07 February 2007

Slamet Abdul Sjukur, Maestro dan Guru



"SEORANG NABI DIKENAL DI LUAR,
TAPI DITOLAK DI KAMPUNG HALAMANNYA."

Kata-kata Alkitab ini cocok untuk SLAMET ABDUL SJUKUR. Pemusik Barat yang datang ke Surabaya selalu tanya dan ingin ketemu Slamet. Kalau bisa kolaborasi musik, wah, mereka senang sekali.

"Slamet itu komponis luar biasa. Siapa yang tidak senang betemu dan diskusi dengan dia," kata GEOFFREY SABA, pianis Australia, kepada saya beberapa waktu lalu. Musisi Barat, yang didatangkan perwakilan asing di Surabaya, pun rata-rata mengapresiasi Slamet Abdul Sjukur.

Ironisnya, orang Surabaya sendiri kurang kenal. Jangankan awam, wartawan musik pun banyak yang tidak tahu siapa gerangan Cak Slamet. Maklum, iklim kesenian di Indonesia sangat buruk. Orang hanya kenal industri pop, band-band atau penyanyi dangdut, pop, rock. Pemusik serius, kontemporer, macam Slamet, dilirik sebelah mata. Pemerintah pun sama saja. Apresiasi kesenian pejabat kita, dari RT sampai presiden, rata-rata buruk.

"Saya baru dapat pengharghaan dari pemerintah Prancis," cerita Slamet Abdul Sjukur kepada saya beberapa waktu lalu. Pihak luar negeri kasih penghargaan karena tahu sosok Slamet, karyanya, kontribusinya, bagi musik dunia. Berkali-kali dia dapat penghargaan dari luar negeri.

"Apa ada perhatian dari pemerintah kita?" pancing saya.

"Pemerintah Indonesia?" tukas Slamet. "Mana ada? Orang kita memang belum sampai ke sana. Kita doakan saja, moga-moga ke depan ada kemajuan," ujar Slamet.

Suaranya pelan, nyaris berbisik, tegas, tapi tetap senyum. Dia memang menikmati dunianya yang sepi. Dunia musik kontemporer yang tidak hiruk-pikuk. Jauh dari publikasi. Slamet Abdul Sjukur itu, ya, macam orang biasa. Padahal, dia pemusik luar biasa.

DUNCAN GRAHAM, wartawan senior asal Australia, pernah menulis tentang Slamet Abdul Sjukur di THE JAKARTA POST, 31 Maret 2006:

"Indonesia has a problem with talented eccentrics. They're tolerated, but sidelined - unlikely to become national icons. Those positions are usually reserved for politicians and the military. As though the life of this rich and complex country can be celebrated only by defence and administration. So there'll probably be no state funeral or heroes' cemetery for composer and musician Slamet Abdul Sjukur, even though he's done more to raise the intellectual profile of Indonesia overseas than a file of bureaucrats or a parade of generals."

[Silakan diterjemahkan sendiri. Hehehe...]

Intinya, kira-kira, kita bangsa Indonesia belum kasih penghargaan yang layak untuk pemusik (seniman) hebat macam Slamet. Belum dijadikan semacam ikon nasional. Negara lebih memberi tempat kepada militer atau politisi. Dalam beberapa kesempatan, Slamet maupun sejumlah seniman di Jawa Timur menyatakan hal senada.

"Makanya negara ini kacau terus. Banyak hal yang tidak ada gunanya, tapi dipertahankan terus," kata Slamet yang ke mana-mana pakai alat bantu jalan itu.

"Contohnya apa?"

Dewan Perwakilan Rakyat," ujarnya cepat. Saya pun tertawa lebar.

MENGHABISKAN 14 tahun di Prancis, Slamet Abdul Sjukur menemukan kematangan musikal di negeri anggur itu. Di masa kecil Slamet belajar gamelan di Perguruan Taman Siswa. Lalu mematangkan pendidikan musik di Jogja selama empat tahun, Akademi Musik Indonesia. Dia tumbuh sebagai komponis andal, pendidik, serta salah satu pelopor musik kontemporer di Tanah Air.

Komposisinya unik, nyentrik, penuh kejutan. Tapi sederhana, wingit.

"He founded a philharmonic society in Surabaya. Later he headed the music committee of the Jakarta Arts Festival and has produced music for the stage, films, orchestras and individual instruments. Anything that makes a sound can get a place in his scores, from ambulance sirens to wood blocks," tulis Duncan Graham.

Slamet dikenal sebagai komponis MINI-MAKSI. Bikin musik dengan bahan-bahan minimal, tapi hasilnya maksimal. Suatu ketika dia ajak orang-orang kampung di Trawas bikin konser di Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Seloliman. Bahan musiknya sederhana saja: mulut dan daun. Bayangkan, petani-petani kampung dikumpulkan, dilatih sebentar, kemudian konser bareng. Hasilnya, ya, heboh.

Lain waktu Slamet ajak manusia-manusia yang suaranya fals. Pitch kontrolnya rusak. Orang-orang ini nyanyi bareng, paduan suara.

"Mas Slamet pancen edan tenan. Gak ada yang nandingi beliau," kata Bambang Haryadjie, pelukis dan aktivis lingkungan yang pernah kenal dekat Slamet Abdul Sjukur.

Suatu ketika ada pesta perpisahan direktur Pusat Kebudayaan Prancis (CCCL), namanya DIMITRI, di Jalan Darmokali Surabaya. Slamet, yang punya ikatan batin dengan Prancis, bikin komposisi mendadak. Bahan dasar musiknya hanya tiga nada: di, mi, ri atau C#, E, D#.

"Sengaja saya pakai tiga nada itu biar sama dengan nama Pak Dimitri," ucap Slamet.

Dengan bahan sederhana, Slamet melakukan eksplorasi musikal sedemikian rupa, sehingga hasilnya sebuah komposisi yang luar biasa. Unik, tak ada duanya!

Daftar karya Slamet tentu masih sangat panjang. Komposisi pianonya banyak dimainkan pianis-pianis top di mancanegara. Sayang, orang Indonesia kurang kenal karena televisi tak pernah kasih tempat. Bidang yang ditekuni Slamet memang di luar pakem industri hiburan yang hingar-bingar.

SAYA bersyukur telah mengenal dan berbicara banyak dengan Slamet Abdul Sjukur di Surabaya. Ini karena beberapa tahun saya cukup intens meliput konser musik klasik. Paling banyak resital piano oleh pemusik Barat. Slamet selalu hadir.

Sebabnya, itu tadi, pemusik-pemusik Barat itu sebelumnya 'sowan' dulu sama Slamet. Mereka pun mengundang Slamet secara khusus. Ada kebanggaan khusus jika konser mereka disaksikan Slamet Abdul Sjukur, si maestro.

"Terima kasih, terima kasih. Saya bangga Mas Slamet menyaksikan resital saya," ujar ANANDA SUKARLAN, pianis top kita, yang diam di Spanyol.

Sebelumnya, Slamet mengambil gambar Ananda di kamar ganti Hotel Majapahit Surabaya. Pret! Saya pun menjepret Slamet yang sedang menjepret pianis muda itu. Slamet memang suka fotografi juga.

"Buat dokumentasi lah. Omong-omongnya nanti saja. Gampang itu," ujar Slamet kepada saya. Dia sudah tahu saya mendekati dia untuk minta komentar terhadap konser yang baru saja usai.

Kritik Slamet tajam, terbuka, tapi konstruktif. Kalau ada bagian yang salah (intonasi tidak pas) dia langsung bicara sama si pemusik. Atau, penjiwaan yang kurang optimal. Beda dengan wartawan (macam saya), Slamet menganalisis sebuah konser secara cermat, detail, mendalam.

"Resital sudah baik, tapi masih kurang di sini. Coba diperbaiki sedikit lagi," sebut Slamet dengan suara halus plus senyum khas. Yang dapat kritik pun puas.

Suatu ketika pianis bule (saya lupa namanya) tampil di Surabaya. Komposisi panjang, sekitar 40 menit. Penonton butuh konsentrasi tinggi, dan itu sulit untuk orang Indonesia. Si pianis harus melalui beberapa bagian (istilah musik klasik: gerakan, movement) yang sulit. Bukan main. Pria bule itu benar-benar larut dalam komposisi karya Beethoven itu. Perjalanan panjang berakhir. Tepuk tangan meriah.

Selepas konser, Slamet mendekati saya. Sebelum saya bertanya, pria yang tinggal di kampung kawasan Jl Urip Sumoharjo, tengah Kota Surabaya, ini berkata:

"Itu musik pemberontakan. Beethoven bikin karya itu untuk berontak, melawan. Jadi, orang berontak itu tidak selalu dengan unjuk rasa, kerusuhan, perang. Kekuatan musik Beethoven itu dahsyat," beber Slamet.

Lalu, dia menjelaskan kepada saya sejumlah elemen musik yang baru saja disaksikan di hall sebuah hotel berbintang lima. Slamet ingin agar wartawan macam saya bisa menulis catatan konser dengan jujur, objektif, bisa dipetanggungjawabkan secara musikal. Dengan begitu, media massa secara tidak langsung membantu meningkatkan apresiasi musik di tengah masyarakat Indonesia.

"Kalau kurang jelas, silakan tanya," kata pria berusia 71 tahun ini.

Slamet sedih karena banyak wartawan kita nekat (atau memaksakan diri) menulis catatan konser musik (apa saja) tanpa menyaksikan sendiri konser di lapangan. Ajaib! Bahannya cuma siaran pers atau jumpa pers siang harinya. Bisa dibayangkan kualitas laporan wartawan macam itu.

Bagi saya pribadi, Slamet Abdul Sjukur bukan sekadar pemusik atau komponis. Dia ibarat sumur musik yang tak habis-habisnya ditimba ilmunya. Dia layak jadi ikon musik Surabaya, bahkan Indonesia.

4 comments:

  1. yes, pak slamet is a great musician.

    ReplyDelete
  2. pak slamet termasuk berpengaruh di indonesia. cuma musiknya agak sulit dipahami awam.

    ReplyDelete
  3. Nama :
    SLAMET ABDUL SJUKUR

    Lahir :
    Surabaya, Jawa Timur, 30 Juni 1935

    Agama :
    0

    Pendidikan :
    - SD Taman Siswa, Surabaya (1949)
    - SMP Taman Siswa, Surabaya (1952)
    - Sekolah Musik Indonesia, Yogyakarta (1956)
    - Ecole Normale de Musique dan Conservatoire Nationale Superieur de Musique, Paris, Prancis (1967)


    Karir :
    - Guru Sekolah Musik Indonesia, Yogyakarta (1961-1962)
    - Pegawai Radio Prancis, Paris (1967-1968)
    - Dosen Jurusan Musik Institut Kesenian Jakarta (1976-sekarang)
    - Ketua Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta (1977-1981) Lagu gubahannya antara lain: Parenthese I s/d VI, Jakarta 450 Tahun, Meditation Metaphysiques, Descartes, dan Daun Pulus Kegiatan lain: Sekretaris Ikatan Komponis Indonesia (1978- sekarang)

    SLAMET ABDUL SJUKUR


    Perdebatan sengit terjadi antara Slamet Abdul Sjukur dan petugas kelurahan. Pasalnya, pada formulir KTP, untuk kolom agama, Slamet mengisinya dengan ''musik'' -- dan ia mempertahankannya.

    ''Kepercayaan saya memang musik,'' kata Slamet. ''Sebab, musik bagi saya merupakan usaha spiritual. Eh, saya malah dikira komunis. Daripada konyol, akhirnya saya mengalah.'' Dan Slamet mengisi kolom itu, ''Islam''.

    Sebagai pemeluk ''kepercayaan musik'', Slamet memang taat. Rumah tinggalnya tidak hanya dibangun berdasarkan ketentuan geomensi -- penyesuaian arah mata angin dengan garis hidup penghuninya, melainkan juga dirancang sendiri menurut perhitungan akustik yang njlimet. Seluruh dinding luar rumah berupa bata merah telanjang, tanpa plesteran semen. Posisi dinding-dindingnya unik. ''Dinding rumah saya yang sejajar hanya ada 20%,'' kata Slamet. ''Semua ini saya rancang untuk menghasilkan pantulan suara yang baik.''

    Sebagian ciptaannya: Ketut Candu, String Quartet I, Silence, Point Cotre, Parentheses I-II-III-IV-V-VI, Jakarta 450 Tahun, dan Daun Pulus. Gara-gara yang disebut terakhir itu, ''Musik saya laku di dalam negeri,'' kata pengagum W.R. Supratman dan Harry Rusli ini. Inspirasi Daun Pulus bersumber pada jaipongan, dipesan Farida Feisol untuk pementasan balet pada Desember 1983. Musik Hantu, sebuah ekspresi kelengangan total, ia suguhkan di Erasmus Huis, Jakarta, pada 1985.

    Persentuhan Slamet yang pertama dengan musik terjadi ketika ia masih berusia 7 tahun. Ayahnya, Abdul Sjukur, terakhir bekerja pada PMI dan Masjid Al Falaq, Surabaya, memberinya hadiah sebuah piano. ''Saya lupa kenapa dibelikan piano,'' tutur anak tunggal itu. Sebab, ayahnya, juga ibunya, Canna, bukanlah penggemar musik. Pada usia ke-9, Slamet mulai serius belajar pada D. Tupan, pianis asal Ambon yang waktu itu (1944) bekerja di RRI Surabaya.

    Beasiswa Pemerintah Prancis yang memungkinkannya bersekolah di Ecole Normale de Musique, mestinya hanya untuk satu tahun. Tetapi ia usahakan hingga menjadi tiga tahun. Sesudah itu, Slamet masih belum puas. ''Dengan usaha sendiri saya meneruskan sekolah,'' katanya. Usaha itu berbentuk: jadi tukang cuci piring di restoran, dan pianis pada sebuah sekolah balet. Sebelum itu, ia menggelandang menjadi pengamen di lorong-lorong stasiun KA bawah tanah.

    Anak Slamet ada dua, dari dua ibu.

    ReplyDelete
  4. Pengen deh belajar ama Mas Slamet! Salam kenal!

    ReplyDelete