19 February 2007

Pelacur Gemuk di Taman Bungkul

Tadi pagi (19/2/2007) saya melintas di Taman Bungkul. Ini kilometer nol Kota Surabaya, persis di Jalan Raya Darmo. Di timur jalan ada beberapa pedagang kecil jual minuman: soft drink, legen, air dingin, sekadar pelepas lelah pengendara motor.
Wow, seorang wanita gemuk, kulit kuning kayak Tionghoa, tengah berdandan. Pakai bedak tebal, lipstik merah. Sibuk banget rupanya. Ssst, bisik seorang penjual minuman kepada saya:

"Dia lagi jualan, Mas. Sampeyan suka gak?"

"Jualan apa? Sing jualan kan sampeyan?"

"Hehehe... maksudku, bisa diajak ngamar."

Ohhhh.... Siang-siang dia jualan itu. Jelasnya, pelacur yang praktik di siang bolong. Bagaimana kalau dilihat teman-temannya? Tetangga? Orang tua? Keluarganya? "Pokoknya, dia dah lama mejeng di sini. Banyak juga lho laki-laki yang berminat," ujar penjual minuman.

Sebagai 'ongkos' wawancara, saya beli sebotol minuman, teh sosro. Lumayan untuk melegakan tenggorokan sekaligus kenalan sama si pedagang kecil. Biasanya orang-orang macam ini merupakan narasumber paling kredibel dan objektif. Mereka bicara apa adanya. Polos. Tidak pakai sensor atau pertimbangan macam-macam.

Wanita gemuk tadi pun menghampiri saya.

"Mas, mau naik sama saya?"

"Naik ke mana?"

"Sidokumpul. Nggak jauh kok."

Sidokumpul nama kampung kecil, dekat kompleks pelacuran di Gang Dolly dan Jarak. Ternyata benar dugaan saya sejak awal. Wanita itu memang pelacur yang tengah menunggu pembeli di jalan raya. Saya mengorek lagi:

"Berapa harga?"

"Nggak mahal. Cuma Rp 150 ribu kok Mas. Ayolah, Mas."

Saya geleng-geleng kepala. Lalu, ponsel saya berdering. "Kamu ditunggu di Hotel Sahid ada diskusi dengan teman-teman redaktur," ujar kawan saya. Cepat-cepat saya meninggalkan Taman Bungkul.

"Walah, ngomong thok," gerutu si wanita tadi.

2 comments:

  1. hehehe... menarik.

    ReplyDelete
  2. WIDYA CASTRENA DHARMA SIDDHA,
    MENWA PEDULI
    Adanya fasilitas pendukung demikian mmbutuhkan perhatian lebih utamanya sebagai sarana refreshing place, untuk ukuran kota Surabaya sebagai jantung kota dari Provinsi Jawa Timur dengan aktivitas dan mobilitas penduduk yang lebih/tinggi memerlukan suatu tempat untuk sekedar melepas kejenuhan selama beraktifitas, hal seperti ini telah diterapkan di negara2 besar Eropa bahkan USA sehingga mampu menciptakan kondisi lingkungan yang kondusif asal faktor keamanan tetap menjadi priority dan bagaimana untuk selanjutnya kita bersama melestarikan dan menjaga property yang disediakan untuk kita itu, we’ll seeing !
    BRAVO JATIM!
    www.satmenwa875uht-sby.blogspot.com

    ReplyDelete