21 February 2007

Dahlan Iskan tentang Imlek 2558


Oleh: DAHLAN ISKAN

"
Saya tidak bisa masak. Jadi, tiap hari raya Imlek, makan malam bersamanya di restoran," ujar istri teman saya. "Atau di rumah salah seorang keluarga kami yang bisa masak."

Dia mengaku tidak terlalu berpegang lagi pada tradisi Imlek karena agamanya Kristen. Wanita keturunan Hokkian itu selalu mengajak suaminya untuk juga ke gereja, tapi sampai sekarang belum berhasil. Pria keturunan Kanton tersebut tetap berpegang pada tradisi agama ibunya, Konghucu.

Malam Imlek barusan, saya diundang makan malam keluarga ini di satu restoran baru di Singapura. Sebab, mereka tahu, kebetulan saya lagi di Singapura karena sehari sebelumnya ada pesta kawin yang harus saya hadiri di sana. Yakni, pesta kawin seorang gadis Harbin (RRT) dengan keluarga pemilik bank di Singapura.

Sudah dua kali itu saya menyaksikan hari raya Imlek di luar negeri. Tiga tahun lalu, saya ikut merayakan Imlek di Nanchang, ibu kota Provinsi Jiangxi, RRT.

Keluarga Singapura tersebut memesan meja dengan sepuluh kursi. Dua untuk saya dan istri. Lalu, untuk suami istri tuan rumah beserta dua anaknya yang pulang dari Australia dan Kuala Lumpur. Satu lagi anaknya yang di AS tidak bisa pulang, bahkan lupa bahwa hari itu di Asia sedang ada perayaan Imlek. Kursi yang lain untuk adik-adiknya.

Dalam tradisi lama, makan malam itu harus dilakukan di rumah salah seorang keluarga yang paling dituakan. Semua kumpul di situ. Di samping makan besar, yang muda memberikan tabik ke yang lebih tua. Yang tua memberikan angpau ke yang lebih muda.
Ukuran "muda" di sini mulai anak-anak sampai orang dewasa sepanjang dia belum kawin.
Di Surabaya, seorang teman yang sudah tua tapi sehat menjadi tempat perayaan keluarga ini. Angpau yang dia sediakan sampai hampir seratus buah karena cucu, cicit, cucu keponakan, cicit keponakan, semua, kumpul di situ.

Maka, Imlek bukanlah sekadar perayaan tahun baru, melainkan juga hari raya. Penekanannya pada kerukunan dan kekompakan keluarga. Doanya agar badan sehat, semua kesulitan bisa diatasi, diberi kebahagiaan dan kesejahteraan. Juga minta rezeki yang tidak hanya banyak, melainkan juga terus-menerus.

Doa-doa itu tidak hanya diwujudkan dalam ucapan ketika memberikan tabik (gong xi fa cai dan seterusnya?), melainkan juga dalam simbol-simbol yang orang Jawa sering menyebutnya sebagai donga katon. Kalau di Jawa daun kluwih harus dipakai untuk tutup tumpeng (agar dapat rezeki luwih-luwih), dalam Imlek pun serupa: ada jeruk dan seterusnya.

Donga katon dalam perayaan Imlek tidak hanya berwujud simbol-simbol seperti jeruk, tapi juga tecermin dalam makanan yang dihidangkan. Malam itu, misalnya, makanan pertama yang disajikan adalah salad. Delapan macam bahan diiris-iris kecil. Ada jeruk bali, ubur-ubur, abalon, dan sayuran lainnya. Bahan-bahan itu ditumpuk seperti gunung di piring besar. Lalu, sausnya disiramkan ke atasnya.

Yang menarik adalah yang terjadi berikutnya: sepuluh orang di meja itu harus berdiri, masing-masing siap dengan chopsticks-nya. Setelah dikomando, semua orang harus menggunakan sumpitnya itu untuk mengaduk gunungan salad tadi agar antara sayur satu dan yang lain tercampur. Juga agar antara sayur dan sausnya menyatu.

Maka, ramailah aduk-mengaduk salad itu. Apalagi ada keutamaan lain: semakin tinggi bisa mengangkat bahan salad dengan sumpitnya, semakin terkabul doanya. Mawut-lah salad malam itu. Tepuk tangan gemuruh mengakhirinya. Masing-masing lantas mengambil salad yang sudah padu itu untuk dirinya sendiri. Upacara makan bersama pun dimulai. Itulah donga katon yang melambangkan agar seluruh keluarga besar itu bisa kompak, saling menolong, dan banyak rezeki.

Makanan berikutnya adalah tiga susun bahan sayuran, yang nama-nama sayur tersebut kalau diucapkan dalam bahasa Kanton bisa mirip ucapan gong xi fa cai. Lalu, ada mi panjang umur, satu mangkuk mi yang makannya tidak boleh dipotong-potong. Biar pun itu panjang sekali, harus dimakan apa adanya. Kalau perlu dengan cara disedot agar tidak putus.

Sebanyak 12 makanan malam itu dibikin tanpa babi mengingat saya bergabung di situ. Tapi, kalau Imlek tanpa babi, bukan Imlek namanya. Maka, saya diberi tahu jangan makan makanan terakhir. Makanan terakhir saya dan istri diganti bubur kacang merah.
Begitulah, tiap tahun, Imlek berlangsung. Tanggalnya tidak selalu sama. Tidak seperti tahun baru Masehi atau tahun baru Muharam.

Boleh dikata, kalender Imlek merupakan jalan tengah yang fleksibel, sebagaimana umumnya orang Tionghoa bersikap. Menurut kalender Imlek, satu tahun tidak harus 365 hari.

Kalender Masehi pun sebenarnya tidak tepat menetapkan bahwa setahun itu 365 hari. Yang tepat adalah 365,242199 hari. Meski selisih sedikit, kalau dikumpulkan, jadinya banyak juga. Karena itu, suatu saat, ketika selisih itu sudah terkumpul menjadi sepuluh hari, kalender harus diubah. Misalnya, di zaman ahli matematika Christopher Clavius pada 1582. Terpaksa diputuskan tidak ada tanggal 5 sampai 14 Oktober. Tanggal-tanggal itu dihilangkan begitu saja.

Perubahan seperti itu tidak diperlukan oleh kalender Imlek. Dia fleksibel sekali. Tiap tahun diadakan perubahan; kadang mundur, kadang maju. Jatuhnya di sekitar 15 sampai 28 Februari. Pengalenderan itu menjadi ilmu tersendiri dan akhirnya baku: tiap Imlek harus ada babi. Apalagi di Tahun Babi ini.

Sumber: Jawa Pos  21 Feb 2007

No comments:

Post a Comment