26 February 2007

Nirwana Juda dan Simpangsche Societeit


Oleh Agus Wahyudi
Wartawan Radar SURABAYA

Pandum jam sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Gerimis juga belum menepi. Namun, Nirwana Juda masih berada di pelataran Balai Pemuda. Hari itu, Juda masih sibuk mempersiapkan konser rock legendaris. Sejumlah penyanyi dan musisi kawakan dihadirkan. Antara lain Achmad Albar, Ian Antono, Arthur Kaunang, dan Ucok AKA Harahap.

Juda melihat persiapan terakhir sebelum konser. Mulai panggung, sound system, lighting, sampai penataan parkir. Itu rutin dilakoninya setiap kali menggelar acara di Balai Pemuda. “Kalau ada acara seperti ini, saya selalu melekan,” kata Nirwana Juda penuh semangat.

Juda berusaha melakukan persiapan secara matang. Ini sangat penting agar perhelatan nantinya tidak mengecewakan. Termasuk yang terakhir pada 18 Februari 2007, Juda mengundang lady rocker Ita Purnamasari.

Sejak ia mulai diangkat menjadi kepala UPTD Balai Pemuda & GNI, November 2002, Juda terus memutar otak bagaimana menggairahkan tempat yang dulu bernama SIMPANGSCHE SOCIETEIT itu. Pasalnya, di era itu Balai Pemuda yang menjadi unit pelaksana teknis dari Dinas Pariwisata, mengalami perubahan besar. Ini setelah Pemkot Surabaya mengembalikan fungsi salah satu ikon Surabaya itu sebagai pusat kegiatan kesenian dan kepemudaan.

“Saat itu cukup pelik. Tak mudah mengambil jalan tengah terkait pengembalian fungsi Balai Pemuda. Di satu sisi, pemanfaatan Balai Pemuda untuk pameran jelas mendatangkan keuntungan. Tapi, kegiatan kesenian dan kepemudaan jadi tidak tercermin. Padahal, hal itu jadi identitas Balai Pemuda,” terang pria kelahiran Surabaya, 20 April 1957 ini.

Kenyataan sebelumnya, pemkot kerap disorot karena tidak peduli dengan komponen masyarakat yang punya andil besar memajukan kebudayaan dan penyokong sejarah.
Makanya, tugas mengembalikan fungsi Balai Pemuda menjadi amat penting. Tantangan itu pula yang membuat Juda berani melakukan upaya kreatif. Salah satunya dengan mengundang para musisi dan penyanyi ternama.

Februari 2003, Juda menggelar pentas musik country. Tantowi Yahya diundang sebagai bintang tamu. Reaksi publik saat itu cukup positif. “Paling tidak, mereka selalu bertanya kapan lagi ada musik country di Balai Pemuda,” ungkap Juda.

Bulan berikutnya, Juda juga menjaring komunitas pecinta jazz. Sederet nama musisi dan penyanyi jazz dihadirkan. Di antaranya Ireng Maulana, Margie Segers, Mus Mudjiono, dan Bubi Chen. Dari sini sempat lahir SIMPANGSCHE SOCIETEIT JAZZ COMMUNITY (SSJC), komunitas jazz yang bermarkas di Balai Pemuda.

Proses kreatif terus berlanjut.

Juda mulai melirik grup musik yang ngetop di era 70-an. Seperti Panber’s, D’Lloyd, Koes Plus, The Gembel’s, The Hand, dan Usman Bersaudara. Belum lagi ditambah kehadiran penyanyi seperti Ebiet G Ade, Arie Kosmiran, Ermy Kullit, Franky Sahilatua, Dewi Yull, Mus Mulyadi, Dedy Dhukun, dan Iga Mawarni.

“Yang ini responsnya cukup besar. Hampir di setiap konser dibanjiri penonton. Saya tak tahu persis alasannya. Yang terang, pecintanya tembang-tembang lama cukup besar di Surabaya ini . Mereka sangat antusias sekali,” ujar Juda.

Juda memang ingin sekali mewujudkan impiannya : menjadikan Balai Pemuda sebagai ikon Kota Pahlawan yang layak dikenal. Meski hal itu diakui Juda tidak semudah membalik tangan.

Awal-awal menggelar konser, Juda mengaku kedodoran. Ini lantaran Juda tidak berpengalaman di bidang entertain nol. Buntutnya, ia pontang-panting, terutama dari segi finansial. Juda bahkan sempat menjual mobil Feroza dan motor Yamaha Fiz R miliknya. Peristiwa itu terjadi pada 2004.

Ketika itu Juda harus nomboki utang kekurangan biaya alat dan fee bintang tamu. Jumlahnya puluhan juta rupiah. “Itu pengalaman berharga yang selalu saya kenang,” ucap bekas kepala urusan kepegawaian Dinas Pendidikan Surabaya ini.

Kini, sudah memasuki tahun kelima Juda berkiprah. Dia mengaku masih tetap bersemangat dengan obsesinya menggelar konser-konser legendaris. Juda tak berpikir sampai kapan harus berhenti. Dia hanya berharap semua pihak bisa berlomba-lomba menggairahkan kegiatan di Balai Pemuda.

No comments:

Post a Comment