01 March 2007

Barongsai Full Pribumi di Jatim


GRUP BARONGSAI DHARMA BHAKTI EKSIS SEJAK AWAL 2004 LALU. GRUP SENI TRADISI TIONGHOA INI BERMARKAS DI PONDOK JATI X/8 SIDOARJO. SEMUA PEMAINNYA TERNYATA BUKAN WARGA KETURUNAN TIONGHOA. CIAMIK SORO, REK!

Berbeda dengan grup barongsai umumnya yang berafiliasi dengan kelenteng, Dharma Bhakti sejak awal dirancang sebagai paguyuban seni dan olahraga murni. Artinya, tak ada ikatan apa pun dengan kelenteng atau yayasan agama Tridharma (Buddha, Tao, Konghuchu). Aspek pembauran antaretnis dan sangat ditekankan di sini.

Bagaimana tidak. NUGROHO DHAMMA MANGALA alias NJOO TIONG HOO, pelatih Dharma Bhakti, beragama Buddha. Wim Umboh, pembina dan sesepuh Dharma Bhakti, muslim Tionghoa. "Anak-anak asuh saya mayoritas beragama Islam. Ada juga yang Kristen dari Gereja Bethany," jelas Nugroho kepada saya.

Berkekuatan 30 personel, Dharma Bhakti sering mengisi berbagai perhelatan di Surabaya, Sidoarjo, bahkan ke luar Jawa. Terakhir, pada perayaan SIN CIA alias tahun baru Imlek 2558 lalu, Dharma Bhakti mengisi acara di gereja dan beberapa tempat lain di Surabaya.

Di usianya yang masih belia--bandingkan dengan grup barongsai di kelenteng yang usianya puluhan, bahkan ratusan tahun--kinerja Dharma Bhakti tak mengecewakan. Mereka mampu memainkan gerakan-gerakan sulit, termasuk membuat berbagai formasi liang liong. "Liang liong yang paling sulit," kata Nugroho seraya tersenyum.

Lahirnya grup Dharma Bhakti, papar Nugroho, tak lepas dari keprihatinan akan ketiadaan barongsai di Sidoarjo. Sebagai tetangga Kota Surabaya, rasanya aneh kalau Sidoarjo tak ada punya barongsai. Sementara di pihak lain, kebutuhan untuk menampilkan kesenian barongsai cukup tinggi. "Masa, kita harus mendatangkan barongsai dari luar kota terus?"

Melihat kekosongan inilah, Nugroho mulai merintis Dharma Bhakti. Anak-anak Sidoarjo--tak peduli agama, ras, atau sukunya--dikumpulkan dan digembleng keras di Pondok Jati, rumah Nugroho. Tiga kali sepekan mereka dilatih untuk menguasai teknik barongsai. Di luar perkiraan, sambutan anak-anak muda belasan tahun ini luar biasa.

"Kita mengutamakan anak-anak putus sekolah. Kita ingin agar mereka mendapat penghasilan dari seni barongsai," ujar Nugroho.

Agar ada suasana baru, juga tak jenuh di Pondok Jati, Nugroho juga menggembleng anak-anak muda ini di fasilitas umum Sidoarjo. Misalnya, di halaman Gelora Delta, Dinas Pariwisata, atau halaman parkir GOR Basket. "Kami memang sudah diberi kemudahan berlatih di mana saja oleh Pak Bupati (Win Hendrarso). Perhatian beliau sangat besar pada barongsai Dharma Bhakti."

Di usia yang muda, Dharma Bhakti terus berusaha memperkenalkan diri di tengah masyarakat. Nugroho pun mengaku melobi berbagai pihak--pengusaha, PITI, birokrasi--agar Dharma Bhakti bernafas panjang. Ini penting, karena grup nonkelenteng rata-rata tidak diperkuat dana tetap seperti barongsai di bawah yayasan kelenteng. "Sekarang ini kami masih gerilya ke mana-mana agar bisa eksis," kata Nugroho.

Pria kelahiran Surabaya, 19 November 1962, ini berencana menggelar tur ke berbagai kecamatan di Sidoarjo. Tujuannya, menghibur masyarakat sekaligus mempromosikan keharmonisan suku, etnis, ras, dan agama yang ada di Sidoarjo. Kapan? "Sekarang kami masih cari sponsor. Belum ketemu."

Misi menghapus sentimen SARA memang sangat kental di barongsai Dharma Bhakti. Tak heran, mereka tampil di berbagai event yang sangat heterogen. Sejak 2004 mereka mengisi acara bernuansa keagamaan di hampir semua komunitas: Gereja Katolik, Waisyak, khitanan, muslim Tionghoa, hingga festival hadrah se-Jawa Timur di Sidoarjo.

2 comments:

  1. Hai Selamat siang,

    Saya Bapak Liem Tjien han. Saya tertarik dengan berita anda tentang liputan anda di vihara dharma bhakti jl. pondok jati sidoarjo. dengan bapak pendeta nugroho notodiputhera.liputan anda cukup menarik, saya membacanya di blogspot orang kampung.

    Sebelumnya perkenalkan terlebih dahulu saya tinggal di Jakarta sudah 15 tahun saya kelahiran Sidoarjo. maka dari itu lah saya tertarik berita daerah tempat kelahiran saya. saya bekerja di bag purchasing di depart. store terkemuka di jakarta POJOK BUSANA (www.pojokbusana.co.id0 .saya juga beragama Buddha. beruntung sekali kota sidoarjo kini telah berkembang dengan umat beragam yang hidup berdampingan.

    saya sempat mengenyam pendidikan dasar di sidoarjo tepatnya di petra sidoarjo beberapa tahun.saya juga beribadah bersama orang tua saya di kota kecil itu di vihara tua tjong hok kiong atau mak co.

    Bapak Lambertus, saya sungguh terimakasih karena berita- berita anda di blogspot banyak bermanfaat bagi saya terutama di bidang keagamaan.tapi sayang, blogspotnya orang kampung. jika ada informasi terbaru mengenai vihara dharma bhakti sidoarjo tolong di email ke saya.

    Saya pernah mendengar adanya acara untuk tanggal 6 agustus atau 11 agustus di vihara dharma bhakti bertepatan dengan SHE JIT tuan rumah vihara. jika Anda mendapat beritanya bisa kah anda memberi tahu saya.

    Bapak pdt Dhammamanggala Nugroho adalah kawan sekelas orang tua saya yang sudah lama sekali saya tidak berjumpa dengan beliau.

    terkhir saya hanya melihat wajah beliau di blogspot anda berjudul barongsai full pribumi bulan februari. Ayah saya telah 6 tahun meninggal dunia Liem Tjie Liong. Bapak nugroho banyak membantu saat kami kesulitan dulu.

    Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada beliau. dalam hitungan tahun saya akan menikah besar harapan saya ingin bertemu dengan beliau dan mengharapkan kehadiran beliau.

    Bapak Nugroho besar di lingkungan sederhana,Ayahnya Njoo KIEM TJAY adalah Biokong (JURU KUNCI) klenteng tjong hok kiong hingga tutup usia 78 th ayahnya, bapak nugroho meneruskan cita-cita sang ayah.

    Bapak nugroho (Njoo Tiong Hoo) perlahan meneruskan hingga saya baca di internet telah memiliki barongsai sendiri.

    Bapak lambertus sekian dari saya. Tolong jika bapak memliki berita tentang beliau harap kirimkan artikel anda ke email saya.

    Terimakasih.
    Best Regards

    Han

    ReplyDelete
  2. pak liem, terima kasih banyak. tulisan anda sangat informatif dan memperkaya artikel ini. salam.

    ReplyDelete