24 February 2007

Peludruk Termuda di Jawa Timur



Sulit dipercaya bocah polos seperti Dini Kristanti (11) mampu mengimbangi pemain-pemain ludruk senior di atas panggung. Bahasanya spontan, ceplas-ceplos, tahu posisi, dan perannya. Padahal, tak ada skenario, latihan, atau persiapan sebelumnya.


Berbeda dengan penampilan di atas pentas, saat saya temui di ruang tunggu pemain, siswi kelas I SMP Budi Utomo, Prambon, ini malu-malu dan tak banyak bicara. Karena itu, SUPARTININGSIH (ibunya) yang banyak menceritakan sepak terjang Dini di dunia ludruk.

Menurut sang ibu, Dini Kristanti mulai aktif naik panggung ludruk sejak usia delapan tahun. Waktu itu dia kelas 4 SD. Ini tak lepas dari aktivitas sang ayah, Muhammad Syafii, yang memang tokoh penting LUDRUK KARYA BARU. Asal tahu saja, Syafii yang merancang cerita, membagi peran, kepada awak Ludruk Karya Baru setengah jam sebelum pergelaran. Dan ini dilakukan setiap malam.

Si Dini kecil pun mengikuti kegiatan ayahnya setiap kali Karya Baru main. Tentu saja, di ruang tunggu pemain (sekaligus tempat istirahat) Dini berinteraksi dengan pemain-pemain dewasa, bahkan lansia. Bocah kurus ini dianggap sebagai adik, anak, atau cucu sendiri. "Memang hubungan di antara pemain-pemain Karya Baru mirip saudara sendiri," tambah Supartiningsih, sang ibu.

Suatu ketika, iseng-iseng, Dini Kristanti diajak naik panggung sebagai pemain figuran. Ia mengisi lakon anak-anak yang nota bene jarang ada di skenario ludruk. Eh, ternyata kehadiran Dini disambut antusias penggemar ludruk di beberapa desa. Dini malah dianggap sebagai pemberi warna tersendiri bagi grup ludruk yang dipimpin HADIPURO itu.

Sejak usia delapan tahun itulah, Dini Kristanti malang-melintang di panggung ludruk. "Sampai sekarang, ya, tetap main," kata Dini Kristanti, agak manja.

Gara-gara kecanduan main ludruk, kedua orang tua Dini memberi perhatian ekstra untuk anaknya. Supartiningsih, yang nota bene bukan pemain ludruk, terpaksa setiap malam mengikuti aktivitas sang anak di panggung ludruk. Di kamar ganti, Ningsih tak hanya mendampingi, tapi juga membantu merias serta mempersiapkan anaknya naik panggung.

Yang paling penting, Ningsih mendampingi anaknya belajar, menggarap pekerjaan rumah serta tugas-tugas sekolah, di ruang pemain ludruk. Ada ulangan atau ujian sekalipun, Dini Kristanti tetap main ludruk sambil mempersiapkan pelajaran di lokasi 'tanggapan'. Ningsih mengaku tak ingin anaknya ketinggalan pelajaran, apalagi putus sekolah karena main ludruk hampir setiap malam.

"Sekolahnya bagus, nilainya juga nggak mengecewakan," kata Ningsih, bangga.

Ningsih dan suaminya, Syafii, ingin agar pendidikan serta pengembangan berjalan seiring sejalan. Sebab, tanpa bekal pendidikan yang baik seorang pemain ludruk kurang wawasan, lemah logika, sehingga tidak bisa berkembang dengan baik. Ludruk itu kesenian improvisasi, sangat menuntut pengembangan logika.

"Kami ingin Dini sekolah terus, jangan sampai putus."

Main ludruk dengan intensitas tinggi, seperti ditekuni Dini Kristanti (bocah cilik), pada prinsipnya sama dengan bekerja. Dan Dini jelas mendapat bayaran atau honor cukup besar.

Apa tidak dianggap mengeksploitasi anak? Bukankah Dini masih di bawah umur? Kedua orang tua Dini menepis anggapan ini. Katanya, apa yang dilakukan Dini tak lebih sebagai 'latihan' atau pengembangan hobi belaka. Okelah.

No comments:

Post a Comment