01 February 2007

Teater ala SDN Sawotratap 2



Kekhasan SDN Sawotratap II ini tak lepas dari sosok HERI ANDRIYANTO, yang lebih dikenal dengan HERI BIOLA. Guru kelahiran Krembung, Sidoarjo, 5 Desember 1965 ini, memang lebih kental senimannya ketimbang guru biasa. Cara mengajarnya pun ala seniman. Tidak pakai kurikulum!

"Heri Biola itu guru nyeleneh. Caranya tidak umum, tapi layak ditiru. Dia berani membuat terobosan yang sangat berani," ujar HERMAN HANDOKO KAMTO, pelukis senior di Waru, yang mengenal dekat Heri Biola.

Nah, untuk mendukung misi budayanya, Heri Biola mendirikan SANGGAR JENDELA, persis di belakang gedung SDN Sawotratap II. Sebuah pendopo tanpa dinding dengan lantai licin (dan bersih) sengaja disiapkan untuk proses olah seni dan olah jiwa.

Tak jauh dari situ ada gudang penyimpan berbagai alat musik, properti teater, contoh-contoh karya seni, dan sebagainya. Setiap saat anak-anak sekolah bebas menggunakan fasilitas itu. Tidak ada larangan.

"Anak-anak bebas tapi harus bertanggung jawab. Bebas memainkan, tapi tidak boleh merusak," ujar Heri kepada saya.

Ingin main jaranan, kostum dan propertinya tersedia. Anak-anak itu juga dikondisikan untuk membuat sendiri berbagai instrumen kesenian. Buat sendiri, main sendiri, serba swadaya, membuat anak-anak asuhan Heri Biola ini sangat bertanggung jawab. Buktinya, tak pernah terdengar berita kasus pencurian barang-barang seni di SDN Sawotratap II.

Bagaimana proses pembelajaran 'orkes', olahraga dan kesenian itu? Tanpa banyak menggubris silabus atau kurikulum resmi, Heri Biola mengkombinasikan tiga mata pelajaran dalam satu nafas: kesenian, olahraga, dan agama (Islam). Tiga hal ini tak pernah berjalan terpisah dalam kamus seorang Heri. Begitu jam olahraga tiba, anak-anak langsung keluar ruangan.

Mengenakan kaus olahraga (warna oranye), anak-anak ini disuruh duduk di atas halaman berpasir. Murid SDN Sawotratap II lesehan begitu saja di atas pasir atau tanah. Takut kotor? No way! Dalam kamus Pak Guru Heri rasa jijik atau kotor itu tidak ada. Anak-anak ini malah diminta menikmati tanah, pasir, lumpur, atau apa saja. Silakan bergembira sebebas mungkin.

Sebelum 'bermain tanah', anak-anak ini duduk manis, meditasi. Menyedot udara, tahan beberapa hitungan, menghembuskan udara... dan seterusnya. Anak-anak juga membuat gerakan tangan layaknya latihan meditasi. Untuk apa? "Banyak manfaatnya," tukas Heri Biola.

Melatih konsentrasi, memusatkan pikiran, fokus pada masalah, hingga meningkatkan kualitas kesehatan. Latihan semacam itu juga membuat anak-anak lebih tenang, sehat, gembira, percaya diri. "Yang paling penting itu percaya diri. Kalau anak-anak sudah percaya diri, dia bisa melakukan apa saja dengan mudah."

Acara 'main tanah' ternyata tidak hanya dilakukan di kompleks SDN Sawotratap II. Anak-anak juga diminta 'main-main tanah' di sawah dan lahan terbuka dekat sekolah. Main-main sambil melihat ekosistem di sana. Mulai belalang, burung-burung, tanaman, dan barangkali ular. Semua harus dinikmati anak-anak dari kelas 1 sampai kelas 6.

Masih di sawah, anak-anak juga pulang membawa oleh-oleh tanah lempung beberapa genggam. Dengan sedikit arahan dari Guru Heri, lempung itu kemudian dibentuk menjadi apa saja. Terserah anak-anak. "Mereka menggarap itu di rumah karena waktunya nggak cukup," tutur Heri Biola.

SALAH satu andalan, sekaligus kebanggaan, SDN Sawotratap II adalah tari kecak yang dikombinasi dengan jaranan dan dolanan anak-anak khas Jawa. Tarian khas Bali ini sepintas cukup sulit, durasinya cukup lama (30 menit), dengan berbagai kombinasi gerakan.

Seorang anak ditunjuk sebagai 'komandan' yang menjadi pengarah gerakan kecak. Juga bunyi-bunyian tanpa makna yang selalu berubah-ubah. "Sulit sekali," begitu ungkapan beberapa warga, termasuk seniman Sidoarjo, yang menyaksikan atraksi anak-anak SDN Sawotratap II.

Tapi, tak ada kamus sulit bagi HERI ANDRIYANTO, nama asli seniman biola asal Krembung. Anak-anak polos ini bisa dibentuk sebagai penari-penari kecak dalam waktu singkat. Heri mengaku hanya membutuhkan waktu satu minggu untuk membentuk anak-anak. Bahkan, dalam sekali latihan gerakan-gerakan dan sahut-sahutan para siswa (kelas 1 sampai 6) sudah terbentuk.

"Dari pengalaman saya nggak sulit kok mengajar seni di kalangan anak-anak. Malah lebih cepat ketimbang orang dewasa. Daya serap mereka sangat tinggi. Anak-anak juga bisa cepat menirukan gerakan-gerakan, sulit lupa," tutur Heri, seniman yang pernah konser tunggal di Pusat Kebudayaan Prancis (CCCL) di Surabaya itu.

Selain tari kecak, anak-anak SDN Sawotratap II diberi kesempatan melakukan improvisasi sendiri. Heri hanya sebatas menyediakan berbagai instrumen musik (kebanyakan tradisional) di pendopo Sanggar Jendela. Setelah meditasi, dan salat berjemaaah, anak-anak dibiarkan berkreasi sendiri.

Sebagai guru, Heri tak banyak memberi ceramah di depan kelas, melarang ini-itu, memberi contoh, dan seterusnya.

Guru yang satu ini cenderung pasif, karena ia percaya bahwa dalam diri setiap manusia selalu ada potensi seni yang bisa dieksplorasi. Hasilnya? Macam-macam. Murid SDN Sawotratap II ini, khususnya kelas atas (4-6), secara spontan bermain teater.

Topiknya apa saja, mulai legenda-legenda tradisional hingga cerita kehidupan sehari-hari. Belajar sambil bermain, edutainment, benar-benar diterapkan Heri.

Kreativitas anak-anak Sawotratap pun tumbuh subur. Mereka menjadi anak-anak yang hanya minta 'petunjuk' dari guru atau orang tua sebelum melakukan sesuatu.

Heri menyebut contoh kasus tanah lempung untuk patung. Setelah main-main tanah, anak-anak membuat patung apa saja. Patung mentahan itu dibawa ke rumah untuk diselesaikan. "Saya tidak pernah memberi instruksi macam-macam," tutur Heri.

Teknik membakar dan sebagainya sama sekali belum disampaikan oleh Pak Guru. Tapi, dasar anak kreatif, sampai di rumah beberapa murid nekat membakar patung dari tanah lempung itu. "Hasilnya malah bagus sekali. Saya sendiri belum tentu bisa membakar dengan hasil seperti itu," ujar Heri memuji 'kenekatan' anak-anak didiknya.

Tak heran, prestasi anak-anak SDN Sawotratap II sulit ditandingi di Kabupaten Sidoarjo, bahkan Jawa Timur. Berkali-kali mereka tampil dalam acara bergengsi di Sidoarjo, Porseni Porseni Jatim, hingga pentas di beberapa festival seni.

"Kami baru saja menang tingkat Jawa Timur," cerita Dewi, murid kelas 4.

2 comments:

  1. udhowokalem@yahoo.co.id2:09 AM, December 17, 2013

    Aku abdul mukhid alumni 2006 alias is raja sam sam teater yg bwa pulang piala dr acra seni rupa d MPU TANTULAR 2006 lalu

    ReplyDelete