14 February 2007

Arif Amaral Korban Negara Timor Leste



Jajak pendapat di Timor Timur (Timtim), yang melahirkan negara Timor Leste, membuat ARIF AMARAL terdampar di Jawa Timur. Arif kini berusaha survive dengan membuka warung sederhana di pinggir Jalan Raya Bandara Juanda, Gedangan, Kabupaten Sidoarjo.

Pria kelahiran Viqueque, Timtim, ini bernama lengkap Arif Satya Pramudya. Jawa banget. Tapi postur, kulit gelap, rambut ikan, bentuk rahang... jauh dari potongan Jawa.
Arif ini bicara dalam bahasa Indonesia logat Tetun, bahasa daerah di kawasan Timor Timur dan Timor Barat. "Saya ini asli Timtim, tapi sejak kecil sudah ikut orang Jawa di Dili. Saya Islam, sementara saudara-saudara saya Katolik," ujar Arif kepada saya.

Ikut orang Jawa, membantu berjualan di ibukota Timtim, membuat pria kelahiran 17 Juli 1960 ini mampu membuka usaha sendiri. Kemampuan memasak mi, menyeduh kopi, tak ayal merupakan hasil magang dari orang Lamongan itu. Asal tahu saja, orang Timtim asli, yang terbiasa berladang, memelihara cendana atau beternak, tidak biasa menjadi PKL seperti dilakoni Arif sekarang.

Nah, bagaimana Arif bisa terdampar di Jawa? Bujangan berusia 45 tahun ini niscaya akan bercerita dengan senang hati. Menurut dia, kasus jajak pendapat pada 1 Oktober 1999 yang mengubah dirinya, sekaligus membuat dia tercerabut dari akar budaya, Timor Loro Sae.

Namanya juga ikut orang Jawa, pakai nama Jawa, sejak awal Arif berdiri di pihak Indonesia (pro-integrasi). Ia pun kenal baik Eurico Gutteres, tokoh milisi integrasi.
Selang empat hari, 5 Oktober 1999, PBB mengumumkan jajak pendapat. Pro-integrasi kalah telak. Dan mulailah huru-hara, aksi bumi hangus, di tanah Timtim.

Arif dan beberapa kawannya mengungsi ke NTT, tepatnya Atambua kemudian Kupang. "Saya tidur di masjid Kupang," ujarnya, lirih.

Karena barang-barangnya masih tertinggal di Dili (kos-kosan), Arif ikut kendaraan Eurico Gutteres ke tanah asalnya. Ternyata, barang-barangnya masih selamat. "Semuanya saya bawa ke Jawa, kebetulan ada sedikit modal untuk usaha," tuturnya.

Singkat cerita, Arif kemudian lari ke Jawa bersama Valdo, mahasiswa asal Timor Leste di Malang. Sejak itu Arif sudah tidak pernah berpikir bakal kembali ke Timtim. Ia terlalu cinta Indonesia, sehingga mati-hidup harus berusaha di Indonesia, tepatnya Jawa Timur. Kendati punya relasi dengan orang-orang Jawa eks Timtim, Arif tidak bisa mengandalkan hidup dari mereka.

"Saya luntang-lantung selema empat tahun di Juanda sini. Untungnya, satpam kasihan sehingga saya diperbolehkan tidur di dalam kompleks Hotel Permata Juanda," kenang Arif seraya tersenyum.

Nahas masih berlanjut. Pada 1 Oktober 2003 Arif ditabrak sepeda motor di Sawotratap, Gedangan. Ini membuat pria Timtim ini dirawat lama di RSUD Sidoarjo. Ditambah masa penyembuhan, Arif praktis istirahat total selama sembilan bulan. Syukurlah, beberapa orang Jawa yang pernah dekat dengannya di Timtim bahu-membahu membantu biaya pengobatan.

"Sampai sekarang kaki saya masih bengkok," ujar Arif Amaral. Amaral adalah marga ayahnya. Arif kemudian menunjuk kaki kanannya kepada saya.

Masa pahit itu sudah berlalu. Kini, Arif membuka warung lesehan di kawasan Bandara Juanda, persisnya di depan kantor Badan Pengawasan Jatim setiap malam. Ia sengaja berjualan di atas pukul 19:00 untuk menampung para karyawan atau anak-anak muda yang ingin santai sambil cangkrukan.

Rata-rata pengunjung Warung Bung Arif selalu ramai, kecuali hujan. "Sekarang sudah lumayan, saya bisa jualan. Jadi, untuk hidup nggak masalah lagi," katanya seraya tersenyum.

Kapan pulang atau sekadar berlibur ke Timor Leste?

Ini yang sulit dijawab Arif. Selain kondisi Timtim sudah banyak berubah, dia tak tahu keberadaan sanak familinya. "Jualan saja di Juanda. Kalau ke Timtim mau kerja apa?

No comments:

Post a Comment