06 February 2007

Taipei International School di Sidoarjo



TAIPEI INTERNATIONAL SCHOOL DI SIDOARJO BERDIRI SEJAK 1995. SEKOLAH KHUSUS UNTUK ANAK-ANAK EKSPAT TAIWAN INI BERLOKASI DI PONDOK MASPION, DESA PEPELEGI, KECAMATAN WARU, KABUPATEN SIDOARJO, JAWA TIMUR. SISTEM PENGAJARAN, KURIKULUM... DISESUAIKAN DENGAN STANDAR TAIWAN.

"Sekolah ini kecil tapi cantik," ujar CHAO FU NIEN, kepala sekolah Taipei International School kepada saya di ruang kerjanya. Chao didampingi CHEN CHI SHIANG, wakil kepala sekolah, yang sama-sama masih sulit berbahasa Indonesia meski sudah lama bertugas di sini.

Menurut Chao Fu Nien, sekolah menengah pertama di Taipei, Taiwan, yang pernah ia pimpin, muridnya lebih dari 3.000 orang, dengan 176 guru. "Di sini (Sidoarjo) saya hanya punya sedikit murid. Guru-guru juga sedikit," ujar Chao dalam bahasa Mandarin, yang diterjemahkan oleh SURYANI, staf Taipei International School.

Perbandingan dengan sekolah di Taiwan jelas kurang pas. Namun, dibandingkan dengan sekolah-sekolah internasional lain di Jawa Timur, jumlah siswa Sekolah Taiwan ini sebenarnya lumayan banyak. Total siswa ada 84, mulai sekolah dasar hingga SMP. Sampai saat ini sekolah ini baru mencapai kelas 2 SMP. Mereka digembleng oleh 14 guru asli Taiwan, dan dua guru dan staf Indonesia.

"Saya termasuk salah satu dari dua orang Indonesia itu," papar Suryani seraya tersenyum.

Sekolah Taiwan ini ibarat organisme yang terus bertumbuh. Dimulai dengan hanya satu kelas, kemudian bertambah sejalan dengan kenaikan kelas para siswanya. Tahun depan, SMP di sekolah ini menjadi lengkap, dan akan dilanjutkan lagi sampai SMA. "Kita mengikuti perkembangan anak-anak saja," ujar Chao yang berkacamata itu.

Bagaimana riwayat Taipei International School? Chao menjelaskan, keberadaannya tak lepas dari kebutuhan warga negara Taiwan di Jawa Timur akan pendidikan anak-anaknya. Asal tahu saja, ekspat Taiwan cukup banyak tersebar di kota-kota industri Jawa Timur. Yang paling dominan adalah anak-anak bos dan karyawan PT CIWI KIMIA yang bermarkas di Mojokerto. Anak-anak mereka, tentu saja, kesulitan mengikuti pendidikan di sekolah-sekolah Indonesia karena berbagai kendala.

Selain kendala bahasa--orang Taiwan tergolong sulit mempelajari bahasa Indonesia--para ekspat itu sangat mobile. Lekas pindah dari suatu negara ke negara lain. Dalam kondisi begini, kata Chao Fu Nien, yang diperlukan adalah sebuah sekolah internasional dengan kurikulum Taiwan. "Kalau mereka pindah ke tempat lain pasti tidak akan ada kesulitan karena standar, perlengkapan, dan fasilitasnya sama," ujar Chao.

Kesulitan warga Taiwan ini akhirnya teratasi setelah PT Maspion, pimpinan ALIM MARKUS, turun tangan memberikan bantuan. Fasilitas pendidikan yang cukup megah pun disumbangkan kepada para ekspat Taiwan. Selanjutnya, pengelola sekolah (swasta) menghubungi jawatan pendidikan di Taiwan untuk pengadaan sekolah internasional di Pepelegi, Kecamatan Waru.

Chao Fu Nien menjelaskan, di dunia ini hanya ada enam sekolah internasional Taiwan. Dua di Indonesia (satunya di Jakarta), dua di Malaysia (Kuala Lumpur dan Penang), Bangkok (Thailand), dan Ho Chi Min City (Vietnam). Sangat sedikit karena proses pendirikan lembaga pendidikan internasional terpadu versi Taiwan ini tidak sembarangan. Jawa Timur dianggap potensial dan perlu, karena warga Taiwan lumayan banyak.

Bahasa pengantarnya tentu saja bahasa Mandarin. Jam pelajaran mulai pukul 08.00-15.00 WIB dari Senin sampai Jumat. Hari Sabtu dan Minggu libur. Karena jam pelajaran cukup panjang, dan rumah anak-anak sangat jauh dari sekolah, para siswa membawa bekal makanan sendiri dari rumah. Maka, jangan heran, tas sekolah mereka lebih besar ketimbang anak-anak sekolah Indonesia.

MESKI mengacu pada sistem pendidikan di Taiwan, Taipei International School di Sidoarjo mengikuti jadwal liburan sesuai ketentuan Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia. Tanggal-tanggal merah ala Indonesia pun berlaku.

"Kecuali pada Hari Nasional Taiwan, 10 Oktober, ada perayaan dan liburan khusus. Hari itu sangat bersejarah di Taiwan, sama dengan 17 Agustus di Indonesia," ujar SURYANI, penerjemah dan staf Taipei International School.

Di DOUBLE TEN DAY atawa Hari Nasional Taiwan itu semua siswa menggelar atraksi budaya Taiwan. Tari-tarian, nyanyian, peragaan busana, teater, hingga masakan khas Taiwan. Menurut CHAO FU NIEN, kepala sekolah, atraksi budaya itu disajikan di depan komunitas Taiwan di Jawa Timur dan sekitarnya. "Acaranya untuk kalangan sendiri," ujar Chao, yang bertugas di sini sejak 2001.

Apresiasi seni budaya, rupanya, sangat ditekankan di Sekolah Taiwan. Begitu memasuki ruang depan, kita sudah disuguhi dengan aneka lukisan dan kaligrafi karya para siswa. Hampir semua jenis lukisan ada. Mulai dari lukisan naif ala anak-anak prasekolah (TK) hingga lukisan klasik Tiongkok memenuhi tembok. Karya seni anak-anak, sesederhana apa pun, tetap dihargai oleh pengelola sekolah.

Lukisan itu dibingkai, dikemas apik, kemudian dipajang di tembok-tembok sekolah. Tak heran, kompleks Taipei International School di Sidoarjo ini lebih mirip galeri seni khas Tiongkok.

"Biar anak-anak itu bangga dan punya kepercayaan diri. Mereka akan senang sekali melihat hasil karyanya dipasang di tempat umum," ujar Chao.

Negeri Tiongkok, seperti juga Timur Tengah, sangat menghargai kaligrafi. Berbagai pepatah dan ungkapan klasik Tiongkok ditulis rapi, kemudian dipajang di sebuah ruangan khusus. Isinya, kata Chao, berisi nasihat kepada anak-anak untuk jujur, bersih, hormat pada orang tua, rajin belajar. Karya kaligrafi pendek juga disisipkan di antara lukisan pemandangan khas Tiongkok.

Chao sangat percaya bahwa pendidikan seni harus diberikan secara memadai kepada anak-anak sejak taman kanak-kanak. "Karena pada usia itu mereka sangat peka," papar Chao.

BAGAIMANA DENGAN KEBUDAYAAN INDONESIA? APA DIPELAJARI JUGA?

"Oh, tentu saja. Sebab, setiap hari kami dan anak-anak itu hidup di sini bersama orang Indonesia," papar Chao Fu Nien. Untuk itu, anak-anak SD mendapat pelajaran Bahasa Indonesia. "Kebetulan saya yang mengajar," tukas Suryani.

Nah, dalam pelajaran Bahasa Indonesia inilah Suryani sedikit demi sedikit menjelaskan hal-ihwal kebudayaan Indonesia. Anak-anak Taipei International School cepat menguasai Bahasa Indonesia, bahkan lebih cepat ketimbang guru-gurunya yang 14 orang itu. Maklum saja, di rumah mereka selalu bergaul akrab dengan pembantu rumah tangga atau baby sitter yang Indonesia tulen.

"Baru di SMP ada pelajaran khusus tentang kebudayaan Indonesia," tutur Suryani.

Guru Chao menambahkan, sekolah yang dipimpinnya memang diarahkan sebagai jembatan kerja sama antara Taiwan dan Indonesia.

No comments:

Post a Comment