15 February 2007

Pelestari Wayang Potehi di Surabaya


MUDJIONO [49 tahun, foto] SUDAH 25 TAHUN MENJADI SE HU (DALANG POTEHI) DI KELENTENG HONG TEK HIAN, SURABAYA. DIA MENGGANTUNGKAN HIDUP DARI WAYANG BONEKA ASLI TIONGKOK ITU.

Empat kim choa (kertas merah bertulis sesanti huruf Tionghoa) yang tergantung di empat sudut tonil dijumput MUDJIONO lalu dibakar. Ritual itu menjadi tanda pertunjukan Potehi selama dua jam sejak pukul 12.00 itu usai.

MUDJIONO, sang dalang alias se hu langsung undur dari belakang tonil. Begitu juga seorang pemain yang menjadi pembantu dalang (ji jiu) dan tiga pemusik yang disebut au tay. Kelimanya anggota LIMA MERPATI, grup wayang potehi terkenal di Surabaya.

Kostum berwarna kuning kunyit dilepas dan dilipat. Wayang berbentuk boneka yang berwujud manusia dan hewan berukuran 40 centimeter, masuk kotak besar berukuran 100 x 75 x 50 cm. Alat-alat musik diletakkan atau digantung. Ada or wu (semacam rebab), dong ko (semacam tambur), sia lo (semacam kendang), tua lo (semacam canang), alat tiup suling dan terompet serta song chen (gitar tiga senar).

Usai menggelar pertunjukan rutin di kelenteng yang biasa dikenal dengan nama Kelenteng Dukuh, Mudjiono tak langsung pulang. Bersama timnya, ia biasa membicarakan jadwal manggung yang mulai padat sejak awal Februari 2007.

Selain harus bermain di kelenteng atas permintaan umat Tri Dharma yang menitipkan nazarnya, Mudjiono mulai padat tanggapan. Dari buku bertulis tangan tentang tahapan adegan-adegan cerita Potehi, mereka berlima membicarakan hal-hal lain yang mungkin harus dipelajari atas permintaan penanggap.

"Penanggap kini juga sering meminta kami memasukkan hal baru. Seperti lagu campursari yang harus dimainkan au tay," kata Mudjiono yang tinggal sekitar 500 meter dari kelenteng.

Sehari-hari hidup Mudjiono tak bisa lagi lepas dari Potehi. Pria asli Kampung Dukuh itu mencintai Potehi sejak kecil. Saat masih sekolah dasar, perjalanan pulang sekolah yang melintasi kelenteng membuatnya suka mampir melongok permainan Potehi.

Saat itu, sang se hu masih asli keturunan Tionghoa, bukan pribumi dan muslim seperti dirinya. “Namanya GAN CO CO. Ia tak bisa sedikit pun berbahasa Indonesia. Ia suka membiarkan saya memainkan wayang dan alat musik usai pertunjukan,’’ kata Mudjiono.

Siang itu juga membiarkan David Yulianto (6), anak kampung yang mengubek-ubek kotak penyimpan wayang. ’’Persis begitulah saya dulu. Dari ngglibet dan jadi suruhan GAN CO CO untuk beli rokok atau makanan, saya akrab dengan Potehi,’’ kenang Mudjiono.

Mudjiono kecil pun mencintai tontonan yang memainkan epos zaman kerajaan di Tiongkok itu tanpa terasa. Ia berani nyantrik mulai belajar memainkan semua alat musik. Dari hanya melihat gurunya yang meninggal 10 tahun lalu dalam usia 82 itu mentas, 15 cerita Potehi dikuasainya. Tahu-tahu Mudjiono bisa mentas sejak SMP. ’’Saat itu ada dalang lain yang harus mentas di kelenteng lain. Gan Co Co minta saya gantikan,’’ kata Mudjiono, yang sudah menekuni profesi sebagai se hu selama 25 tahun.

Dari rasa cinta itulah, Mudjiono berani menggantungkan hidupnya dengan hanya menjadi se hu. Dari tanggapan di luar kelenteng, baik dalam kota maupun luar kota yang bertarif Rp 2-5 juta, Mudjiono kebagian 30 persen, sementara ji jiu dan au tay bisa mendapat bagian 11-15 persen dari nilai tanggapan.

Meski hanya cukup untuk hidup sederhana dengan Munipah dan satu anaknya, Mudjiono bertekad bakal setia menjadi se hu hingga akhir hayat seperti gurunya. ’’Meski tak pernah bisa berbahasa Tionghoa, guru saya pernah miris apakah Potehi bakal lestari. Saya ingin tak membuatnya resah. Ini bakti saya untuk dia juga,’’ kata Mudjiono yang mulai mengader se hu Potehi.

Edi Sutrisno, dalang potehi muda, pelestari budaya klasik Tiongkok di Surabaya.

Di belakang Mudjiono yang tergolong barisan se hu (dalang potehi) senior, ada EDI SUTRISNO, 36 tahun. Melihat kiprah se hu muda ini, rasanya keliru kalau membayangkan Potehi bakal punah.

Petilan (cuplikan) lakon San Pen vs Ban Kuang dipentaskan Edi Sutrisno di Kelenteng Hong Tek Hian, Rabu (14/2/2007) siang, dalam dua jam. Kopi yang tersedia di meja dekat tonil ia seruput untuk menghapus penat karena memainkan tangan dan berdialog mewakili puluhan tokoh.

Dari raut mukanya, pemuda dari Jl Dukuh tak jauh dari kelenteng itu tampak lega karena bagi seorang se hu, Edi dianggap telah menyenangkan dewa-dewa. ’’Meski atas tanggapan umat kelenteng yang bernazar, sejatinya Potehi digelar untuk dewa. Makanya kalau pentas lancar, saya amat lega karena tontonan ini juga bernilai sakral,’’ kata Edi.

Untuk kemarin, Edi menjadwalkan bermain dua kali. Satu petilan yang lain telah dimainkan sebelumnya oleh Mudjiono, seniornya. Dalam sehari, bisa saja Edi bermain hingga tiga kali dalam petilan berbeda. Jika minimal sekali sehari satu petilan dimainkan, satu lakon utuh akan bisa tuntas dalam dua minggu.

Karena harus mentas saban hari, Edi pasti terlihat di kelenteng Jl Dukuh itu seolah tak kenal waktu. Kewajiban itu bukan justru membuat Edi terbebani, tapi suami Amin Khoiriah itu merasa panggilan jiwanya menuntunnya setia menjadi se hu seperti Mudjiono atau Gan Co Co.

Seperti Mudjiono, Gan Co Co juga guru Edi. Orang pertama yang memberinya kecintaan kepada Potehi begitu diidolakannya hingga ia ingin bisa mencontoh permainan maut Gan Co Co. “Ia se hu hebat, tapi rendah hati yang pernah saya temui,” kata Edi, yang juga berguru kepada Mudjiono.

Seperti Mudjiono yang ngglibet saat Gan Co Co bermain, Edi belajar ndalang dengan menjadi au tay (pemain musik Potehi) lebih dulu. Mulai menyertai Gan Co Co dan Mudjiono mentas, pada 1995, atau saat masih berusia 24 tahun, Edi naik tonil untuk menemani Mudjiono bergantian ndalang.

Sejak reformasi, Lima Merpati memang bisa leluasa mentas di luar kelenteng. Sebelum itu, izin tanggapan di luar amat ribet. Begitu go public-nya, sampai-sampai pada 2002, PT Jayatu Cakrawala Film dan Video pernah mengajak Lima Merpati membuat 26 espisode Potehi untuk ditayangkan di sebuah stasiun televisi swasta. Edi juga terlibat.

Sebagai satu dari sekitar 30-an orang pendukung Potehi di kelenteng itu, Edi harus siap mentas di luar sewaktu-waktu. Beberapa tim yang setiapnya terdiri dari lima orang bisa pecah mentas ke berbagi kota.

Dalam bulan Februari 2007 ini, sudah ada dua tim yang dikirim kelenteng memenuhi tanggapan ke Bogor dan Jakarta. "Ada yang ke Semarang untuk mentas dengan Pak Mudjiono,’’ kata Edi, yang harus menjadi se hu, ji jiu (pembantu dalang), atau au tay.

Saat tanggapan itulah, penghasilannya bisa lebih besar. Namun, bukan lantaran itu jika Edi memilih se hu sebagai profesi tetapnya sejak 1995, bukan karyawan atau wiraswasta yang pernah ia lakoni. Bagi Edi, Potehi telah menuntun kehidupan ayah dua anakini menjadi lebih baik.

Menjadi se hu dalam lingkungan kelenteng yang bernilai ritual juga membuatnya tahu lebih banyak makna hidup. "Setiap lakon, pasti ada pesan moral. Sebagai se hu, saya dituntut tak hanya sebagai penggerak wayang-wayang itu sebisa-bisanya diterapkan dalam hidup saya sendiri. Jika mampu, ada kepuasan yang tak terbeli," ungkap Edi.

Dalam lakon San Pen vs Ban Kuan, misalnya, San Pen yang baik akhirnya mengalahkan Ban Kuan yang menjadi tokoh jahat, pesannya diserap Edi berkali-kali.

Setelah kopi tandas dan sebatang rokok tinggal putungnya, Edi bersiap memainkan petilan selanjutnya. Mengawali pentas, khim choa dibakar Edi. Baunya khas menyeruak tonil yang sempit. “Ini doa agar setan jahat pergi selama pentas,” bisik Edi.

TERKAIT
Wong Jawa lestarikan wayang potehi

18 comments:

  1. Salam Bung Lambertus,

    ini kali yang kedua saya menghubungi saya . Saya artha senna dari radio Utan Kayu 68h, Jakartaa. Menarik sekali tulisan anda, saya ingin minta tolong jika anda nda keberatan untuk memberika nomer kontak Bpk dalang wayang potehi di surabaya untuk kepentingan pembuatan feature di radio.
    Bung kalau nda keberatan anda bisa email ke saya di artha_senna@yahoo.com atau Hp say di 0 818 475 472.

    terima kasih untuk kebaikannya, sukses!

    salam, artha senna

    ReplyDelete
  2. Nama saya Jekson Saba Kulla, saya berasal dari Sumba, NTT. saya baru saja menyelesaikan pendidikan saya di fakultas Bahasa dan Sastra, UKSW, Salatiga. saya ingin mengucapkan terima kasih untuk informasi2 di blog anda tentang wayang potehi karena saya dan teman saya akan ke surabaya tgl 23 november untuk melakukan penelitian tentang wayang potehi.

    salam

    Jekson

    ReplyDelete
  3. suwun mas blog sampean cukup informatif. termasuk peduli budaya. salam dari konco2 di sidoarjo.

    ReplyDelete
  4. Artha Sena, Jekson Saba Kulla, konco2 sda, terima kasih sudah mau baca blog wong kampung ini. Ternyata posting beginian ada gunanya juga. Salam budaya.

    ReplyDelete
  5. moga2 kesenian china yg satu ini tetap lestari. salut sama temen2 yg berhasil melestarikan wayang potehi.

    ReplyDelete
  6. Saya Lenda, dr Jogja.
    Saya minta tolong apa ada nomer dalang Mudjiono yang bisa saya hubungi di surabaya untuk kepentingan pembuatan tugas. Kalau ada, tolong kirim ke alamt email saya cygnus_nd4@yahoo.co.id

    Makasih...

    ReplyDelete
  7. Salam kenal Bapak Lambertus Hurek, nama saya Endang Widiyastuti dari UNS Solo, kebetulan saya juga pernah melakukan penelitian tentang wayang po tee hi di Semarang.

    ReplyDelete
  8. Matur nuwun Mbak Endang, sudah berkomentar di sini. Selamat berkarya, semoga sukses.

    ReplyDelete
  9. Pak Lambertus, saya Yuki dari Trans 7 Laptop Si Unyil.. Saya tertarik untuk meliput wayang potehi ini, boleh saya minta kontak dalang-dalang potehi yang masih eksis tsb?
    KAlau tidak keberatan, bisa Kontak saya di 081908198213 atau my_uq@yahoo.com

    Terimakasih Pak Lambert..

    ReplyDelete
  10. Salam kenal bapak Lambertus, nama saya Williams Koh dari Binus University Jakarta. Saya sangat tertarik dengan wayang potehi. Kalau tidak keberatan, bisakah bapak memberikan CP (contact person) bapak sendiri?

    Salam,

    ReplyDelete
  11. Terima kasih Pak William.
    Silakan e-mail saja. Saya usahakan menjawab apa yang bisa dijawab. Xixie ni.

    ReplyDelete
  12. saya sudah email bapak kok

    Xie xie juga buat Lambertus laoshi untuk mau reply msg saya ini.

    ReplyDelete
  13. Salam kenal Pak Lambertus,...saya wahyu Kurniawan dari Galeri Fotojurnalistik Antara. Kalau tidak merepotkan, apakah saya bisa meminta kontak person sanggar Potehi ini,....sebelumnya terima kasih

    ReplyDelete
  14. BUNG LAMBERTUS, INFO UTK ANDA, DULU SAAT SY KECIL S/D SMP SERING NONTON POTEHI. DALANGNYA WAKTU ITU SOH JONG AN (SOH YONG AN). ADA JUGA DALANG YG MATANYA (MAAF) BUTA DAN SENIOR, SAYA LUPA NAMANYA. CERITANYA TDK HANYA SIE DJIN KWIE ATAU SIE TENG SAN ATAU SIE KONG (CUCUNYA SIE DJIN KWIE), ATAU KERA SAKTI. TAPI JUGA CERITA TENTANG SUNPIN, JAGO TOMBAK LO THONG ATAU LO TJIANG. BAHKAN ADA LAKON YG PARA DALANG SANGAT TAKUT UNTUK MEMAINNKANNYA. YAITU LAKON PENGANUGERAHAN PARA DEWA (HONG SIN)(BUKUNYA PERNAH DIJUAL DI GRAMEDIA). INI KISAH TENTANG PARA DEWA BAIK MELAWAN DEWA2 JAHAT. BUKAN PEPERANGAN ORANG BIASA, TETAPI DEWA. SEBAB SETIAP WAYANG DEWA YG DILAKONKAN MATI, HARUS DIBAKARKAN "UANG KERTAS EMAS KAHYANGAN". DALANG YG BERANI WAKTU ITU SOH YONG AN. DAN ITU SENIORNYA THIO TIONG GI. MUMPUNG MASIH ADA NARASUMBERNYA (THIO TIONG GIE), MUNGKIN BERMANFAAT.

    ReplyDelete
  15. Bpk. Lambertus saya mahasiswa Desain komunkasi visual ITS surabaya yang sedang melakukan penelitian tentang wayang Potehi sebgai Tugas akhir saya. kalo tidak keberatan boleh saya tahu alamat dalang wayang potehi ini. sekaligus nomor kontak bapak.

    bila tidak keberatan kontak nya bisa dikirim ke email ini janji_kelingking@yahoo.com

    ReplyDelete
  16. saya sangat peduli dengan budaya Indonesia. Saya sangat tertarik dengan wayang Potehi ini. Apakah Bapak bisa memberikan contact person dari sanggar-sanggar wayang potehi tersebut? Bapak bisa mengirimkan informasi tersebut ke email saya (yoshiiprofessional@yahoo.com)

    terima kasih banyak. Salam budaya..

    ReplyDelete
  17. Apa bisa info kemana saya bisa beli wayang potehi? Apakah bisa inform ke saya di djokosantoso2007@yahoo.com ?
    Trima kasih, dari djoko Jakarta

    ReplyDelete
  18. Pak Lambertus, saya Irti mahasiswa jurusan Sastra Cina dari Universitas Darma Persada. kalau tidak keberatan, bolehkah saya meminta CP yan bisa dihubungi dari beberapa dalang potehi di atas? saya sedang mencari CP wayang potehi untuk tapil di acara Festival Budaya di kampus saya.
    infonya bisa bapak kirimkan ke e-mail saya irti2804@yahoo.com
    mohon bantuannya ya pak

    ReplyDelete