09 February 2007

Bu Hartono dan Batik Tradisional Sidoarjo



Kalau jalan-jalan ke kawasan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo, saya selalu mampir di rumah Ibu FAINA HARTONO. Dia juragan BATIK KENONGO, batik tradisional khas Sidoarjo. Rumah di samping rel, Desa Kenongo, itu sekaligus studio bagi Faina untuk membatik. Dia bikin gambar, rencana bisnis, hingga buka showroom di situ.

Bu Hartono orang sederhana. Ramah, murah senyum, menerima tamu dengan akrab, layaknya orang desa. Tak ada potongan kalau dia pengusaha sukses. Padahal, dia ini juragan batik yang mempekerjakan ratusan orang, tersebar di Kecamatan Tulangan. Namanya pun terkenal hingga ke Jepang dan negara-negara lain.

Kepada saya, BU HARTONO (sapaan akrabnya) mengaku memulai usaha dari nol gara-gara krisis moneter pada 1997. Perusahaan batik tempat dia kerja di Jetis, Sidoarjo Kota, bangkrut. Dia pun balik ke kampungnya. Berbekal ilmu membatik yang ia tekuni sejak 1968 (masih sekolah dasar), Faina pun merintis usaha batik dari nol. Modal uang hampir tidak ada, kecuali skill serta trust. Dia optimistis, usaha yang dikerjakan dengan ikhlas, tekun, insya Allah, sukses.

Bu Hartono tidak makan sekolah tinggi, hanya lulusan SD, tapi pandai membaca situasi. Batik yang dikembangkan di Kenongo, Tulangan, adalah batik asli Sidoarjo. Motifnya udang, ikan, daun sirih. Pakem ini ia jaga betul. Bahan-bahan pewarna?
"Saya pakai daun-daunan. Pokoknya, 100 persen daun-daunan. Nggak pakai pewarna sintetis,” tutur wanita yang juga pernah meraih Kartini Award versi Pemkab Sidoarjo itu. Daun apa saja bisa dipakai untuk batik, dan hasilnya bagus.

Batik kenongo pun dikerjakan secara manual. 100 persen hand made. Intervensi mesin praktis tidak ada. Bu Hartono menggambar desain, lalu proses selanjutnya (pembatikan dengan malam dan sebagainya) diserahkan kepada ibu-ibu rumah tangga di Tulangan.

Kebetulan daerah itu sejak dulu punya tradisi membatik. Mereka punya skill turun-temurun. Ibu-ibu garap batik di rumahnya, memanfaatkan waktu luang. Setelah selesai, hasilnya diberikan kepada Bu Hartono. Lalu Bu Hartono kasih garapan lagi. Siklus kerja macam ini sudah berlangsung lama.

Bagi perempuan-perempuan desa di Tulangan, menggarap batik itu tidak boleh ‘kesusu’ alias buru-buru. Harus dihayati sebagai sebentuk karya seni. Karena itu, Bu Hartono tidak suka dengan konsumen yang ngotot order cepat, apalagi dalam jumlah banyak. Manusia bukan mesin, bukan?

Bagi Bu Hartono, lebih baik menggarap sedikit-sedikit, tapi hasilnya bagus, membawa kepuasan batin, daripada menggarap banyak (dapat uang banyak), tapi hasilnya kedodoran. Dia benar-benar antitesis dari sebuah proses produksi moderen yang mekanistis.





Saat ini sedikitnya 200 ibu rumah tangga di Tulangan ‘dipekerjakan’ Bu Hartono untuk menggarap batik-batiknya, BATIK SARI KENONGO. Ketika berbagai usaha hancur gara-gara krisis, bisnis batik Bu Hartono justru melambung. Tak sampai dua tahun, batik karyanya langsung melejit di Sidoarjo dan sekitarnya, juga Jawa Timur. Batik Sidoarjo yang sempat mati suri pun hidup lagi.

Hingga beberapa bank pun berebut datang ke rumah Bu Hartono meminta pengusaha kecil ini mau ambil kredit. “Tapi saya tidak mau utang. Kredit itu kan ngutang. Saya sejak kecil diajar untuk tidak boleh utang,” ujar Bu Hartono kepada saya.

Pihak bank tak kurang akal. “Kredit itu perlu. Usahamu akan lebih maju. Semua pengusaha juga kredit. Dan rayuan-rayuan khas bank lainnya,” demikian rayuan pihak bank.

Toh, Bu Hartono bergeming. Ideologi antiutangnya telanjur tertanam sangat kuat di hatinya. “Sampai sekarang saya nggak mau ambil kredit,” tuturnya.

Bagi Bu Hartono, usaha batik tradisional macam ini lebih baik tumbuh perlahan-lahan secara alami, tapi sehat. Kalau ada uang lebih, ya, ada pengembangan usaha. Kalau tidak, cukup jalan seperti biasa saja. Sebuah prinsip sederhana, tapi alamiah, khas orang desa.

Dalam beberapa tahun terakhir, Bu Hartono banyak mengikuti pameran batik tingkat nasional. Ada masukan agar dia pakai sistem komputer saja. Dengan komputer, desain batik lebih rapi dan cepat. Lagi-lagi Bu Hartono bergeming. Menurut dia, salah satu kelebihan batik tradisional Sidoarjo justru di sentuhan seni yang dikerjakan dengan tangan, bukan mesin atau komputer. "Sama-sama rapinya, tapi batik tangan lebih seni," ujar dia.

Berkat ketekunan dan kegigihan menjaga pakem, konsumen batik kenongo melebar hingga ke negara manca. Orang Jepang jadi pelanggan tetap. Mereka bisa datang hingga empat kali dalam sebulan. Ini belum termasuk warga Jepang yang tinggal di Surabaya atau Jakarta. "Mereka tidak pernah menawar karena tahu begitu rumitnya membatik,” kata Bu Hartono.

Yang menarik, beberapa waktu lalu ada orang Jepang live-in atau tinggal di rumahnya selama hampir satu tahun untuk belajar membatik. Mereka ingin merasakan bagaimana seluk-beluk membuat batik tradisional khas Sidoarjo.

Namanya juga hasil kerajinan tangan, harga sehelai batik kenongo cukup mahal. Paling murah sekitar Rp 400 ribu. Yang pasti, Bu Hartono tak pernah sepi pembeli karena segmen pasarnya sangat khusus dan jelas.



8 comments:

  1. salam buat bu hartono.

    batiknya emang bagus.

    ReplyDelete
  2. Wah .... saya jadi kangen sama Tulangan nih ... Kalau ada yang punya foto-2 desa Tulangan, terutama di sekitar kantor Kecamatan ... wah saya akan seneng banget, bisa jadi tombo ati ... :) Suwun sak durunge ...
    Bu Hartono ini sebelah mana ya. Terakhir ke Tulangan tahun 86-an ...

    ReplyDelete
  3. Hai. salam kenal mas. saya sangat tertarik dengan batik sidoarjo. Dapatkah saya mendapatkan kontak Bu Har? Thx a lot..

    ReplyDelete
  4. Terima kasih sudah mampir ke laman saya. Salam kenal dan salam jazz juga Sharon.

    Produk Bu Har namanya Batik Sari Kenongo di Jl Raya Tulangan, Desa Kenongo, Tulangan, Sidoarjo.
    Telepon 031-8852274. Sedangkan nomor ponselnya sudah hilang, Ning.

    ReplyDelete
  5. Batik kenongo yg asli adalah milik haji oesman jasir tolong di ralat pemakaian nama batik kenongo nya,

    ReplyDelete
  6. Saya keberatan dengan pemakaian nama Batik KENONGO milik painah hartono karena pemilik asli adalah H Oesman Jasir, karena nama tersebut sudah di patenkan, jadi tolong yg bikin blog ini segera meralatnya.

    ReplyDelete
  7. Bu har memiliki batik sari kenongo, Bukan batik kenongo.
    Batik kenongo lokasi di Jl. Kartini sidoarjo

    ReplyDelete