08 January 2007

Trifina: Pembina Paduan Suara Anak




TRIFINA SAMDERUBUN, bekas penyanyi seriosa terkenal di Jawa Timur, kini getol melatih olah vokal, khususnya anak-anak di Sidoarjo dan Surabaya.


BAGI pemerhati musik, khususnya seni suara klasik, nama TRIFINA SAMDERUBUN sudah tak asing lagi. Di tahun 1980-an, Trifina selalu menjadi langganan juara Bintang Radio dan Televisi (BRTV) tingkat Jawa Timur jenis seriosa. Kalau Trifina ikut BRTV--lomba seni suara dua tahun sekali--hampir pasti gelar juara jatuh ke tangannya.

Saking seringnya menang, panitia 'melarang' Trifina mengikuti BRTV. "Saya juara BRTV jenis seriosa sejak 1985 sampai 1994," ujar Trifina yang tinggal di kawasan Wisma Tropodo, Kecamatan Waru, Sidoarjo, kepada saya.

Seriosa atau musik klasik bukanlah musik industri yang bisa membuat juaranya jadi selebritas. Klasik adalah musik akademik yang lebih kental nuansa budayanya. Inilah yang membuat Trifina semakin larut dalam dunia seni suara klasik. Memperdalam ilmu di Jogjakarta, antara lain pada Pater KARL EDMUND PRIER SJ, pakar musik asal Swiss, ikut tur ke Eropa, jadi solis di berbagai konser. Agenda ini selalu diikuti Trifina sejak ikut BRTV hingga awal 2000.

Ibaratnya, tak ada hari tanpa menyanyi. Tapi, bagi jawara seriosa sekaliber Trifina, menyanyi tak sekadar buka mulut, menghapalkan lirik, tapi lebih dari itu. Seni suara itu ada pakem-pakem standar yang harus dikuasai seperti pernafasan, frasering, teknik produksi suara, ekspresi, hingga penampilan. Sayangnya, banyak penyanyi (pop) kita yang sangat kedodoran dalam soal teknik.

Keprihatinan inilah yang mendorong Trifina membina seni suara untuk anak-anak di kawasan Wisma Tropodo, Kecamatan Waru. Anak-anak (SMP ke bawah) digembleng sedemikian rupa, tapi tetap dalam suasana santai, menyenangkan, agar bisa menikmati indahnya seni suara.

Semua anak, kata Trifina, pada dasarnya bisa menyanyi. Suara sumbang alias fals bisa 'diluruskan' asalkan sang 'dokter' (baca: guru/instruktur) tahu resep untuk membenahinya.

Karena anak-anak asuhnya cukup banyak, dan ketimbang menyanyi sendiri-sendiri, Trifina membentuk paduan suara (PS). Namanya PS Dulcissima di Wisma Tropodo. Beberapa waktu lalu, kor asuhan Trifina menggelar 'resital vokal' untuk mengukur kemajuan anak-anak dalam olah suara. Anak-anak dikombinasi sedemikian rupa (solo, duet, trio, kwartet, kor) sesuai dengan tuntutan repertoar (lagu).

Mau tahu lagunya? Yang jelas, bukan lagu-lagu pop ala PETERPAN, DEWA, ADA BAND, SHEILA ON 7, KRIS DAYANTI, dan seterusnya.

Di mata Trifina, lagu-lagu Indonesia, khususnya yang populer di televisi dan masyarakat sekarang, tidak bisa dijadikan sebagai bahan pengajaran musik vokal. "Komposisi yang kami tampilkan minggu lalu sangat banyak, sekitar 35 lagu. Lebih banyak lagu berbahasa asing, khususnya bahasa Inggris," tutur Trifina lalu tertawa kecil.

Kendati tingkat kesulitan komposisi yang dipilih Trifina sangat tinggi--bahkan belum tentu bisa dibawakan penyanyi pop terkenal--Komunitas DULCISSIMA ternyata bisa menyanyi dengan baik. Mereka juga sangat ekspresif, memahami jiwa lagu dari bahasa asing itu.

Di sini, sekali lagi, Trifina ingin menunjukkan bahwa seni suara itu tidak sulit asalkan dikelola dengan baik dan benar. Trifina bahkan pernah membuat terobosan luar biasa. Dia mengajak dua penyanyi klasik terbaik Indonesia, CHRISTOPHER ABIMANYU (tenor) dan BINU D SUKAMAN (soprano), untuk konser bersama anak-anak Wisma Tropodo. Barangkali inilah kali pertama vokalis papan atas sekelas Christopher dan Binu bernyanyi bersama anak-anak 'kampung'.

Hidup Trifina memang tak bisa lepas dari olah vokal dan anak-anak. Ia sangat yakin, jiwa anak-anak yang suka menyanyi akan lebih halus, peka pada keindahan, serta jauh dari berbagai tindak kekerasan.

3 comments:

  1. Kak Inaaa..... BRAVOO!!

    ReplyDelete
  2. Ina....I'm so PROUD of you...Kapan-kapan latih saudaramu ya....God Samderubun...

    ReplyDelete
  3. lomba paduan suara mall ciputra jakarta http://ciputramall.com/www/ciputramall.com
    /file/Peraturan-Fest-Choir-MCJ-20.jpg

    ReplyDelete