung Batutara, ya, jelas sangat masuk akal. Saya pastikan, petugas pemantau gunung api di Lewotolok tidak akan berani ke Pulau Komba. Sebab, misteri Gunung Batutara ini sudah berlangsung dari generasi ke generasi.

"Iiiih, siapa yang mau mati di sana? Kalau kamu orang berani ke Betar, silakan, tapi jangan saya," begitu kata-kata khas orang Ile Ape, kecamatan di pantau utara Kabupaten Lembata.

SAYA pernah menulis kasus Pulau Bidadari di harian Radar Surabaya ketika isu penjualan pulau di kawasan Flores Barat ini mengemuka awal 2006 silam. Kasusnya mirip Pulau Komba, hanya Bidadari tak punya gunung. Warga setempat membiarkan pulau itu kosong, tanpa penghuni, dan akhirnya dikelola Ernest Lewandowsky, investor asal Inggris.

Setelah Ernest masuk, dapat izin dari Badan Koordinasi Penanaman Modal Nusatenggara Timur, baru orang ribut-ribut di media massa. Seakan-akan si bule itu hendak mendirikan 'negara di dalam negara'. Pasukan TNI AL pun sempat dikerahkan ke sana untuk 'mengamankan' Pulau Bidadari dan memasang bendera merah-putih.

Saya berharap, Pemerintah Kabupaten Lembata setelah erupsi Gunung Batutara perlahan-lahan memperhatikan pulau-pulau kecil tak berpenghuni [setahu saya cukup banyak] di wilayahnya. Saya yakin, pulau-pulau itu punya potensi untuk dikembangkan bagi kemakmuran rakyat.

Membuka isolasi pulau-pulau kosong itu secara tidak langsung membuka selubung 'misteri' yang selama beratus tahun diyakini orang-orang kampung. Jangan sampai kita baru terperanjat setelah investor dan petualang asing sejenis Ernest Lewandowsky datang menggarap pulau-pulau itu.

Sumber foto: National Library of Australia

Cak Sidik Empu Ludruk Surabaya

Oleh KARDONO SETYORAKHMADI
Sumber: www.jawapos.co.id [25 Maret 2007]

APA ARTI LUDRUK BAGI ANDA?
Ohh, ludruk merupakan segala-galanya bagi saya. Ludruk membuat saya tetap merasa hidup. Bagi saya, ludruk tidak tergantikan oleh apa pun.

APA YANG MEMBUAT LUDRUK BEGITU BERMAKNA MENDALAM BAGI ANDA?

Yang pertama, ludruk yang memberi makan saya selama ini. (Sidik lantas tertawa terbahak) Ha.. ha.. ha... Singkatnya seperti ini, ada dua jenis orang yang bekerja. Yang pertama adalah dia bekerja, namun tidak enjoy dengan pekerjaannya. Yang kedua adalah orang yang bekerja dan enjoy dengan pekerjaannya.

Saya termasuk golongan terakhir karena ludruk bagi saya sangat asyik. Hal ini tidak bisa dijelaskan dengan gamblang lewat kata-kata. Selain itu, saya bisa punya istri dari ludruk, ha ha ha... (almarhumah Ning Surya Dewi adalah istri sekaligus kawan main ludruk bagi Sidik).

BAGIAN LUDRUK APA YANG PALING ANDA NIKMATI?

Bagian kidungan atau parikan. Di ludruk, ada tiga jenis parikan saat bedayan (bagian awal permainan ludruk). Yaitu, lamba (parikan panjang yang berisi pesan), kecrehan (parikan pendek yang kadang-kadang berfungsi menggojlok orang) dan dangdutan (pantun yang bisa berisi kisah-kisah kocak). Dalam ludruk yang benar-benar murni, seorang seniman ludruk paling tidak harus bisa parikan selama dua jam tanpa putus. Selain itu, parikan tersebut harus dituntut kontemporer.

APA YANG DIMAKSUD PARIKAN KONTEMPORER?

Artinya, parikan tersebut harus sesuai kondisi-situasi sosial yang ada. Jadi, parikan tidak boleh yang itu-itu saja. Bagi saya, di situlah asyiknya parikan. Saat melantunkan parikan, saya seperti trance. Saya merasa seperti di awang-awang dan tiba-tiba saya tidak peduli lagi dengan apa-apa. Apalagi ketika para penonton terpesona dan bertepuk tangan meriah atas parikan saya. Saat itu, saya benar-benar merasakan eksistensi saya. Saya benar-benar merasa hidup saat itu.

APAKAH ANDA LEBIH MENGUTAMAKAN SPONTANITAS ATAU MENGHAFALKAN KIDUNGAN DULU?

Kedua-duanya. Tapi, spontanitas tetap menempati porsi terbesar. Prosesnya selalu dimulai dengan parikan yang sudah dihafalkan. Baru setelah tiga hingga empat parikan, spontanitas muncul.

APA RESEP PARIKAN ATAU KIDUNGAN SPONTAN TANPA BERHENTI SELAMA SATU JAM?

Ya, itulah seninya. Seorang pemain ludruk yang mau parikan harus mengamati kondisi masyarakat sekitar tempat manggung. Sebelum manggung, saya biasanya duduk dan berjalan berkeliling ke penonton. Kepada panitianya, saya minta ditunjukkan siapa saja tokoh masyarakat yang hadir.

Kemudian, saya amati satu per satu, mulai cara dia bicara, cara dia duduk, dan ciri-ciri khusus lainnya. Selanjutnya, saya akan melakukan parikan dengan menyebut tokoh tersebut. Trik ini biasanya berhasil menggaet hati para penonton karena biasanya yang hadir rata-rata mengenali tokoh masyarakat tersebut. Kalau tawa penonton sudah terdengar dan tepuk tangan membahana,

Wah rasanya saya benar-benar menikmati dan mensyukuri hidup ini.
“Saya bahkan tidak punya pekerjaan sampingan, atau bisnis sampingan. Pendapatan utama saya ya dari ludruk," ungkap kakek 11 cucu tersebut.

DALAM BANYAK KESEMPATAN, ANDA SERING MENGATAKAN BAHWA YANG MENJADI INSPIRATOR UTAMA KARYA ANDA ADALAH ALMARHUMAH SURYA DEWI. NAH, SEPENINGGAL BELIAU (Surya Dewi meninggal akibat tumor kandungan awal 2006), APA YANG MENJADI INSPIRATOR ANDA?

Saat istri saya meninggal, itu benar-benar sebuah kehilangan besar bagi saya. Beberapa hari sesudah kematian istri saya merupakan hari-hari yang paling berat bagi saya karena dia telah menemani saya hampir 40 tahun. Apalagi dia memang merupakan sumber inspirasi bagi saya.

BAGAIMANA NING SURYA DEWI MENGINSPIRASI ANDA?

Setiap bahan perbincangan kami, cerita-cerita dia mengenai teman-temannya merupakan bahan utama ludrukan saya. Misalnya, dia pernah bercerita mengenai masalah rumah tangga yang dialami temannya. Bagaimana proses si pria kecantol wanita lain, riak-riak tersebut berawal, itulah yang menjadi sumber cerita. Namun, biasanya ada modifikasi sedikit.

Bila di dunia nyata, pasangan tersebut berpisah, namun dalam lakon yang saya buat selalu happy ending. Maklum saja, sebagai sebuah tontonan, ludruk yang saya mainkan juga harus menjadi tuntunan. Ini merupakan tanggung jawab sosial selaku seniman.

APAKAH KEHILANGAN ITU MEMENGARUHI KEMAMPUAN MELUDRUK ANDA?

Jelas sangat berpengaruh. Selama sebulan lebih, saya malas bermain ludruk. Namun, karena hidup terus berjalan, saya bisa mencari inspirasi dari hal-hal lain. Selain itu, seniman tidak seharusnya terpancang pada satu sumber inspirasi. Banyak fenomena sosial yang bisa menjadi sumber inspirasi.

Saat ini, kepergian istri saya tetap merupakan satu kehilangan, namun kini tidak memengaruhi pencarian inspirasi lagi. Hidup terus berjalan dan saya juga harus melanjutkan hidup.

(Hingga kini, Cak Sidik masih aktif dalam dunia ludruk. Saat ini, dia menjadi pembina Paguyuban Pencinta Kidungan Rek (PPKR), sebuah organisasi yang berisi penggemar Kidungan Rek, acara milik JTV. Namun, dia juga mengeluhkan animo masyarakat yang sangat kurang dibandingkan zamannya dulu).

"Sekarang sangat sedikit masyarakat yang benar-benar berniat menonton ludruk sejak dari rumah. Paling saat lewat, orang berhenti karena tertarik ada keramaian, ’Oh ada ludruk’, kemudian mampir sebentar untuk nonton," ujar Sidik.

BAGAIMANA PERASAAN ANDA MELIHAT EKSISTENSI LUDRUK SAAT INI?

Sedih juga, ya, apalagi dunia inilah yang membesarkan saya. Tapi, ini memang merupakan tuntutan perkembangan zaman. Yang paling bisa dilakukan adalah tetap berusaha mempertahankan eksistensi ludruk pada umumnya dan parikan pada khususnya.

CARANYA?

Terus terang, media massa memegang peran sangat penting dalam hal ini. Misalnya, kalau tidak ada acara Kidungan Rek yang ditayangkan JTV, saya yakin bahwa tak lama lagi kidungan bakal menjadi sekadar kenangan alias punah.

APA SAJA HAMBATAN PELESTARIAN ITU, TERUTAMA DARI FAKTOR INTERNAL SENIMAN?

Paling utama adalah regenerasi yang kurang berjalan maksimal. Setelah Kartolo, hampir belum ada bibit yang sangat menonjol dan begitu terkenal. Saya menilai bahwa generasi muda seniman ludruk kadang sudah merasa "wah" terlebih dulu, padahal belum menghasilkan karya fenomenal. Selain itu, banyak yang terlihat kurang total dalam berkesenian ludruk.

BUKANKAH ITU TAK BISA DISALAHKAN MENGINGAT LUDRUK KINI TIDAK BISA MENJANJIKAN MASA DEPAN "CERAH"?

Memang kurang prospektif, namun saya yakin kalau betul-betul ditekuni, pasti juga akan ada jalan. Buktinya saya. Dulu ketika awal-awal aktif di ludruk, saya merupakan seorang pegawai percetakan dengan gaji lumayan. Namun, karena saya ingin total, pekerjaan di percetakan itu saya lepas dan terjun total di dunia ludruk. Buktinya, saya punya rumah cukup nyaman dan tidak kekurangan satu hal apa pun.

APA OBSESI ANDA YANG BELUM TERCAPAI?

Saya rasa semuanya sudah tercapai. Apa sih yang dicari dalam hidup? Saya punya rumah, punya anak, dan istri. Anak-anak saya sudah jadi semua. Saya juga tidak kekurangan makanan dan terus menggeluti dunia yang saya cintai. Apalagi yang kurang?



SIDIK, ANAK BAND YANG TERSESAT KE LUDRUK

TAK ada yang pernah menyangka bahwa seorang Sidik Wibisono akhirnya kondang sebagai seniman ludruk yang cukup punya nama. Dulu sama sekali tak tebersit dalam cita-cita Cak Sidik untuk menjadi tukang ngeludruk. Menurut pengakuannya, dia sebenarnya orang yang tersesat dalam dunia ludruk.

Titik balik karir Sidik terjadi pada 1969. Ketika itu, kakek 11 cucu tersebut masih berprofesi sebagai pemusik. Dia adalah personel Band DAMRI dan BAT. Posisinya adalah vokalis merangkap rhythm guitar.

"Saya cukup dikenal saat itu. Biasane sing nanggap yo instansi-instansi," kenang pria 63 tahun itu. Lagu-lagu yang biasa dia bawakan adalah milik Koes Plus dan oldies pop semacam Oh Carol. Setelah dua tahun tidak ada perkembangan berarti di bandnya, Sidik muda ingin mengembangkan karir.

Namun tetap, menjadi seniman ludruk tidak ada dalam pikirannya saat itu. "Awalnya saya justru melamar sebagai penyanyi di Srimulat," ucapnya. Saat itu, Srimulat sedang jaya. Namun, nasib berkata lain. "Lamaranku ditolak. Alasane, wis kakehan penyanyi (lamaran saya ditolak. Katanya, sudah terlalu banyak penyanyinya, Red)," urai ayah lima anak itu.

Sempat putus asa, Sidik muda kemudian disarankan ayahnya untuk melamar di Ludruk Tri Sakti di THR. Ludruk itu termasuk grup papan atas. Personelnya adalah pentolan-pentolan ludruk. Misalnya, Cak Meler, Cak Rukun, dan Cak Parmo. Sidik kemudian menuruti saran ayahnya.

Tesnya sungguh di luar dugaan Sidik. Dia langsung disuruh mengisi bedayan (sesi awal ludruk yang berisi kidung-kidungan selama satu jam). Penuh percaya diri, Sidik menerima tantangan itu. Hasilnya luar biasa, Sidik berhasil melantunkan kidungan-kidungan milik Cak Meler dan memukau penonton selama hampir satu jam.

Rupanya, Sidik muda ternyata juga sering melihat ludruk. Cak Meler adalah salah satu favoritnya. "Tiap lihat parikan Cak Meler, saya menghafalnya," kata penghobi bulu tangkis itu.

Ada cerita unik mengenai hal tersebut. Saat Sidik ngidung, Cak Meler dan Cak Rukun sedang nongkrong di warung sebelah. Tiba-tiba Cak Rukun bertanya ke Cak Meler, "Ler, sopo sing ngidung iku (siapa yang bernyanyi itu)?"

Cak Meler menjawab penuh percaya diri, "Alah, iku paling kasetku sing disetel (paling itu kaset saya yang disetel)."

Dua seniman kawakan itu lantas taruhan. Jika ternyata suara kidungan merdu itu dari kaset, Cak Meler menang. Jika ternyata bukan kaset, Cak Rukun menang. Yang kalah harus mentraktir makan.

Dan, ternyata yang tampil adalah Sidik. Rupanya, saking mirip dengan kidungan Cak Meler, si pemilik asli sampai pangling. "Karena saya belum punya parikan sendiri, saya membawakan semua parikan Cak Meler yang saya hafal. Mulai cengkok, syair, hingga intonasinya, semua saya tiru persis," urainya, kemudian tersenyum mengingat peristiwa tersebut.

Yang tak kalah girang adalah para pentolan ludruk tersebut. Setelah pentas, Sidik langsung disalami para dedengkot ludruk tersebut.

"Saya kemudian diajari langsung oleh Cak Rukun dan Cak Meler. Merekalah yang meletakkan dasar-dasar ludruk ke saya," tuturnya. Ketika itu, Cak Meler dan Cak Rukun mengarahkan Sidik ke kidungan dan lawakan.

Itulah titik balik Sidik dalam dunia ludruk. Setelah setengah tahun bersama di Ludruk Tri Sakti, Sidik bergabung dengan Ludruk RRI. Di tempat itulah, Sidik mendapatkan masa keemasan.

"Dulu, kalau sampai pentas di daerah, misalnya jarak 10 km sebelum masuk kota saja, sudah dielu-elukan. Para senimannya bahkan sampai perlu diarak dengan jip terbuka supaya semua masyarakat tahu. Jan koyok Agnes Monica lek arep pentas (Seperti Agnes Monica kalau akan pentas)," kelakarnya.

Selain itu, dunia ludruk pula yang mempertemukan Sidik dengan jodohnya. Surya Dewi yang kelak menemani Sidik hampir 40 tahun tak lain adalah salah seorang anggota Ludruk RRI. "Aku kenek cinlok (cinta lokasi, Red)," kenangnya, sedikit bergurau. Sejak itu, nama Sidik tak bisa dilepaskan dari dunia ludruk Surabaya. Bahkan, hingga kini.

TENTANG H.M. SIDIK WIBISONO

Nama Tenar: Cak Sidik
Tempat/Tgl Lahir : 6 November 1944
Istri : (Alm) Hj Surya Dewi
Anak :
1. Eka Suryanto Wibisono
2. Dwi Agus Sugiono
3. Mery Triana Dewi
4. Fifi Rosiana Dewi
5. Yeni Erawati Dewi

25 March 2007

Umat Hindu dan Air Jolotundo



Tak banyak yang tahu, sebagian besar umat Hindu di Kabupaten Sidoarjo mengandalkan air Jolotundo untuk konsumsi sehari-hari. Sumber air yang keluar dari perut Gunung Penanggungan itu sarat nilai spiritual. Secara ilmiah, berdasar uji laboratorium, kualitas air Jolotundo lebih bagus ketimbang air kemasan.

"Saya dan keluarga sudah empat tahun ini menggunakan air Jolotundo untuk berbagai keperluan. Untuk konsumsi sehari-hari di rumah jelas pakai air ini," ujar IDA AYU, warga Pondok Jati, Sidoarjo, kepada saya. Ida bersama sekitar 20 umat Hindu saat itu melakukan prosesi pengambilan air suci di kawasan Jolotundo, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto.

Mereka membawa sebuah truk besar (milik TNI Angkatan Darat) berisi belasan jeriken kosong. Jerikan itu kemudian diisi air Jolotundo, satu tempat suci umat Hindu di Jawa Timur. "Kami ke sini kalau jeriken-jerikan di rumah sudah kosong," ujar Ida.

Mengambil air di Jolotundo, bagi pemeluk Hindu taat seperti Ida Ayu dan rombongan, jelas tidak sama dengan mengambil air di Prigen, Pacet, Trawas, dan kawasan sumber air pegunungan lain. Di sini proses ritual harus diikuti secara cermat. Busana yang dikenakan anggota rombongan pun khas Hindu Bali, serba putih, persis ketika mengikuti acara sembahyangan Hindu.

Karena itu, tidak mungkin mereka, misalnya, mengirim anak buah ke Jolotundo untuk mengisi jeriken-jeriken kosong tadi. Jika itu yang terjadi, kata beberapa umat Hindu, maka nilai sakralitasnya hilang. Tak ada bedanya dengan air pegunungan biasa yang dikonsumsi masyarakat umum. "Ini tempat suci, jadi harus ada ritualnya," tutur Ida Ayu lalu tersenyum.

Mula-mula rombongan asal Sidoarjo, Wonoayu, Jabon, dan Porong ini singgah di PETILASAN NAROTAMA, mahapatih terkenal pada masa RAJA AIRLANGGA. Di kompleks yang baru saja direnovasi itu umat Hindu melakukan doa bersama. Setelah itu, mereka berjalan kaki sekitar 200 meter ke Candi Jolotundo. Jaraknya sekitar 150 meter, tapi sangat menanjak.

"Sekalian olahraga karena medannya sangat berat. Kalau setiap hari kita jalan mendaki seperti ini, badan pasti lebih sehat," ujar Letkol ANAK AGUNG.

Bagi rombongan Sidoarjo ini, tanjakan tajam ini bukan perkara besar karena sudah menjadi menu rutin mereka. Istirahat sejenak di pelataran Candi Jolotundo, prosesi dilanjutkan dengan acara mandi bersama. Mandi di petirtaan sekaliber Jolotundo diyakini membawa kesegaran dan kesucian. Orang diingatkan untuk membersihkan kotoran dari tubuh dan jiwanya.

Tempat mandi untuk laki-laki dan perempuan dipisahkan cukup jauh. "Wanita yang sedang datang bulan dilarang masuk ke kolam Jolotundo. Anda juga diharapkan tidak kencing di dalam air," begitu pesan tertulis (dan lisan) yang wajib ditaati semua pengunjung Candi Jolotundo, tak hanya umat Hindu tentu saja.

Rupanya, acara mandi bersama ini begitu penting. Lihat saja, beberapa orang tua sempat 'marah-marah' lantaran anaknya enggan menceburkan diri ke dalam kolam Jolotundo. Asal tahu saja, lokasi Jolotundo yang mencapai 525 meter dari permukaan laut membuat kawasan ini sangat sejuk, apalagi pada petang hari. "Kalau nggak mau mandi, ya, raup saja," imbau salah satu orang tua.

Si Bagus, pelajar SMPN 4 Sidoarjo, masih terlihat ogah-ogahan. "Dingin, malas ah!" kata Bagus bersungut-sungut. Namun, setelah dilobi terus-menerus, Bagus akhirnya menyerah dan mandi di kolam Jolotundo. "Rasanya segar sekali. Saya juga minum air langsung dari pancuran," kata Bagus, kali ini berseri-seri.

MANDI bersama di Candi Jolotundo--yang airnya memancur nonstop itu--tidak boleh pakai sabun. Pengunjung, tak hanya umat Hindu, juga dianjurkan 'pipis' dulu di toilet, sekitar 50 meter dari kolam Jolotundo. Kebiasaan pengguna kolam renang biasa, yang suka kencing di dalam, tidak boleh dilakukan di kolam alami Jolotundo.

Wanita yang tengah menstruasi pun dilarang masuk ke kolam. Tapi dia bisa menikmati air bening dan sehat Jolotundo di kamar mandi Jolotundo sepuas-puasnya. Ini semua untuk menjaga kebersihan, kesehatan, serta kesucian air di Jolotundo. Bayangkan saja kalau warga mandi memakai sabun, keramas, atau (maaf) kencing sembarangan di dalam kolam.

"Umat Hindu jelas sudah sangat paham karena ini jadi tempat suci mereka. Tapi
untuk orang lain pasti selalu kita ingatkan agar menjaga kesucian tempat ini," ujar KAYUN, salah satu dari 14 penjaga (juru kunci) Candi Jolotundo, kepada saya.

Kembali ke acara mandi bersama. Namanya juga orang kota yang jarang menikmati air pegunungan, umat Hindu asal Sidoarjo ini cukup lama berada di dalam kolam. Sekitar 30 menit hingga satu jam mereka berendam di air, sembari sekali-sekali membuka mulut lebar-lebar, menengguk air minum asli pegunungan itu.

"Segar bukan main. Kami sudah pernah ngetes di laboratorium, hasilnya ternyata sangat bagus. Lebih bagus dari air minum dalam kemasan, apalagi air isi ulang," ujar IDA BAGUS OKA, warga Pondok Jati, yang menjadi pemimpin acara ritual di Candi Jolotundo.

Setelah mandi, umat Hindu mengenakan kembali busana putihnya (tak perlu handuk segala) dan siap melanjutkan ritual. Kali ini, mereka duduk bersila di pelataran candi, persis di atas kolam ikan, dan meditasi. Mula-mula dilantunkan puja-puji kepada Sang Hyang Widhi dipimpin Ida Bagus Oka. Diterangi cahaya bulan purnama, prosesi ini menambah mistis suasana Candi Jolotundo malam Minggu.

Sementara itu, pengunjung biasa yang bukan Hindu, termasuk mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya yang tengah camping di kawasan Jolotundo, duduk di ruang tunggu. Mereka memberi kesempatan kepada rombongan dari Sidoarjo untuk menggelar ritual sampai tuntas. Sebuah praktik toleransi antarumat beragama yang layak dilestarikan di muka bumi.

"Ini pengalaman baru bagi saya. Saya akhirnya tahu kalau di Jolotundo ini suasananya sangat religius. Makanya, saya penasaran ke sini dan ingin menikmati mandi di Jolotundo," aku Ahmad, mahasiswa asal Surabaya.

Ritual mandi bersama dan meditasi akhirnya tuntas sekitar pukul 18:30 WIB. Hampir bersamaan, 20-an jerikan besar (50-an liter) berwarna putih telah diisi air dari pancuran Jolotundo. Jeriken-jerikan penuh air tadi kemudian dibawa ke truk militer yang parkir di pintu gerbang Jolotundo. Rombongan pun pulang ke Sidoarjo membawa beban ratusan liter air dari perut Gunung Penanggungan yang muncrat dari Candi Jolotundo.

"Biasanya kami konsumsi sampai satu bulan. Kalau habis, ya, kami datang lagi ke sini untuk mengambil air. Acaranya, ya, seperti ini juga," ujar Ida Ayu.

Sejak tinggal di Sidoarjo, awal 2000, Ida Ayu dan rombongan senantiasa datang kompleks Candi Jolotundo untuk mengambil air. Adapun air PDAM Sidoarjo tidak dipakai untuk minum sehari-hari, tapi mencuci, menyiram, dan sebagainya. Air minum dalam kemasan seperti Aqua, Total, Ades, dll sekadar pelengkap. Konsumsi utama, ya, air Jolotundo.

"Minum air Jolotundo dengan air biasa itu rasanya lain. Itu yang saya rasakan selama ini," begitu kesaksian Ida Ayu. Mau coba?

Dewi Sekardadu dan Nyadran Sidoarjo




Upacara tradisional nyadran yang dilakukan masyarakat nelayan di Sidoarjo, setiap tahun, dipusatkan di makam GUSTI AYU DEWI SEKARDADU, Dusun Kepetingan, Desa Sawohan, Kecamatan Buduran. ABDUL ROHIM alias Pak DUROHIM menceritakan legenda GustiAyu Dewi Sekardadu kepada saya.

Pria yang ramah ini tidak bisa berbahasa Indonesia dan tak bisa baca-tulis, tapi ingatannya luar biasa. Ceritanya runut dan detail.

“Saya sudah hafal di luar kepala," ujar Durohim kepada saya di kompleks Makam Dewi Sekardadu, Kepetingan, Sidoarjo.

Durohim ibarat pemandu wisata di pantai wisata utama Kabupaten Sidoarjo itu. Begitu tahu akan ditanya legenda singkat Dewi Sekardadu, Durohim sangat antusias. Ceritanya detail, khas ahli dongeng atau penutur cerita rakyat tempo doeloe.

"Dewi Sekardadu itu bukan orang sembarangan. Beliau ibundanya Raden Paku, salah satu wali penyebar agama Islam," tuturnya, ramah.

Cerita bermula dari Tanah Blambangan, Banyuwangi, pada masa Prabu MINAK SEMBUYU. Dewi Sekardadu, putri Minak Sembuyu yang cantik jelita, diserang penyakit sangat berat. Segala macam upaya sudah dicoba, tabib-tabib terkenal sudah bekerja, tapi sia-sia. Pada tahun 1362 (versi Pak Durohim), kebetulan Syech MAULANA ISKAK (asal Yaman) tengah menyebarkan Islam di Pulau Jawa.

Waktu itu, ujung rezim Majapahit, penduduk tanah Jawa memang belum banyak memeluk Islam. Kebetulan Maulana berada di Blambangan. Raja yang putus asa akhirnya bikin sayembara. Siapa yang bisa menyebuhkan Dewi Sekardadu akan dijadikan mantu kalau masih muda. Kalau sudah tua, jadi kerabat kerajaan. Maulana, sang ustad, ikut sayembara, dan akhirnya sukses menyembuhkan Dewi Sekardadu.

Syech dari Timur Tengah itu pun menikah dengan DEWI SEKARDADU BINTI MINAK SEMBUYU. "Tapi Raja nggak suka Maulana karena nggak mau jadi Islam. Itu membuat permusuhan di antara mereka. Tegang terus," tutur Pak Durohman.

Diserang terus oleh Minak Sembuyu membuat Maulana pamit mundur kepada istrinya. Saat itu Dewi sudah hamil tujuh bulan. Kalau lahir laki-laki, pesan Maulana, namakan dia RADEN PAKU. Syech Maulana kemudian meninggalkan Blambangan, pergi berdakwah di tempat lain. "Tahun 1365 Sunan Giri alias Raden Paku lahir," kata Durohim.

Raja Blambangan murka. Ia khawatir Raden Paku bakal merusak wibawanya. Karena itu, ia memutuskan untuk membuang cucunya ini ke laut. Para prajurit memasukkan si bayi ke dalam peti dan mengapungkannya. Mengetahui anak tercintanya dibuang ke laut, Dewi Sekardadu menceburkan diri ke laut mengejar-ngejar anaknya. Sia-sia. Gelombang terlalu besar, dan apalah kemampuan berenang manusia.

Singkat cerita, kata Durohman, jasad Dewi Sekardadu dan peti pembawa Raden Paku harus berpisah. Dewi Sekardadu dibawa ke arah Sidoarjo, sementara peti berisi bayi Raden Paku nyasar ke Gresik.

Kebetulan, pada 1365 itu, ada nelayan Balongdowo [Sidoarjo] tengah mencari kerang di perairan Selat Madura. Kaget sekali mereka melihat jasad perempuan cantik yang digotong ramai-ramai oleh ikan keting. Jasad itu terdampar di pantai, dan dikebumikan secara terhormat oleh warga. Tempat itu akhirnya dinamakan KETINGAN alias KEPETINGAN.

"Jadi, Ibu Dewi Sekardadu itu, ya, dikubur di sini. Di tempat kita duduk sekarang," ujar Durohman kepada saya.

SEPERTI babat atau cerita rakyat lainnya, urusan makam DEWI SEKARDADU memang ada beberapa versi. Konon, makam ibunda Sunan Giri ini ada di tiga, bahkan tujuh tempat. Abdul Rohim alias Pak Durohim, penjaga makam Dewi Sekardadu di Kepetingan, tenang-tenang saja.


"Nggak apa-apa, yang penting makam Dewi Sekardadu yang benar itu, ya, di sini," katanya.

Berdasarkan kisah turun-temurun, yang sangat ia kuasai, Durohim hakul yakin putri Raja Blambangan, Prabu Minak Sembuyu, ini hanyut di laut dan digotong oleh ikan keting [asal mula nama Dusun Ketingan atau Kepetingan] dan dimakamkan di sana.

Kenapa makam Dewi Sekardadu ada di Kepetingan dan Gresik? Durohim punya pendapat. Suatu ketika, tahunnya tidak jelas, kerabat dan para santri Raden Paku alias Sunan Giri mengetahui bahwa jenazah Dewi Sekardadu, ibunda Sunan Giri, dimakamkan di Kepetingan. Mereka pun datang untuk mengambil jasad itu.

"Tapi tidak diambil fisiknya. Mereka pakai cara gaib. Jadi, yang dibawa ke Gresik itu sukmanya. Jasadnya tetap di Ketingan. Kalau mereka bilang makam Dewi Sekardadu di Gresik, ya, bisa benar. Di sini juga benar. Saya ini kan keturunan orang Gresik juga, jadi tahu persis ceritanya," ujar Durohim dalam bahasa Jawa halus, yang diterjemahkan Haji Waras, ketua komunitas nelayan Bluru Kidul, Sidoarjo.

Bagi nelayan Ketingan, Balongdowo, dan Bluru Kidul, kontroversi seputar lokasi makam Dewi Sekardadu tidak begitu penting. Yang paling penting, Dewi Sekardadu bukan orang sembarangan karena ia ibunda Sunan Giri, salah satu wali penyebar Islam di Jawa.

Karena itu, ritual nyekar atau ziarah di makam Dewi Sekardadu menjadi tradisi turun-temurun para nelayan di Sidoarjo. Upacara nyadran senantiasa menjadi momen untuk mengucap syukur kepada Tuhan atas hasil laut yang telah mereka nikmati. Mereka juga berdoa, menggelar pengajian di kompleks makam Dewi Sekardadu, agar rezeki dari laut selalu dilimpahkan kepada para nelayan. "Tempatnya bagus untuk berdoa, sekaligus syukuran," kata Haji Waras.

Saya beberapa kali ikut upacara nyadran yang sangat kental dengan nuansa tradisi Jawa dan Islam. Sebuah kombinasi atau inkulturasi yang sangat harmonis. Para nelayan, khususnya ibu-ibu, menyiapkan tumpeng--semakin banyak semakin baik--untuk dilarung di beberapa tempat penting di sepanjang sungai.

Sebagian tumpeng dibawa ke kompleks makam Dewi Sekardadu. Setelah pengajian, mendengar khotbah cukup panjang, makanan rakyat itu pun dinikmati bersama. Warga Ketingan, sebagai tuan rumah dan 'penjaga' makam Dewi Sekardadu menerima para tamunya dari Balongdowo atau Bluru Kidul dengan ramah. Mereka memang sama-sama orang laut.

Dari kompleks makam, proses perahu dilanjutkan ke tengah laut, dekat Selat Madura. Diyakini, zaman dulu jasad Dewi Sekardadu ditemukan oleh para nelayan Sidoarjo, yang tak lain nenek-moyang para nelayan di Sidoarjo sekarang. Mereka melakukan napak tilas itu dengan mempersembahkan tumpeng utama di situ. Lalu, pulanglah rombongan perahu nyadran untuk melanjutkan acara di kampungnya.

Begitulah. NYADRAN alias TASYAKURAN LAUT alias PETIK LAUT selalu menjadi hajatan meriah bagi keluarga besar nelayan Sidoarjo. Sebuah tradisi orang kampung untuk bersyukur kepada Allah yang Mahabesar.

Kasus Playboy Cermin Hegemoni USA


[Pemimpin Redaksi Playboy yang jadi korban hegemoni budaya Amerika Serikat. FOTO: Reuters.]

Oleh Lambertus L. Hurek

Majalah Playboy Indonesia [selanjutnya Playboy] sulit ditemukan di Surabaya. Bahkan, boleh dikata, sejak edisi perdana majalah ini tidak dijual di pasar. Agen, loper, pengecer takut. “Mending nggak jual ketimbang dirazia, Mas,” ujar Syamsul Hidayat (24 tahun), penjaga kios koran dan majalah di kawasan Aloha, kepada saya.

Karena itu, bisa saya pastikan, sejak terbit pada awal Januari 2006 sangat sedikit warga Jawa Timur yang pernah membaca Playboy. Termasuk wartawan. Banyak teman wartawan, pengamat, akademisi, mahasiswa, yang banyak bicara soal Playboy, kecam sana-sini, tapi belum pernah lihat majalahnya. Sampai sekarang.

Saya sedikit beruntung. Secara tak sengaja saya menemukan Playboy di sebuah kios di Sidoarjo. Edisi Februari 2007, harga Rp 50 ribu. Saya langsung beli untuk mengaji isinya. Apa benar Playboy [Indonesia] majalah porno? Isinya merangsang birahi? Saat libur akhir pekan, saya manfaatkan waktu untuk membaca media waralaba dengan pemimpin redaksi ERWIN ARNADA ini.

Ada foto-foto model DERIELL JAQUELINE bertajuk ‘Sleeping Beauty’. Deriell pakai busana meski minim. Tidak telanjang bulat macam Playboy di Amerika Serikat atau negara-negara Barat. Juga model Lucky Angela berpose di pantai.

Posenya tak jauh berbeda dengan model-model di majalah hiburan lain. Bahkan, masih kalah panas dengan model-model di tabloid syur sejenis media-media di lingkungan Grup Top, pimpinan SINGGIH SUTOYO. Playboy [Indonesia] ini, ya, macam majalah Popular atau Matra yang bukan waralaba.

Dicetak di atas kertas luks, Playboy juga menampilkan wawancara panjang (sembilan halaman) dengan Tukul Arwana, pelawak yang jadi pemandu acara Empat Mata di Trans7. Sangat menarik percakapan antara dua wartawan Playboy [Soleh Solihun dan Alfred Ginting]. Kemudian bahasan tentang ‘Panji 666’ atawa pemujaan setan. Artikel panjang menampilkan beberapa sumber, termasuk Fabie Sebastian Heatubun, pastor serta dosen Universitas Parahyangan Bandung.

Tataan halaman, gambar ilustrasi, bagus sekali. Lalu, liputan panjang Linda Christanty [diperkaya fot-foto Hotli Simanjuntak] berjudul Orang-Orang Ditiro. Ini reportase yang ditulis dengan gaya sastrawi, seperti artikel-aetikel di majalah Pantau [almarhum]. Laporan 10 halaman ini sangat berwarna, manusiawi, menampilkan sisi-sisi menarik yang tidak ditemukan di media lain.

Hanya penulis-penulis sekaliber Linda Christianty yang mampu bikin tulisan bagus macam ini. Terus terang, selama menjadi wartawan di Surabaya, saya belum pernah membaca feature sebagus ini. Playboy beruntung mendapat kontribusi liputan-liputan bernas.

Lha, lalu kenapa Playboy begitu kontroversial? Pemimpin redaksinya, Erwin Arnada, dituntut hukuman dua tahun penjara? Kantornya di Jakarta dirusak? [Sekarang Playboy bermarkas di Jalan Tukad Citarum 999 XL Panjer, Denpasar. Telepon: 0361-758671, 763981.] Kenapa setiap kali sidang, ratusan anggota Front Pembela Islam unjuk rasa besar-besaran?

Saya rasa, persoalannya bukan lagi di isi, melainkan citra.

Playboy sejak dulu identik dengan media porno. Foto-foto telanjang. Model-model berbusana minim. Merayakan hedonisme tubuh. Maka, kalaupun Erwin dan pengelola Playboy [Indonesia] menyesuaikan isi majalah dengan nilai-nilai Indonesia, tidak ada gambar telanjang, ya, tetap saja citra mesum ini tidak hilang. Apa pun penjelasan Erwin dan Ponti, saya yakin, tak akan memuaskan FPI.

Andai saja majalah bulanan itu diganti, tidak pakai nama Playboy, saya yakin Erwin Arnada tidak perlu berlelah-lelah menghadapi proses hukum. Kasus Playboy ini, kalau mau jujur, bukan lagi perkara isi majalah, melainkan semata-mata pengadilan citra majalah yang didirikan oleh Hugh M Hefner ini. Tidak lebih.

Orang Indonesia, kalau mau jujur, sebetulnya sudah lama hancur secara budaya. Penjajahan budaya oleh Amerika sudah berlangsung sejak awal Orde Baru, sistematis, menembus ke bawah sadar orang Indonesia. Mau bukti?

Anak-anak muda kita sangat tergila-gila dengan berhala-berhala pop Amerika. Hiburan ala Amerika. Cara berbahasa pun gado-gado: bahasa Indonesia dicampur melayu betawi, bahasa Inggris-Amerika, secara serampangan. Kacau! Rambut dan matanya disesuaikan dengan bule Amerika. Semua yang berasal dari Amerika, termasuk sampah-sampah budaya, ditelan mentah-mentah.

Nah, Erwin Arnada serta Ponti Corolus sejatinya tak lebih dari korban hegemoni budaya Amerika di tanah air. Daripada capek-capek bikin majalah baru, yang belum tentu laku, kenapa pinjam saja merek Amerika yang sudah mendunia?

Ini murni logika pedagang. Erwin dan Ponti tahu benar selera orang Indonesia, yang suka intip gambar bugil, kemudian menerbitkan Playboy. Para agen kapitalis Amerika niscaya bergeming meski muncul penentangan, unjuk rasa, sehebat apa pun.

Saya melihat orang-orang FPI hanyalah segelintir orang yang berani terang-terangan melawan hegemoni nilai-nilai Amerika [American minded] yang sudah begitu merasuk ke hati bangsa kita sejak 1966. Ketika jutaan remaja kita tergila-gila dengan semua yang berbau Amerika, merayakan hegemoni Amerika di sini, maka protes FPI serta ulama konservatif [meminjam istilah Tukul Arwana]: tidak relevan dan signifikan.

Di sini, Playboy beroleh begitu banyak pendukung meski tidak berani terbuka seperti FPI.

Ah, malang nian bangsaku!

Sepanjang hidupnya Indonesia tak pernah lepas dari belenggu penjajahan. Selepas penjajahan Belanda dan Jepang, kita dijajah secara budaya oleh Amerika dan antek-anteknya. Begitu halusnya hegemoni budaya Amerika, kita sudah tak sadar telah mengadopsi american minded, american language, american style, american culture... dalam kehidupan sehari-hari. Penjajahan budaya jauh lebih parah dampaknya.

Mau bukti? Gampang saja. Berapa banyak anak muda di Pulau Jawa yang senang wayang kulit, ludruk, ketoprak? Berapa banyak grup kesenian tradisional yang bertahan? Bagaimana dengan kemampuan berbahasa daerah anak-anak muda sekarang?

Saya membaca kasus Playboy ini dalam konteks penjajahan budaya Amerika.

24 March 2007

Suwarni Perempuan Perkasa


Oleh Lambertus L. Hurek

Kami, rombongan Grup JAWA POS Biro Sidoarjo secara tak terduga bertemu dengan Suwarni di Dusun Mergosari, Kecamatan Tarik. Di perkebunan tebu, kampung pelosok, jalan mulus, tiba-tiba salah satu sepeda motor bocor bannya. Mana ada tukang tambal ban?

Menuntut motor sambil bercanda, sekitar tiga kilometer, kami bertemu SUWARNI. "Bocor ya? Mau ditambal?" ujar Warni. Tentu saja. Dalam sekejap, dia keluarkan perkakas tambal ban... dan mulai bekerja. Sangat lincah!

"Saya memang tukang tambal ban. Saya sudah menekuni pekerjaan ini sejak 1993. Kerja apa saja, pokoke halal," ujar wanita asli Tarik, Sidoarjo, lahir tahun 1963 ini. Tak sampai 30 menit, pekerjaan Warni rampung.

"Untung ada Ning Warni, kalau tidak kita harus tuntun ke Mojokerto," komentar Agus, loper koran.

Suwarni ternyata bukan hanya jago tambal ban, yang kondang di kawasan Tarik hingga Mojokerto. Ibu tiga anak ini juga sehari-hari bekerja sebagai tukang ojek. Sehari-hari Warni melintas di jalan-jalan kampung mulai Tarik, Mojokerto, Prambon, Tulangan, Tanggulangin, hingga Sidoarjo. "Tergantung konsumenlah. Kita sih senang saja. Namanya juga cari makan," tuturnya, lembut.

Menjadi tukang ojek, kemudian tambal ban, dilakoninya saat ia berusia 30 tahun. Berbekal kepiawaian mengemudikan motor, Warni mencoba menekuni ojek, dunia laki-laki. (Sampai sekarang Warni merupakan satu-satunya tukang ojek wanita.) Tentu saja, muncul banyak suara sumbang, atau sekadar heran, kok wanita jadi tukang ojek rangkap tambal ban? Bukankah itu pekerjaan laki-laki?

Namun, Warni tenang saja. "Biarkan aja mereka bicara. Saya kan bekerja untuk kebutuhan keluarga. Kalau saya nggak kerja, apa mereka bantu keluarga saya?"
Memang, di awal-awal menekuni ojek plus tambal ban Warni dianggap aneh, nyeleneh, nggak umum. Tapi, lama kelamaan, warga Krian dan sekitarnya terbiasa juga melihat Warni berkiprah di jalan raya. Menurut dia, yang heran melihatnya sebagai tukang ojek dan tambal justru orang-orang 'luar'.

Secara tak langsung, meminjam ungkapan kalangan feminis, Warni diam-diam berhasil melakukan dekonstruksi budaya patriarkhi yang sangat kuat di masyarakat Indonesia. Ning Warni membuktikan bahwa pembagian pekerjaan atas dasar jenis kelamin (wanita urusan domestik, laki-laki urusan publik) sebetulnya tidak relevan di zaman globalisasi ini.

Ada keuntungan tersendiri buat Ning Warni. Sebagai wanita, ia justru lebih disukai kaum hawa yang ingin menggunakan jasa ojek. Wanita membonceng wanita jelas lebih diterima di kawasan pedusunan. Wanita bagaimanapun juga punya kendala psikologis kalau dibonceng ojek pria kendati sudah kenal.

"Lebih sreg kalau dibonceng Ning Warni. Kita kan sama-sama wanita, jadi enak kalau di jalan," ujar seorang Siti Fatimah, wanita berjilbab.

Bagi penganut Islam taat ini, laki-laki membonceng wanita yang bukan 'muhrim' secara teologis tidak bisa diterima. Jika wanita ojek seperti Ning Warni diperbanyak, justru lebih bagus.

Warni mengaku beberapa kali membuat penumpangnya terkecoh. Memakai kaos oblong, celana panjang, helm standar, si penumpang (baru) itu tidak sadar kalau si tukang ojek yang ditumpanginya perempuan. Di tengah jalan, ketika berdialog, si penumpang terkejut karena suara tukang ojek ternyata perempuan.

"Maaf, sampayen ini laki-laki apa perempuan?" tanya si penumpang. Lantas, Warni buka helemnya, memperlihatkan wajah serta rambut panjangnya. Ger-geran pun terjadi. Si ojek ini ternyata wanita tulen, bukan waria, bukan pria.

Swarni mengaku kaget karena keberaniannya menekuni 'profesi laki-laki' ternyata mendapat perhatian orang lain. Tiba-tiba saja ada panitia KARTINI AWARD (Hotel Surabaya Plaza, dulu Hotel Radisson) datang menghubunginya di Dusun Dusun Mergosari, Kecamatan Tarik.

Waktu itu Ning Warni, sapaan akrabnya, tengah menggeluti profesinya, tambal ban.
Sembari menunggu penumpang (ojek). Warni dianggap memenuhi kriteria Kartini Award, sehingga layak mendapat penghargaan. Acara digelar di Surabaya, di tengah-tengah hotel berbintang. "Saya kaget sekali, kok dapat penghargaan. Prestasi saya apa? Beneran apa main-main," kenangnya.

Sang panitia ternyata bisa meyakinkan Warni. Akhirnya, ibu tiga anak itu (SRI IRAWATI, JOKO BASUKI, RIA AGUSTINA) datang ke Surabaya pada Hari Kartin. Benar. Ning Warni, yang sejak 1993 hanya beredar di pelosok Tarik, tiba-tiba menjadi bintang acara. Dielu-elukan, dipuji sebagai wanita yang bisa mewujudkan cita-cita Raden Ajeng Kartini.

"Lumayan, hadiahnya macam-macam. Uang tunai, piagam, serta bingkisan lain," tutur istri Cak Otheng, dedengkot ludruk di kawasan Tarik.

Acara Kartini Award itu diliput banyak wartawan dari berbagai media lokal maupun nasional, termasuk televisi. Maka, wajah Warni pun masuk koran, majalah, tabloid, televisi. Warga Dusun Mergosari pun terkaget-kaget menyaksikan sosok Warni di media massa. Kok bisa tukang ojek dan tambal ban diliput kayak selebriti saja? Warni sendiri hanya tersenyum.

Ia tetap sederhana, melayani konsumen (ojek dan tambal ban) dengan ramah, apa adanya. Tak ada yang berubahpada diri seorang Ning Warni kendati sempat diliput luas media massa. Warni menganggap Kartini Award, liputan media massa, apresiasi warga Surabaya, sebagai dukungan moral baginya untuk terus menekuni profesi 'laki-laki' ini.

Syukur-syukur, makin banyak wanita yang jadi tukang ojek, tambal ban, tentara, polisi, wartawan, seniman... profesi apa pun. Profesi apa pun, katanya, bisa dilakoni kaum perempuan dengan hasil yang tak kalah dengan kerja laki-laki. Dus, tak perlu ada diskriminasi antara laki-laki dan perempuan. "Yang penting, kita tekuni pekerjaan kita."

Oh, ya, ada satu lagi profesi yang ditekuni Warni. Ia pemain Ludruk GEMA TRIBRATA, grup seni tradisi yang dibina Polda Jawa Timur. Cak Otheng, suaminya, merupakan pemimpin ludruk yang bermarkas di Dusun Mergosari, Kecamatan Tarik.

"Sampai sekarang saya masih main meskipun akhir-akhir ini tanggapan agak kurang. Ludruk kan main malam, sehingga nggak mengganggu pekerjaan tambal ban dan ojek," ujar Warni seraya tersenyum. [Karena main ludruk itulah, Suwarni lebih dikenal sebagai Ning Warni. Semua pemain ludruk memang menggunakan sapaan akrab 'Cak' untuk pria dan 'Ning' untuk wanita.]

Ketika Gema Tribrata sepi tanggapan, Ning Warni dan Cak Otheng tak kehabisan akal. Mereka membentuk grup campursari daam jumlah kecil. Ini penting untuk menyiasati pasar yang sulit menanggap grup besar seperti Gema Tribrata yang 50-60 orang. "Saya dipasang sebagai pelawak. Main campursari, mengisi wayang kulit, juga bisa," tuturnya, bangga.

Menurut Ning Warni, wanita yang menekuni beberapa pekerjaan bernuansa laki-laki (kecuali ludruk dan campursari) butuh niat, kemauan, sangat keras. Sebab, ia pertama-tama akan menghadapi tantangan dari lingkungan terdekat, keluarga, tetangga, masyarakat. Harus berani menghadapi realitas sosial itu, tidak terpengaruh oleh suara-suara miring hingga cemoohan. Kalau sudah terbiasa, maka suara-suara sumbang itu akan hilang dengan sendirinya.

Hanya 'wanita perkasa' seperti Ning Warni yang bisa begitu.

23 March 2007

Si Doel di Lumpur Lapindo




MENGGUNAKAN mobil Land Cruiser warna hitam, Jumat (23/3), sekitar pukul 14.15 WIB, Rano Karno (47) bertandang ke kawasan lumpur panas, Kelurahan Jatirejo, Kecamatan Porong. Pria berkumis tebal ini didampingi Ketua Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jawa Timur, Salamul Hadi Nurmawan. Kontan saja, warga menyambut hangat kedatangan aktor papan atas itu.

"Lho, itu kan si Doel," teriak Sri yang menggandeng anaknya di atas tanggul penahan lumpur Jatirejo.

"Iya benar, itu Bang Doel! Mana Mandra? Kok tidak kelihatan?" sambung Syamsul, warga lain yang kebetulan siang kemarin ikut 'menikmati' lumpur panas.

Tidak berselang lama, puluhan pengunjung, tukang ojek, penjual VCD lumpur, sopir dump truk, yang sedang istirahat berebut mengerumuni anak almarhum aktor kawakan Soekarno M Noer tersebut. Pria yang lahir di Jakarta, 8 Oktober 1960, itu pun senyam-senyum.

"Apa kabar Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu semua?" sapa Rano Karno.

Adik kandung Tino Karno itu lalu menyalami puluhan warga yang mengerumuninya.

"Bang Doel, boleh saya foto bareng?" kata Jono, salah satu tukang ojek, warga Desa Jatirejo, lalu merangsek mendekati Rano Karno.

Tentu saja, pemeran si Doel di sinetron 'Si Doel Anak Sekolahan' itu menyambut dengan senang hati. Warga dan pengunjung lain yang kebetulan berada di atas tanggul Jatirejo pun berebut foto bareng dengan Si Doel.

"Ayo, ayo foto bersama, mumpung saya ke sini," ajak Rano Karno dengan ramah.

Setelah acara foto bersama, Rano Karno yang kini tengah mempersiapkan diri sebagai calon wakil gubernur DKI Jakarta ini memberikan pendapat seputar bencana lumpur panas. Menurut dia, semburan lumpur panas di kawasan Porong yang berlangsung sejak 29 Mei 2006 itu tidak lepas dari kesalahan manusia (human error).

Manusia tidak memerhatikan lingkungannya. Manusia mengeksploitasi alam secara berlebihan.

Karena itu, aktor yang mulai terjun film pada 1972--lewat Si Doel Anak Betawi--ini meminta semua pihak untuk intropeksi. Mengapa lumpur terus meluap? Mengapa belum ada tanda-tanda berhenti?

"Ini kesalahan semua pihak. Kita semua harus intropeksi diri dan jangan saling menyalahkan," ujarnya.

Menurut Rano Karno, yang terpenting saat ini, warga korban lumpur panas tidak boleh berdiam diri. "Kehidupan harus tetap berjalan. Jangan karena lumpur akhirnya orang tidak bekerja dan hanya berpangku tangan," begitu petuah si Doel.

Rano Karno mengaku datang ke kawasan bencana lumpur panas di Porong dalam kapasitas sebagai koordinator Global Rescue. Organisasi nirlaba yang berdiri pada April 2003 ini bergerak di bidang penanganan korban bencana alam.

"Saya akan bicara dengan Kementrian Lingkungan Hidup. Kita ambil hikmah peristiwa ini, dan ke depan jangan sampai terjadi hal seperti ini lagi," tandas Rano Karno.

Ihwal nasib ribuan korban lumpur yang hingga kini masih belum mendapat kejelasan ganti rugi rumah dan lahannya yang tenggelam, aktor yang terkenal lewat film 'Gita Cinta dari SMA' itu tak bisa memberikan solusi konkret. Dia hanya meminta pemerintah agar memerhatikan nasib warga korban.

"Segera buat keputusan. Jangan dibiarkan berlarut-larut," papar Rano Karno. (*)