28 February 2007

Melihat Kennel Terkenal di Trawas

Untuk menggembleng anjing-anjing show, para penghobi asal Surabaya menghabiskan biaya ratusan juta. Vila luas di pegunungan, kennel, pelatih kawakan, serta metode pelatihan bertaraf internasional.


Pagi itu udara di kawasan Sumberwekas, Trawas, sangat sejuk, sekita 20-25 derajat Celcius. Jalanan sepi, hanya ada beberapa perempuan petani yang tengah berangkat ke ladangnya. Nah, di jalan tanjakan dengan kemiringan tinggi itu 10 ekor anjing berperawakan gagah digenjot habis oleh sang pelatih.

“Ayo, lari! Mumpung masih pagi, cari keringat, biar sehat. Kamu harus bisa mempertahankan gelar,” teriak Choirul Abidin, sang pelatih dari Rexindo Kennel.

Sementara Akino, si anjing berambut hitam terus menjulurkan lidah, mengeluakan air liur dari mulutnya.

Setelah lari santai, Choirul yang didampingi Umbu Frans, juga kennel boy, menggenjot anjing-anjing itu berlari lebih cepat dan lebih cepat lagi. Seakan-akan paham bahasa manusia, para penghuni kennel yang megah di Desa Sumberwekas, Trawas, itu mengikuti instruksi pelatihnya dengan saksama.

Rupanya, Dambo, Akino, Aiko, Ex (ini semua nama-nama anjing) lebih manut ketimbang beberapa pemain bola di ajang Piala Dunia yang kerap uring-uringan kalau diinstruksikan sang pelatihnya.

Dari jalan raya, kami kembali ke lapangan rumput berukuran setengah lapangan sepak bola di samping kennel. “Latihan lagi, fun game,” ujar Frans, pelatih anjing asal Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur.

Lapangan ini dilengkapi beberapa rintangan serta fasilitas untuk mempertajam kemampuan anjing. Saat Akino terengah-engah, Frans menggodanya dengan bola merah berbentuk buah pir. Akino, yang didampingi Choirul, pun langsung berupaya merebut ‘pir’ itu.

Begitulah menu latihan yan wajib dinikmati para anjing juara di kawasan pegunungan Trawas dan Tretes setiap harinya. Apalagi, “Sebentar lagi ada kejuaraan nasional di Malang. Persiapannya harus lebih intensif lagi,” ujar Choirul Abidin, pemuda asal Jombang, kepada saya di sela-sela latihan di Rexindo Kennel, pekan lalu.

Berbeda dengan olahragawan, yang biasanya hanya berlatih intensif atau masuk training center menjelang turnamen, anjing-anjing di berbagai kennel di kaki Gunung Penanggunan dan Welirang ini siap bertanding kapan saja. Ini karena menu latihan dilakukan nonstop setiap hari. Dus, menjelang kejuaraan pelatih alias para kennel-boy cukup menambah sedikit porsi sekaligus menjaga kebugaran si anjing.

“Sekarang lomba pun kami sudah siap. Wong posturnya gagah seperti ini,” kata Irul, sapaan akrab Choirul Abidin.

Memang, inti perlombaan para anjing kelas kakap ini sama dengan bina raga pada manusia. Struktur otot harus sempurna, simetris, agah, tanpa cacat sedikit pun. Jika ada sedikit cacat, misal jalannya agak pincang, maka anjing itu langsung dijadikan ‘karya guna’ seperti anjing pelacak untuk kepolisian atau berburu. Sehingga, latihan-latihan spartan dua kali sehari ini harus difokuskan pada pembentukan tubuh (body building).



Kennel milik Hok Tan, pengusaha asal Surabaya, ini didirikan pada 1998. Saat ini, kata Choirul, salah kennel terkenal di Jawa Timur itu hanya membina 35 anjing dari berbagai trah. Masih ada lagi 20-an kennel serupa di kawasan Trawas dan Tretes milik pengusaha atau profesional penggemar anjing asal Surabaya.

“Atmosfer pegunungan memang paling ideal untuk anjing-anjing semacam ini. Kalau di Surabaya nggak cocok karena terlalu panas. Bisa, tapi harus pakai AC sehingga biayanya akan lebih mahal,” ujar Choirul.

Para bos atau majikan pemilik kennel di Trawas dan Tretes hampir semuanya aktif di komunitas penggemar anjing baik tingkat regional, nasional, bahkan internasional. Melalui wadah Perkumpulan Kinologi Indonesia (Perkin), anjing-anjing ini dilombakan dalam berbagai kejuaraan resmi atau tidak resmi di Tanah Air.

Namanya juga anjing elite, nama-nama anjing ini hampir pasti bernuansa Jerman atau Belanda yang ada kata ‘van’ atau ‘von’ (anak dari). Ini penting untuk mengetahui silsilah mereka. Contoh: Emil von Chritopher Land, Betty von Storchengassle (trah Rottweiler), Jago Indische Stamm von Heisenberg, Roma von Petra Bung (Dobermann).

Bagi para penggila anjing elite, nama bukan sekadar pengenal atau penanda belaka, tapi sekaligus menunjukkan perawakan sang anjing. Orang keder hanya dengan membaca namanya.

Kennel boy ini tak sekadar pelatih anjing jawara, tapi sekaligus orang tua anjing-anjing mahal itu. Hubungan kennel boy dengan para anjing ibarat hubungan antara orang tua dan anak kandungnya.

Setiap hari kennel boy tak boleh sekali-sekali meninggalkan anjingnya di dalam kandang. Bagaimana dengan istri atau anaknya? “Yah, dia yang harus ke sini. Kalau saya pergi dari kennel, wah kasihan dengan anak-anak saya. Tanggung jawab saya terhadap mereka sangat besar,” tegas Suyitno, pelatih anjing terkenal dari Zeit Bombe Kennel di kawasan Tretes, Pasuruan, kepada saya.

Para majikan, yang umumnya pengusaha dan kaum the haves asal Surabaya, pun sangat sadar akan peranan para kennel boy dan pelatih kepalanya. Karena itu, kennel-kennel boy di Tretes dan Trawas ini diberi fasilitas kamar khusus istimewa. Satu orang satu kamar besar, lengkap dengan fasilitas televisi dan hiburan. Maklum, lokasi kennel umumnya terpisah dari permukiman penduduk sehingga sosialisasi dengan warga amat terbatas.

“Hidup di sini senang, apa saja ada. Nggak kayak di kampung sana, susah, cari uang setengah mati,” kata Umbu Frans dari Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur.

Kampung si Umbu di Sumba sana memang kering kerontang, hanya sabana, kendati banyak diternakkan binatang seperti kuda, sapi, dan kerbau. Bujangan ini mengaku betah menjadi kennel boy di Rexindo, Desa Sumberwekas, Trawas.

Asrama untuk para kennel boy di Rexindo sepintas mirip barak tentara, tapi lebih mewah. Kamar mereka menghadap kamar anjing. Ini untuk memudahkan pengawasan, sekaligus demi kelancaran komunikasi antara si anjing dan kennel boy.

Agenda kerja mereka, lagi-lagi persis tentara: teratur, ketat, penuh disiplin. Sewaktu-waktu majikan mereka melakukan inspeksi mendadak alias sidak. Namun, menurut Umbu Frans, mereka tak pernah takut atau ketar-ketir dengan sidak oleh tuannya.

Kenapa? "Kami ini sudah tidak bisa lepas dari mereka (anjing, red). Justru rindu kalau sampai meninggalkan mereka, apalagi dalam waktu lama,” kata pemuda berbadan kurus ini.

Menjelang kejuaraan nasional di Malang bulan depan, yang diadakan Perkumpulan Kinologi Indonesia (Perkin), beban kerja para kennel boy tentu saja berlipat ganda. Menjaga kebugaran, kesehatan, body building, kelincahan, kemampuan menghibur penonton dan juri.

Bayarannya naik? “Wah, itu rahasia. Yang jelas, kalau untuk soal makan-minum kami tidak akan kesulitan,” ujar Umbu Frans disambut tawa para kennel boy lain.

Bagi Frans, Suyitno, Choirul, dan kawan-kawan, even-even perlombaan anjing versi Perkin, Kodam, atau instasi lain merupakan momen yang selalu ditunggu-tunggu. Sebab, di ajang itulah mereka membuktikan kerja keras mereka dalam menggembleng bodi ‘anak asuhnya’ menjadi sesempurna mungkin. Mereka pun bisa memantau anjing-anjing kompetitornya yang sebagian besar sebetulnya wajah-wajah lama juga.

“Kalau bisa menang atau mempertahankan gelar, wah senangnya bukan main. Kerja kami di gunung jadi tidak sia-sia. Puaslah,” ujar Choirul Abidin, kennel boy asal Jombang, seraya tersenyum.

Gara-gara lomba ini pula, mereka bisa jalan-jalan keliling berbagai kota besar di Indonesia. "Saya menikmati pekerjaan ini karena unik, banyak tantangan,” ujar Suyitno, pembina Zeit Bombe Kennel.

Karena unik itulah, papar Suyitno, harga pelatih anjing berjam terbang sangat menjanjikan. Berapa? “Nggak enaklah kalau saya omong. Pokoknya, jutaan, dapat fasilitas macam-macam dari rumah sampai mobil. Saya sih belum seperti itu,” ujar Suyitno merendah.

Yang jelas, masyarakat umum tak banyak tahu sepak terjang serta suka-duka para kennel boy bersama pelatihnya membina anjing-anjing show di kawasan pegunungan yang sepi dan dingin. Kalau ada perlombaan, maka nama si majikanlah yang mencuat dan disebut-sebut banyak orang. Yah, kerbau punya susu, sapi punya nama.

3 comments:

  1. halo...

    aku mau tanya kontak person orang di zeit bombe trawas donk. Terima kasih infonya. Ditunggu segera ya, mas..Thx. Eka

    ReplyDelete
  2. waduh eka, ini udah setahun lebih gak ke sana. nomornya wis gak jelas di mana. ntar kapan2 aq ke sana, aq cek lagi. salam n thanks dah baca blog ini.

    ReplyDelete
  3. mau tanya nih, kennel ini tempatnya di trawas mana ya?
    terima kasih

    ReplyDelete