17 February 2007

Pelukis Jumaadi Pulang Kampung


FOTO: Jumaadi dan istri di depan Rumah Budaya Pecantingan, Sidoarjo.

Oleh LAMBERTUS L. HUREK

Setiap tahun JUMAADI pulang kampung di Desa Sekardangan, Sidoarjo. Jumaadi pelukis yang tinggal bersama istrinya, bule Australia, SIOBHAN CAMPBELL, di Sydney. Ritual pulang kampung ini selalu dilakukan pada awal tahun. Macam ‘kewajiban’ untuk menengok ayah bunda di kampung halaman.

“Di sini saya menemukan kedamaian,” ujar pria kelahiran Sidoarjo, 25 September 1973 itu, kepada saya di RUMAH BUDAYA PECANTINGAN.

Sanggar ini dibuat Jumaadi untuk pelatihan, workshop, apresiasi seni. Dia lebih suka seni budaya tradisional warisan nenek moyang. Pecantingan ini pernah terkenal di Sidoarjo, bahkan pemusik SAWUNG JABO, INISISRI, bikin workshop dan berlatih di sana. Bupati WIN HENDRARSO dan pejabat-pejabat Sidoarjo pun pernah mampir dan kasih bantuan.

Kalau pulang kampung, Jumaadi tidak sekadar jalan-jalan atau tidur-tidur saja. Sejauh yang saya amati, Jumaadi selalu bikin program seni budaya. Pameran. Workshop. Diskusi. Studi banding (kayak wakil rakyat hehehe..). Jumpa pers. Gelar seni. Makan rujak. Singkatnya, Jumaadi ingin menghidupkan kesenian di Sidoarjo, Surabaya, dan Jawa Timur umumnya.

“Nggak usah muluk-muluk, kita bisa bikin kegiatan sederhana. Misalnya, workshop membuat wayang rumput, wayang daun, wayang kertas,” ujar bekas pekerja di Pusat Pendidikan dan Lingkungan Hidup, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, ini.

Awal 2007 ini, seperti biasa, Jumaadi pulang kampung. Dia bikin banyak program, termasuk jalan-jalan ke Bali, Jogja, Bandung, Surabaya... menemui teman-teman lama di Indonesia. Yang paling menonjol adalah pameran tunggal di Pusat Kebudayaan Prancis (CCCL), Jalan Darmokali Surabaya. saya nilai dia pintar diplomasi dan lobi, sehingga beroleh peluang berpameran di CCCL. Padahal, seniman-seniman Surabaya atau Jawa Timur saya lihat sangat jarang pameran di sana. Jumaadi alias GEPENK sudah dua kali di CCCL.

Nah, tahun 2007 ini Jumaadi menggelar karya-karya seni rupa khasnya. Dia pakai kertas buku bekas (berbahasa Inggris) sebagai medium untuk mengambar. Pakai tinta biasa. Objeknya naif, simpel, kayak anak-anak. Gambar tentang perempuan Indonesia, bapak-ibu tani, peternak, alam desa... begitu-begitulah.

Gaya lukisan Jumaadi sejak dulu memang begitu. Baik itu pakai medium papan/tripleks, kanvas, instalasi, kertas, objek lukisannya, ya, soal alam dan manusia di Indonesia, khususnya Jawa. "Saya memetakan memori masa kecil saya,” jelas Jumaadi kepada saya.
Sebagai perantau di Australia, meski punya istri bule setempat, Jumaadi tetaplah anak Sidoarjo ndeso. Ingatan-ingatan semasa kecil ini tak akan pernah hilang.

Bebunyian, gemerisik pepohonan, pengalaman sebagai anak gembala, main-main rumput, bikin wayang-wayangan, nonton ludruk, wayang kulit, keserhanaan manusia.... Semua itu terekam dengan jelas di memori Jumaadi. Lalu, ketika dia menggeluti hidup di negara lain, yang serba modern, iklim lain, bahasa beda, gaya hidup kontras... terjadilah pergumulan dalam diri Jumaadi. Sadarlah dia bahwa dia hanya ‘numpang hidup’ di Australia. Jiwa dan raganya toh tetap Indonesia, tetap arek Sidoarjo ndeso.

Ketika Jumaadi pulang kampung, dia lihat wajah kampung halamannya berubah. Pembangunan fisik di Sidoarjo sangat pesat. Puluhan, bahkan ratusan hektare sawah di Sekardangan dan sekitarnya, sudah berganti menjadi perumahan lingkar timur. Banyak muncul penduduk baru yang tidak saling kenal. Orang-orang yang asal usulnya macam-macam. Rakyat Sekardangan yang dulunya petani kini tak jelas lagi pekerjaannya. Sawah-sawah dijual. Manusia makin mata duitan. Acara cangkrukan, main-main, ngobrol, hampir tidak ada lagi. Semua orang sibuk, sibuk, sibuuuuk.

Anak-anak sekarang pun beda dengan masa kanak-kanan Jumaadi pada 1970-an dulu. Anak sekarang tak kenal sapi, kerbau, bebek, itik. Main-main di sawah? Tak mungkin lah. Sawah kan sudah jadi perumahan, permukiman penduduk. Wayang suket, wayang daun, wayang ngamen, wayang kulit dan kesenian tradisional lain? Juga tidak ada lagi.

Anak-anak sekarang main PS, lihat televisi, ikut les, main internet. Hiburannya musik industri, suka infotainmen, gaya hidup kelas menengah-atas. Mereka lebih kenal Peterpan, Ungu, Letto, Samsons dan nama-nama beken di televisi. Artis tradisional malah jadi bahan tertawaan belaka.

Maka, setiap kali berlibur di kampung halamannya, Sidoarjo, Jumaadi bak kehilangan orientasi. Dia seperti tak kenal lagi kampungnya, berikut budaya, tradisi, cara ungkap, masyarakat di desanya. Toh, Jumaadi ingin terus menghidupkan memorinya, antara lain dengan cara membuat pergelaran wayang ngamen, wayang suket, wayang daun, dongeng, dolanan... di Rumah Budaya Pecantingan.

Sebagai bentuk solidaritas untuk Jumaadi, teman-teman seniman, anak-anak kampung, pejabat, warga biasa, datang menonton. Senang karena seni tradisi lama bisa hadir lagi di ruang publik.

Masa liburan Jumaadi paling lama satu bulan. Setelah kembali ke Australia, rumah budaya di dekat (bekas) sawah Sekardangan itu pun sepi lagi. Acara dolanan anak-anak, dongeng, wayang anak-anak, serta semua seni khas masa kecil Jumaadi pun tidak digelar lagi. Rumah Budaya Pecantingan pun lengang. "Saya akui sulit menghidupkan Pecantingan kalau Mas Jumaadi nggak di sini,” ujar SUHARI, adik kandung Jumaadi, yang selama ini mengelola Rumah Budaya Pecantingan.

Terang saja sulit karena konfigurasi budaya sekarang sudah jauh berbeda. Anak-anak sekarang, masyarakat, seniman, punya selera dan kesibukan masing-masing. Kesenian lama yang ditawarkan Jumaadi setiap kali pulang kampung, saya nilai, sebetulnya tidak menjadi kebutuhan rohani anak-anak dan manusia masa kini di Sekardangan. Dia lebih sebagai ungkapan nostalgia seorang anak desa di Sidoarjo masa lalu yang bernama Jumaadi.

Rupanya, Jumaadi yang tinggal menetap bertahun-tahun di Sydney, Australia, kecewa berat dengan Indonesia sekarang. Dia tak menemukan lagi apa yang pernah sangat disukainya pada masa anak-anak dan remaja. Karena kesenian itu (nyaris) punah, ya, Jumaadi pun bikin sendiri di sanggarnya.

Dus, guncangan budaya macam ini sejatinya selalu dialami siapa saja, termasuk saya. Hehehe....

No comments:

Post a Comment