03 February 2007

Tukul Cengengesan

Jumat, 2 Februari 2007.

Jakarta Raya masih tenggelam. Genangan air 2,5 meter lebih di berbagai tempat. Ribuan rumah terendam. Ribuan warga lapar. Orang berebut mencari selamat. Barang-barang hanyut. Saya lihat di televisi, Jakarta yang metropolitan itu berubah menjadi danau raksasa nan kotor. Mengerikan!

Banjir lima tahunan, kata sejumlah warga, sejak 1 Februari 2007 membuat kota yang kelewat padat penduduk itu terpuruk. Pesona ibukota rasanya lenyap dalam sekejap. “Maka, lebih baik kita tidak tidak tinggal di Jakarta. Enak di daerah: nggak sumpek, nggak macet, udara bersih, nggak bising. Jakarta tuh kayak neraka,” ujar Frans, teman saya di Surabaya.

Jumat malam, di saat ratusan ribu warga Jakarta (dan sekitarnya) sengsara, program televisi kita sama saja. Business as usual! Berita seputar banjir memang ada, tapi tak ada upaya dari pengelola televisi untuk sedikit berempati pada korban banjir.

Acara cekakan, cengegesan, ala TUKUL ARWANA jalan terus. Malam itu, Tukul membahas demam berdarah di TRANS7 dengan gayanya yang cengengesan. Huahua... hehehe.. huaaa... Konyol banget!

Tukul dan kawan-kawan di studio TRANS7 ibaratnya berada di planet lain. Bukan di Jakarta. Saya tertegun: Inikah potret wajah kita, orang Indonesia? Bangsa yang kehilangan empati pada ribuan korban, justru di depan mata sendiri?

Sering kali korban bencana alam malah dijadikan bahan olok-olok di televisi. Suatu ketika ada artis nyeletuk: “Silakan ke Aceh karena di sana banyak janda. Suaminya mati kena tsunami.” Gila benar!

Tukul Show atau EMPAT MATA di TRANS7 setiap malam, kecuali Sabtu/Minggu, sangat disukai warga Surabaya dan sekitarnya. Tukang becak, pegawai negeri, buruh pabrik, mahasiswa, wartawan, pengusaha, ibu rumah tinggi, sampai bos-bos, saya lihat tertawa ngakak, melihat acara cengengesan ala Tukul.

Saya geleng-geleng kepala melihat begitu banyak orang ‘cerdas’ di Surabaya ternyata doyan Tukul Show.

Karena bergaul dengan beberapa praktisi ludruk di Jawa Timur, saya hafal betul jurus-jurus lawakan tradisional ala Tukul. Itu slapstick khas Srimulat. Lawakan macam ini cocok untuk penonton ludruk di desa yang rata-rata berpendidikan rendah. Slapstick tidak menuntut kecedasan tinggi dari si pelawak. Cukup konyol-konyolan, goblok-goblokan, jelek-jelekkan, timpuk-timpukkan...

Rumus lawakan ludruk Jawa Timur gampang saja. Harus ada ‘bola’ (pelawak satu) yang siap ditendang atau dipukul pelawak tiga. Pelawak dua harus kasih umpan. Umpan harus enak, sehingga orang ketiga lebih gampang smash.

Nah, karakter pelawak ‘bola’ harus jelek, konyol, gila-gilaan, aneh-aneh. Makin jelek rupanya makin baik. Si Tukul ini berperan sebagai ‘bola’ sekaligus pengumpan. Bintang tamu plus penonton jadi tukang pukul. Penonton tertawa karena si ‘bola’ di-smash keras-keras.

Gerrrrrr!

“Sejak zaman Belanda, rumus lawakan ya kayak begitu. Nggak ada yang baru,” jelas SATIMO, pelawak grup ludruk yang biasa main di Sidoarjo dan Surabaya, kepada saya.

Satimo ini selalu kebagian jatah tukang pukul (pelawak tiga). “Karena wajahku ganteng. Hehehe.... Orang kedua (bola) harus jelek banget, sehingga dilihat rupanya saja orang sudah tertawa. Kamu kayaknya cocok hehehe.” Sialan!

Saya sulit tertawa melihat Tukul Show. Guyonannya tidak lucu. Justru yang terdengar adalah kata-kata kasar, menjelek-jelekkan fisik, penghinaan, sindiran kasar, kata-kata bernuansa jorok.... Tukul sebagai ‘bola’ sengaja mengeksploitasi ‘kejelekan’ fisiknya, ‘sok Inggris’, sebagai komoditas tawa. Dan penonton televisi tertawa senang. Katarsis! Lupa bahwa di Jakarta Raya banjir besar, bencana alam terjadi di mana-mana.

Saya beberapa kali bercakap dengan orang Barat yang lama tinggal di Indonesia, fasih bahasa Indonesia. Dia heran melihat acara-acara televisi kita yang cengengesan. Orang tertawa-tawa tanpa alasan kuat. Pelawak cekakakan, konyol, dan sebetulnya tidak bisa melucu. Hanya mengandalkan slapstick itu tadi.

“Engkau bisa menjelaskan kenapa sedikit-sedikit orang tertawa?” kata John, warga Australia. Saya juga mengalami hal sama dengan John. Bagaimana bisa jawab? Akhirnya, saya karang-karang jawaban. Sekenanya saja.

Humor itu penting, tapi harus cerdas. Dan itu bukan humor ala Tukul yang sangat slapstick. Komedian yang baik, saya kira, dituntut mampu memberikan makanan rohani kepada penikmatnya. Saya menilai MR BEAN sebagai komedian bagus. Aktingnya bikin orang tertawa, sementara dia tenang saja.

Saya merindukan acara televisi macam OPRAH SHOW di METROTV. Bagi saya, OPRAH WINFREY adalah komedian cerdas dan luar biasa tanpa harus berkonyol-konyolan kayak Tukul.(Lebih konyol lagi kalau televisi-televisi lain ikut-ikutan membuat program sejenis Tukul Show.)

Saya pun salut dengan KICK ANDY yang makin maju. Suatu ketika ANDY F NOYA, host, mewawancarai XANANA GUSMAO. Di akhir acara, presiden Timor Leste ini mendapat cindera mata lukisan dari METROTV. Xanana kasih sarung tenun khas Timor Leste.

Sambil tersenyum Xanana berkata: "Saya hanya bisa kasih ini (sarung) karena kami negara baru, belum ada pelukis.”

Saya tertawa sendiri di kamar, keras-keras. Andy F. Noya pun terbahak. Bagi saya, Xanana seorang komedian yang cerdas.

No comments:

Post a Comment