01 January 2007

Wisata Bali Masih Terpuruk


Aku mejeng di Pantai Kuta.


Tragedi Bom Bali pada 2002 dan 2005 hingga kini masih berdampak buruk pada arus kunjungan turis asing di pulau dewata. Program Bali Recovery dinilai belum berhasil.


NI PUTU SARI siang itu bolak-balik menawarkan jasa pijat tradisional kepada para pelancong di Pantai Kuta, Kabupaten Badung, Bali. Dengan halus, ditambah kemampuan berbahasa Inggris yang lumayan, dia mencoba merebut hati pelancong bule maupun domestik. Namun, hampir tiga jam perempuan berusia 50-an tahun itu tak berhasil mendapat satu pun konsumen.

“Sepi sekali, Mas. Dari pagi sampai jam dua siang ini saya belum dapat apa-apa,” keluh Putu Sari.

Mendengar keluhan Ni Putu Sari, NI LUH MARITA (50-an), yang duduk di samping saya, ikut nimbrung. Dia juga mengaku belum mendapat satu pun turis yang bersedia dirawat kukunya. Kalau Putu Sari spesialis pijat, Luh Marita spesialis rawat kuku.

Sesaat kemudian perempuan tua, 60-an tahun, mengaku bernama Bu MADE (enggan menyebut nama lengkapnya) ikut nimbrung. Percakapan tambah meriah. “Mas, kalau bisa kamu bagi-bagi rezeki sama Ibu,” rayu Bu Made yang bekaca mata tebal itu.

Singkat cerita, saking gencarnya rayuan Putu, Luh, dan Marita, akhirnya saya pun takluk setelah mereka bertiga sepakat untuk banting harga. Cukup Rp 50 ribu, saya mendapat tiga layanan sekaligus. Putu Sari memijat punggung, Bu Made kebagian kaki, sementara Luh Marita merawat kuku. Pijatnya sambil duduk di bawah pohon ketapang (Terminalia catapa).

“Wartawan itu kan sibuk terus, sehingga nggak sempat merawat kuku. Bukan kamu saja, saya sering merawat teman-teman wartawan dalam dan luar negeri yang lancong ke sini,” kata Luh Marita yang suka bicara. Putu dan Made tertawa kecil.

Senin, 25 Desember 2006, bertepatan dengan Hari Natal, Pantai Kuta berpasir putih, dengan debur ombak yang sedang-sedang saja, sangat cerah. Tiga perempuan Bali itu kemudian menyampaikan unek-uneknya seputar pariwisata di Bali yang anjlok.

“Kamu suka lihat ‘sumur’ ya? Sekarang ‘sumur’ sedikit, padahal dulu pantai ini hampir nggak muat,” cetus Putu Sari yang mengaku praktik pijat di Pantai Kuta sejak 1980-an.

“Tahu nggak ‘sumur’? Susu dijemur. Hehehe...,” tambah Luh Marita. Saya pun tertawa ngakak mendengar akronim khas Kuta itu.

Memang, pada liburan Natal kemarin turis bule yang menikmati laut, berselancar, kemudian menjemur tubuhnya di atas pasir sangat sedikit. Kurang dari 50 orang.

“Kalau sebelum ada bom, pantai ini penuh dengan turis yang berjemuran. Pantai ini penuh dengan orang bule. Tapi, sekarang ini turun jauh sekali,” kata Ni Luh Putu Marita.

“Dulu cari uang gampang sekali, nggak ngeroyok satu orang seperti sekarang. Dulu, turis-turis antre dipijat, bahkan banyak yang nggak kebagian pijat,” papar Putu Sari.

Sebelum tragedi bom Bali I pada 12 Oktober 2002, Putu Sari, Luh Marita, Made, dan kawan-kawan mengaku sangat mudah mencari konsumen. Tapi setelah tragedi yang menewaskan 202 orang di kawasan Kuta itu, jumlah turis merosot drastis.

“Habis bom pertama sih masih lumayan. Tapi, setelah bom kedua (1 Oktober 2005) dampaknya benar-benar terasa. Contohnya sekarang. Dari dulu yang namanya liburan Natal, pantai ini penuh dengan turis bule. Sekarang kan kamu bisa lihat sendiri,” ujar Putu Sari.

Menurut Putu, adanya travel warning yang rutin dari pemerintah Australia kepada warganya, terakhir pada 23 Desember 2006, menjadi penyebab utama melesunya pariwisata di Bali. Maklum, sejak dulu warga Australia memang mendominasi pasar wisata di Bali. Ketika 88 warga Australia menjadi korban Bom Bali I, pemerintah dan warga negara kanguru itu semakin berhati-hati ke Bali.

“Makanya, kita berharap jangan ada bom lagi di Bali dan di mana pun di tanah air. Orang-orang kecil seperti kami ini yang langsung merasakan akibatnya,” pinta Luh Marita.

Tanpa terasa, masa ‘kontrak pijat’ yang hanya satu jam pun berakhir. Putu Sari, Luh Marita, dan Bu Made telah menjalankan tugasnya dengan baik. Acara pijat sambil duduk di bawah pohon, sambil melihat ‘sumur’ di Pantai Kuta itu, cukup berasa. Eh, masih ditambah bonus informasi seputar kondisi pariwisata di Bali.

“Sering-sering saja ke Bali,” ujar Putu Sari seraya mengucap terima kasih.

Di tempat terpisah, I Putu Agus Antara, dedengkot Bali Tourism Board, mengamini fakta yang disampaikan para wong cilik di Pantai Kuta. Menurut dia, sepanjang tahun 2006 ini program Bali Recovery yang menelan dana sekitar Rp 67 miliar itu belum berhasil. Buktinya, jumlah turis ke Bali pada Januari-November 2006 hanya 1,138 juta atau menurun 13,12 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Pebisnis dan praktisi pariwisata kita makin loyo, kehilangan akal, dan makin frustrasi,” ujar Putu Agus Antara.


TRAUMA BOM LEGIAN MASIH BELUM SEMBUH

SARI Club di Jl Legian, Kuta, Bali, tempat hiburan paling laris di Bali, saat ini tak lebih dari sebuah areal kosong. Rumput-rumputan tumbuh liar. Di dalamnya ada sebuah plang berisi peringatan dari Pemerintah Kabupaten Badung agar masyarakat tidak memasang iklan dalam bentuk apa pun di situ.

Di pagar besi tergantung poster perempuan muda, bule, tersenyum manis. Ada tulisan tangan: "Dimmy Kotronakis. 4 years are gone. We miss your more & more everyday. Loving you forever. Dad, mum, Maria, family + friends." Poster berlaminating itu dipasang keluarga mendiang Dimmy Kotronakis pada 12 Oktober 2006 lalu, saat peringatan empat tahun tragedi Bom Bali I.

Seperti diketahui, tragedi peledakan Sari Club, yang kemudian dikenal sebagai Bom Bali I, menyebabkan 202 orang tewas, 88 di antaranya warga negara Australia. Dan, Peter Kotronakis, asal Sydney, Australia, diliputi dukacita yang sangat mendalam karena dua putrinya, Elizabeth (33) dan Dimmy (27), tewas di Sari Club pada malam nahas tersebut. Saking sedihnya, setiap tahun keluarga Kotronakis menyempatkan diri datang ke Bali untuk meninjau lokasi Bom Bali I.

Kini, empat tahun sudah berlalu, dan ancaman teror bom sudah jauh berkurang di tanah air. Para teroris pun sudah diadili dan menjalani hukuman. Amrozi, Imam Samudra, dan Muchlas--trio pelaku Bom Bali I--pun sedang menunggu eksekusi mati. Toh, warga asing, khususnya Australia, tampaknya masih trauma dengan tragedi di kawasan Legian, Kuta, tersebut.

"Teror bom tahun 2002, kemudian 2005, itu bukan peristiwa biasa. Bagi turis, khususnya orang Barat, pertimbangan keamanan di atas segala-galanya. Jadi, kalau ada travel warning dari pemerintah (Australia), itu sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk melindungi rakyatnya. Lebih baik ada peringatan dini daripada kita terlambat mengantisipasi," ujar James, turis asal Australia, kepada saya di Legian, Kuta, Senin (25/12) petang.

James dan tiga temannya berhenti cukup lama di depan bekas Sari Club. Mengamati lokasi bom, poster Dimmy Kotronakis, juga membaca puisi yang juga ditulis keluarga korban asal Australia. Sekitar 20 menit kemudian James dan rombongan beralih melihat monumen peringatan berikut daftar 202 korban Bom Bali I.

"Saya tidak bisa komentar banyak. Kita hanya bisa berdoa agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Sebab, yang rugi bukan hanya kami, orang Australia, tapi juga orang Indonesia," papar pria berkepala botak ini, serius.

Kita bisa memahami perasaan warga dan pemerintah Australia yang terguncang hebat gara-gara Bom Bali I. Selain karena paling banyak menjadi korban, warga negara tetangga itu punya ikatan khusus dengan Bali. Mengutip Duncam Graham, wartawan senior asal Australia, rata-rata setiap tahun sekitar 300 ribu orang Australia berkunjung ke Bali. Pulau dewata itu memang selalu menjadi pilihan utama warga negara kanguru untuk berlibur.

Selain dekat, murah, suasananya cocok untuk Aussie. "Just a minority move off the island during their stay, and usually to Lombok. Only the dedicated hikers and culture buffs go west into Java to scramble through volcanic scree, or meditate in kratons," tulis Duncam Graham dalam situs pribadinya.

[Hanya sedikit yang ke luar Bali selama berlibur (di Indonesia), biasanya ke Lombok. Juga hanya orang Australia yang benar-benar petualang pesiar ke Jawa untuk menikmati pemandangan alam pegunungan atau meditasi di keraton.]

Bagi orang Australia, papar Duncam Graham, Bali sudah seperti halaman belakang rumah sendiri. Tak heran, turis Australia merasa nyaman, bebas, bisa menjadi diri sendiri, tanpa canggung atau risih.

"Merasa aman dengan pasangannya. Dan, asal tahu saja, banyak (orang Australia) yang berpasangan dengan orang Indonesia," kata Duncam Graham.

Pernyataan jurnalis kawakan ini tak berlebihan. Sejumlah praktisi pariwisata di Bali yang saya temui pekan lalu, memberi apresiasi khusus pada turis Australia.

"Orang Australia itu paling menyenangkan dibandingkan turis dari negara lain," ujar I Putu Sari, pedagang kain, yang mangkal di Pantai Kuta, kabupaten Badung. Pendapat Putu dibenarkan oleh delapan rekannya yang biasa mencari nafkah di Pantai Kuta.

Apa kelebihan turis Australia? Pertama, kata Putu, mereka paling mudah membelanjakan uangnya selama pesiar di Bali. "Nggak pelit. Beda dengan turis Eropa, Amerika, apalagi Indonesia," tambah Ni Luh Marita, juga pedagang di Pantai Kuta.

Kedua, turis Australia umumnya ramah, mudah bergaul, murah senyum, suka bercanda dengan wong cilik. Ketiga, Aussie selalu datang dalam rombongan besar.

"Terus terang, kami paling suka Australia. Lain dengan turis Jerman yang rata-rata pelit," kata Putu Sari. Karena itu, ribuan warga Bali yang menggantungkan hidupnya dari sektor pariwisata benar-benar terpukul pascatragedi bom. "Sekarang belum pulih, apalagi ada travel warning," kata Putu Sari.

Selasa (26/12/2006) petang, selepas mengikuti latihan tsunami di Pantai Sanur, puluhan warga Bali menggelar ritual tolak bala. Secara khusus mereka berdoa agar Pulau Bali dijauhkan dari ancaman bom serta teror dalam wujud apa pun. Mereka berharap, malam tahun baru ini bisa memetik banyak rezeki dari para turis asing, khususnya Australia.

KETERANGAN: DIMUAT DI RADAR SURABAYA EDISI 30-31 DESEMBER 2006, HALAMAN 1.

1 comment:

  1. Dapatkan informasi lengkap semua Bali hotels dan villas dengan harga diskon hingga 70%. Banyak pilihan paket wisata, tours and lainnya terdapat di sini. Kami siap membantu Anda melayani pemesana semua Bali hotel.

    ReplyDelete