15 January 2007

Wong Jawa Dalang Wayang Potehi



Oleh Lambertus Lusi Hurek

Rumah Ki SUBUR, nama aslinya SUGIJO WALUYO (lahir pada 17 Mei 1962) dekat kelenteng. Ini membuatnya akrab dengan pergelaran wayang potehi alias 'wayang titi' (sebutan khas masyarakat awam). Ketika wayang potehi tengah dimainkan, Subur kecil main-main ke kelenteng.

Namanya juga anak-anak, waktu itu belum ada kesan apa-apa. "Saya lihat kok menarik. Boneka digerak-gerakkan, pak dalang bicara, ada musiknya. Pokoknya ramai dan menarik," cerita Ki Subur kepada saya.

Kebetulan beberapa kerabat Ki Subur sudah lebih dulu menekuni wayang potehi di Surabaya dan beberapa kelenteng lain di Jawa Timur. Tanpa diajak, Ki Subur bergabung dengan rombongan pemain wayang potehi. Ia menjajal beberapa instrumen musik Tiongkok yang biasa dipakai untuk pergelaran wayang potehi. Kali lain Subur diminta mengambil boneka-boneka potehi.

Yang menarik, ketika teman-teman sebaya bermain bola atau permainan lain, khas anak-anak, Subur tetap bertahan bersama grup wayang potehi. Sebagai balas jasa, para senior memberikan tips ala kadarnya buat uang jajan. Praktik seperti ini dilakukan terus-menerus oleh Subur selama bertahun-tahun. Dari sinilah, para senior menilai Subur punya minat dan bakat menjadi dalang wayang potehi.

"Jadi, belajarnya itu sambil jalan. Nggak ada kursus atau latihan khusus menjadi dalang wayang potehi karena memang tidak ada di dunia," ujar Subur.

Belajar wayang potehi mirip belajar seni bela diri Tiongkok. Sang 'suhu' (guru) mengeluarkan ilmunya perlahan-lahan, tahap demi tahap. Begitu halusnya cara si guru mengeluarkan ilmunya, murid seperti Subur tidak sadar kalau dia sedang belajar. Tak ada jalan pintas dalam wayang potehi. Akhirnya, tanpa terasa Subur sudah menguasai jurus-jurus wayang potehi.

"Jalannya mulus saja. Kita belajar sambil bermain. Dan proses belajar ini berjalan terus tanpa ada batasnya. Saat saya bermain sekarang pun sebenarnya saya sedang belajar juga."

Bagaimana Subur mampu menguasai cerita-cerita khas Tiongkok? (Hampir semua adegan potehi diambil dari kisah nyata pada zaman Kerajaan Tiongkok kuno.) Jawabnya, baca komik China sebanyak-banyaknya. Berbeda dengan kisah Mahabarata dan Ramayana--bahan dasar wayang purwa--yang biasanya ditularkan secara lisan, kisah-kisah wayang potehi sudah banyak dikomikkan dalam bahasa Indonesia.

"Kalau bahasa Mandarin saya nggak bisa. Paling-paling hanya beberapa ungkapan tertentu saja. Jadi, gaya mendalang saya lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia, bahasa Jawa, sekali-sekali bahasa Mandarin," cerita Subur sambil tertawa kecil.

Komik cerita wayang potehi ini jauh lebih tebal ketimbang komik biasa. Ceritanya pun penuh intrik, lika-liku, akal-akalan, perang antarpendekar bukan saja di bumi, tapi juga sering melibatkan dewa-dewi.

"Kalau raja atau ratunya sudah kelewatan ngawurnya, pasti dewa turun tangan. Dewa menggunakan cara-cara khusus untuk mengatasi kemelut di bumi. Ini menjadi salah satu ciri khas cerita di wayang potehi."

Menurut Subur, gambar di komik Tionghoa ini sangat hidup dan menarik. Tak heran, Subur begitu menggandrungi komik-komik ini dan jalan ceritanya mudah diingat. Hanya saja, nama-nama Tionghoa sering kali sulit diingat Ki Subur. "Tapi lama-kelamaan biasa juga. Apalagi, ceritanya bisa kita mainkan berturut-turut selama satu bulan."



FUK HOU AN grup wayang potehi yang sangat kondang di Jawa Timur pada 1950-an hingga 1960-an. Dalangnya TUK HONG KI (almarhum, asal Jombang) yang tak lain orang tua Tonny. Ketika seni budaya khas Tiongkok dilarang keras oleh rezim Orde Baru, kejayaan Fuk Hou An pun seperti lenyap ditelan bumi.


Tuk Hong Ki, sang dalang potehi, meninggal dunia tanpa ada kaderisasi dalang baru. Mana ada anak muda keturunan Tionghoa yang mau menekuni potehi? Selain trauma, takut dicokok aparat keamanan, anak-anak muda Chinese lebih senang menjadi pebisnis, profesional, atau atlet (basket, bulutangkis, dan seterusnya). Mau dikemanakan properti wayang potehi milik Tuk Hong Ki?

Suatu ketika Tonny melihat permainan wayang potehi dari Sugijo Waluyo dan kawan-kawan. Sangat menarik, katanya. Aksi Sugijo Waluyo (nama asli Ki Subur), anak muda yang lahir pada 17 Mei 1962 ini kontan membangkitkan harapan Tonny. Bahwa ternyata masih ada anak muda, yang nota bene orang Jawa, mau meneruskan seni adiluhung Tiongkok. Kalau begitu, wayang potehi tidak mati. Sang Dewa rupanya masih melindungi seni wayang potehi.

Sejak itulah Tonny menjadi 'bapak angkat' Grup Fuk Hou An, dengan dalang Ki Subur. "Sampai sekarang Pak Tonny itu paling antusias mendukung saya dan teman-teman. Kalau nggak ada dukungan Pak Tonny mungkin grup kami tidak berkembang sepesat sekarang," kata Subur.

Saat pentas di Kelenteng Tjok Hok Kiong, Sidoarjo, pun Tonny berusaha melihat secara langsung. Saat ini Subur diperkuat empat pemain pembantu, sekaligus pemusik, yakni SUGIYONO (Surabaya), MULYANTO (Surabaya), KARLI (Blitar), dan ALFIAN (Sidoarjo). Nama terakhir ini, Alfian (18 tahun) tak lain anak kandung Subur.

"Saya nggak pernah memaksa anak saya untuk meneruskan wayang potehi. Tahu-tahu dia ikut sendiri sampai sekarang," tutur Subur, ayah empat anak.

Subur mengaku lebih senang bila anak-anaknya menekuni profesi lain, bukan seniman, apalagi dalang wayang potehi. Tapi, begitulah, buah jatuh tak pernah jauh dari pohonnya. Bakat seni sang ayah ternyata merembet ke Alfian, anak kedua.

Kenapa Grup Fuk Hou An didominasi orang luar, bukan Sidoarjo?

Di sinilah rahasia wayang potehi. Kaderisasi, kata Ki Subur, tidak bisa dilakukan secara mudah seperti seni hiburan populer ala musik pop. Mereka yang belajar wayang potehi, ikut pentas Ki Subur ke mana-mana bukan jaminan bakal 'jadi'. Kalau bukan bakatnya, latihan seperti apa pun tak akan bisa.

Menurut Ki Subur, sejak dulu anak-anak muda Sidoarjo, khususnya yang tinggal di dekat kompleks Kelenteng Tjok Hok Kiong, sebetulnya tak kurang-kurangnya mengikuti proses berkesenian dari Ki Subur dan kawan-kawan. Ada yang mencoba meniup trompet, main gong China, dan seterusnya. Beberapa anak muda bahkan sempat bergabung dengan Ki Subur. Tapi, dasar bukan bakat, mereka tidak bertahan lama.

"Saya sih lebih senang kalau pemain-pemain saya banyak yang dari Sidoarjo. Kalau semuanya orang sini kan gampang koordinasinya," tutur Subur yang pernah tampil di stasiun televisi nasional di Jakarta itu.

Bagi Subur, yang resmi menjadi dalang potehi pada 1994 (tahun 1970-an sudah ikut-ikutan pemain dewasa), wayang potehi sudah menjadi pilihan hidupnya. Ia mengandalkan nafkah hidupnya dan keluarga dari wayang potehi kendati fee-nya jauh lebih kecil ketimbang dalang wayang kulit. Gelar wayang potehi pun tak bisa dilaksanakan setiap hari.

Di Sidoarjo, wayang potehi hanya digelar saat perayaan hari jadi Makco THIAN SIANG SENG BO di Kelenteng Tjong Hok Kiong, Jalan Hang Tuah Sidoarjo. Acara tahunan ini juga diisi dengan hiburan rakyat untuk warga sekitar kelenteng.

Untuk memeriahkan HUT Makco, Subur biasanya menggelar pertunjukkan wayang potehi selama satu bulan penuh di kompleks kelenteng. Biasanya, lakon yang dibawakan adalah SUN PIN-BAN KWAN. "Saya selalu mengajukan empat judul, kemudian diseleksi oleh pengurus kelenteng. Judul mana yang dipilih, ya, itulah yang saya mainkan,” jelas Subur kepada saya.

Wayang potehi di Sidoarjo merupakan bagian dari ritual umat Tridharma ketimbang hiburan biasa. Karena itu, jarang sekali orang luar yang menikmati kesenian langka ini. "Padahal, unsur hiburan dan intrik di wayang potehi justru lebih banyak daripada wayang kulit. Nggak kalah deh sama wayang kulit," tegas Subur.

Yang jelas, Ki Subur mengaku puas dengan pilihannya sebagai seniman wayang potehi. Ki Subur, dengan caranya sendiri, telah melestarikan kesenian Tiongkok yang nyaris punah itu.



TERKAIT
Pelestari wayang potehi di Surabaya

9 comments:

  1. Salut sama Pak Subur, yg mau melestarikan wayang potehi. selamat kerja.

    anton, jakarta

    ReplyDelete
  2. bagus nih artikel.

    ReplyDelete
  3. tanggapan atas komentar konco2. salam.

    ReplyDelete
  4. pak subur,kebetulan saya mahasiswa sastra cina,sedang membuat skripsi,tentang perkembangan wayang potehi,nah saya pengen banget ikut ambil bagian dalam pementasan wayang potehi..ada koneksi atau narasumber yang bisa saya dapatkan informasinya..?thanks

    ReplyDelete
  5. Silakan Anda datang ke Kelenteng Dukuh, Surabaya, dekat Jalan Kembang Jepun. Setiap hari ada pertunjukan wayang potehi 3 kali sehari. Anda bisa ketemu Pak Mudjiono, Pak Edi Sutrisno, dan kawan-kawan.

    Kalau Pak Subur biasanya main di luar kota. Terima kasih.

    ReplyDelete
  6. Kebetulan dapat artikel diatas wkt google wayang wong. Mas, tolong tanya, siapakah yg disebut Tonny diatas di paragraf ke 15 dst?

    Selain Sun Pin-Ban Kwan (dan mungkin Sam Pek Eng Tai) apakah judul cerita2 lainnya? Dan apakah makna utama dari cerita2 ini adalah intervensi dari dewa-dewi atas kesulitan hidup manusia?
    Terimakasih.

    ReplyDelete
  7. mohon bantuannya untuk informasi wayang China(wayang Potehi) terutama seluk beluk dan sejarah masuk/datangnya wayang Potehi ke Indonesia... ^_^

    ReplyDelete
  8. saya butuh pemain wayang potehi.. bisa bantu untuk contact personnya gak ya?
    trims

    ReplyDelete
  9. Dear Mr.Lambertus,

    Salam kenal, Saya Maria.

    Barusan saya membaca blog anda mengenai wayang potehi ini.
    Saya sangat tertarik pada kebudayaan Indonesia, dan juga wayang potehi ini.
    Apakah Bapak bisa memberikan nomor telepon sanggar potehi yang Bapak tahu?
    dan, salah satu kerabat saya sangat tertarik untuk mengoleksi wayang potehi ini, apakah Bapak tahu dimana kami bisa membeli wayang potehi ini?

    Terima Kasih.

    Best Regards,
    Maria Franciska Saujana

    ReplyDelete