25 January 2007

Rudi Isbandi Begawan Pelukis Surabaya




Sepeninggal KRISNA MUSTAJAB dan AMANG RAHMAN, kita makin sulit menemukan pelukis kaliber empu di Surabaya atau Jawa Timur. Pelukis memang banyak, bahkan terlalu banyak, tapi mutunya tanggung. Medioker. Sulit mencapai tingkat empu.

Zaman memang lain, tantangan beda, sehingga sulit menemukan sosok pelukis berpengaruh, yang ketokohannya diakui secara luas.

Masih untung ada RUDI ISBANDI. Lahir di Jogjakarta, 2 Januari 1937, Rudi Isbandi ini masih ‘dituakan’ oleh para yunior di Jawa Timur. Saya beberapa kali bertemu Rudi Isbandi, diskusi, atau bercakap ringan. Dia saya anggap ‘begawan’ seni rupa Jawa Timur, tempat kita bertanya.

Kepada saya Rudi mengaku selama dua tahun terakhir ‘bersendiri’ di rumahnya, Karangmenjangan, Surabaya. Menyepi. Selama dua tahun itu Rudi Isbandi berhenti nonton televisi, baca koran, dengar radio. Singkatnya, menutup diri dari dunia luar. Ia pun tidak peduli dengan hiruk-pikuk politik seperti pemilu, pilkada, dan tetek-bengek lainnya.

“Saya ibaranya membersihkan antene yang karat agar lebih peka menangkap inspirasi dari atas,” ujar Rudi Isbandi, perupa yang banyak menerima penghargaan dari dalam dan luar ngeri itu. Di antaranya, award dari pemerintah Mesir dan Gubernur Jawa Timur.

Sebelum menyepi, sebenarnya dalam 15 tahun terakhir Rudi Isbandi sudah memilih ‘jalan lain’ dalam karya-karyanya. Jangan harap Rudi melukis secara konvensional, pakai cat di kanvas, dan semacamnya. Dia tak hirau lagi dengan pasar.

Menggunakan berbagai media (mix media), Rudi melampiaskan curahan batinnya dalam karya-karya yang unik. Karya mix media yang dibuat Rudi Isbandi sarat dengan spiritualitas.

Gir sepeda rongsokan, oleh Rudi dibentuk menjadi parade bintang di langit. Ada salib, simbol kekristenan. Ada nuansa Buddhis.

“Tinggal Anda saja yang menafsirkan. Yang jelas, apa pun persepsi penonton semuanya saya anggap benar,” kata Rudi yang dulu banyak menulis kritik seni rupa di media massa itu. (Kumpulan tulisan seni rupanya sudah dibukukan.)

Sejumlah pelukis muda seperti Didik S Makruf, Badrul Kalam, N Roel, atau Riyanto, ikut nimbrung diskusi bersama Rudi Isbandi. Rudi pun menyambut dengan tangan terbuka. Hardono meminta masukan Rudi tentang karya sketsanya. "Saya sengaja minta bimbingan Pak Rudi karena saya baru belajar,” ujar Hardono.

Lalu, Sang Begawan memberi petuah: “Tinggalkan apa yang disebut KONSEP. Kalian harus berani jujur pada diri sendiri. Membuat sesuatu yang baru. Silakan orang menilai apa, yang penting kalian harus berani.” Suara Rudi Isbandi lembut, pelan, tapi tegas. Para pelukis muda itu diam.

Saya lalu bertanya tentang pasar. “Kalau bikin karya macam itu, siapa yang beli?”

Sang Guru tersenyum. Menurut Rudi Isbandi, di mana-mana yang namanya seniman itu selalu lebih maju puluhan tahun daripada masyarakat. Orang menganggap karya-karya Rudi ‘aneh’, ‘nyeleneh’, ‘tidak lazim’... karena orientasinya sudah puluhan tahun ke depan. “Mungkin, generasi mendatang tidak menganggap aneh karya saya,” katanya.

Selain melukis dan menulis (belakangan agak ditinggalkan), Rudi Isbandi suka jalan kaki. Jalan kaki ke mana sampai capek. Mandi keringat dia tak peduli. Bertemu onggokan sampah dia nikmati.

"Saya menemukan sensasi tersendiri. Hmmmm,” ujar Rudi seraya menghela napas panjang.

Rudi berkata, di zaman serba mekanis dan instan ini, manusia sering lupa kalau dia punya dua kaki yang diciptakan Tuhan. Kaki itu gunanya untuk berjalan. Tapi, karena terbiasa dengan kendaraan bermotor, manusia lupa punya kaki. Sampai sekarang Rudi, dengan topi khasnya, terus berjalan kaki, masuk kampung ke luar kampung, di Surabaya.

Nah, saat jalan-jalan itulah Rudi menemukan rongsokan gir, rantai, dan berbagai sampah lain. Dia pungut, bawa ke rumahnya di Karangmenjangan. Itulah bahan baku karya-karya seninya. Ah, Rudi Isbandi!

No comments:

Post a Comment