20 February 2007

Timnas Panik, Bola Beton Trial and Error


Tim Nasional Penanggulangan Semburan Lumpur di Sidoarjo makin pusing. Setelah berbagai teknik untuk menghentikan semburan gagal, kini teknik high density chained balls (HDCB) alias bola beton pun terancam gagal.

Timnas masih terkesan coba-coba alias trial and error dengan skenario HDCB. Buktinya, rencana untuk memasukkan bola-bola beton ke lubang semburan lumpur panas Lapindo Brantas Inc terus tertunda-tunda. Rencana timnas mengaplikasikan HDCB hari ini (20/2/2007), lagi-lagi, gagal.

Ketua Timnas Basuki Hadimuljono mengatakan, pihaknya terpaksa menunda uji coba bola-bola beton karena kendala teknis. Menurut dia, uji coba tersebut baru akan dilakukan besok. Dijamin tidak akan ditunda lagi? Belum jelas.

Basuki berkilah, hingga Senin (20/2/2007) petang pembuatan menara untuk memasukkan bola-bola beton belum dimulai karena masalah teknis. “Sebab, ada kendala teknis di tanggul cincin,” ujar Basuki Hadimuljono kepada wartawan di Sidoarjo, kemarin.

Dijelaskan, jalan akses masuk ke calon lokasi menara HDCB masih becek akibat guyuran hujan dalam beberapa hari terakhir. Selain itu, tanggul cincin di sisi timur yang berada di dekat ruas Tol Gempol-Porong juga terancam ambles akibat luberan lumpur. “Insya Allah, kita mulai masukkan bola-bola itu secepatnya,” ujar Basuki.

Dia menepis anggapan bahwa pihaknya maju-mundur dalam menerapkan skenario bola beton yang digagas pakar fisika dari Institut Teknologi Bandung (ITB) itu. Hanya saja, diakui Basuki, teknologi HDCB belum pernah diterapkan di negara mana pun di dunia. Sehingga, jika eksperimen di Porong ini berhasil, maka HDCB bakal menjadi alternatif terbaru dalam upaya menjinakkan semburan lumpur.

Di lapangan hanya terlihat beberapa tiang besi yang masih tergeletak di sekitar lokasi semburan lumpur panas. Menara dan perangkat untuk mengantarkan bola-bola beton ke dalam lubang semburan belum berdiri sama sekali. Sedangkan peralatan berat lainnya pun belum seluruhnya dimobilisasi ke dekat lokasi pemasangan menara bola beton.

Yang sudah berada di dekat pusat semburan adalah besi pemberat menara. Namun, Basuki meyakinkan masyarakat bahwa timnas tetap berkomitmen untuk menerapkan teknologi bola beton (HDCB) untuk menjinakkan semburan lumpur panas di Porong yang kian liar. "Kita tidak main-main,” tegas Basuki.

Di tempat terpisah, Humas Timnas, Rudi Novrianto, mengatakan, pihaknya akan tetap berusaha tepat waktu dalam mempersiapkan penempatan bola-bola beton ke lubang semburan. Meskipun alat-alat berat belum seluruhnya dimobilisasi, dia optimistis semuanya akan bisa diselesaikan.

"Memang belum seluruh peralatan beratnya ada di sini. Namun, saya yakin bahwa ini akan dikerjakan sesuai dengan jadwal," ujar Rudi, diplomatis.

Menurut dia, pemasangan menara hanya butuh waktu satu hari saja. Begitu menara terpasang, maka bola beton bisa segera dimasukkan. "Doakan saja semuanya lancar dan tidak ada kendala, sehingga kita bisa segera mengetahui hasilnya. Sebenarnya persiapan sudah beres dan tidak ada masalah," tambahnya.

TENTANG BOLA BETON

Ketua Timnas, Basuki Hadimuljono, saat dengar pendapat dengan Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Senayan, Jakarta, Selasa (6/2/2007). Menurut Basuki, penempatan bola-bola beton ke lubang semburan lumpur di Porong ini merupakan temuan para pakar dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan sudah dikoordinasikan dengan timnas.

"Kami berharap teknologi ini dapat mengurangi semburan lumpur sampai 70 persen," ujar Basuki Hadimuljono.

Dia menepis anggapan masyarakat umum bahwa penempatan bola-bola beton itu bisa membuat semburan lumpur berbelok ke lokasi lain. "Kita sudah memperhitungkannya secara matang," tambahnya.

Teknologi untuk menjinakkan lumpur panas ini (killing mud softly) sebetulnya cukup sederhana. Bola-bola beton seberat 350-400 kilogram dijatuhkan di pusat semburan. Juru bicara Timnas Rudi Novrianto menjelaskan, satu untaian terdiri atas empat bola beton. Dua bola berdiameter 80 sentimeter, sedangkan dua yang lain 40 sentimeter. Satu untaian ada empat bola.

Nah, rangkaian bola-bola beton itu kemudian dimasukkan ke lubang di pusat semburan lumpur. "Kesulitannya memang menentukan titik semburan," ungkap Rudi.

Diharapkan, saat dijatuhkan nanti rangkaian bola-bola beton bisa jatuh persis di lubang semburan. "Untuk menjatuhkannya digunakan crane," jelas Rudi.

Timnas berharap, lumpur di pusat semburan bisa dihambat berkat hadirnya sekitar 2.000 bola tersebut. Karena lumpur 'sibuk' menghadapi ribuan bola, maka debit lumpur diharapkan bisa berkurang hingga 70 persen.

Sesuai dengan rencana, setiap hari dimasukkan 25 sampai 100 bola. Selanjutnya, digunakan sensor khusus yang dipasang di rangkaian bola-bola tersebut. Fungsi sensor untuk mengetahui tekanan dan arah bola. Pada tekanan tertentu, sensor akan terlepas dan naik sehingga bisa dipakai lagi.

1 comment:

  1. hasilnya apa bola beton? cuman habis2in duit aja. lumpurnya sih tetap aja.

    ReplyDelete