06 February 2007

Belajar dari Dewan Kesenian Kabupaten Malang

Di Indonesia Raya ini, perhatian pemerintah daerah pada seni budaya sangat kurang. Di Sidoarjo, Dewan Kesenian hanya dapat anggaran Rp 5-10 juta per tahun (dipotong pajak 15 persen). Dewan Kesenian Kabupaten Malang (DKKM) merupakan pengecualian. Setiap tahun dia dapat dana Rp 200 juta. Bagaimana kiatnya?


Adalah Dr. HENRICUS SUPRIYANTO, ketua penelitian dan pengembangan Dewan Kesenian Kabupaten Malang, yang paling berperan mengegolkan anggaran Rp 200 juta per tahun itu. Awalnya, ya, sukar juga meyakinkan pejabat pemda bahwa seni budaya itu penting bagi masyarakat. Jangan hanya ngurus sepak bola thok!

"Rencana ke depan Rp 250 juta untuk satu tahun. Sebab, kami sudah berhasil meyakinkan pemerintah kabupaten Malang dan DPRD bahwa seni budaya itu sangat penting. Lebih penting ketimbang sepak bola," ujar Henri Supriyanto, yang juga doktor dan peneliti ludruk di Universitas Negeri Surabaya, kepada saya.

Seperti daerah lain, mula-mula DKKM tak begitu saja dipercaya bupati dan parlemen. Sebagai ketua litbang dan riset, apalagi doktor urusan budaya, Henri melakukan riset. Bekas wartawan SINAR HARAPAN itu gali data tentang seni budaya di seluruh Kabupaten Malang.

Dia mendata semua dalang, sinden, karawitan, ludruk, wayang topeng. Singkatnya, semua seni tradisi dan modern didata. Data harus akurat, bisa dipertanggungjawabkan.

"Haram bagi Dewan Kesenian untuk main klaim atau bicara tanpa data. Data itu yang akan bicara," ujar penulis 10 buku seputar seni tradisi di Jawa Timur itu.

Nah, data seni buadaya itulah yang dipakai sebagai 'senjata' dewan kesenian saat hearing dengan Komisi E DPRD Malang dan Bupati Malang. Henri bisa menyebut secara detail grup-grup seni budaya di wilayahnya. Misal, wayang topeng di Kabupaten Malang tinggal lima grup, 15 grup ludruk, 98 sinden.

"Saya juga membuat asumsi yang sederhana agar Bapak-Bapak di legislatif bisa mengerti," beber pria kelahiran Curahjati, Banyuwangi, itu.

Kabupaten Malang terdiri dari 33 kecamatan dan 380 desa. Andai satu kecamatan dapat dana Rp 1 juta, perlu Rp 33 juta. Belum untuk pembinaan grup-grup seni tradisi dan kontemporer. Bupati Malang SUJUD PRIBADI dan DPRD Malang akhirnya bisa memahami jalan pikiran dewan kesenian.

"Karena mereka nggak rela kalau wayang topeng khas Malang itu punah. Mereka tidak ingin seni budaya kita hancur. Jadi, sederhana saja caranya," papar Henri Supriyanto lalu tertawa kecil.

Henri bertanya kepada saya, ada berapa kecamatan di Sidoarjo. Saya jawab 18 kecamatan, 353 desa. Saya juga bilang Dewan Kesenian Sidoarjo sekarang hanya dapat sekitar Rp 10 juta per tahun. "Coba kamu bagi dengan 18," kata sang dosen. Ketemu angka Rp 555.000 atau dibulatkan menjadi Rp 600 ribu.

"Nah, apakah uang segitu, Rp 600 ribu, bisa dipakai membina kesenian di SATU KECAMATAN selama SATU TAHUN?" tukas Henri. Saya pun tertegun. "Kita harus bicara pakai logika dan data," tambahnya.

Menurut Henri, dana Rp 250 juta per tahun untuk Dewan Kesenian Kabupaten Malang ini merupakan investasi yang hasilnya baru bisa dilihat dalam jangka panjang. Ia mengibaratkan orang tua yang menanam pohon kelapa. Hasilnya baru bisa dipetik setelah belasan tahun. Sekali berbuah, kelapa itu terus berbuah.

"Yang nanam mati, tapi anak dan cucunya bisa menikmati. Lain dengan menanam pisang. Sekali berbuah, setelah itu ditebang. Yang makan, ya, yang nanam," kata Henri.

Sayang sekali, pejabat kita (pusat sampai daerah) kebanyakan menganut FILOSOFI PISANG. Mereka lebih suka hasil instan, cepat dilihat saat masih menjabat. Syukur-syukur masa jabatannya ditambah lima tahun lagi. Karena itu, papar Henri, tidak heran kalau pejabat di Indonesia sangat getol mengurus sepak bola.

Rata-rata satu klub Liga Indonesia menguras uang APBD palin sedikit Rp 15 miliar per musim. Uang rakyat dikuras untuk beli pemain jadi atau impor pemain asing. Pembinaan atau pembibitan untuk 10 atau 20 tahun ke depan praktis tidak ada.

"Setahu saya selama ini penonton sepak bola kita suka membuat kerusuhan. Mana ada penonton ludruk atau wayang kulit yang bikin onar setelah menonton pertunjukkan?" ujar Henri Supriyanto.

SETYA YUWANA, ketua Dewan Kesenian Jawa Timur, pun terkejut dengan 'prestasi' Dewan Kesenian Kabupaten Malang. "Kami di Dewan Kesenian Jatim kalah dari Malang deh. Saya kira, pemda-pemda lain perlu mencontoh kebijakan Pemkab Malang dalam pembinaan seni budaya," kata Setya Yuwana.

SAYA juga bertanya bagaimana Henri dan kawan-kawan mempertanggungjawabkan dana Rp 200 juta setahun. Uang itu cukup besar sehingga rawan dikorupsi. Alokasinya bagaimana.

"Kami pakai sistem open management. Setiap sen yang keluar harus setransparan mungkin," tandas Henricus Supriyanto.

Caranya, di kantor dewan kesenian disediakan data lengkap berisi aliran dana yang masuk dan keluar. Bantuan ke ludruk dicatat, wayang kulit, topeng, dan sebagainya dicatat. Setiap proposal yang masuk ke dewan kesenian pun diteliti secara berlapis agar uang itu benar-benar dipakai untuk kesenian.

"Setiap saat kami siap menunjukkan data-data penggunaan uang di dewan kesenian," tandas Henri. Catatan itu pula yang akan diperlihatkan kepada wakil rakyat di DPRD Kabupaten Malang.

3 comments:

  1. Hi, Mr. Lambert! nice to see you. First of all i'm so sorry about disturb you but i think that is not the matter for you (and my english not good). maybe you can became to my best friend. this below is my profile :
    Name : Gaudensius Dadu Beribe
    My nickname : dendhy beribeI
    I come from : Blepanawa ( small village near Larantuka about 20 kilometres to Maumere).
    Now i live in Kendari (southeast Sulawesi) since 1995. I work at Education Quality Assurance Institution (Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan Sulawesi Tenggara). i like meet your email at internet. maybe one day we meet face to face.
    Address : Jl. D.I.Panjaitan No. 83 (my office), BTN Lepo-Lepo Permai B9/12 Telp. 0401 390756/085241583975.
    Here i make a Social organization of Flores Timur (Ikatan Kerukunan Keluarga Flores Timur). My member very much. They are from lembata, larantuka adonara, solor, ect.
    Ok friend, see you next time. God blessing you and your family.

    Dendhy Beribe.

    ReplyDelete
  2. dewan kesenian di daerah memang byk yg gak jalan.

    ReplyDelete
  3. Kesenian daerah harus digalakkan, bila tidak kesenian dan budaya setiap daerah akan semakin luntur sejalan dengan perkembangan jaman saat ini.

    Thanks for share

    ReplyDelete