09 February 2007

Bubarnya Akas Boxing Camp

MUHAMMAD YUNUS, pelatih kepala Akas Boxing Camp (BC), selama ini dipercaya sebagai wakil manajer oleh ROY BAMBANG HARVANTO, sang bos. Dia juga yang diberi kewenangan untuk memberikan keterangan seputar keberadaan Akas BC di Probolinggo, Jawa Timur.

Menurut Yunus, rencana bubarnya Akas BC ini sudah muncul di benak Roy sejak 2006. Krisis ekonomi berbuntut pada perusahaan bis AKAS yang menjadi penopang utama sasana. Namun, kala itu Yunus masih bisa membujuk Roy. “Saya minta Bos untuk menunggu perkembangan karena mungkin saja keadaan akan berubah. Bos ternyata mau mendengarkan saya.”

Tahun 2006 pun berlalu, sementara masalah pun menumpuk. Termasuk sepinya pertandingan. Sejak ASENG alias HERRY SUGIARTO wafat, Akas BC kehilangan promotor yang mampu memberikan spirit bertanding bagi petinju. “Tidak hanya Akas yang terkena imbas, dunia tinju Asia Tenggara pun mengalami kelesuan karena kepergian Aseng,” jelas Yunus.

Yunus mengaku sulit mencari promotor pengganti Aseng. “Mencari promotor sih gampang. Tapi mencari orang yang mampu memberi bayaran tinggi itu sulit,” sambungnya. “Kalau Aseng, bayaran yang diberikannya sudah bersih dan besar. Transpor, akomodasi, dia tanggung. Kalau promotor sekarang, petinju tanggung sendiri. Bayaran pun kecil.”

Kolapsnya sasana ini juga disebabkan oleh masalah internal. Yakni, hengkangnya para petinju profesional, khususnya MUHAMMAD RAHMAN, yang kini juara dunia. Petinju amatir pun menyusul pergi. Ini membuat Roy sakit hati.

Kamis, 5 Januari 2007, Roy resmi membubarkan sasananya. Pengumuman hanya dilakukan secara lisan kepada wartawan RADAR BROMO. Yunus menjelaskan, pembubaran Akas BC tidak perlu dilakukan dengan rapat bersama para pelatih dan petinju. Kenapa?

“Selama ini mereka (para petinju) pindah sasana seenaknya,” ujarnya pria 46 tahun itu.

Yunus pun sudah lama tidak melatih anak asuhnya. Sebab, porsi latihannya keras. Latihan ini hanya untuk mempersiapkan petinju menghadapi pertandingan. “Kalau tidak ada pertandingan, buat apa saya latih? Nanti fisik petinju bisa rusak,” jelasnya.

Yunus mengaku sudah mengalami berbagai tantangan. Di antaranya, dia dituduh memotong bayaran petinju. Bagaimana ini? “Pemotongan bayaran itu bukan tuduhan, tapi memang terjadi,” ujarnya. Menurut dia, semua sasana melakukan hal yang sama. Bayaran dipotong 30 persen, sisanya untuk petinju. Uang itu untuk membayar pelatih, termasuk bayaran kepada lawan latih (sparring partner) saat berlatih.

“Kalau pertandingan besar, sebagian juga untuk manajer. Kalau kecil, hanya untuk pelatih dan asisten,” jelas Yunus.

Pekan pertama Januari 2007.

Mes petinju AKAS BC terlihat lengang. Enam kamar terlihat kosong. Tidak ada keramaian atau aktivitas petinju di sana.

Beberapa saat kemudian muncul MUHAMMAD YASAK. Dia kemudian memanggil teman-temannya petinju lain. Menurut dia, sepinya sasana sudah terjadi pascakepergian MUHAMMAD RACHMAN dan kawan-kawan. Tidak ada lagi latihan rutin ramai-ramai karena volume pertandingan pun minim.

Yang masih bisa dipertahankan oleh para petinju amatir dan profesional itu hanyalah KEBERSAMAAN. Kebersamaan ini semakin lengket seiring kondisi buruk yang mereka hadapi setelah Idul Fitri, November 2006. Sejak hari raya itu mereka tidak lagi menerima jatah makan. Para petinju profesional tak dapat gaji. Uang sebesar Rp 120 ribu yang biasa diterima setiap bulan sudah tidak ada lagi.

“Uang dari Bos (Roy) terakhir yang saya terima adalah THR itu,” kata LA AMIR, petinju profesional.

Tidak adanya jatah makan membuat mengadu kepada TUTIK - yang biasa menyediakan makanan para petinju Akas BC. Tutik menjawab: “Sudah tidak ada jatah makan lagi. Sekarang (sasana) sudah bubar.”

Penyataan Tutik seperti petir di siang bolong. Para petinju terkejut bukan kepalang. Mereka merasa penasaran dan ingin mengetahui lebih lanjut, namun tidak ada yang berani bertanya kepada ROY, bos Akas BC. Sejak itu tabungan mereka dikuras untuk makan. “Sekarang ya, sudah tidak ada lagi,” imbuh MUHAMMAD FIRDAUS, juga petinju profesional.

LA AMIR, juara tinju kelas bulu yunior (55,3 kg) kini membantu mertua MALIK (petinju Akas BC) berjualan di Pasar Gotong Royong. La Amir selalu diberi buah-buahan oleh mertua Malik untuk dimakan bersama-sama para petinju. “Untunglah selalu ada yang dimakan,” ujar MUHAMMAD YASAK, petinju kelas terbang (51 kg).

Ironis, petinju-petinju top kelaparan justru di sebuah sasana terkenal di tanah air.
Dengan tidak adanya jatah makan, para petinju ogah melakukan latihan rutin. Dan itu artinya Akas BC memang benar-benar bubar!

Sayang.

No comments:

Post a Comment