13 February 2007

SKM DIAN Koran Pelopor di NTT





Kota Ende, di tengah-tengah Pulau Fores, sudah tidak asing lagi dengan pers. Dan itu ada hubungannya dengan kegiatan misi Katolik yang dianggap paling sukses di Indonesia. Pastor-pastor SVD sejak dulu, sebelum kemerdekaan, sudah mengusahakan literatur atau bacaan-bacaan untuk jemaat.

Maka, didirikanlah Percetakan Arnoldus dan Penerbit Nusa Indah. Masih ingat buku TATA BAHASA INDONESIA karangan Prof. Dr. Gorys Keraf? Nah, itu salah satu terbitan Ende, Flores.

Pada 1973 kongregasi Societas Verbi Divini alias SVD mendirikan koran DIAN, terbit dua mingguan. Formatnya koran biasa (harian), berita keras, tapi dijilid sehingga mirip majalah. Hitam putih, 16 halaman. Lantas, format berubah menjadi tabloid, periode terbit menjadi mingguan. Jadilah surat kabar mingguan (SKM) DIAN.

Waktu masih mahasiswa, saya aktif mengisi kolom dan kirim berita untuk DIAN. Biasanya kolom tetap 'Sekenanya Saja' dan 'Asal Usul' di halaman dua. Saat itu saya banyak mengkritik rezim Orde Baru yang korup dan otoriter. Katanya, banyak pembaca yang suka karena saya menulis secara gamblang, berani, dan sederhana.

Sampai sekarang DIAN masih hidup, berdampingan dengan FLORES POS, koran harian. Bicara profesionalisme, saya rasa standar di DIAN atau luar Jawa umumnya masih jauh sekali dari pengertian 'profesional' yang sejati. Kenapa?

Berdasar pengalaman saya, menulis di DIAN itu bisa dilakukan siapa saja, dengan gaya apa saja, tanpa ada pakem atau format tertentu. DIAN membuka kesempatan yang luas kepada siapa saja untuk mengirim berita, kolom, artikel ilmiah populer, foto, dan apa saja. Kalau dianggap baik, ya, dimuat.

Tulisan saya mungkin dianggap baik sehingga selalu dimuat. Waktu itu masih pakai mesin ketik manual, kirim per pos, karena email belum ada atau sangat jarang. Berita telat dua pekan pun dimuat. Jadi, unsur aktualitas sulit dipenuhi DIAN masa itu. Saya tidak ikuti lagi sejak jadi wartawan di Surabaya, 1997.

Saya bersyukur mendapat kesempatan luas oleh redaksi DIAN. Dan, syukurlah, saya selalu dipercaya oleh sumber meskipun tidak pernah punya ID card atau kartu wartawan dari redaksi DIAN. Saya hanya bilang, saya mau menulis untuk DIAN, lalu tanya ini-ini-ini.

Sumber percaya saja karena saya sering nongol di DIAN, dan paling penting, saya tidak pernah minta amplop atau bingkisan, apalagi memeras narasumber. Sebagai mahasiswa, aktivis PMKRI, saya tergolong idealis hehehe…

Saya pernah tanya wartawan DIAN yang benar-benar karyawan, digaji layak, berapa orang. Tapi ternyata sulit dijawab. Lha, saya yang pengirim tetap (kontributor) pun dianggap wartawan DIAN, padahal tak dibayar. Kalau dimuat, ya, dapat sedikit honor untuk beli kertas dan pita mesin ketik.

Memang, DIAN banyak kelemahan, tapi saya harus angkat topi karena eksis terus, punya pembaca dan pelanggan setia, sejak 1973 sampai sekarang. Oh, ya, kebetulan ayah saya di Flores Timur menjadi agen DIAN selama bertahun-tahun. Karena itu, saya selalu baca sampai tandas berita-berita dan artikel di DIAN.

Oplahnya tidak besar, tapi awet. Dus, beda sekali dengan banyak media di Jawa yang oplahnya melejit, tapi tidak bisa bertahan lima tahun.

Salut untuk DIAN dan pers terbitan SVD di Flores. Para jurnalis senior DIAN macam Pak Frans Anggal, Pak Thom Wignyanta, Pater Edu Dosi, Pak Chris Nau boleh dikata merupakan 'guru-guru' pers saya di DIAN.

Setelah reformasi, terbit koran harian bernama FLORES POS. Pengelolanya, ya, sama juga dengan orang-orang DIAN. Maka, koran bersejarah di Flores dan Nusatenggara Timur itu pun punya saingan berat. Di Kupang pun muncul beberapa koran. Belum serbuan koran-koran Jawa dan Bali.

Apakah DIAN akan bertahan di tengah bisnis surat kabar yang kian ramai? Kita lihat saja.

7 comments:

  1. Teman, selamat bertemu. Apa kabar? Saya ANSEL DERI, pernah nulis di SKM Dian. Mudah-mudahan masih ingat. Saya tahu emailmu dari blog pribadimu. Kebetulan search berita Mgr Manek. Blog aku: ansel-boto.blogspot.com.
    Salam

    ansel deri

    ReplyDelete
  2. baik2 saja. masih ingat lah. good luck.

    ReplyDelete
  3. akhirnya, aku nemu blog orang NTT yg cukup informatif. salam kenal ya.

    gerard

    ReplyDelete
  4. DIAN memang sangat terkenal pada tahun 70an dan 80an di Flores. guru2 SD di kampung biasanya langganan DIAN. saya sendiri selalu baca karena bapakku guru.

    melkior

    ReplyDelete
  5. aku sudah lama tinggaldi surabaya(20 thn )waktu masih kecil di ende aku sering baca Dian yang ditempelkan pada dinding2 rumah.

    ReplyDelete
  6. numpang lewat untuk sementara waktu, jalan disiini mulus banyak ilmu serta pemandangan yg di
    dapat

    ReplyDelete
  7. sayang banget SKM Dian sudah tidak terbit lagi. mungkin rugi atau mismanajemen kali...

    ReplyDelete