13 February 2007

PIG Project Gizikan Jazz Surabaya


Oleh Lambertus L. Hurek

Tempik sorak menyambut tiga pemusik terkenal negeri ini: INDRA LESMANA (pianika, piano), GILANG RAMADHAN (drum), PRA BUDIDHARMA (bas). Sabtu malam, 10 Februari 2007, tiga sekawan ini mengusung bendera PIG PROJECT. Nama projek jazz yang diambil dari inisial nama mereka: Pra, Indra, Gilang.

"Kami sudah kerja sama selama 21 tahun. Dan sejak 2006 kami kumpul lagi, buat projek. Sempat rekaman, main di festival,” jelas Indra Lesmana.

Tiga sekawan ini pada era 1980-an sempat bikin KRAKATAU, dengan vokalis TRIE UTAMI, populer di kalangan mahasiswa macam saya. Saya hafal nomor-nomor populer KRAKATAU. Sekarang KRAKATAU masih ada, tapi musiknya jazz eksperimen, jazz etnik, digawangi DWIKI DHARMAWAN.

Nah, malam itu, PIG PROJECT menghibur sekitar 500 peminat jazz asal Surabaya di Sidewalk Cafe, halaman Hotel Garden Palace. Tempatnya terlalu sempit, sementara peminat terlalu banyak, sehingga banyak yang tidak dapat tiket @ Rp 50.000. “Sayang juga karena konser jazz seperti ini jarang terjadi di Surabaya. Apalagi yang main itu kelasnya Indra, Gilang, Pra,” ujar ROEDHI POERNAMA, ketua C.TwoSix Jazz Community, kepada saya.

Apa boleh buat, malam itu sekitar 50 penggemar jazz terpaksa pulang dengan kecewa. Sementara sekitar 50 lainnya bertahan dengan menonton sambil berdiri dari jalan raya, Jalan Pemuda Surabaya. Indra Lesmana justru senang melihat banyak penonton di jalan raya.

"Saya senang karena yang menikmati jazz malam ini bukan hanya teman-teman di dalam, tapi juga di luar,” ujar Indra Lesmana, motor penggerak PIG PROJECT.

Berbeda dengan beberapa pergelaran sebelumnya, PIG menghadirkan musik jazz ‘bergizi’. Kelas berat. Jazz modern dengan sentuhan rumit, eksperimental, panjang. Durasinya rata-rata 15 menit. Tak ada satu pun nomor vokal ala Tri Utami, Ermy Kullit, Syaharani... macam konser sebelumnya.

PIG ini naga-naganya mau menunjukkan musik jazz beneran. Bukan jes-jesan yang ringan dan tanggung. Saya hanya ingat dua nomor: Footprint dan Impression.

Gilang Ramadhan, yang sempat memperkuat grup rock GODBLESS, selalu membuka nomor-nomor PIG PROJECT. Lalu, Indra atau Pra meningkahi. Kalau Indra Lesmana biasanya main piano, kali ini meniup sambil memencet pianika. Instrumen sederhana yang biasa dipakai di sekolah dasar itu dieksplorasi Indra Lesmana secara optimal. Hasilnya bagus sekali. Sementara Pra Budidharma, seperti biasa, tetap setia dengan fretless bass-nya. Masing-masing pemusik tampil dengan karakter yang kuat. Jam terbang di atas rata-rata membuat trio ini sangat matang.

Tampil habis-habisan dalam durasi panjang membuat Pra, Indra, Gilang, mandi keringat. Untung, mereka tak lupa bawa handuk putih panjang milik hotel. Selesai satu nomor, lap keringat bareng. Santai, akrab, ala konser-konser jazz umumnya.

Melihat penonton yang tegang, maklum asing dengan komposisi jazz modern, Indra berkata: “Sekarang satu nomor dari dalam negeri. Anda pasti kenal.” Lalu, dengan pianikanya Indra memainkan melodi BEGADANG, lagu dangdut ciptaan RHOMA IRAMA. Aplaus panjang. Penonton tersenyum simpul menikmati dangdut yang di-jazz-kan. Awalnya, melodi BEGADANG masih tampak jelas. Makin lama makin kabur, diganti improvisasi ala PIG. Ramuannya, ya, macam jazz modern juga.

FOTO: Pra Budidharma, basis favorit saya.

Di ujung acara, Indra memanggil BUBY CHEN, maestro jazz asal Surabaya. Malam itu pria kelahiran 9 Februari 1938 ini terlihat kurang sehat. Jalan harus dibantu tongkat dan perlahan-lahan. Indra turun dari panggung menjemput Om Buby.

“Beliau ini sahabat ayah saya, almarhum JACK LESMANA,” papar Indra Lesmana disambut tepuk tangan penonton. Cukup lama Buby Chen mencoba menemukan posisi duduk di balik piano listriknya. Indra dengan setia membantu. Lalu, Indra membisikkan nomor yang akan dimainkan dalam jam session.

Ajaib! Setelah memencet tuts piano, wajah Buby Chen sumringah. Sehat walafiat. PIG PROJECT kolaborasi dengan Buby, main nomor blues nan rancak.

Buby dan Indra sempat bikin penonton ketawa-ketawa dengan call and response. Indra meniup melodi via pianikanya, lantas Buby menirukan. Persis! “Kayaknya Indra mau ngetes pendengar Buby Chen. Alhamdulillah, masih bagus,” ujar Sutoyo, penonton asal Sidoarjo.

Malam kian larut. Gilang dan Pra turun. Tinggal Buby Chen dan Indra Lesmana yang memainkan sebuah encore untuk memenuhi permintaan penonton. Bagi saya, PIG PROJECT telah berhasil menyuguhkan makanan jazz lezat bagi komunitas jazz di Surabaya dan sekitarnya. Bahwa sebagian penonton ‘pusing’, ya, itulah sebuah tahapan dalam proses apresiasi jazz.

2 comments:

  1. Mas, aku taruh tulisanmu di web - ku bolehkah? Soalnya temen2ku pusing pas aku aplot lagu2nya PIG......

    ReplyDelete
  2. Boleh, dengan mengutip sumber dari hurek.blogspot.com.
    Terima kasih atas kunjunganmu ke blog saya. Salam jazz.

    Lambertus L. Hurek

    ReplyDelete