13 February 2007

NTT Provinsi Seribu Pulau


Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah provinsi kepulauan. Ada tiga pulau utama, yakni FLORES, SUMBA, TIMOR--disingkat Flobamora. APOLY BALA, komponis musik liturgi asal Lembata, kemudian menciptakan himne syahdu berjudul FLOBAMORA. Lagu ini sudah dianggap 'lagu kebangsaan' warga Nusatenggara Timur di mana pun berada.

Selain empat pulau utama tadi, masih ada ratusan pulau kecil dan sangat kecil yang berada di perairan NTT. Belum ada data pasti berapa jumlah pulau kecil di
seluruh NTT. Seorang dosen Universitas Nusa Cendana, Kupang, pernah menyebut angka 2.000-an pulau.

Kecuali kabupaten di daratan Timor seperti Belu, Timor Tengah Utara, Timor Tengah Selatan, hampir semua kabupaten punya koleksi pulau-pulau kecil dan sangat kecil. Yang jelas, pulau-pulau kecil itu tidak berpenghuni, tidak dikelola, ibarat lahan tidur yang tidak berfungsi apa-apa.

Nah, Manggarai Barat merupakan kabupaten yang kaya gugusan pulau-pulau kecil. Di sana ada gugusan Pulau Komodo, yang di dalamnya termasuk Pulau Bidadari yang tengah naik daun itu. Selain Manggarai Barat dan Manggarai, kabupaten lain di Flores pun punya banyak pulau kecil. Kita tentu masih ingat Pulau Babi di Kabupaten Sikka, dekat kota Maumere, yang hilang setelah disapu gelombang tsunami beberapa tahun lalu.

Pulau-pulau kecil ala Babi atau Bidadari juga mudah ditemukan di Kabupaten Ende, Flores Timur, dan Lembata.

Pertanyaannya, kenapa ratusan pulau kecil di NTT dibiarkan telantar, tanpa penghuni? Bukankah pulau-pulau itu merupakan harta karun di depan mata? Kenapa tidak dikelola sebagai objek wisata seperti dilakukan Dewski di Pulau Bidadari? Ini tak lepas dari
persepsi masyarakat NTT (umumnya) yang kurang positif.

Pulau-pulau kecil itu sering dianggap sebagai 'pulau hantu', mistis, angker, misterius. Dan misteri pulau-pulau kecil itu sampai sekarang belum bisa disingkap oleh orang-orang Flobamora sendiri. Saya, yang kebetulan asli Flores Timur, berkali-kali mengetahui sendiri banyaknya warga yang hilang tak berbekas setelah mencoba menjejaki beberapa pulau kecil di kawasan Lembata dan Flores Timur.

Menggunakan perahu kecil, bercadik dua, warga Flores Timur yang umumnya orang pantai mencari ikan dengan peralatan sederhana. Cuaca buruk membuat perahunya nyasar ke kawasan Pulau Betar (bukan nama resmi, hanya nama populer di kalangan warga setempat). Mereka kemudian mencoba mampir ke Pulau Komba [alias Betar] sembari menunggu cuaca bagus. Hasilnya? Dua nelayan kampung itu hilang tak tentu rimbanya sampai sekarang.

"Betar minta korban. Mau bagaimana lagi? Kita pasrah, berdoa, minta misa ke pastor untuk mendoakan keselamatan arwah mereka," ujar warga. Ayah seorang dosen di Kupang termasuk korban misteri gugusan pulau tak bernama di NTT.

"Sampai sekarang kita tidak tahu sebab-musabab meninggalnya ayah saya. Yang jelas, dia bersama temannya hilang setelah cari ikan di Pulau Betar," kata dosen itu.

Peristiwa hilangnya para nelayan kampung ini bukan hal aneh bagi warga NTT, khususnya yang tinggal di kawasan pantai. Begitu seringnya, sehingga para sesepuh adat
membuat upacara khusus untuk mencegah terulangnya kasus serupa itu. Misa khusus--kebetulan Flores itu daerah Katolik--juga sering diadakan. Tapi, ya, tetap
saja muncul peristiwa nelayan lokal hilang di sekitar pulau-pulau kecil tak bernama.

Pertanyaannya, kenapa nelayan-nelayan sering hilang ketika hendak mencari rezeki di sekitar 'pulau liar'? Pemkab, apalagi pemprov, tidak pernah melakukan survei
atau penelitian khusus untuk menemukan misteri pulau-pulau kecil, berikut hilangnya para nelayan.

Tapi, secara logika kita bisa memberikan hipotesis sederhana. Ombak besar, cuaca yang cepat berubah ganas, sementara perahu nelayan sangat kecil. Bisa jadi nelayan-nelayan hilang disapu gelombang kendati mereka sangat pandai berenang.

Seharusnya pemda, dengan dukungan pemerintah pusat, bisa menjawab teka-teki yang telah berkembang menjadi mitos di kalangan warga NTT itu. Masih banyak lagi mitos dan spekulasi khas orang kampung yang membuat pulau-pulau itu selalu dijauhi warga setempat.

Bayangkan, ada yang bilang beberapa sesepuh adat menyebut pulau kecil semacam Pulau Betar di Flores Timur sebagai 'pulau dewa' yang pantang didatangi manusia.

Nah, di tengah kepercayaan primitif yang tidak ilmiah inilah, datang turis-turis dan investor bule yang melihat ratusan pulau kecil di NTT sebagai lahan investasi luar biasa. Memanfaatkan kebodohan warga dan pemerintah lokal, orang bule seperti Ernest Lewandowsky membeli pulau-pulau, misalnya Pulau Bidadari, menjadi objek wisata berkelas internasional. Geger, karena Dewski dianggap telah 'membeli' Pulau Bidadari dan menjadikannya sebagai sebuah 'negara dalam negara' di Indonesia.

Terlepas dari berbagai kontroversi, apa yang dilakukan Haji Mahmud dari Flores Barat serta Ernest Lewandowsky dari Inggris bisa menjadi inspirasi bagi pemerintah pusat dan pemda NTT untuk memanfaatkan potensi alamnya demi kesejahteraan warga. Kita baru sadar bahwa Bidadari itu bukan pulau hantu, tapi pulau emas.

Ah, seandainya ratusan pulau di NTT disewakan selama sekian tahun (tidak usah dijual) kepada investor asing atau lokal.... Orang NTT tidak perlu merantau ke mana-mana, tetap terjerat dalam lingkaran kemiskinan.

No comments:

Post a Comment