19 February 2007

Sin Cia 2558 di Surabaya

Cuaca Surabaya yang cerah, suhu hangat, menandai malam tahun baru (Sin Cia) Imlek 2558. Warga keturunan Tionghoa merayakan tradisi tahunan ini dengan cara masing-masing. Umat Tridharma (Buddha, Konghuchu, Tao) yang paling kental merawat tradisi leluhur, ramai-ramai ke beribadah di kelenteng.

Sanggar Agung, kelenteng baru di Pantai Kenjeran, di malam sin cia boleh dikata paling ramai pengunjung. Sejak pukul 18.00, umat Tridharma menyambut datangnya tahun baru dengan bersembahyang. Bakar hosua, jalan keliling di depan arca dewa-dewi.

“Intinya, kami berharap agar tahun yang baru ini membawa kemakmuran dan keselamatan bagi kita semua, bangsa Indonesia. Kita berdoa, semoga dijauhkan dari segala macam bencana,” ujar Gunawan kepada Saya. Pengusaha berusia 55 tahun ini datang ke Sanggar Agung bersama istri dan dua anaknya.

Malam Sin Cia di Kenjeran ternyata dinikmati pula oleh warga yang bukan keturunan Tionghoa. Apalagi malam Minggu, kawasan wisata ini padat pengunjung. Selain menikmati air pasang, warga melihat-lihat kompleks arca Buddha empat muka yang disirami cahaya keemasan. Sekelompok pelajar dan mahasiswa bahkan memanfaatkan even ini untuk membuat film dokumenter.

Sejumlah santri, pakai busana muslim, berpose bareng di bawah arca. Juga beberapa biarawati Katolik bersama rombongan bersantai sambil menikmati es kelapa muda. Sebuah pemandangan yang memperlihatkan kebersamaan umat lintas agama. "Kami penasaran dengan Sanggar Agung. Ternyata, suasananya menyenangkan,” ujar Sr Maria.

Lain lagi dengan Kelenteng Hong San Koo Tee di Jalan Cokroaminoto. Umat menggelar kebaktian bersama tepat pada pukul 00.00. Menurut Juliani Pudjiastuti, pemimpin kelenteng, tradisi ini sudah dilakukan sejak 10 tahun terakhir.

"Kami biasakan umat untuk berdoa bersama jam 12 tengah malam agar ada kebersamaan,” kata Juliani kepada Saya.

Usai mengelilingi altar dewa-dewi sebanyak sembilan kali, doa bersama pun dimulai. Semua umat pegang hosua, mengunjuk beberapa kali, lalu mengucapkan doa-doa tertentu. “Intinya, doa syukur dan minta keselamatan selama tahun baru. Kalaupun tahun yang lalu kita dapat banyak cobaan, kegagagalan, itu semua kita serahkan kepada Tuhan,” papar Juliani.

Wanita 50-an tahun yang duduk di kursi roda ini menambahkan, "Saya sendiri dapat banyak cobaan, kegagalan, dan macam-macam. Apa yang kita buat untuk kelenteng ini kadang ada saja yang kecam. Tapi semuanya kita serahkan ke Tuhan. Jadi, tahun baru ini merupakan saat untuk merenung.”

Karena itu, tidak ada keramaian macam atraksi barongsai, liang liong, petasan, orkes dangdut, dan hiburan lain. Umat Tridharma, dan warga Tionghoa umumnya, memilih untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Sebelumnya, pengurus Kelenteng Hong San Koo Tee mengadakan bakti sosial berupa pembagian bahan makanan kepada warga kurang mampu di sekitar Jalan Cokroaminoto.

IMLEK DI GEREJA

Suasana Sin Cia 2558 pun terasa di Gereja Katolik Ngagel. Umat mengelar misa bernuansa Tionghoa. Pastor, petugas liturgi, paduan suara, serta sebagian umat mengenakan busana khas Tiongkok. Aksesoris di dalam dan luar gereja didominasi warna merah, lengkap dengan lampion.

Bukan itu saja. Musik liturgi pun didominasi dengan lagu-lagu bertangga nada pentatonik Tiongkok. Ervinna, penyanyi pop terkenal pada 1980-an, membawakan beberapa lagu rohani bernuansa Tionghoa dalam misa yang dipimpin Romo Andreas Andre Nurcahyono, Pr. itu. Namun, misa tetap dalam bahasa Indonesia seperti biasanya.

“Sebab, romone gak iso boso Mandarin,” ujar Romo Andre yang didampingi Romo Paul Klein, S.V.D. (Malang).

Menjelang berkat penutup, Romo Andre mengumumkan bahwa semua umat akan mendapat angpao. Tepuk tangan pun menggema. “Tapi yang dapat uang hanya anak-anak yang berusia di bawah 10 tahun. Yang lain angpaonya jeruk. Lumayan kan,” ujar Romo Andre disambut tawa sekitar 2.000 jemaat.

Di sudut gereja, Panitia Imlek menyiapkan pohon angpao. Amplop kecil berwarna merah pun bergelantungan. Kontan saja umat ramai-ramai berebut angpao. Ternyata, isinya bukan uang, melainkan ayat-ayat Alkitab.

"Saya kira uang, makanya saya ambil tiga amplop. Hehehe...,” kata Yosef, mahasiswa dari luar Jawa.

1 comment:

  1. TAMBAHAN DARI JAWA POS 19/2/2007

    Simbol-simbol khas Tahun Baru Imlek mewarnai Gereja Santa Maria Tak Bercela, Ngagel, kemarin. Umat serta tim paduan suara mengenakan baju cheongsam merah serta kuning. Di tengah-tengah gereja digantung lampion merah. Lalu sebentuk pohon angpau diletakkan di antara umat. Sekitar 3.000 jemaat menjadi peserta misa bernuansa Imlek yang diadakan pukul 07.30 tersebut.

    Misa kemarin dipimpin Pastor Paroki Santa Maria Tak Bercela Romo A. Andri Noertjahja E.W. Pr. Tema yang diangkat pada perayaan tersebut adalah Tahun Rahmat Tuhan Telah Datang. Dalam khotbahnya, pastor alumnus Seminari Tinggi Giovanni, Malang, itu menyampaikan bahwa umat harus senantiasa bersyukur atas semua rahmat yang mereka terima tahun lalu. Umat Katolik juga diminta membangun kerendahan hati dan iman untuk menyongsong berkat pada tahun selanjutnya. "Marilah kita juga meningkatkan hubungan dengan Tuhan dan sesama," kata pastor yang memakai casula (jubah, Red) merah saat memimpin misa itu.

    Usai misa, umat berbagai usia, laki-laki maupun perempuan, tampak berebut angpao yang bergantungan di pohon keberuntungan. Isi angpao itu memang benar-benar berkat untuk para umat. "Bukan uang, tapi kertas yang ditulisi ayat-ayat kitab suci," kata Romo Aan, panggilan akrabnya.

    Alexander Setya Prayoga, ketua panitia acara, mengatakan, Imlek adalah tradisi dan bagian dari kebudayaan. "Karena itu, semua orang bisa merayakan tahun baru ini," katanya.(kit)

    ReplyDelete