24 February 2007

Takrif 'Manusia Kambing' dari Sidoarjo



Takrif Ario (73) dari Desa Tulangan agak nyeleneh. Ke mana pun pergi, Takrif selalu ditemani DOLOG, domba kesayangannya. Ia pun dijuluki TAKRIF WEDHUS.

Si domba kesayangan TAKRIF ARIO ini berwarna putih, bulunya cukup lebat. Badannya lumayan berisi karena Takrif senantiasa memperhatikan makanan dan minumannya. Dalam acara apa pun, khususnya keramaian macam hajatan desa, si Dolog ini selalu menemani Takrif.

Takrif tentu saja menjadi pusat perhatian warga. "Biarkan saja orang mau bilang apa. Yang jelas, Dolog ini mau ikut saya ke mana-mana. Ditinggal di rumah, ya, dia nggak mau," ujar TAKRIF ARIO kepada saya di Tulangan, Kabupaten Sidoarjo.

Watak Dolog yang berbeda dengan kambing atau domba biasa ini memang bisa dipahami. Lahir 39 bulan lalu, ibunda Dolog langsung tewas karena gagal melahirkan. Sang ibu meregang nyawa demi menyelamatkan jabang bayi yang kemudian dikenal sebagai si Dolog. Takrif pun langsung berperan sebagai orang tua yang merawat dan membesarkan si domba.

"Saya namakan Dolog karena nggak punya ibu. Kayak JOKO DOLOG itulah," ujar pria yang tinggal di belakang Polsek Tulangan itu.

Mirip bayi manusia prematur, menurut Takrif, Dolog harus mendapat perawatan khusus yang cukup rumit. Harus ditempatkan di kotak, minum air tajin beras sebagai pengganti ASI domba. Takrif mengaku mendapat 'ilmu' dari sesama penggemar domba di Tulangan. Selama tiga bulan penuh Takrif dengan telaten memberikan tajin sebagai pengganti ASI.

"Alhamdulillah, umur 16 hari dia sudah bisa makan rumput dan ampas dedak," kata pria yang selalu mengenakan kaos oblong 'Pak Sakerah' plus kopiah.

Busana macam ini penting agar si Dolog lebih mudah mengenal dirinya. Begitulah. Dari empat domba peliharaannya, si Dolog memang memperlihatkan perilaku yang berbeda dengan binatang umumnya. Dolog lebih suka 'lengket' dengan Takrif Ario ketimbang sesama kambing. Takrif menganggap, watak ini sebagai buah kasih sayang, perhatian, serta pengorbanannya merawat Dolog, si anak yatim.

"Di rumah saya juga tidur bareng dengan Dolog. Pokoknya, harus selalu dekat dengan saya. Kalau nggak ketemu saya, dia stres, nggak bisa tenang. Makanya, saya kasihan kalau harus meninggalkan dia di rumah," ujar bekas sopir truk barang itu, bangga.

Sebetulnya, Takrif bisa saja 'memaksa' Dolog menjadi kambing sejati, berkumpul dengan sesama kambing di Tulangan. Stres satu dua hari, kemudian terbiasa dengan kawanan kambing. Tapi ini tidak dilakukan Takrif Ario. Kenapa?

Reputasi si Dolog yang sudah terkenal ke mana-mana, khususnya wilayah Sidoarjo, mengundang selera maling. Menurut Takrif, sudah beberapa kali binatang kesayangannya ini hendak dicuri kawanan maling. Saat maling mendekati kandang kambing di Tulangan, naluri si Dolog mulai bermain sehingga domba-domba di sana 'bernyanyi' keras-keras. Maling akhirnya kecut, lari tunggang-langgang.

Selain maling, kata Takrif, banyak warga yang berminat membeli si Dolog. Namun, hingga sekarang Takrif mengaku belum ada keinginan untuk melepaskan domba kesayangannya.

"Ditinggal di rumah beberapa jam saja saya pusing, apalagi dibeli orang. Saya dengan Dolog ini sudah menyatu, sulit dipisahkan. Dolog ini banyak membawa rezeki," tegasnya.

No comments:

Post a Comment